Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Flashback


__ADS_3

Hari yang tenang di kediaman Dewa.


Kedamaian itu sirna setelah amplop coklat muda di buka. Sebuah amplop bertuliskan untuk Dewa membawa petaka untuk Tiara.


Tiara tengah memijat lembut kening sang suami saat itu, Dewa mengeluh sakit kepala kepadanya. Sebagai istri yang sedang mengemis maaf, dengan sigap Tiara langsung memanjakan sang suami. Sehari semalam pergi dari kediaman itu paska bertengkar pasal Jena, bujuk rayu Jelita meluluhkan kerasnya hati Dewa hingga akhirnya membujuk Tiara untuk kembali ke rumah mereka.


Mendapat amplop coklat bukanlah hal asing bagi Dewa, kerap menghabiskan waktu dengan bekerja di kantor ataupun di rumah, Dewa meminta sang sekretaris mengirim berkas-berkas penting padanya.


"Kau sedang kelelahan, lebih baik letakan saja dahulu amplop itu di meja kerja, sayang", tutur Tiara saat Dewa hendak duduk membuka benda itu.


Kepala yang berdenyut saat hendak bangun dari berbaring membuat Dewa urung untuk mengambil duduk. Pijatan lembut sang istri terasa sangat nyaman, baiklah! tidak ada salahnya bukan menikmati perhatian dari Tiara.


"Letakan saja di sini", ujarnya saat Tiara hendak memindahkan benda itu ke meja kerja.


Hari menjelang sore, Tiara menanyakan hidangan apa yang Dewa inginkan. Merasa lebih baik usai di pijat, Dewa ingin makan di luar, ada sebuah kedai kecil di tepian kota yang menjadi saksi perjalan cintanya dengan Jena. Malam ini, sebuah kerinduan membuncah di dalam dada, jauh di lubuk hatinya Jena tetaplah yang dia cinta.


"Kau bersiaplah, aku ingin menikmati sate kerang di kedai pinggir kota".


"Kedai kecil langganan mu?".


"Hem", sahutnya singkat. Sejauh ini Tiara tidak tahu bahwa tempat itu menjadi saksi bisu perjalanan cinta Dewa dan Jena, yang dia tahu tempat itu menghidangkan masakan yang kerap membuat suaminya semangat kembali.


"Baiklah sayang, aku akan bersiap lebih dahulu. Jika kau perlu sesuatu katakan saja, aku akan melayanimu meski tengah berdandan", wanita cantik ini memang jago dalam melayani sang suami, namun sayangnya hal itu tidak cukup meluluhkan hati kecil sang suami.


Dewa mengangguk saat Tiara mengucap hal itu, sementara Tiara meraih handuk untuk membersihkan diri, pria itu merebahkan kepala di bahu sofa. Meraih remote dan menyalakan televisi. Tidak ada yang menarik untuk di saksikan, Dewa membiarkan layar datar itu menampilkan hiburan realiti show sementara pandangannya tersita pada amplop coklat.


Cukup lama Tiara bersiap, Dewa cukup memahami hal itu, sebab begitulah wanita saat hendak bepergian.


"Sayang, apa kau juga akan mandi?", tanyanya saat telah usai membersihkan diri. Dengan handuk yang membungkus rambut, handuk sebatas dada pun membuat tubuh montok Tiara sangat menggoda. Lagi-lagi sangat di sayangkan, Dewa tidak merasa demikian.


"Nanti saja, saat kita kembali dari makan malam", sahutnya singkat.

__ADS_1


Sementara Tiara bersiap, Dewa masih berleha-leha di sofa. Mencari-cari chanel yang menarik di televisi, hingga dirinya menemukan chanel Oscar si kadal sial.


Kembali teringat kepada Jena, wanita itu kerap tertawa menyaksikan kadal yang selalu di jahili tiga rekannya. Seulas senyuman tersungging di wajah Dewa, memori tentang Jena masih sangat segar di ingatan, hari-hari tanpa Jena dia lalui dengan kenangan manis mereka.


Tiara membawa dua mini dress kehadapan Dewa"Sayang, mana yang lebih cantik saat ku pakai".


"Warna merah", sahut Dewa.


Wanita itu tersenyum nakal"Kau selalu tahu mana yang lebih seksi saat ku kenakan".


Sedikit terpaksa, Dewa balas tersenyum menanggapi ucapan Tiara.


Segera mengenakan gaun pilihan sang suami, Tiara berpindah pada riasan yang akan dia lukis di wajah cantiknya. Dewa mulai bersiap saat Tiara melakukan ritual itu, beranjak dari duduknya dan hendak berjalan menuju lemari pakaian.


Ck! kenapa amplop itu mengusik pikirannya, kembali mendudukan diri di sofa akhirnya Dewa membuka amplop coklat muda itu.


Senandung kecil Tiara terdengar sangat menjijikan, sorot mata Dewa semakin tajam saat melihat lembaran demi lembaran yang dia dapat dari dalam amplop.


Nafasnya berderu, memburu dengan amarah kian memuncak. Tangannya bergetar saat membaca tulisan di balik sebuah foto"Kau sangat dungu, membuang Jena demi merawat anak dari pria lain".


Wajah ceria Tiara berbanding terbalik dengan tatapan membunuh Dewa. Bola mata pria itu memerah, rahangnya mengeras.


"Sa___sayang, kau kenapa?", Tiara tergagap.


"Srak!!!", lembaran-lembaran foto di lemparkan ke wajah Tiara. Gambar dirinya bersama Tian bermesraan, berbisik mesra di dalam lift, saling beradu pandang saat sedang makan di sebuah restoran. Jemari kecil itu bergetar memungut foto-foto yang berserakan di lantai.


Tiara mencicit"Dewa, ini hanya salah paham".


"Salah paham!!! kau bilang salah paham?!, pria itu berteriak lantang. Di tariknya dengan kasar lengan kurus Tiara, jemarinya menyusuri setiap inci wajah cantik yang baru saja di lukis dengan indah.


"Wajah ini, kau berdandan begitu cantik bukan hanya untukku!".

__ADS_1


Tubuh wanita itu bergetar, apalagi saat Dewa menarik rambutnya hingga membuatnya mendongakkan kepala"Dewa sayang____aku di fitnah. Itu___itu hanya editan. Foto itu hanya editan sa___akh!!", Tiara menjerit sebab Dewa semakin menarik rambutnya.


"Bukti itu sangat nyata Tiara!", suara itu bergetar, sangat jelas Dewa sedang menekan emosinya.


Tangan kekar itu tidak lepas mencengkeram rambut istirnya, membawa wanita itu turun ke lantai, kemudian Dewa mengambil sebuah foto bertulisan tadi"Lihat!, ternyata keraguanku benar. Janin dalam perutmu bukan darah dagingku".


"Hick__tidak!", Tiara terpekik. Tangisnya pecah, melunturkan lukisan di wajah cantiknya. Masih bergetar, Tiara meraba perut nya yang mulai membesar"Ini anak kita Dewa, aku hanya bercinta denganmu".


Tanpa perasaan, Dewa menepis lengan Tiara. Melepaskan cengkeramannya hingga wanita itu terjerembab di lantai. Tangisan wanita itu semakin menjadi saat Dewa berkata hendak mengakhiri pernikahan mereka.


"Tidak Dewa, akh! ini pasti ulah Jena. Jena sangat iri kepadaku, dia menyimpan dendam kepadaku", seperti orang gila, Tiara mengacak-acak rambutnya dengan derai air mata. Mulutnya berkomat kamit mencaci maki Jena.


Hal itu jelas menambah amarah Dewa, membuatnya menarik wajah Tiara dan menatapnya tajam"Sabar ku ada batasnya, sudah cukup kau menyakiti Jena, terungkapnya perselingkuhan mu tidak ada sangkut pautnya dengan Jena".


"Plak!!", Tiara menampar pipi Dewa. Seketika rahang Dewa mengeras.


"Kau selalu membela Jena, Jena, Jena dan Jena. Wanita itu sangat tidak berguna!".


Bersusah payah Tiara bangkit, berdiri tegak dengan tangan menepuk dada"Aku! hanya aku wanita yang pantas untukmu. Hanya aku wanita yang berhak bersanding denganmu".


Seringai tawa pun tergambar jelas di wajah Dewa, sungguh menggelikan. Pernikahan mereka terjadi hanya karena kehamilan Tiara, bagaimana wanita ini sangat yakin bahwa dirinya sangat pantas bersamanya?.


Dewa menghapus lipstik di bibir Tiara"Mulutmu sangat tidak tahu diri, berhentilah mengoceh. Kemasi barang-barang mu dan lekas tinggalkan kediaman ini".


Ketakutan itu semakin menjadi, Tiara sangat tidak ingin berpisah dengan Dewa. Meraih kunci mobil di nakas, Tiara mengancam kepada Dewa"Aku akan mati, jika kau meninggalkanku maka aku akan mati. Aku akan bunuh diri, namun, sebelum bunuh diri aku akan membunuh Jena lebih dulu".


Dewa mengejar Tiara yang berlari meninggalkan kamar. Jelita sangat terkejut melihat penampilan Tiara, juga teriakan Dewa saat memanggil Tiara.


"Ada apa dengan kalian???!", pekik Jelita.


Tidak ada yang perduli kepadanya, Dewa kembali ke kamar mencari kunci mobil yang lain. Wanita gila itu mengancam akan membunuh Jena, memikirkan hal itu membuat Dewa sangat ketakutan.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗 🤗🤗


__ADS_2