
--Menapaki jembatan kayu di sebuah desa asing, wanita berperawakan langsing itu menatap sebuah benda yang baru saja dia dapatkan dari seorang kakek tua. Mungkin lebih tepatnya bukan dia dapatkan, tapi sengaja meminta pada kakek tua itu.
Di ujung jembatan, mobil yang di milikinya terparkir di tepian jalan raya, wanita itu bergegas menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Rasa penasaran akan benda itu membuat jantung nya berdetak lebih cepat, sungguh, saat-saat seperti ini sangatlah dia nantikan.
Wanita itu mengamati keadaan sekitar, meski tergolong ramai namun dapat di pastikan tidak ada seorang pun yang tengah berfokus memperhatikan dirinya. Membuka bungkusan dengan kain berwarna hitam, kedua mata wanita itu membulat sempurna.
"Kau bebas hendak menusuk atau mematahkan segala bagian dari boneka jerami ini, setelah itu kuburlah di tempat yang sangat jauh. Jangan lupa, sertakan foto orang yang ingin kau celakai itu. Selama benda ini belum di temukan dan di pisahkan dari foto orang tersebut, selama itulah penderitaan akan terus bersarang pada tubuhnya."
Perkataan dukun yang terkenal sakti sejagat halu itu membuat senyum kepuasan terbit di wajah wanita cantik itu.
"Sekarang....kau rasakan akibatnya......"--
Jemari kecil Jena terus menari dengan leluasa di atas keyboard laptop.
"Woi!!!."
Seketika Jena terjungkal dari kursi yang dia duduki. Dengan tajam kedua manik coklat wanita itu menatap horor pada seseorang yang sukses membuatnya terkejut.
"Gibran!!! kau sangat bernyali membuatku terkejut," sentaknya mendapati adik tengil tengah memamerkan barisan gigi putihnya.
Tanpa perduli pada ocehan Jena, Gibran mengambil alih kursi sang kakak dan membaca naskah yang tengah di ketik Jena.
"Ckckckck, kenapa kau hanya menuangkan kejadian ini di dalam novel? seharusnya kau juga melakukan apa yang di lakukan tokoh utama dalam novel mu ini kak Jena," tukasnya memiringkan badan, menatap Jena yang begitu kesal menatap dirinya.
"Coba kau bayangkan, betapa menyenangkannya menyakiti Tiara tanpa menyentuh, menyakiti tante Jelita tanpa orang lain tahu?," sembari menerawang, begitu ringan Gibran melontarkan kata-kata itu.
"Bocah durjana! apa kau lupa dengan kuasa tuhan!."
"Lagipula, siapa yang mengijinkanmu membaca naskahku? itu masih menjadi rahasia!," desisnya bangkit dari lantai yang dingin. Mendorong tubuh besar Gibran hingga pria itu beringsut dengan terpaksa.
"Hahaha, anggap saja aku sedang menjelma menjadi editor mu saat ini. Lihatlah, tidak ada editor berwajah tampan rupawan seperti adikmu ini bukan."
"Sinting, cepat pergi dari sini?," gerutu Jena.
"Aduh kak Jena, kau berubah galak lagi. Bukankah kau sudah melunak bahkan bersedia ku peluk saat kejadian kemarin? ck! aku jadi curiga, jangan-jangan kau adalah jelmaan siluman bunglon."
"Plak!!," sebuah buku besar mendarat dengan indah di kepala Gibran.
"Pertahankan kewarasan otakmu, sangat menyedihkan jika wajah tampanmu itu harus di bekali dengan otak yang miring," desis Jena.
"Akh!!!," terdengar pekik tertahan dari seorang Gibran.
Setelah berhasil menggeser Gibran dari kursinya"Katakan! ada perlu apa kau kemari?," tanya nya menutup kembali benda kotak itu. Sungguh, di saat keberaniannya kembali membuka laptop telah muncul, berbekal ide-ide dunia perdukunan yang akan dia curahkan ke dalam novel misterinya, cecunguk tengil ini justru hadir dan mengganggu konsentrasi nya.
"Aku ke sini kan karena kau yang memintanya," jawab Gibran berjalan menuju beranda. Hem...pemandangan di halaman kediaman Agam cukup indah, terlebih dengan adanya asisten rumah tangga keluarga Agam yang sedang mengajari pelayan baru mengurusi kebun bunga milik Arabella.Cih! dasar Gibran!!.
__ADS_1
Jena mengekor langkah Gibran dan bergabung di beranda"Aku hanya menanyakan kabarmu, bukan memintamu datang ke sini," ujarnya mendudukan diri di kursi santai.
"Apa kau khawatir dengan luka-luka ku saat menyelamatkan dirimu?," lagi, Gibran tersenyum lebar menampilkan gigi kelinci nya kepada Jena.
Wanita itu memandangi wajah Gibran beberapa detik"Hem, kau bahkan tidak memiliki bekas luka di wajahmu, kekhawatiran ku sungguh sangat sia-sia."
"Eiiiiii, jangan begitu kak Jena. Kau tidak lihat bagaimana lihainya aku menggunakan sabuk ini ketika melawan para preman itu," celoteh nya sembari menyibak kemejanya, memperlihatkan sabuk yang kemarin dia gunakan sebagai senjata.
"Aku tidak menyangka, ternyata aku sangat hebat dalam berkelahi. Ku pikir darah yang menodai wajahku adalah darahku sendiri, ternyata itu darah para preman lemah itu."
Memalingkan wajah untuk berkaca di kaca pintu"Pantas saja tidak ada rasa sakit sedikit pun," lanjutnya mengusap wajah tampannya.
Melihat tingkah Gibran, mengundang sedikit tawa di wajah Jena. Namun sebelum bocah tengil itu menyadari nya, Jena segera memasang wajah datar kembali.
"Baiklah, kau yang sangat tampan dan lihati berkelahi, sekarang katakan hal apa lagi yang membuatmu bertahan di sini?."
"Ng?," Gibran menatap Jena penuh tanya.
"Jika tidak ada hal lain lagi, silahkan pergi. Aku sedang sibuk. Kau sudah lihat bukan, aku sedang mengetik naskah saat kau menorobos masuk ke kamar kami."
"Kamar kami???," seketika wajah Gibran berubah mengolok-olok. Sedangkan Jena, mengerutkan kening menanggapi ucapan Gibran yang sudah pasti akan menjahilinya.
"Jadi, sekarang kau sudah menerima bocah itu, buktinya kau sudah mengakui bahwa ini adalah kamar kalian?," alih-alih pergi, Gibran mengambil duduk begitu dekat dengan Jena. Membuat wanita itu bergeser mundur demi menciptakan jarak di antara mereka.
"Aku tahu dia memang sedang di lantai bawah, sebab dialah yang mempersilahkan aku masuk dengan leluasa ke kamar kalian ini," ujarnya lebih menekan menyebutkan kamar mereka.
"Dan apa kau tahu apa yang sedang dia lakukan bersama bunda?," tanya Gibran.
"Ah salah! apa kau tahu apa yang sedang bunda lakukan terhadapnya?," ulangnya lagi.
Jena hanya menatap tanpa reaksi padanya. Melihat sikap itu, Gibran membuang napas kasar, seolah ada batu besar yang sedang mengganjal hatinya.
"Oh Jenaira si wanita kutub, bisakah kau sedikit peka terhadap suamimu?."
Kedua alis wanita itu di buat semakin bertautan"Apa lagi Gibran, aku tahu kau sangat cerewet, tapi kali ini kau sangat cerewet dan menyebalkan."
"Kau tidak mengobati memar di pundak Agam?," tanyanya menahan gemas.
"Hah? ada apa dengan pundaknya?."
Ck! Gibran memutar malas kedua bola mata bobanya"kau!!! apa hanya wajah cantik saja yang sempat kau bawa sebelum terlahir ke dunia ini?? apa kau meninggalkan seperangkat otak kecil dan otak besar mu di dalam rahim mama? saat kau di culik, preman suruhan Dewa memukul pundaknya dengan balok besar."
Seketika Jena berdiri, kedua mata wanita itu mengerjap berkali-kali meresapi setiap perkataan Gibran.
"Dia nyaris pingsan setelah mendapat pukulan itu? tepat saat Dewa memaksa penghulu untuk menikahkan kalian."
__ADS_1
Kata perkata yang di sampaikan Gibran memukul telak relung hatinya. Sungguh kejadian itu lepas dari penglihatan nya saat itu, di sela rasa takut dalam cengkeraman Dewa, Jena hanya melihat saat Agam telah menghajar preman yang sudah memukulnya dengan balok besar itu.
Segera wanita itu menemui Agam di lantai bawah, terlihat suaminya tengah menemani bunda di ruang tamu.
"Hei menantu cantik bunda, apa kau sudah merasa lebih baik, sayang?," Arabella begitu antusias.
Mendudukan diri di samping Agam, di pandangi pria yang tengah tersenyum manis padanya.
"Maaf bunda, aku terlalu mengurung diri di kamar beberapa hari ini," ujarnya pada Arabella.
"Jena sayang, kau tidak bersalah. Melihat mu kembali membaur bersama kami di sini saja, sudah cukup membuat bunda bahagia."
Jena kembali memandangi Agam yang sedang mengupas jeruk.
"Dan satu lagi Jena... kau harus tahu betapa berharganya dirimu dalam keluarga ini," sambung Arabella.
Tanpa berucap, Agam menyodorkan buah jeruk itu ke mulut Jena. Dengan pasrah wanita itu menerima suapan dari suaminya.
"Tapi bunda, sikapku sangat tidak sopan. Aku bahkan tidak menemanimu dan menyapa mu sejak kejadian itu, dan hanya mengurung diriku di dalam kamar," nampak sangat menyesal, Jena memainkan ujung-ujung jemarinya dalam pangkuan.
Agam tersenyum kecil melihat sikap itu, istrinya seperti anak kecil yang tengah mengadu kepada bunda.
"Tidak mengapa Jena sayang," seru Arabella menarik Jena untuk berpindah lebih dekat padanya.
"Bunda tahu, kau belum terbiasa hidup bersama kami," meraih jemari kecil Jena dan menggenggam nya erat, perasaan hangat perlahan menjalar ke dalam hati mereka.
Lagi-lagi Agam menyuapi Jena dengan buah jeruk, tak perduli tatapan Arabella yang seolah iri akan pelayanannya kepada Jena.
"Kau, hanya menyuapi istri mu? lantas, pergi kemana bocah ingusan yang sejak tadi melayani bunda dengan sepenuh hati?," protesnya sembari menatap nakal pada Agam.
Seketika Jena mengambil alih jeruk di tangan Agam"Ini bunda, jika dia tidak setia melayani bunda, masih ada Jena yang akan selalu melayani dan menemani bunda.".
Arabella tersenyum senang. Dia menerima suapan Jena dengan perasaan bahagia.
"Hehehe, lihatlah, menantu cantikku sudah menggantikan posisi mu," celoteh Arabella mengolok-olok putranya.
Pria itu mengangguk penuh makna"Hei...., jadi sekarang kalian membentuk aliansi untuk menyingkirkan ku?," tanyanya menatap dua wanita berbeda generasi itu bergantian.
...πΌπΌπΌπΌ...
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€
__ADS_1