
"Kau sakit jiwa Gam?!!" sentak Jena. Jemarinya mencengkeram kemudi dengan erat, kata-kata yang keluar dari mulut Agam membuat hatinya yang beku berdesir. Ada apa ini?!!!.
Pria itu malah tertawa, bukankah sedetik lalu dia memasang wajah bersedih, lantas, kenapa sekarang dia malah tertawa??
"Lihatlah! kau tertawa, kau benar-benar sakit jiwa!", sentak Jena mengarahkan jari telunjuk tepat di hadapan Agam.
"Terserah kau Jena, mau mengatakan aku sakit jiwa pun, aku akan menerimanya. Setidaknya aku sedikit lega, meski di sangka gila, kau sudah tahu bahwa aku menyukaimu".
Protesnya"Hei, kau harus memanggilku kakak, apa sekarang kau kerasukan? kemana perginya Agam yang selalu memanggilku kakak??".
"Kau terlihat panik Jena" celoteh pria itu dengan tawa mereda.
"Kau menggila Agam, Jelas saja aku panik".
Agam berkilah "Aku tidak menggila".
"Tidak! kau jelas gila", todong wanita itu tanpa perduli dengan apa yang Agam ucapkan.
"Apa sikap ku membuatmu muak?", sembari memperbaiki duduknya, kali ini Agam melontarkan pertanyaan.
"Tentu saja, sudah cukup menghadapi Rio yang selalu menggodaku, jika kau benar-benar menggila aku mungkin akan memukul kepalamu".
"Apa manfaat kau memukul kepalaku?" dengan polosnya pria itu bertanya kepada Jena. Sikapnya sungguh memuakan, namun emosi wanita itu tidak sebesar saat menghadapi Rio.
"Agar otakmu kembali berfungsi dengan baik, Agam", ujar Jena tegas.
"Hahahha", Agam kembali tertawa. Wanita di hadapannya ini sangat lucu ketika sedang panik, mendadak banyak bicara, dan mimik wajahnya itu___ Agam sangat menyukainya.
"Kau masih bisa tertawa?".
"Aku senang, kau begitu banyak berceloteh Jena. Wajahmu melukiskan banyak ekspresi saat sedang panik, kau seperti langit mendung usai di terpa hujan, pelangi dengan banyak warna kini menghiasi wajahmu".
Jena mencoba tenang, kembali memasang wajah datar dan dingin. Kedua bola matanya turun naik menatap tajam kepada Agam.
"Bola matamu seperti bola ping-pong", ujarnya begitu ringan.
"Kau___", suara Jena tercekat. Sangat tidak si sangka Agam meledeknya dengan memainkan kedua alis tebal itu turun naik. Membuang muka, Jena berharap dengan menatap ke luar jendela dapat meredam emosi yang menggebu.
"Maaf kak Jena, aku hanya bercanda", akhirnya Agam puas bermain-main.
Wanita itu menarik napas panjang kemudian membuangnya. Ada perasaan lega saat Agam berkata semua itu hanya sebuah candaan. Entah mengapa, Agam yang menggila itu sangat menakutkan baginya. Bukan apa-apa, Agam terlihat sangat tampan saat tertawa, juga saat melontarkan kata-kata itu, jantungnya berdebar kencang.
"Baguslah jika hanya bercanda, lebih bagus lagi jika kau tidak akan mengulangi hal itu di lain hari".
"Baiklah kak Jena", ujarnya kembali mengumbar senyuman. kenapa Agam terlihat berbeda usai melontarkan candaan tadi.
Jena melengos "Hosh!, berhenti bercanda. Sekarang kau mau minum apa?".
"Apa saja".
"Agam, kenapa kau tidak cerewet seperti Gibran dalam hal minuman".
"Berteman dengannya bukan berarti aku harus sepertinya kan!".
"Ku pikir kalian berasal dari planet yang sama".
__ADS_1
"Kak Jena___", Agam hendak protes.
"Hahahah, baiklah, aku minta maaf. Bukan hanya kau yang bisa bercanda, aku juga bisa Agam".
Ya Tuhan!!! apakah Agam seorang pahlawan dunia di kehidupan lampau?? Jena tertawa kepadanya. Dia bahkan tertawa sangat lebar, untuk kesekian kalinya lelaki itu jatuh cinta kepada Jena. Sungguh cinta membuat gila, kali ini Agam memberanikan diri menanyakan perihal lamaran Rio.
"Aku menolaknya".
Sebuah jawaban yang melegakan hati seorang Agam. Harapan itu kembali ada, hatinya kembali berbunga, ah! lelaki ini kembali tergila-gila kepada Jena.
"Kak, sebenarnya saat memergoki om Tian tadi, aku sedang makan siang bersama ayah dan bundaku".
Perkataan Agam membuat Jena bertanya "Kau meninggalkan mereka?".
Kembali, dengan polosnya Agam mengangguk.
Wanita itu sedikit tidak percaya, seorang Agam sang anak baik tega meninggalkan kedua orangtuanya demi mengikuti Tian dan Tiara "Kau sangat durhaka! cepat kembali kepada mereka. Aku akan mentraktir mu di lain hari. Mereka pasti sangat khawatir atas dirimu".
"Benarkah kau akan mentraktirku di lain hari".
"Lihatlah wajahku, apa aku terlihat sedang berbohong?".
"Tentu saja tidak, lagipula jika terus melihat wajahmu aku akan kembali menggila".
Jena berdesis, bocah di sampingnya itu sungguh bernyali hari ini.
Desis protes Jena membuat Agam kembali tertawa, lesung pipit di pipinya sungguh sangat menarik.
"Apa mereka di restoran ini?", wanita itu menghentikan mobil di sebuah restoran yang tidak jauh dari hotel kencana, tempat mereka berjumpa.
Kedua alis Jena beradu"Kau kenapa sih Agam", sebuah senyuman tertahan di balik wajah datar itu.
Sembari turun dari mobil, Agam terus menebar pesona di hadapan Jena "Hanya bercanda kak Jena", Senyum itu terus mengembang, membuat Jena tidak berani menatapnya lebih lambat.
Jena mengucapkan terimakasih atas informasi yang dia dapatkan dari Agam, lagi dan lagi senyuman manis pria itu tertuju kepadanya.
Agam berbalik hendak menuju pintu restoran, saat Jena hendak menyalakan mesin mobil, pria yang mendadak over aktif itu kembali menghampiri.
"Jena".
Entah mengapa mendengar namanya di panggil, tanpa embel-embel kakak terasa menggetarkan hati.
Tanpa menjawab, Jena hanya membalas tatapan Agam.
"Tentang perasaanku, aku serius. Jika kau memang menolak Rio, apakah kau mau menerima lamaranku?".
Jena terperangkap dalam diam, begitu banyak kejutan yang Agam lakukan di depannya hari ini. Dilamar bocah tengil? sungguh hal itu tidak pernah terlintas dalam benaknya.
"Hentikan lelucon ini Agam, cepatlah kembali kepada kedua orang tuamu", sahutnya memutus pandangan mereka. Menarik tuas untuk segera pergi dari hadapan Agam.
Hati yang terbiasa sepi, terbiasa beku, kenapa terasa hangat saat bersama Agam hari ini?
"Omong kosong", desis Jena berusaha fokus mengendarai mobil.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
Sekembalinya dari perkotaan, Jena di buat terkejut atas kehadiran ayah dan kakak laki-lakinya. Drama apa lagi yang harus dia lakoni, mengapa akhir-akhir ini orang tua yang acuh kepadanya sering bertandang ke kediamannya.
Meski terluka, Jena tidak ingin menoreh luka pula pada hati sang ayah. Meski kerap bersikap dingin, sejujurnya kehadiran pria paruh baya itu sedikit menyentuh hati kecilnya.
"Ada perlu apa kalian kemari?", tanya wanita itu seraya menyerahkan kunci mobil pada empunya, Rio. Tengah berhadapan dengan sang ayah dan juga kakak laki-lakinya, entah apa yang sedang Rio bicarakan bersama mereka. Jika masih tentang niatnya untuk melamar, Jena tidak akan tinggal diam.
Mungkin karena mobil yang Jena bawa hingga Rio masih berada di sana, sementara Kirana, bahkan batang hidungnya pun sudah tidak terlihat.
"Apa kau sudah makan?".
Manik wanita itu menatap sang ayah, pertanyaan yang hampir tidak pernah dia dapatkan selama ini.
Merasa di acuhkan, Abian kembali bertanya kepada Jena.
"Tidak usah mengkhawatirkan diriku, katakan saja apa maksud kedatangan kalian".
"Ayah hanya sekedar singgah, proyek pembangunan perumahan KPR akan segera di mulai, kami ke sini setelah menjenguk lokasi tersebut".
Tidak ingin banyak bicara, Jena hanya berkata Oh, kemudian hendak undur diri dari hadapan mereka.
"Terimakasih pinjaman mobilnya, jika kau sudah tidak ada urusan lagi, silahkan pergi dari sini", lantas, wanita itu pergi menuju lantai atas. Perlahan Arkan mengekor langkah sang adik, hanya sekedar untuk menanyakan kabar.
"Maaf Rio, kau tahu kan tabiat Jena".
Pria itu mengurai tawa "Tidak mengapa om, Rio sudah terbiasa dengan sikap itu".
Obrolan itu baru saja di mulai, namun nampaknya harus segera mereka urungkan. Sebuah mobil singgah di pekarangan, terdengar pintu mobil di banting keras bersama teriakan seorang wanita.
"Jenaaaa!!".
"Keluar kau Jena!!!".
Sontak teriakan itu mengundang mereka semua untuk berkumpul.
Nampak berantakan, rupanya Tiara yang datang dengan sangat tidak sopan itu. Entah hal apa yang baru saja dia lakukan, riasan di wajah nya nampak kacau. Nampak genangan air mata masih membekas di kedua pipi, lipstik yang keluar dari garis bibirnya, dan kedua mata yang biasanya terlihat cantik kini berubah menghitam oleh eyeliner yang luntur.
"Kenapa kau berteriak mencariku?", Jena berdiri di ambang pintu. Tiara yang masih di pekarangan sedikit mendongak menatapnya, sebab rumah itu di bangun dengan pondasi panggung.
"Kau sangat licik, apa kau tidak puas merebut kembali karya murahan itu? kau bahkan mengirim foto kepada Dewa, dan mengatakan aku berselingkuh darinya".
Jena menyeringai "Hei, kau tidak sedang mengigau kan? atas dasar apa kau menuduhku melakukan hal itu?".
"Kau baru datang dari hotel Kencana kan?? mengaku saja, kau sungguh sangat licik Jena. Kau memang pergi dari kediaman Dewa tapi kau terus mencari perhatian Dewa".
"Tiara! kau sedang meracau, sadarkan dirimu", sentak Arkan.
"Adikmu yang seharusnya di sadarkan, Dewa bukan lagi suaminya, menjauhlah dari nya!!!", teriak Tiara lagi.
Kembali tertawa, Jena memandang rendah pada sang mantan sahabat "Aku memang baru datang dari hotel Kencana, tapi aku tidak mengambil foto apapun, meski di depan mataku kau bergandeng mesra dengan lelaki lain".
Jemari Tiara menggenggam erat, terlebih Jena bersikap tenang saat dirinya berteriak penuh amarah padanya. Wanita itu berjalan mendekati Jena, menaiki tangga dan menyerang Jena membabi buta.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1