
Memandang debur ombak di malam nan temaram, di tepian pantai inilah Zafirah malam ini. Ketika hati yang terluka datang dengan senyuman ke kediaman baru mantan lelaki idamannya, lantas, sebutan apa yang pantas di dapatnya?.
Seorang pecinta berjiwa besar?
Atau seorang pecinta nan dungu??
Seperti Qais yang begitu cinta kepada Layla, apakah kegilaan dalam diam Zafirah terhadap Agam setara dengan cinta yang di rasakan sang majnun? Zafirah sangat sadar benang merah tak pernah singgah pada jarinya dan jari Agam. Atas dasar keimanan yang hampir saja goyah, wanita itu tetap berpegang pada ketentuan sang maha kuasa, meski menyakitkan.
Namun, ketika rasa rindu mengalahkan sakit yang menghujam jantung, hati yang menjerit itu menuntun kehadiran Zafirah di kediaman Jena dan Agam. Sungguh, andai saja dirinya mampu melawan keinginan hati, sekedar menatap wajah Agam saja hatinya masih berdetak hebat.
"Astaghfirullah, apa yang aku lakukan di sini," lirihnya. Di atas batang pohon nan tumbang, gadis itu seolah bercerita pada sang angin malam. Mencurahkan segala sesak di dada, bercerita tentang rindunya yang kini telah tak bertuan.
Di kejauhan, Gibran menatap wanita itu sejak beberapa saat yang lalu. Bayang saat dirinya menyeka air mata, mengundang rasa iba yang bersarang di dada. Timbul keinginan untuk sekedar menghibur gadis itu, juga sekedar ingin mengatainya dungu, sebab datang tanpa paksaan ke kediaman ini. Bukankah seharusnya dia menolak ajakan Jena siang tadi, ck! Gibran sangat tidak mengerti dengan pola pikir seorang Zafirah.
Membawa dua bungkus es kirm rasa coklat, kehadiran Gibran meniti pohon tumbang yang di duduki Zafiah membuat gadis itu terpekik.
"Kya!!!," seketika Zafirah menatap Gibran. Bayangan besar itu semakin mendekat, jika saja kedua matanya sudah rabun, mungkin Zafirah akan menyangka Gibran adalah makhluk dari dunia lain.
"Eiyy, pelankan suaramu, jangan membuat mereka beranggapan macam-macam tentang kita."
Kedua bola mata Zafirah membulat"Hah! kau yang datang dengan sangat tidak ramah, tidak bisakah berjalan dengan normal di atas pasir saja," protes nya menunjuk wajah Gibran.
"Aikh!," Gibran berlagak hendak menggigit jari telunjuknya.
Dan dengan gesit Zafirah menyelamatkan jarinya dari gigitan kelinci raksasa ini.
Senyuman mengembang di wajah Gibran. Mendudukan diri dengan hentakan pada batang tumbang, sekali lagi Zafirah di buat berteriak kecil.
Tak perduli dengan omelan Zafirah, Gibran memberikan es krim pada gadis itu.
Tanpa berkata, Zafirah menerima es krim dengan rasa coklat itu dan segera memakannya.
Lama Gibran dan Zafirah diam tanpa bicara, masing-masing dari mereka menikmati rasa dari es krim itu. Setelah habis, barulah Gibran kembali membuka percakapan.
"Bagaimana, apa hatimu sedikit nyaman."
Memilin tepian kerudungnya"Lumayan, setidaknya rasa manis es krim itu membuat perasaan ku membaik."
"Zafirah, apa kau ingin ku bacakan sebuah kata dari penyair arab?," pria itu bertanya sembari melepas pandangan ke laut luas.
"Hem...," sahut Zafirah mengangguk pelan berkali-kali.
"Hari-hari akan terus berjalan, perlahan kau akan meninggalkan sesuatu yang membuatmu candu, kau jua akan meninggalkan seseorang yang bukan jodohmu, juga mimpi-mimpi indahmu, kau akan perlahan membatalkannya," Gibran diam sejenak menunggu tanggapan Zafriah.
Dan gadis itu menoleh tepat kepada Gibran"Mengapa harus begitu?."
"Sebab semua itu adalah kenyataan, dan kau harus menerima semua itu," lanjutnya kemudian.
"Kau berucap begitu ringan, seolah semua itu dapat di lakukan seringan bulu," lirihnya.
__ADS_1
Gibran tersenyum kecil"Kau bahkan belum mencoba nya."
"Aku sudah mencoba, Gibran," gadis itu merasakan dada yang semakin sesak, efek memakan es krim tadi begitu cepat menghilang. Kembali, sang kesedihan memeluk erat hati kesepiannya.
"Jangan berduka, apa yang hilang darimu akan kembali dalam bentuk lain," lagi-lagi Gibran berucap.
Kali ini Zafirah mulai tersenyum. Ada apa dengan pria tengil ini, tiba-tiba bertransformasi menjadi pujangga.
"Apa kau penggemar Jalaluddin Rumi?."
Gibran terkekeh, niat berlagak keren di depan Zafirah punah sudah. Ternyata gadis ini juga mengenal sang penyair legendaris dari persia.
Tawa yang menular, Zafirah ikut terkekeh mentertawakan kedunguan seorang Gibran.
Di beranda belakang, Gibran melihat Angga mulai menyalakan api untuk membakar ikan. Segeralah Gibran mengajak Zafirah kembali ke kediamannya.
Di dapur, kali ini Agam di buat kagum oleh Jena. Wanita bersurai panjang itu membersihkan ikan dengan gesitnya, menggunakan pisau besar layaknya seorang chef ternama.
Tanpa banyak komentar, Agam memperhatikan gerak sang istri, bisa di katakan Agam sedang menyalin apa yang sedang Jena lakukan. Di lain hari Agam akan menerapkan ilmu membersihkan ikan itu demi memanjakan lidah sang istri.
"Apa kau ingin mencobanya?," tanya Jena sekian detik menatap Agam yang fokus pada pisau besar nya.
Pria itu menggeleng.
"Lantas, apa yang kau lakukan di sini?."
"Melihat caramu membersihkan ikan," sahutnya apa ada nya.
Melalukan aktivitas membersihkan ikan dengan rambut yang bergerai, percikan darah segar dari ikan-ikan yang di jagal Jena membuat wanita itu mengkhawatirkan rambutnya.
"Belum selesai, kenapa kau menyudahi membersihkan ikan-ikan ini. Jangan katakan kau memintaku untuk melanjutkan pekerjaan mu, jujur saja aku belum yakin bisa melakukannya," celoteh Agam. Sikap nya membuat Jena menahan tawa.
"Aku hanya ingin mengikat rambutku, aku tidak ingin tidur dengan rambut bau ikan malam ini," ujarnya masih mencuci tangan.
manik pria itu mendapati jedai sang istri di atas lemari pendingin, segera meraihnya dan menyentuh lembut pucuk kepala Jena.
"Lanjutkan pekerjaan mu, biar aku yang mengikat rambutmu," ujarnya menyatukan helai rambut sang istri. Jemarinya merapikan setiap helai rambut yang menjuntai, tentu saja jemarinya menyentuh telinga dan tengkuk Jena.
Apa kau tahu, saat seseorang yang mulai membuat mu nyaman melakukan kontak fisik di area sensitifmu, apa kau bisa menjamin bulu-bulu halus di seluruh tubuhmu akan diam saja?
Tidak! seluruh bulu kuduk di tubuh Jena meremang, wanita itu menelan saliva dengan jantung yang mulai berdetak abnormal.
Meski sedikit berantakan, Agam telah selesai menjepitkan jedai pada rambut sang istri. Anakan rambut bagian dengannya kembali terurai, hal itu membuat Jena terlihat cantik alami. Ada sebuah rasa bangga dalam diri Agam, penantiannya selama ini tidak sia-sia.
Nampak serba salah, pandangan hangat seorang Agam membuat Jena hampir melukai tangannya. Sembari mengatur napas, sembari mengatur kembali kesadaran jiwa sebab ulah brondong nya ini, akhirnya Jena menyelesaikan pekerjaan nya dengan jari yang masih aman dan lengkap.
Jika Jena telah membersihkan ikan itu, juga menyiapkan bumbu untuk ikan itu, Agam dengan senang hati menawarkan diri membakar ikan-ikan yang akan menjadi salah satu menu santapan mereka malam ini.
Zafirah, wanita itu di buat sibuk dengan Angga dan Gibran yang mengajaknya bermain susun balok. Jika menjatuhkan menara balok, maka persiapkan wajahmu untuk menerima tanda cinta dari lipstik kadaluarsa milik Jena.
__ADS_1
"Bagaimana jika wajahku alergi? itu benda kadaluarsa," protes Syabila.
Yasir datang dengan sekeranjang cemilan"Hilih, kemarin di posko kau mandi lumpur, sekarang baik-baik aja," celoteh nya sembari meletakan benda itu di samping meja mereka.
Zafirah tertawa mengingat hal itu.
"Kemarin Syabila terjatuh bang, jatuh ke lumpur, bukan sengaja mandi lumpur," protesnya.
Yasir tertawa, begitu pula dengan mereka yang ada di sana.
"Sudahlah, jangan banyak protes. Lihatlah, cemilan itu hadiah bagi pemenang permainan ini," sungguh, Angga sangat tahu manik berbinar Syabila saat cemilan itu datang.
"Satu keranjang ini?," tanya Zafirah.
"Iyalah, bagaimana? niat bermain tidak?," tukas Gibran lagi.
Kedua manik wanita itu berbinar sangat terang benderang.
Dua lawan dua, Gibran dan Angga akan melawan Syabila dan Zafirah dalam permainan ini. Sedangkan Yasir, akan menjadi wasit di antara mereka.
"Jadi, kami benar-benar menyambut dan melayani kalian seperti raja," sindir Jena dari sudut beranda.
Sontak mereka semua menyeringai melirik Agam dan Jena.
"Jangan ganggu kami, lekaslah masak ikan-ikan itu. Kami sudah lapar," Gibran, merasa dirinya bagai seorang tamu di kediaman ini. Jena menggeretakan gigi menatap kesal pada adik durjana itu.
"Sabar, memang begitu kan cara Gibran menyayangimu," Agam tertawa sembari menenangkan emosi Jena.
Terdengar lenguhan napas kasar Jena, membuat kelompok bermain di meja sebelah itu terkekeh menyaksikan wajah kesal Jena.
"Kamu diam saja, biar aku yang mengipasi ikannya," ujar Agam, pria itu benar-benar ingin tahu cara meramu ikan menajadi santapan yang nikmat. Mengapa? sebab hidangan ini salah satu hidangan kesukaan Jena, istrinya.
Jena menyerahkan kipas kepada Agam"Kipasi perlahan saja," ujarnya kembali ke dapur mengambil bumbu oles ikan.
Beberapa detik Jena kembali menuju beranda.
Agam terlihat ingin membalik ikan dengan menyentuh pemanggang yang terkena bara api.Alhasil....
"Allahuakbar!," pekik Agam. Jemari pria itu terkena bara api. Sontak Zafirah berdiri, namun Jena bergegas menghampiri Agam. Menarik tangannya dan menghisap jemarinya yang terkena bara api.
"Bang....," suara Zafirah sangat pelan, hampir tak terdengar.
Syabila memegang pundaknya, Angga dan Gibran segera menghampiri Agam dengan sengaja menutupi pria itu dari pandangan Zafirah.
Di antara mereka yang tengah panik, juga hati yang berdenyut nyeri, Yasir duduk dengan manisnya memakan cemilan sejenis yupi.
Bagaimana dengan Agam? desir aneh tengah menghinggapi hati pria itu. Bagaimana dirinya menahan diri dengan ulah Jena yang mengisap lembut ujung jemarinya!!
To be continued....
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗