
Saat dini hari, pria berlesung pipi itu merasakan beban menekan punggung. Kedua matanya mengerjap, mencoba menetralkan pandangan usai berkelana di alam mimpi, ugh! beban apa yang sedang bertengger di atas punggungnya?.
"Ayolah, segera bangun dan kita memasak kue bersama."
Oh! ternyata sang istri yang sedang menimpa tubuhnya, seolah dirinya ringan bagaikan kapas. Meski bertubuh kecil, tetap saja berat tubuhnya membuat Agam sedikit sulit untuk bernapas, apalagi kesadaran pria itu belum terkumpul sepenuhnya.
Perlahan menggeser tubuh sang istri dari atas punggung, sembari menyugar rambut nan lebat"Istriku, kue apa yang kau mau? hingga membangunkanku di waktu dini ini?," alih-alih gusar karena waktu tidurnya terganggu, Agam mengulas senyuman di wajah yang masih terlihat mengantuk.
"Kue manis."
"Kue manis itu banyak, sayang," rambut Jena nampak sangat berantakan, dan dengan lembutnya Agam mengusap helai-helai rambut sang istri, kemudian menyelipkannya pada daun telinga. Entah, sejak kapan Jena mengusik dirinya, membangunkan dirinya karena ingin memakan kue-kue manis yang dia maksud.
"Apa kau sudah lama berusaha membangunkanku?."
Jena mengangguk bak anak kecil, wajah cantik itu telah terlihat seutuhnya, setelah rambut panjangnya di tata rapi menggunakan jemari besar sang suami. Yah, di saat sedang mengandung seperti ini, kecantikan yang Jena miliki semakin bertambah.
Ekor mata Agam melirik jam yang melekat di dinding, pukul 1 dini hari. Hahaha, ayolah! jam segitu sang istri sudah mengajaknya mengadon kue?? ckckck nampaknya sang buah hati kelak akan sering membuatnya berdecak, entah berdecak kagum atau berdecak kesal.
"Lekaslah."
Sungguh lelah, namun teringat betapa menginginkannya sang istri akan kue manis itu, dia segera bangkit dari tempat tidur.
"Katakan, kue apa yang kau mau, sayang," ujarnya kembali bertanya. Kali ini wajahnya sudah terlihat basah, demi mengembalikan kesadarannya dengan sempurna, Agam memutuskan untuk mencuci wajah.
"Entahlah."
Jawaban jenis apa ini? sontak membuat kening pria itu berkerut.
Mengerti akan situasi sekarang, Jena kembali berucap dengan senyuman kecil"Yang manis, ada krimnya, atau dengan banyak susu, keju, hemmm," jari telunjuk dan jempol Jena, ia letakan di bawah dagu, sebagai tanda bahwa wanita itu sedang berpikir keras.
Selera yang aneh, dia ingin kue, tapi tidak jelas kue seperti apa yang dia maksudkan.
"Cake?."
"Boleh, dengan banyak keju."
"Keju yang banyak akan membuatnya terasa asin, bukankah kau bilang ingin kue yang manis."
__ADS_1
Membawa bibir nya maju ke depan, bahkan saat sedang manyun pun Jena terlihat cantik di mata Agam. Menarik kedua pipi sang istri, membuat kedua sudut bibir Jena terangkat naik.
"Baiklah, mari kita membuat kue."
"Tapi tidak dengan keju yang banyak, ya."
"Hemm, baiklah," sahut Jena berjalan mensejajarkan langkah bersama Agam, sambil bergelayut manja pada lengannya.
Kebiasaan untuk mendirikan sholat di malam hari, bukan hanya kerap di lakukan Agam. Terhuyung-huyung menuju dapur, Gibran mendecih saat melihat dua insa itu tengah bercanda memasang apron. Apalah daya, Jena yang kecil harus berjinjit demi memasangkan celemek tersebut ke leher sang suami, dan hal itu membuat Agam terkekeh geli.
Jika Agam tertawa, lain halnya dengan Gibran. Sembari mengusap kedua mata bergantian, sang adik tengil itu berucap"Hilih, romansa apaan ini? romansa memasak dengan cinta? pada jam segini?? ya Allah, semoga kelak ketika menikah, aku tidak menjadi manusia bucin seperti dua insa ini."
"Pletok!!," senjata sakti Jena, centong sayur, mendapat dengan sempurna di telapak tangan Gibran yang tengah menengah, berdoa.
Bibir pria itu bergetar, mendapat serangan keras dari sang kakak"Kau sangar sekali!!! wanita hamil tidak boleh galak, nanti anak mu juga galak. Coba kau bayangkan, jika keponakanku terlahir seperti dirimu, owh!!."
"Owh kenapa?," tatap Jena tajam ke arah Gibran.
Sementara Agam, memberi kode agar Gibran berhenti meladeni amarah Jena.
Kedua mata Gibran berkedip-kedip, seperti kunang-kunang yang gemerlap di tengah hutan"Dia...dia akan cantik seperti engkau," ujarnya akhirnya.
Demi ketenangan jiwa, demi keselamatan tubuhnya, Gibran segera berbalik memuji sang kakak, alih-alih melanjutkan perang yang hampir saja meledak.
"Ngomong-ngomong, kalian mau masak apa? apa tidak bisa menunggu pagi saja?."
"Tidak bisa, aku tidak akan bisa tidur jika tidak segera membuat kue ini sekarang."
Menoleh kepada Agam, senyuman nakal pun mengembang di wajah Gibran. Penyakit wanita hamil, Gibran pun sudah tahu akan sikap dan kelakuan unik Jena akhir-akhir ini, karena ulah keponakan kecil di dalam perut sang kakak.
Tidak ingin di ajak sibuk di dapur, Gibran berniat segera berlalu, namun"Semangat!!," bisiknya kepada Agam, kemudian mengacungkan dua jempol tepat di wajah Agam.
"Eh, ayo ban......"
Dia segera memutus kalimat Jena"Aku hendak melangitkan pinta kepada sang maha pencipta kak, agar dia memberikan kesembuhan pada lidah Kanaya."
Usai berucap, Gibran segera pergi ke belakang. Menyisakan Jena yang mendengus, namun ucapan lembut Agam meredakan emosinya kembali"Sudahlah, biarkan saja. Dia sedang berjuang untuk wanita yang dia cintai. Aku juga pernah berada di posisinya."
__ADS_1
Jena menatap Agam"maksudnya?."
"Kau...adalah wanita yang selalu ku sebut dalam sepertiga malamku, di saat kecil kemungkinan diriku untuk memiliki mu, namun sang maha pemilik mengabulkan doa ku dan membuat kita bersama. Yang di lakukan Gibran sekarang, sama hal nya dengan apa yang aku lakukan di masa lalu."
"Ohooo," Jena berseru demi menetralkan hati yang mulai berdesir, dia sangat tahu wajahnya pasti mulai memerah mendengar ucapan Agam.
"Jadi, kalian mendirikan sholat malam ketika ada mau nya saja?.",
"Bukan seperti itu," sanggah Agam.
"Bukankah kau bilang, apa yang Gibran lakukan sama halnya dengan apa yang dahulu kerap engkau lakukan?," sorotan mata cantik itu menyelidik, membuat Agam menjadi kikuk.
Membuat Agam serba salah, sungguh sebuah perbuatan yang Jena gemari akhir-akhir ini. Wajah panik, wajah canggung, saat-saat Agam bingung harus menjelaskan sesuatu, Jena menyukai hal itu.
"Malah ngobrol, kapan kalian akan mulai membuat kue? aku juga ingin mencicipi," celoteh Gibran usai mengambil air wudhu dari belakang.
Ah! syukurlah, ucapan Gibran membuat pertanyaan Jena berlalu tanpa harus di jawab dan di jelaskan oleh Agam. Mereka pun segera membuat kue, yang entah akan menjadi seperti apa nantinya.
...❣️❣️❣️❣️...
Mengantar dan menunggui Enda di sekolah, sebuah rutinitas yang di sukai oleh Zafirah. Bukan karena dirinya bisa berkumpul dan berbincang dengan ibu-ibu lainnya, yang juga menunggui sang buah hati, namun melihat wajah sumringah Enda saat keluar dari kelas, kemudian berlari kecil saat menyongsong dirinya, masa-masa seperti itu sungguh berharga bagi Zafirah.
Sebentar lagi, bocah tampan itu akan keluar dari kelas. Zafirah sudah menyiapkan bekal yang di olah oleh sang suami, juga beberapa snack yang di bawa dari rumah, seperti permintaan Enda tadi pagi.
Namun, wajah bocah itu tidak tersenyum saat berjalan kearah Zafirah.
Alih-alih berlari kecil, Enda berjalan perlahan, seolah ragu untuk melangkah maju. Juga...."Mama....," Zafirah dapat mendengar dengan jelas, bocah itu mengucapkan kata mama, bukan umma.
Jongkok di depan Enda, di pandanginya wajah bocah"Enda sayang, kau kenapa?."
Bocah itu terlihat menelan saliva, dan barulah kedua matanya menatap Zafirah"Di belakang pagar itu, ada mama Andara."
Andara?? nama itu tidak asing bagi Zafirah. Sontak wanita itu berbalik, dan sesosok wanita yang pernah dia lihat melalui foto usang, di kediaman sederhana yang sekarang dia tempati.
Nampak jauh lebih cantik dari yang dia lihat di dalam foto. Tubuh langsing Andara, wajah cantik, kulit bersih, dan rambut panjang tergerai, wanita itu nampak semakin cantik saat dirinya tersenyum.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗