Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Si manis Arabella.


__ADS_3

Di bawah cahaya rembulan, Zafirah beranjak pergi dari hadapan Angga. Entah mengapa, pria pecicilan itu bersikap dewasa kali ini. Meski sempat ramai dan sibuk sendiri karena isakan tangis Zafirah, pada akhirnya Angga menikmati nyanyian pilu gadis berkerudung besar itu. Masih tak ingin meninggalkan Zafirah sendirian, hingga tangis itu mereda, perlahan sirna bahkan tak tersisa lagi tarikan napas berat. Tak tertinggal bahkan sebait kata pun, Angga menatap punggung Zafirah yang kini semakin jauh menuju kediamannya.


Duhai hati yang lara, meski terluka kau masih mengukir senyum di wajah manis Zafirah. Melangkahkan kaki memasuki kediaman itu kembali....


"Hatcim!!!!!", berlagak bersin, kehadiran Zafirah dengan hidung memerah dan mata sedikit berair mengejutkan mereka.


"Zafirah! kau dari mana? kau.....", Ucapan Jena terjeda. Tak terlihat rapi, jejak tetesan air mata nampak terlihat di kerudung panjang menjuntainya. Nampak kumal, bagaimana tidak, gadis itu meraup ujung kerudungnya erat-erat ketika tersedu, menahan diri agar tak bersuara lebih nyaring lagi.


"Kau kenapa???!," ulang Jena melontarkan tanya. Punggung tangannya di tempelkan pada kening Zafirah, terasa sedikit hangat.


"Hatcim!!!," kedua mata itu semakin merah.


Sembari menarik cairan dari hidung yang semakin banyak"Angga terlalu lama membawaku mencari angin di luar, sepertinya aku terserang flu."


"Maafkan aku Angga!!!!," di lain waktu aku akan membuatkan kue untukmu," pekik hatinya kala itu.


Kiyai Bahi menarik perlahan tubuh sang putri, mendudukannya di sofa dengan sangat hati-hati"Abi seduhkan teh jahe, Zafirah mau??," suara hangat itu semakin memancing riak kesedihan di kedua mata Zafirah. Sembari menyeka air mata yang tak mampu di tahan, gadis manis itu mengangguk patuh.


Jena nampak gelisah, menurut obrolan kedua belah keluarga, sebentar lagi dirinya akan di boyong ke kediaman keluarga Pratama.Namun, keadaan Zafirah sungguh memberatkan langkah kakinya pergi dari tempat itu.


Beradu pandang dengan sang sahabat, Zafirah menarik senyum pada Jenaira.


"Apa yang sedang kau pikirkan? jangan berharap aku masih menerimamu di kamarku lagi. Tahu dirilah kak Naira, kau sudah ada yang punya."


Menggelengkan kepala sembari memberengut"Lihatkan, kau sekarang ingin mengusirku. Zafirah.....," Jena menarik napas berat. Mendekati Zafirah dan menarik kedua tangannya.


"Di hari bahagia ini, kau terserang flu. Aku hanya ingin menghabiskan malam dengan merawatmu malam ini, tapi kau justru mengusirku," manik coklat itu berkaca-kaca. Bukan tanpa alasan, kebahagiaan bertemu seseorang yang membuatnya nyaman, seseorang yang di percayainya dapat di jadikan kawan. Pengkhianatan Tiara dahulu, hingga kehilangan sosok sahabat sejati, sungguh membuat Jena takut kembali patah hati dan kehilangan sahabat lagi.


Begitu dramatisnya sikap Jena, membuat Zafirah tergelak tawa, begitu pula dengan mereka yang ada di sana.


Melepaskan genggaman tangan Jena, beralih mencubit pelan kedua pipi Jena"Kau percaya dengan kata-kata ku?? ayolah kak Naira, itu hanya kiasan agar kau segera pulang ke rumah barumu. Hem..... apa kau tak sadar bahwa malam ini kau adalah seorang pengantin wanita? bang Agam akan menjitak keningku jika mengambil jatah malam pertama kalian."


Seketika wajah Agam bersemu. Lirikan nakal Gibran membuat wajah itu semakin memerah.


"Ehem!," jika kau masih ingin tinggal di sini, aku tidak keberatan tidur bersama Yasir di kediamannya.


Yasir menatap nakal kepada Agam"Hei!!! kau pikir aku pengantin wanita????."


Seketika gelak tawa terdengar riuh, Agam sungguh terjebak di antara manusia-manusia usil malam ini. Bahkan tawa seorang Arkan terdengar menggelegar, Kiayai Bahi yang sempat risau dengan keadaan putrinya pun ikut tertawa.


Jena menundukan wajah, entah harus ikut tertawa atau bagaimana. Sejatinya, Agam belum meniti anakan tangga di dalam hatinya, sosok Dewa yang baik masih bertengger di sana. Meski telah memudar, kebaikan dan ketulusan pria itu sebelum kehadiran Tiara, sungguh sukar untuk di lupakan.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Menghempaskan diri di sofa nan embuk, nyatanya hati kecil di dalam sana terasa sakit. Bukan sekali ini saja, berkali-kali hati kecil di dalam sana tertusuk-tusuk.


Hampir tengah malam, Tiara mengakhiri Live insta mempromosikan produk kecantikan terbaru. Lonjakan tawaran endors yang terus di terima Jelita tanpa konfirmasi dahulu kepadanya, membuat wanita cantik itu hampir kehilangan waktu beristirahat. Di tambah sikap Dewa yang semakin tak perduli padanya, mengangkat panggilan telepon darinya saja sungguh suatu hal yang jarang di lakukan Dewa.


Kembali, jemari kecil itu menekan nomor ponsel sang suami. Kali ini terdengar lenguhan berat di ujung telepon"Kau sangat berisik, berhentilah menelpon ku!!!!."


"Kau di mana sekarang? apa kau tidak akan pulang lagi malam ini???."


Dewa berdecih"Kau sangat dungu! untuk apa bertanya jika sudah tahu jawabannya."


"Dewa!!! akhir-akhir ini kau terus saja memanggilku dungu!", terdengar suara bergetar Tiara di ujung sana. Namun Dewa seolah tuli akan jeritan sakit hati Tiara.


Dan, tanpa aba-aba pria itu mengakhiri panggilan telepon. Membuat amarah Tiara semakin menjadi.


"Aku istrimu Dewa!!! tidak sepantasnya kau memanggilku dungu!!!," teriaknya memecah kesunyian malam.

__ADS_1


Kekesalan hati memancing Tiara untuk membalas rasa sakit di hati, kabar pernikahan Jena telah sampai kepadanya, tentu saja dari Bastian.


Meski bergetar karena emosi, Tiara kembali menekan nomor sang suami. Sekali dua kali Dewa tak mengindahkan panggilan itu. Tak patah semangat, Tiara terus menghubungi nomor Dewa hingga terdengar teriakan Dewa di ujung sana.


"Istri sialanaan!!! berhentilah menggangguku!!!."


"Jena telah menikah," balas Tiara berteriak.


Perkataan Tiara membuat Dewa terdiam.


"Beberapa waktu yang lalu Jena telah resmi menjadi istri orang. Ah! kau baru saja memanggilku istri, terimakasih kau masih mengingat hal itu. Dan asal kau tahu, sampai mati aku akan tetap menjadi istri mu, lagi pula wanita mandul itu telah menikah. Lebih baik kau lupakan saja dia, aku akan lebih menyayangimu jika bersikap baik Dewa sayang."


Rahangnya mengeras, hinaan Tiara sangat berbekas di hati kecilnya"Aku tidak butuh kasih sayang mu. Jika kau bersikeras menolak perceraian kita, maka jangan salahkan aku jika kau akan terus hidup seperti di dalam neraka."


Lagi-lagi panggilan itu di akhiri oleh dewa. Meski kembali sakit hari, setidaknya bukan hanya dirinya yang merasakan itu. Kabar pernikahan Jena pasti meruntuhkan benteng pertahanan Dewa. Tiara sangat yakin pria itu pasti sangat tersakiti, sangat terluka, sebab dia sangat tahu bagaimana Dewa mencintai Jena.


Bagai sebuah pakaian yang tak lagi di butuhkan, Dewa teronggok menjatuhkan diri di samping ranjang. Kamar di sebuah flat unit yang dia sewa, kerap menjadi saksi bisu bagaimana sakitnya dirinya kehilangan Jena.


"Tidak! aku tidak akan menyerah Jena. Jodoh kita tidak akan berakhir begitu saja, kau adalah jodohku dan selamanya akan menjadi jodohku!."


...🌺🌺🌺🌺...


"Jena sayang, maafkan bunda. Untuk malam ini kalian tidur seadanya saja ya. Besok bunda akan memanggil seorang ahli yang akan merias kamar pengantin kalian ini," Arabella merangkul pundak Jena dengan erat. Sejak turun dari mobil, tak sekalipun Arabella melepaskan genggaman tangannya dari lengan Jena.


Mengedarkan pandangan pada seisi kamar, sebuah kamar yang cukup nyaman baginya"Tidak perlu bunda, begini saja sudah cukup."


"Bagaimana bisa? kalian pasangan pengantin. Ck! ini salah Agam yang tidak berkata jelas kepada bunda. Jika dia berkata bahwa kalian akan langsung menikah, bunda bisa menyuruh orang untuk merias kamar ini sementara kami menyusul kalian ke kediaman kiyai Bahi.


Agam sang terdakwa hanya terdiam, dan Akhtar tersenyum simpul menyaksikan cerewetnya wanita cantiknya.


Jena menggeleng pelan"Ini bukan salah Agam, bunda."


"Agam!," panggil Arabella.


"Lihatlah, istrimu langsung membela meski kau bersalah. Jika kelak kau membuatnya sedih, ughhhhhh!!!," Arabella berlagak mencakar Agam meski hanya di udara.


Sontak Agam memegang lehernya"Bunda, kalau begitu bunda akan menyakiti Agam?."


"Tentu saja!."


Agam mengantupkan bibir dengan kedua alis terturun sedih"Bunda sudah tidak menyayangiku."


"Hahahah", Akhtar tertawa.


"Sudahlah Bella ku sayang, kau bukan tidak tahu bagaimana Agam kita", ujarnya mengumbar senyum hangat.


Arabella lantas tersenyum menatap Jena"Jena sayang, selepas ini kita akan mengadakan pesta pernikahan untuk kalian. Sekarang kau beristirahatlah, besok kita akan mengatur persiapan pesta pernikahan kalian."


Jena menelan saliva, pesta pernikahan? berarti status barunya akan di ketahui khalayak ramai. Hati kecil di dalam sana sedikit gundah, Agam yang lebih muda darinya, akankah dirinya kembali mendapat hujatan karena menikahi seorang bocah?.


Dalam lamunan itu, Jena mengangguk saja. Berbalas senyum kepada ayah dan ibu mertua, akhirnya kini tinggallah Jena dan Agam saja di kamar itu.


Kesunyian datang menyapa, mengunci dua insan itu dalam diam.


Belum tahu apa yang harus di lakukannya, Jena membawa diri ke hadapan cermin nan besar. Tanpa meja rias, Jena menarik sebuah kursi dan mendudukan diri di sana.


Tanpa kata, Jena mencoba melepas mahkota sederhana yang Zafirah kokohkan dengan beberapa jarum pentul. Mendapati sang istri sedikit kewalahan mencari jarum pentul di atas kepalanya, Agam menawarkan diri untuk membantu.


"Katakan saja jika kau perlu bantuan", ujarnya menatap Jena pada pantulan cermin di hadapan mereka.

__ADS_1


"Hem," sahut Jena singkat.


Dalam diam Agam melepaskan benda itu, meletakannya di atas meja tanpa menatap Jena kembali dari pantulan cermin.


"Terimakasih sudah membantuku," ucap Jena.


"Sudah semestinya, kau sekarang adalah tanggung jawabku," sahutnya mendudukan diri di tepian ranjang.


"Maksudku, terimakasih sudah menolongku dari keegoisan ibuku. Kau bahkan bersedia menikahiku, meski......," kata-kata itu tergantung. Tidak yakin apakah benar pria ini mencintainya atau sekedar kasihan saja.


Melepaskan peci yang dia kenakan, Agam menyugar rambutnya kebelakang dan menatap Jena lekat-lekat"Meski apa?."


Dalam keadaan menunduk, Jena merasa ragu harus melanjutkan dengan kata-kata seperti apa.


Agam mengambil langkah, pria itu memutar tubuh Jena agar sempurna menghadap dirinya.


"Jenaira, aku tidak main-main menikahimu. Apa kau lupa dengan ajakan menikah dariku? apapun yang ku katakan kepadamu bukan hanya sekedar ucapan belaka, aku bersungguh-sungguh Jena," menengadah, Agam yang berjongkok meletakan tangan mereka di pangkuan Jena.


Jena tidak menyangka genggaman tangan bocah ini terasa sangat hangat. Hati yang beku perlahan mencair.


"Maafkan aku Agam, aku belum bisa melupakan Dewa seutuhnya. Meski telah menyakiti ku, jika saja Tiara tidak hadir di antara kami.....," tangisan itu tiba-tiba pecah. Entah mengapa mengatakan hal itu membuat kesedihan mencubit hati kecil Jena.


Memejamkan mata, semakin erat menggenggam jemari kecih Jenaira"Aku akan membuatmu lupa dengan laki-laki itu."


"Maafkan aku," desis Jena.


Ibu jarinya mengusap pelan genangan air mata yang jatuh di kedua pipi Jena"Kau tidak bersalah, berhentilah menangis Jena. Bunda akan menindasku jika mengetahui kau menangis," tersenyum simpul, Agam berhasil meredakan kesedihan pada diri Jena.


"Apa kau tidak marah? hatiku masih di huni lelaki lain."


"Coba kau pandangi diriku? aku sangat tampan, sebentar lagi kau akan segera melupakan Dewa."


Menutup mulutnya dengan punggung tangan saat tertawa, kecantikan Jena sungguh membuat Agam semakin cinta.


"Teruslah tersenyum Jenaira, kau sangat cantik."


Tawa itu mereda"Kau sungguh tidak marah, Agam?."


"Sudah ku katakan, aku lebih tampan dari Dewa."


"Agam! ah, aku hampir lupa. Kau satu spesies dengan Gibran si tengil itu."


"Baiklah, bilang saja begitu asal kau bahagia," ujarnya masih tertawa. Pria itu bangkit dan membuka lemari pakaian.


"Ngomong-ngomong, apa kau ingin mandi? aku punya handuk yang baru di cuci."


Perkataan itu membuat Jena mengulum bibir, jika sudah mandi, lantas apa yang akan mereka lakukan???.


Melihat Jena yang terdiam kaku, Agam kembali menghampiri Jena"Segeralah ke kamar mandi, kau tidurlah di ranjang. Aku akan merapikannya sementara kau mandi, setelah itu aku akan pergi ke ruang pakaian dan tidur di sana."


Jena menolehkan kepala menatap Agam"Kau tidak keberatan tidur di sana?."


"Aku juga tidak keberatan jika kau ingin tidur bersamaku," ujarnya kembali tersenyum.


"Anu....., maksudku....," Jena tergagap. Sembari menggigit bibir, Jena teringat ritual malam pertama pasangan pengantin.


Mengusap lembut pucuk kepala Jena"Aku tahu kau belum siap melakukan hal itu bersamaku, aku tidak akan memaksa Jena."


Wanita itu kembali menatap ubin di bawah sana, begitu pekanya seorang Agam terhadap dirinya.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2