Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Jodoh Zafirah.


__ADS_3

Rencana matang yang hampir terlaksana terpaksa di gagalkan, ketika takdir berkata lain apa hendak di kata. Cincin itu telah sampai kepada Ben, putra Dawud sang sahabat Kiyai Bahi di saat remaja. Setelah mendengar kisah di masa lalu, Ben sempat meragu, pantaskah dirinya menjaga Zafirah? bahkan memiliki gadis solehah itu?.


Ada begitu banyak pertimbangan yang membuatnya sempat bimbang, salah satunya adalah status sosial. Katakanlah dirinya adalah duda muda yang di buang karena miskin, katakanlah dirinya seorang putra yang tinggal sendirian di dunia ini, sebab kedua orang tuanya telah tiada. Sempat tinggal bersama sang kakek, namun akhirnya kesendirian di dunia ini benar-benar memeluk Ben, dua tahun yang lalu sang kakek telah berpulang kepangkuan sang pencipta.


Ketika kau tak lagi di harapkan, bahkan di hina sebab hidup sebagai orang yang tak punya. Alih-alih merutuki nasib dengan air mata, Ben memilih bangkit, kembali berjuang untuk meraih harapan. Di sanalah, sebuah rumah kecil yang sempat di perjuangkan demi membahagiakan Andara, namun sayangnya wanita itu tak cukup hangat berada di dalam rumah yang kecil, dirinya memilih hidup bersama pria kaya raya di dalam hunian yang mewah. Hingga, tersisalah Ben, pria miskin juga pria sebatang kara.


"Paman, aku bukan pria yang taat beribadah."


"Benarkah?."


"Ya, aku mengerjakan kewajiban lima waktu itu dengan malas-malasan, bahkan tak jarang aku mengerjakannya di penghujung waktu. Bukan karena aku sibuk bekerja, bukan juga karena aku sibuk mengurusi Enda, aku hanya ingin sekedar berleha-leha dahulu, sebelum mengerjakan kewajibanku sebagai seorang muslim."


Kiyai Bahi tersenyum"Apa kau pernah tidak mengerjakan kewajibanmu barang sekali pun?."


"Seingatku, tidak pernah. Tapi, seperti yang telah aku katakan, aku selalu mengerjakan kewajibanku di penghujung waktu."


"Tapi kau tetap melakukannya," sambar Kiyai Bahi yang kemudian di angguki Ben.


"Lantas, apa pantas pria sepertiku memperistri wanita solehah seperti putri paman? memikirkan pernikahan kami saja aku merasa malu paman. Apalagi aku seorang duda, aku justru kasihan kepadanya jika harus mendapat suami seperti diriku," Ben membuka diri seutuhnya di hadapan Kiyai Bahi. Pria ini tak ingin Kiyai Bahi merasa tertipu akan dirinya, sesungguhnya, Ben merasa obrolan mendiang ayahnya dan paman Bahi hanyalah gurauan saja, tidak perlu harus di laksanakan dengan menikahkan dirinya dengan Zafirah.


"Khair, katakan, apa putriku tidak masuk dalam kriteria wanita idalamanmu?," ujarnya melontarkan tanya sembari tertawa.


Ben di buat panik atas pertanyaan itu, segera dia menggelengkan kepala"Tidak, bukan seperti itu, paman, putri paman wanita yang sangat menarik. Dia sosok perempuan yang sangat keibuan, Enda sampai jatuh hati kepadanya, paman."


Kiyai Bahi mengangguk"Atau, apa kau sudah punya kekasih hati?," tanya Kiyai Bahi lagi.


Ben kembali menggeleng"Tidak, paman. Wanita mana yang mau dengan seorang duda miskin seperti ku."


"Siapa yang tidak mau dengan pria sepertimu? contohnya paman."


Ben menatap Kiyai Bahi lekat-lekat, ekspresi nya membuat Kiyai Bahi tertawa hingga gigi putihnya terlihat nyata"Aku menginginkan mu sebagai menantu, bukan sebagai.....," ujarnya menggantung kata-kata.


Sama seperti kiyai Bahi, Ben pun tertawa menanggapi hal itu.


"Katakan, apa kau bersedia?."


"Tapi, saya bukan....."


"Paman tahu, kau pria apa adanya, pria yang takut membuat orang kecewa atas kehadiranmu. Paman teringat mendiang ayahmu nak, kalian sama-sama rendah hati" begitu teduh, Kiyai Bahi memandangi Ben dalam-dalam.


"Tidak, saya manusia yang sombong, paman," ujarnya menepis pandangan baik Kiyai Bahi kepadanya.


"Bagaimana dengan Zafirah, paman?," tanya Ben lagi, sungguh tidak menyangka dirinya begitu tidak sopan menanyakan perasaan wanita itu, langsung kepada ayahnya.


"Dia telah menyerahkan semuanya kepada paman."

__ADS_1


"Sebelumnya, apa dia sudah tahu akan hal ini? tentang niat paman menikahkan kami?."


"Belum."


Jawaban itu membuat kaki Ben melemas, setitik harapan di dalam hatinya mendadak sirna. Di tawarkan untuk menjadi suami dari wanita sebaik Zafirah, hati siapa yang tidak berbunga. Tapi, ketidak tahuan gadis itu akan rencana sang ayah, membuat hati kecil Ben kembali menciut.


Melihat raut wajah gugup Ben, Kiyai Bahi tersenyum simpul"Paman akan bertanya sekali lagi, apa kau mau menikahi putri paman? yang bernama Zafirah?."


"Pria mana yang akan menolak putri paman yang hampir sempurna itu," lirihnya menundukan kepala. Jemarinya saling berpegangan sejajar dada, seperti sedang menyeberangi sungai besar dengan papan titian yang begitu kecil.


Hari sudah petang, sebentar lagi para murid yang tidak mondok akan segera di pulangkan.


"Hari ini kalian tidak perlu pulang, menginaplah di sini," ujar Kiyai Bahi, terdengar seperti perintah.


"Tapi paman, kenapa kami harus menginap di sini?."


"Malam ini, ba'da sholat maghrib kau akan ku nikahkan dengan putirku, Zafirah."


...❣️❣️❣️❣️...


Langit jingga mulai menaungi kediaman pantai, Jena dan Agam sedang menonton televisi, sembari bersiap menikmati kacang rebus kiriman seorang gadis di ujung pulau untuk Gibran.


"Sayang, apa tidak mengapa memakan kacang ini? inikan di tujukan untuk Gibran," Agam ragu-ragu menerima kacang yang sudah di kupaskan Jena untuknya. Kini, kacang itu sedang menunggu pria tampan itu untuk membuka mulut.


Kata-kata yang manis, juga sikap yang manis, hati kecil Agam di buat gemas dan luluh dengan tingkah sang istri. Dalam sekali hap!, kacang itu telah di nikmatinya.


"Sekarang, kau juga harus memakan kacang ini," kini giliran Agam yang sedang bersiap mengupas kacang itu untuk istri tercinta.


"Tidak perlu, aku hanya ingin melihat kau memakannya."


Agam menghentikan aktivitasnya"Hei, apa kau sedang menjebak ku untuk memakan kacang milik orang lain ini??."


"Hehehe, tidak. Aku benar-benar ingin melihat kau memakan kacang ini," ujarnya mengambil alih kacang yang sudah terkelupas dari tangan Agam.


Jena mengusap pipi Agam, pria itu berusaha menutup mulutnya rapat-rapat"Aaaaa~~~, ayolah sayang! buka mulutnya," Jena merengek bak anak kecil. Sikap itu membuat Jena terlihat menggemaskan di mata Agam, dengan sengaja dirinya menolak suapan Jena agar istrinya terus merengek.


"Heemmm~~~," Agam mencoba menghindari jemari kecil sang istri. Karena tangan Jena yang mengapit pipi suaminya dengan jemari, Agam menjadi lebih berusaha untuk menutup mulutnya.


Jena tak kehabisan akal, dengan gesit dirinya mendorong tubuh Agam hingga bersandar di punggung kursi, dengan begitu dia langsung duduk di pangkuan Agam dan dengan leluasa menguasai wajah sang suami"Bukankah kau bilang sayang padaku?? kau bilang cinta padaku! aku hanya ingin kau memakan kacang ini sampai habis," lagi, Jena merengek.


Lagipul, Agam sudah merasakan kacang itu, tawar! dan Agam sangat tidak menyukai sesuatu yang terasa hambar.


"Agam~~~ cepat habiskan kacangnya!," pinta Jena menyundul leher Agam dengan pucuk kepalanya.


Agam di buat tertawa, kenapa akhir-akhir ini sikap Jena sangat kekanak-kanakan!.

__ADS_1


"Baiklah, kau hanya perlu mencium pipiku, maka aku akan menghabiskan kacang-kacangan itu," tersenyum dengan sepasang lesung pipi, Jena langsung mencium pipi itu secepat kilat.


Ah! ini tidak adil! Agam bahkan belum bersiap-siap untuk menerima ciuman itu"Tidak bisa! kau curang. Kau harus melakukannya secara perlahan," pintanya menatap Jena nakal.


"Heish! semakin lama kau semakin pandai mengambil keuntungan dariku."


Agam semakin tertawa di buat Jena, wanitanya itu menekuk wajah dengan tatapan nakal.


"Cepat!," menyodorkan pipinya lebih dekat kepada Jena.


"Ehem! sebentar," ujar Jena hendak menarik napas. Sementara Agam, pria itu merasakan debar di dada menunggu ciuman lembut dari istri tercinta.


Jena mulai mendekati Agam, sedikit lagi ciuman itu akan mendarat di pipi Agam.


Tapi....


"Drrttttt!!," ponsel di atas meja menyita atensinya. Sontak Jena menoleh ke arah sang gawai, dan nama Zafirah tertera di atasnya.


"Zafirah!," serunya melepas pelukan di leher Agam, juga membawa diri dari pangkuan sang suami. Segera Jena menerima panggilan telepon dari Zafirah dan kembali duduk di tempatnya semula"Assalamualaikum, selamat sore Zafirah."


Membiarkan sang istri berbincang dengan sang sahabat, Agam yang gagal mendapatkan ciuman lembut dari sang istri menekuk wajah.


"Ck! Zafirah! kau menelpon di saat yang tidak tepat!," gerutunya membuang pandangan.


Sebentar saja, panggilan itu telah berakhir. Jena langsung menjerit setelah berbincang bersama Zafirah. Wanita itu kembali memeluk Agam"Sayang! malam ini Zafirah akan menikah!."


Agam di buat terkejut, namun segera mengucap hamdalah"Alhamdulillah, tapi, siapa pengantin prianya?."


"Masih rahasia, kata Zafirah kita mengenali calon pengantin prianya," tutur Jena begitu bersemangat.


Melihat Jena yang terlampau gembira, Agam kembali menagih hal yang belum terlaksana karena telepon dari Zafirah.


"Cepat, kau juga harus membuatku bahagia dengan mencium pipiku," ujarnya kembali menyodorkan pipi kepada Jena.


Jena tersenyum, dengan perlahan dia mulai mendekati wajah sang suami.


Tiba-tiba....


"Assalamualaikum," Gibran datang dari perkotaan, membawa Kanaya yang sedang menenteng rantang makanan.


"Waalaikumsalam," sahut Agam dengan lenguhan lemah, pria itu mendudukan kepala. Sungguh, jika memang belum rejeki ciuman sang istripun sangat sulit untuk di dapatkan.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2