
Di sela kesibukan sebagai seorang artis, juga sebagai seorang pengusaha cafe, Gibran meluangkan waktu untuk mengajak Kanaya jalan-jalan. Sekedar menghabiskan beberapa waktu di luar, terlepas dari suasana pantai.
"Akan lebih baik jika waktu senggang ini kau gunakan untuk beristirahat," Kanaya, gadis manis itu berjalan di samping Gibran, dengan tangan mengapit erat lengan sang kekasih.
Gibran yang sedang menggunakan masker berwarna hitam berhenti melangkah, meraih dua jemari Kanaya dan menggenggamnya"Waktu istirahat ku akan lebih menarik, jika di habiskan bersamamu."
Alih-alih tersenyum, Kanaya mencibir seolah tak percaya dengan kata-kata manis Gibran. Dia mengajak pria itu kembali melangkah, menyusuri tepian kota"Jangan bicara berlebihan, lihatlah penampilan mu. Kau berjalan denganku dengan penampilan seperti ini, sangat tidak pantas dengan kata-kata rayuanmu itu."
Hati kecil Gibran tergelitik, namun bukan tanpa sebab dia melakukan hal ini. Dirinya bukanlah Gibran yang dahulu, yang dapat bebas berkeliaran kesana dan kemari tanpa perlindungan apa pun. Sekarang dirinya adalah Gibran sang idola, yang mungkin akan menimbulkan hal tak di inginkan, jika tertangkap karena sedang berjalan bersama kekasih tercinta.
Rasa ngeri-ngeri sedap masih terasa, saat Gibran membaca berbagai komentar yang singgah, di sebuah akun insta milik perusahaan minuman bersoda ternama. Akun tersebut memosting foto dirinya yang sedang mempromosikan minuman bersoda milik mereka. Tentu saja nilai jual itu bukan hanya ada pada wajahnya, tapi juga tubuhnya. Dengan bertelanjang dada, Gibran di bentuk begitu seksi, sedang berpayung panasnya terik matahari di tepi pantai. Tubuh penuh keringatnya menjadi segar setelah menikmati sekaleng minuman bersoda tersebut.
"Owh!! dia pria yang sangat mempesona. Tetaplah menjadi idola sayang, akan lebih bagus jika kau hanya menjadi milik kami para fansmu."
"Sungguh seksi, apakah minuman bersoda ini akan melakukan event? aku akan memborong minuman kalian jika hadiahnya bisa menghabiskan satu hari dengan Gibran."
"Sempurna! tetaplah jaga kesempurnaan ini. Aku bisa menyingkirkan wanita yang berlagak memilikimu seutuhnya!!."
"Ku dengar kau menjalin hubungan dengan Bella? benarkah itu?."
Menanggapi pertanyaan pada salah satu akun netizen, sebuah akun lain berkomentar"Bella? ku dengar itu hanya gosip belaka. Lagi pula kami akan memberi pelajaran kepada wanita itu jika berita itu benar."
"Ya! Gibran hanya milik kita, para fans!!," sahut akun lainnya.
Sebagai artis yang belum lama melebarkan sayap di ranah hiburan, komentar-komentar seperti ini masih terasa aneh bagi Gibran, juga sangat meresahkan. Jika Bella yang seorang artis pun bisa mereka ganggu, bagaimana dengan Kanaya yang hanya orang biasa?. Sungguh, Gibran tidak ingin gadisnya di usik, sedikit saja!.
"Aku terlalu tampan, kau tidak takut aku di lirik wanita lain? dengan begini aku hanya akan menjadi milikmu."
Kanaya terkekeh mendengar jawaban Gibran.
"Nona yang manis, kau akan semakin manis jika memiliki bunga ini," seorang ibu-ibu, menawarkan bunga dagangannya kepada Kanaya, yang akan melintas di hadapannya.
Langkah Gibran kembali terhenti, dia hendak membeli bunga itu untuk Kanaya. Namun pegangan kian erat Kanaya, menjadi kode untuk mengurungkan niat tersebut.
"Kau memang manis, dan akan semakin manis jika memiliki bunga ini," kata-kata sang ibu penjual bunga, di salin Gibran dengan sempurna.
__ADS_1
"150 ribu," ujar sang ibu penjual bunga, dia menyodorkan setangkai bunga yang sudah di kemas dalam plastik transparan nan cantik.
Kanaya berseru dengan suara tertahan"Owh!! mahal sekali!!."
Tidak menghiraukan suara tertahan Kanaya, Gibran meminta kepada sang ibu penjual bunga untuk mengemas semua bunga cantik itu, hingga menjadi seperti buket.
"Hei!! ini terlalu banyak! juga mahal."
"Aku ingin tahu, seberapa kuat bunga tulip merah ini beradu kecantikan denganmu."
Kanaya mencubit pelan lengan yang sedari tadi dia pegang, sebelum akhirnya menerima bunga-bunga nan cantik itu.
"Nona, ternyata kau jauh lebih cantik dari bunga-bunga ini," tutur sang ibu penjual bunga.
Ayolah, wajah Kanaya mulai terasa hangat, dia tersipu malu.
Gibran membayar lebih kepada ibu penjual bunga, wanita itu menatap Gibran lekat.
"Ambil saja lebihan nya, dia memang wanita yang sangat cantik, dan aku senang ibu menyadari kecantikan kekasihku ini."
Melanjutkan perjalanan, Kanaya nampak diam, pujian Gibran membuatnya kehabisan kata-kata. Pria ini masih saja bersikap terlampau manis, meski telah menjadi idola dari banyak wanita.
Usai berjalan kembali, akhirnya mereka telah sampai di depan sebuah gedung. Kanaya mendongak membaca papan nama nan besar yang tergantung di atas pintu besar"Gedung opera kota lawas."
Gadis itu mengalihkan pandangan dari papan nama itu.Ini kali pertamanya ke sini, meski kerap mendengar kabar berita tentang tempat ini, namun Kanaya bukanlah seorang tua yang gemar menonton opera.
"Tunggu apa lagi? ayo masuk."
"Gibran! apa yang akan kita tonton?? kisah di jaman belanda? Romeo dan Juliet?."
"Kisah romantis, tapi bukan Romeo dan Juliet" sahutnya menarik lengan Kanaya, agar masuk ke gedung tersebut.
"Ahahah," Kanaya tertawa canggung"Ini...aku tidak pernah berpikir akan sampai di sini."
"Dan kita sampai di sini bersama," sambar Gibran.
__ADS_1
...🍒🍒🍒🍒...
Jenaira, memandang sang gawai dengan seksama. Seolah tidak bosan, berulang kali membaca sebuah pengumuman yang tertera dalam grup masa sekolah nya.
Minggu depan, seorang teman akan mengadakan pesta ulang tahun. Selain mengadakan pesta ulang tahun, dia juga mengadakan acara reuni, yang sudah di sepakati sebagian besar anggota grup tersebut.
"Aku akan datang, dan aku yakin semua anggota di sini akan datang. Kecuali....," meski terputus, Jena merasa tersindir dengan pesan yang di tuliskan anggota tersebut.
"@Jenaira," kami tidak akan memaksa jika kau tidak berniat datang lagi, seperti di acara reuni yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
Begitu jelas, dan ini sindiran yang keras. Jena hanya membaca interaksi mereka, tanpa ikut mengetik pesan.
"Akan menjadi kabar menggemparkan jika dia hadir. Ku dengar sekarang dia telah menjadi menantu dari orang kaya raya."
"Dia penulis terkenal," sahut yang lainnya.
"Itu sudah bukan berita baru, bukan hal aneh seorang introvert menjadi seorang penulis," seorang pria bernama Joy, terlihat membela Jena.
"Dia bukan seorang introvert! aku satu kampus dengannya, dia terlihat ceria dan banyak bicara dengan kekasihnya dahulu. Dia hanya tidak ingin berteman dengan kita."
"Seorang introvert akan menjadi ceria dan banyak bicara, jika bersama orang yang sangat dekat dengannya. Tidak mengherankan jika dia ceria saat bersama kekasihnya," bela Joy lagi.
"Kau terus saja membelanya!."
"Oho, sang pemuja rahasia angkat bicara," seorang lagi menanggapi kata-kata Joy.
Seolah Jena tidak ada di dalam grup tersebut, mereka membicarakan Jena dengan sangat leluasa. Ternyata menyimak sekelompok manusia membicarakan diri sendiri itu cukup menyenangkan, Jena begitu menikmati hal itu.
Usai mengomentari Jena yang mereka kenal dingin dan irit bicara, mereka beralih mengejek Joy. Jena merasa iba, jika saja Joy tidak berkomentar baik tentangnya, mungin dia akan selamat dari ejekan mereka saat ini.
Ejekan itu berakhir saat sang empu acara mengumumkan tempat acara di gelar.
Jena meletakan sang gawai di atas meja, otaknya mulai berfikir, apakah dia akan hadir di acara tersebut?
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗