Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Idola baru nan tampan.


__ADS_3

Kabar pembukaan cafe milik para penghuni pantai, benar-benar menarik perhatian khalayak ramai. Selain Gibran, sebagai bintang baru yang tengah naik daun, juga Jena sang penulis dingin yang tidak pernah hadir pada setiap acara penghargaan karyanya, kehadiran sosok Agam dan Khair juga sukses mencuri perhatian para pengunjung. Selama acara pembukaan, semua tamu di jamu dengan sangat baik oleh mereka. Dan tamu yang datang pun mulai dari kalangan masyarakat pantai, kalangan pengunjung pantai, juga rekan-rekan bisnis para orang tua mereka.


Entah, darimana kabar perayaan ini berhembus, kabar berita yang tersebar sehari sebelum pembukaan di mulai bukanlah datang dari Jena, Gibran dan juga Agam. Hingga banyak dari kalangan penggemar dadakan Gibran menodong untuk hadir di acara tersebut. Membuat Gibran sempat kebingungan, dan akhirnya mempersilahkan siapa saja untuk hadir di acara tersebut.


Begitu juga dengan Jena, akun media sosialnya yang jarang di gunakan, mendadak di bom Dm para penggemar. Mereka menuntut untuk di persilahkan jua hadir di acara tersebut, dan demi ketenangan hidupnya yang tidak suka di rundung, Jena pun mempersilahkan mereka untuk hadir.


Saat acara tengah berlangsung, Arkan hadir di sana, dengan wajah tertekuk masam. Bagaimana tidak, dia punya dua saudara, dan tidak ada satupun di antara mereka yang mengundang dirinya untuk hadir, ckckckckkc sungguh hati pria tinggi tegap itu di buat sedih oleh dua adiknya.


Namun, saat sedang menginterogasi para bocah-bocah tengil itu"Kami tidak pernah mengundang wartawan, sungguh bang," ujar Agam dengan nada meyakinkan.


Ujung matanya melirik kepada Gibran, dan bocah tinggi berkulit gelap itu langsung bersuara"Benar yang di katakan Agam, aku berani bersumpah bang."


"Hus!! jangan mudah mengucap sumpah!," tegur Agam segera.


"Ash!!," desis Gibran saat Agam memukul jemarinya yang hendak membentuk huruf V kepada Arkan"Tapi memang begitu adanya bang, para wartawan itu datang sendiri. Kami pun bingung, sejak kapan mereka datang dan memotret tempat ini untuk di muat pada laman berita mereka."


Saat itu, saat Arkan tengah menginterogasi bocah-bocah tengil, Jena datang dengan baki kosong bertumpuk-tumpuk di tangannya"Alih-alih hendak mengomel, lebih baik Abang membantu kami. Lagipula kami hanya terlalu sibuk demi menyiapkan acara ini, hingga melupakan dirimu. Dan mengenai para wartawan itu, sudahlah! anggap saja kehadiran mereka suatu awal yang baik untuk kita, sebab kita tidak harus mengeluarkan uang untuk membayar mereka meliput berita bisnis kita ini, benar bukan?," sang adik perempuan yang tidak suka berbasa-basi itu langsung menyentil kesadaran Arkan, di tengah kesibukan mereka, dirinya justru datang dengan sikap yang tidak baik, protes karena tidak di beri kabar, seperti anak kecil yang marah tidak di undang ke pesta ulang tahun temannya.


"Cepat!," ujar Jena menyodorkan baki kepada Arkan.


Sedikit terhuyung ke belakang, mau tidak mau Arkan akhirnya menerima titah sang ratu galak itu. Wajah pasrahkan yang semula garang, kini berubah seperti gukguk yang di beri hukuman oleh tuannya, membuat Agam dan Gibran menahan tawa.


Namun, rasa tidak berima itu sungguh sulit untuk di biarkan saja"Jenaira, yang sedang ku pikirkan, apakah kalian menganggap ku sebagai keluarga? mengapa kalian sampai melupakan ku sebelum acara pembukaan ini."


Memutar bola matanya kekiri dan kekanan"Ayolah abang, kau begitu tidak rela karena tidak kami libatkan dalam acara ini??."


"Bukan masalah itu," sanggahnya.

__ADS_1


"Lantas?," wanita itu mulai berkacak pinggang, pertanda emosinya sudah mulai menapaki tangga gunung merapi.


"Katakanlah, aku datang tanpa di undang ke acara ini," ujarnya sedikit menggaruk sebelah alis tebal yang di milikinya.


Agam semakin menahan tawa, sikap tiga bersaudara ini selalu membuat perutnya terasa di kocok, menggelikan.


"Jadi, kemarahan abang hanya karena tidak kami undang?," Gibran menimpali.


"Hem! dan aku mengetahui kabar jadwal pembukaan cafe ini dari berita di internet," Arkan lekas meralat ucapannya, sebab Jena kembali menatapnya nyalang.


"Ah, baiklah, kita ketepikan para wartawan ini, setidaknya sebagai saudara, kalian tidak melupakan diriku," ucapnya lagi.


Emosi sang adik perempuan benar-benar terpacu naik saat ini"Oho! daripada mempertanyakan hal tidak berguna ini, sebagai saudara apakah pantas abang merajuk karena kami lupa mengundangmu? coba abang putar kembali ingatanmu pada hari-hari sebelum ini, kau terlalu sibuk dengan malaikat penolongmu, alih-alih datang kemari untuk membantu kami."


Agam perlahan mundur, masalah tiga bersaudara ini semakin melebar bak sayap elang raksasa. Sempat memberi kode kepada sang istri, Agam memilih pergi dari hadapan mereka dan membantu para rekan-rekan nya melayani para pelanggan.


Malaikat penolong?? Arkan melupakan Melisa! membuat pria itu menepuk keningnya hingga menimbulkan suara yang lumayan nyaring"Aduh! nona Melisa! aku sudah janji akan menjemputnya, tapi aku langsung berangkat kemari, tanpa dirinya."


"Nah! daripada merajuk tidak jelas seperti sekarang, lebih baik abang segera menjemput calon kaka ipar kami itu. Aku yakin saat melihatmu mama pasti akan menanyakan nona Melisamu itu," segera, Gibran mengambil baki di tangan Arkan. Sungguh, omelan Arkan tidak lebih baik dari omelan Jena, sama-sama membuat Gibran yang cinta damai itu tertekan.


"Calon kakak ipar gundulmu," seru Arkan tidak terima, dan tawa dua adiknya pun pecah.


Dan benar saja, Adila melenggang ke dapur cafe, tempat mereka sempat berdebat"Arkan, kapan kau datang? apa kau sendirian? di mana Lisa?."


Oh Tuhan, Jena menjaga jarak dari Adila sedari tadi, demi menjaga moodnya agar tetap baik sepanjang acara ini berlangsung. Kedatangan sang ibu, yang langsung bertanya tentang Melisa, memancing kekesalan di hati Jena. Sikap sang ibu terhadap Melisa berbanding terbalik saat sedang berhadapan dengannya, neraca keadilan Adila terhadap Jena, tentang sikap dan kasih sayang nampaknya masih saja tidak seimbang.


"Dia baru akan menjemput Lisa nya ibu," tutur Jena segera berlalu dari hadapan mereka, juga dari hadapan Adila.

__ADS_1


...****...


Seperti yang di katakan sutradara Han, kediaman pantai yang berisi orang-orang cantik dan tampan itu jelas mengundang perhatian khalayak ramai. Tidak sia-sia dirinya menyuruh para wartawan untuk meliput acara tersebut, bahkan tak sedikit dari para wartawan itu mengucapkan begitu banyak terimakasih telah memberi kabar yang sangat berharga itu. Awal mulanya, hanya Jena sang putri dari pengusaha sukses Ahmad yang mengundang rasa penasaran para netizen dan wartawan. Sebagai penulis ternama, sikap dingin dan tertutup nya membuat mereka kesulitan mencari kabar tentang dirinya.


Namun kali ini, kemunculan Gibran yang memiliki sifat berbalik dari sifat sang kakak, seolah membuka pintu restoran baru, yang berisi begitu banyak hidangan sedap bagi para wartawan.


Di tambah dengan kemunculan Arkan dalam acara tersebut, dirinya yang sesekali muncul bersama sang ayah membuatnya menjadi salah satu target penggalian informasi dari putra-putri tuan Ahmad, sang pengusaha sukses di bidang properti.


"Ah, bukankah itu nyonya Arabella," ucap salah seorang wartawan.


Awalnya, hanya wartawan itu yang menyadari kehadiran Nyonya Arabella di tempat itu. Dan satu persatu para wartawan yang lain semakin menyadari dan mengingat"Oh, ya!! putranya menikah dengan Jenaira."


Usai puas mengambil foto Gibran dan Arkan, kini mereka beralih kepada Agam. Sungguh, pembukaan cafe itu seperti hamparan hidangan sedap yang menggugah selera para wartawan. Ada begitu banyak kabar dan berita yang tersaji di tempat itu.


Dan, saat acara telah usai, giliran para wartawan melaksanakan tugasnya. Wajah-wajah mereka menghiasi laman berita terheboh pada awal minggu itu.


Kabar tentang Arkan sang putra pertama pengusaha kaya raya, pebisnis muda dengan paket lengkap pastinya.


Kabar berita tentang Gibran, sang idola pendatang baru, pemuda pantai berperawakan tinggi tegap, juga dengan bakat bisnis yang tidak di ragukan lagi, tentu! karena dia putra bungsu dari Ahmad Abian.


Tentang Jena, penulis dingin yang banyak tersenyum pada acara pembukaan cafe tersebut. Selain cantik, wajahnya juga sangat terlihat ceria, jelas saja! dia memiliki suami tampan yang sangat baik, lembut dan perhatian terhadapnya. Dengan gamblang, Jena di kabarkan sedang berbahagia di dalam rumah tangga yang harmonis.


"Bugh!," sebuah bantal di lempar keras di atas sofa tunggal.


"Ash! bagaimana kau bisa menjalani hidup yang bahagia, sedangkan aku....," suara wanita itu tertahan. Dirinya langsung menyambar ponsel yang baru saja menerima sebuah pesan.


"Nona Tiara, batas pembayaran hutangmu telah habis. Segera lakukan pembayaran jika, tidak ingin berurusan dengan pihak berwajib."

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2