
"Bilang mas!! siapa Debora??," teriak Jena dengan suara menggelegar. Sore itu saat keadaan cafe lengang, Agam mengambil laptop dan bersantai di toko buku. Meja kerja Jena menjadi tempatnya untuk sejenak bermain game online. Baru saja masuk pada laman bermain game online, teriakan Jena sukses membuatnya terkejut. Dengan langkah seribu, Agam gegas menyosong sang istri yang sudah berada di bawah tangga.
"Ada apa, sayang! kenapa berteriak?!."
Jena menarik kerah baju Agam"Katakan! sudah sejauh mana kau bermain dengan Debora! katakan mas!!," butiran air mata mulai luruh pada kedua pipi.
Rasa lelah usai menjalani syuting film pendek yang di ambil dari novel sang kakak, membuat Gibran segera melepaskan penat di ayunan beranda belakang. Dan teriakan itu membuatnya berjalan sempoyongan menghampiri Jena.
Sang kakak galak namun sangat dia cintai menangis, owh! Gibran sangat tidak bisa duduk manis dan menonton saja.
"Kak Jen, kenapa menangis?!."
Jena lekas masuk dalam pelukan Gibran, menangis sejadinya. Dan tangisan Jena jelas membuat Khair dan para pelayan di dapur menjadi penasaran. Hal apa yang sedang terjadi.
"Kalian tetaplah bekerja!," titah Khair, saat para pelayan berkumpul mengintip keributan di muara pintu dapur cafe menuju dapur pribadi.
"Kenapa Gam? kenapa Jena menangis?."
"Aku pun tak tahu, aku sempat memeriksa keadaannya, dia sedang tertidur dengan pulas tadi."
Melepaskan pelukan dari Gibran"Tak tahu??!," sentak Jena. Dia menatap Agam dengan penuh rasa kebencian.
"Kau tak tahu? wanita itu bergelayut manja di lenganmu mas!!."
Ucapan Jena, sontak membuat kedua mata Gibran semakin membulat. Pria dengan sepasang mata boba itu menatap Agam tajam"Kau selingkuh Gam??!!."
Agam mundur beberapa langkah, keadaan macam apa ini? bahkan untuk menelan saliva pun terasa sulit"Tidak. Jika sumpah atas nama Allah mampu membuatmu yakin, aku akan bersumpah," sanggah nya lugas.
__ADS_1
"Bohong!!!," seru Jena dengan derai air mata. Wanita dengan perut besar itu terduduk di anak tangga yang pertama. Hati Agam sangat terluka, melihat ketidak berdayaan wanita yang sangat dia cintai.
"Sayang, bangunlah. Kita ke ruang tengah ya."
"Jangan sentuh aku!," hardik Jena, menepis tangan Agam yang hendak meraih jemarinya.
Mendorong Agam hingga terpojok di sudut dinding"Kau...," geram Gibran dengan napas beradu"Pengkhianat! kau berjanji tidak akan menyakiti kakakku! tapi apa sekarang! di saat dia sedang hamil besar kau malah selingkuh."
Khair sangat terkejut, ini seperti bukan Agam"Agam! apa yang kau lakukan! setan apa yang merasukimu!."
Ucapan Khair tak di hiraukan Agam. Dia mendorong Gibran dan merosot ke lantai menghampiri Jena"Sayang!! aku tidak selingkuh. Demi Allah!! aku berani di rajam jika memang melakukan hal keji itu!!."
"Kau bersama wanita bernama Debora! kau bersamanya mas! aku memanggilmu tapi kau tak sudi menatap ku!," isaknya dalam tangis.
"Ya Allah! aku bahkan tidak mengenali wanita bernama Debora itu!, sayang...ada apa denganmu."
Agam terus menolak apa yang di katakan Jena. Sebab dia tidak merasa melakukan hal gila itu. Sementara Agam dan Jena berdebat, Khair mengambilkan air minum untuk Jena.
"Minum dulu, tenangkan dirimu. Katakan, di mana kau melihat Agam bersama wanita bernama Debora itu?."
Sedikit bergetar, Jena mengambil air yang di berikan Khair"Di pasar malam. Wanita itu sendiri yang mengatakan dirinya adalah wanita yang sangat di cintai....mas Agam," ucapnya lirih, sembari menahan air mata yang akan menambah genangan di kedua pipi.
"Pasar malam... tidak ada pasar malam di sini!."
"Ada mas! kau bahkan berkencan. Berhentilah berkilah."
Khair melepaskan cengkeraman Gibran dari kerah baju Agam"Sabar, dengar dulu apa permasalahan nya."
__ADS_1
"Dia selingkuh! itu permasalahan nya!," geram Gibran.
"Demi Allah! aku tidak melakukan nya, Gibran!," seru Agam lagi. Kini tiga pria itu duduk bersama Jena di atas lantai.
"Aku akan membunuhmu, jika hal itu benar!," sentak nya penuh amarah.
"Jangan!," seru Jena pula. Dia mengatakan itu setelah meminum air yang beberapa saat hanya di pegang saja.
"Dia melakukan hal kejam yang pernah di lakukan Dewa!. ingat kak! cukup Dewa yang membuatmu menangis. Jika Agam pun berani melakukan hal itu, selain membunuhnya hal apa lagi yang bisa aku lakukan?."
Jena menunduk dalam diam. Suasana senyap untuk beberapa saat. Agam menarik jemari Jena dengan perlahan"Sayang, aku tidak melakukan perselingkuhan."
"Tapi aku melihatnya dengan kedua mataku, mas!," sahutnya menepis tangan Agam.
"Katakan! di pasar malam mana kau melihatnya? jika pasar malam itu tidak ada di sini, apa kau melihat nya di pasar malam tengah kota?."
Setelah kesadarannya benar-benar kembali"Astaghfirullah," Jena berucap lirih, dengan kedua tangan menutupi wajah.
Gibran mengguncang lengan Jena"Katakan kak! di mana?."
Jena menatap Agam penuh rasa penyesalan"Maaf mas, maaf Gibran, kau juga Khair," ujarnya melihat tiga pria itu secara bergantian.
"Aku bermimpi!!," Jena langsung menelungkup kan wajah pada anak tangga. Dia sangat menyesali tindakan gilanya sore ini.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1