
...Berhentilah, tidak semua orang ingin tertawa bersamamu!!...
...πΊπΊπΊπΊ...
Bus yang membawa Jena dan rombongan mulai melaju, duduk di kursi paling belakang Jena menatap hampa keluar jendela.
"Turunlah, kau masih bisa kembali kepadanya", suara Zafirah membuat Jena memutar badan, memandang wanita itu dengan sempurna.
"Aku bahkan tidak bernah sejalan dengannya", tukas Jena singkat.
"Sorot matamu melukiskan kesedihan, lihatlah, pria itu masih memandang ke arah bus ini", mendongakan kepala ke arah jendela bus, Zafirah dapat melihat sosok Rio yang kian menjauh.
"Semua tidak seperti apa yang kau lihat."
Kening wanita berkerudung itu menyerngit"Maksudmu?."
Jena menarik napas sebelum mulai bercerita"Sudah lama dia meyakinkan diriku atas cintanya, tapi sebaik apapun dirinya tak jua membuat hatiku luluh. Dia bahkan masih menungguku meski telah resmi menjadi istri orang."
Spontan menatap lekat pada diri Jena"Jadi kau sudah menikah?".
"Lebih tepatnya sudah pernah menikah," ujarnya membenarkan perkataan Zafirah.
"Oh, pantas saja kau menolak pria itu.....,"
"Aku mengerti maksud perkataanmu, tapi aku sekarang sudah menjanda Zafirah," lagi, Zafirah di buat terkejut.
Sepasang mata cantik milik Zafirah memandang Jena lekat-lekat, sungguh wanita bersurai panjang ini sangatlah cantik.
"Dan bahkan setelah menjanda pun kau tak bisa menerima pria itu?."
Jena mengangguk lemah.
"Aku sempat hendak menyerah, ku pikir menikah dengannya mungkin akan menyelesaikan permasalahan dalam hidupku. Tapi setelah ku pikir-pikir lagi, tidak ada salahnya bukan jika aku juga ingin bahagia? ketimbang memikirkan perasaan orang lain, aku juga ingin menjaga perasaanku sendiri."
"Naira, setiap manusia berhak untuk bahagia, tak terkecuali dirimu."
"Ya! karena itulah aku meninggalkan mereka yang memaksakan kehendak kepadaku, mengatur hidupku dengan dalih menghindari kesialan yang mengiringi langkah hidupku."
Zafirah meraup tubuh Jena kedalam pelukan, dapat di rasakannya betapa tubuh itu sangat ringkih dan sangat butuh tempat bersandar"Lantas, hendak kemana kau setelah trip ini selesai."
"Entahlah Zafirah."
Zafirah terdiam, memberi sedikit waktu untuk otaknya berpikir sejenak.
"Maaf jika aku lancang, apa pendidikan terakhirmu?."
"Aku lulusan sastra."
Semakin tahu identitas seorang Jena, Zafirah kembali di buat terkejut saat mengetahui usia wanita cantik itu.
"Seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan kakak."
"Jangan, aku lebih nyaman jika kau panggil dengan namaku saja."
__ADS_1
"Tidak kak Naira, usia kita terpaut lumayan jauh."
Jena kembali beradu pandang bersama Zafirah"Ah, apa aku terlihat sangat tua?."
Sontak tawa Zafirah pun pecah"Hahaha, bukan begitu kak Naira, justru wajahmu yang awet muda sukses mengecohku."
Senyuman tipis terbit di wajah Jena"Kau sangat pandai berkata-kata."
Kedua wanita itu terkekeh bersama. Kembali teringat Jena yang kehilangan arah, terbesit ide dalam benak Zafirah untuk menolong wanita cantik itu.
Kembali bertanya"Kau benar-benar tidak mempunyai arah dan tujuan?."
Sembari menyelipkan helai rambut yang tergerai ke daun telinga, Jena mengangguk menjawab pertanyaan Zafirah.
"Kalau begitu kau ikut bersamaku saja dahulu, aku akan berbicara kepada abi."
"Hei," Jena menautkan dua alisnya"Aku, ikut bersamamu tinggal di pesantren???."
"Huum," angguk Zafirah bersemangat.
"Ah, tidak. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa di sana."
"Kau bisa menjadi tenaga pengajar kak Naira".
"Ayolah Zafirah, aku bahkan tidak berpengalaman menjadi seorang pengajar!, lebih baik kau lupakan saja ide itu."
"Cobalah kak Naira."
"Tidak Zafirahhhhhh," seru Jena menolak ajakan gadis berkerudung besar itu.
...πΊπΊπΊπΊ...
"Jena dan rombongan sudah meninggalkan kota Mentaya."
"Cekitttt!!!," Gibran yang sedang mendapat giliran menyetir seketika menghentikan laju mobilnya.
"Oy anak monyet!! kau sudah bosan hidup?," sentak Arkan yang terjungkal di kursi belakang.
"Maaf bang," lirihnya membuang napas berat.
"Kau kenapa?? lelah? jika kau lelah aku akan menggantikan kau membawa mobil ini."
Alih-alih menjawab pertanyaan Arkan, Gibran menyerankan ponselnya pada sang abang. Arkan yang melihat pesan dari Agam sontak menyapu rambutnya kasar.
"Ck!!! kita terlambat karena menunggumu bersiap," dengan kening berkerut, Arkan menatap tajam kedalam mata Gibran.
Tak mengalihkan pandangan, Gibran membalas tatapan Arkan tak kalah tajam"Abang tidak kroscek dulu sebelum berangkat ke sini. Ck!!! kita hanya membuang waktu bang!."
Kembali, botol minuman mineral mendarat keras di kepala Gibran"Bocah tengil, kau menyalakan ku, hah???, bagaimana jika ku turunkan kau di sini?."
Seketika nyali pria bergigi kelinci itu menciut"Abang~~~~ apa kau tega melakukan hal itu?," cicit Gibran memegangi kepala yang berdenyut.
__ADS_1
"Aku bahkan rela menukarmu dengan segalon bahan bakar jika mobil ini kehabisan bahan bakar," ucap Arkan tanpa beban.
Ucapan pedas Arkan sungguh membuat sepasang bola mata boba Gibran hampir meloncat"Abang! sangat tidak berartikah diriku!."
"Kau merepotkan, juga cerewet tingkat dewa. Aku akan sedikit menghargaimu jika aku bersikap manis."
Dengan mata berkaca-kaca Gibran melontarkan sebuah ancaman pada Arkan"Aku akan melaporkan hal ini pada mama."
Ujung mata Arkan melirik Gibran dengan malas"Ya~~~laporkan saja pada mama tersayangmu. Apa kau lupa siapa yang selalu menyakiti hati Kakak perempuanmu, ah!! aku lupa bahwa kaulah yang mengusir Jena dari rumah pantai."
Kalah telak, Gibran bagai terjatuh dan tertimpa tangga. Serangan Arkan sungguh menusuk hingga ke hati, menelan saliva pun terasa berat apalagi mengucap kata untuk kembali membela diri.
Bungsu berbadan bongsor itu terdiam dengan wajah tertekuk. Bibir bawahnya mencibir dengan kedua alis terturun sedih.
"Cekrek", gawai milik Arkan mengabadikan wajah sedih itu dengan sempurna.
"Bang!!! kau jahat sekali, untuk apa kau memotret diriku saat sedang sedih, lekas kau hapus foto memalukan itu," protesnya mencoba meraih gawai di tangan Arkan.
Meski sama-sama berotot, kali ini Arkan dapat menangkis tangan Gibran dalam sekali tepisan"Kau tidak berhak melarangku melakukan apapun, termasuk memotret wajah menyedihkan itu. Sekarang kau keluar."
Mimik wajah Gibran semakin buruk"Bang Arkan!!!," pekiknya tak bergeming dari tempatnya.
"Apalagi Gibran!!! dan ada apa dengan ekspresi mu itu??? aku hanya menyuruhmu turun dari mobil ini. Berkacalah, kau hampir menangis."
"Tentu saja aku akan menangis, kau menuruhku turun untuk meninggalkan ku di jalanan ini kan."
"Hahahahahha," Arkan tertawa lantang"Dasar bocah, kau berbelihan. Aku menyuruhmu turun untuk pindah ke kursi belakang. Biar aku saja yang membawa mobil ini sekarang."
"Oh, jadi abang yang akan menyetir?," tanya Gibran dengan polosnya.
"Lantas???, atau jangan-jangan kau memang bersedia jika ku tinggalkan di jalanan ini?."
"Bang!!! jangan pernah kau lakukan itu. Aku sungguh akan melaporkan sikapmu ini kepada mama. Aku tidak bercanda bang," ancam Gibran kembali sembari turun dari mobil.
"Kau terlalu banyak berceloteh."
Saat Gibran turun, secepat kilat Arkan meloncat ke kursi depan. Mengunci pintu dengan seringai tawa nan lebar.
"Kretek!!," Gibran gagal membuka pintu penumpang.
"Bang Arkan," lirihnya.
Mobil perlahan melaju.
"Bang!!!!," sentak Gibran"Tok tok!!!, bang jangan bercanda!," teriak Gibran mengetuk kaca mobil.
Arkan seolah tuli, pria di dalam mobil itu terkekeh melihat Gibran berteriak di luar sana. Masih melajukan mobil namun dalam kecepatan perlahan, Arkan tak berniat membukakan pintu untuk Gibran.
Tersengal-sengal, dengan emosi melonjak naik"Bang Arkan!!!!! buka pintunya!!!," teriakan Gibran bergema di tengah jalan transdaerah.
To be continued...
__ADS_1
selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€