Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Akar kebencian.


__ADS_3

..."Jangan berlebihan dalam mencintai sehingga menjadi keterikatan,...


...Jangan pula berlebihan dalam membenci, sehingga membawa kebinasaan."...


...*Umar bin Khattab*...


...🌻🌻🌻🌻...


Benda pipih itu terlempar di atas sofa, di iringi dengan hempasan tubuh sang empu yang menimpa gawai tak berdosa.


"Hupffhh," terdengar lenguhan napas nan berat, Jelita. Memijat pelipisnya dengan wajah merah padam, wanita paruh baya itu nampak sangat gusar, namun gelojak amarah itu tak dapat dia keluarkan saat itu juga. Bagaimana tidak, sorot masa sang suami tengah mengawasinya di sofa tunggal, berhadapan dengan dirinya.


"Kenapa harus dia yang memungut wanita mandul itu? kenapa mas?," lirihnya dengan suara bergetar. Melontarkan tanya kepada seorang suami yang....bahkan berjumpa dengan mantan menantunya pun hampir tidak pernah lagi.


Berbeda dengan sang istri yang terlihat banyak menanggung beban, Bagas melepaskan napas dengan teratur"Takdir," singkat saja, ujarnya tak ingin ambil pusing akan hal itu.


"Kenapa bukan orang miskin saja? kenapa harus nyonya Arabella??."


Kedua alis Bagas lantas menyerngit"Sudah ku katakan, itu sudah takdir Jena. Lagipula, dia sudah pergi dari kehidupan kita, dari putra kita, kenapa kau masih saja repot mengurusi hidupnya?."


Jelita menatap Bagas nyalang.


Menunjuk sang istri yang mulai memancing emosi"Ingat Jelita, kau sudah berhasil menendang menantu sebaik Jena dari kehidupan Dewa, dan sekarang Dewa pun ikut pergi dari kehidupan kita. Bukankah itu sebuah kesuksesan yang besar?."


Pada kata terakhir, Jelita mendelik lagi ke arah Bagas. Kejadian itu sudah sangat lama, namun hari-hari penuh dengan sindiran Bagas terhadap dirinya masih berlangsung hingga saat ini. Jenuh, tentu saja Jelita jenuh dengan keadaan itu. Terbongkarnya topeng kepalsuan Tiara bagai pukulan telak di sepanjang hidup Jelita. Namun, alih-alih menyadari kesalahannya, wanita itu justru semakin menyimpan dendam terhadap Jena.


Menyesal? sejujurnya ada sebuah sesal yang begitu besar dalam hati Jelita, kepergian Jena bahkan membuat Dewa nya pergi jua. Namun kerasnya hati, tak serta merta membuat Jelita sadar, kekesalan hati justru dia limpahkan kepada Tiara.


"Tidak adakah niat untuk memperbaiki diri, istriku," ujar Bagas sembari melihat raut wajah sang istri. Demi wanita tercinta, Bagas kerap menepis emosi yang bisa meledak kapanpun itu, menguburnya dalam-dalam dan membujuk kembali Jelita dengan nada lembut.


"Aku sudah cukup baik, mas," sahutnya begitu angkuh.


"Sejauh ini, kau masih tak ingin mengakui kesalahanmu?."


Jelita membuang muka, harga dirinya terjun bebas ke dasar bumi jika mengakui kesalahannya terhadap Jena.


"Jelita....," panggil Bagas, begitu halus. Sungguh, jauh di lubuk hati, Bagas sangat merindukan Jelita yang selalu bersikap baik kepada Jena dahulu.


"Ingatkan kau, kau memberikan gaun yang cantik kepada Jena, saat dirinya masuk kedalam keluarga kita. Kau memilih gaun itu sendiri, kau juga selalu memuji kecantikannya, juga sopan santunnya."


"Aku sudah lupa mas, itu sudah sangat lama," sambarnya hendak beranjak pergi.

__ADS_1


"Jelita!," seru pria itu lagi.


Berbalik dengan malas"Apalagi mas? kau selalu membela wanita mandul itu, aku lelah."


"Jika lelah, mengapa tak kau sudahi kebencian terhadap Jena? lihatlah, kehidupannya semakin membaik. Dia bahkan menjadi menantu dalam keluarga kaya raya itu, dia juga tidak mengusik kita, untuk apa kau membuang waktu dengan hati yang terus menyimpan benci terhadapnya?."


Entah setan apa yang bersemayam dalam diri Jelita, bukan sekali ini Bagas memintanya untuk membuang rasa benci terhadap mantan menantu mereka. Dan sikap Jelita masih sama seperti saat ini, memilih berlalu dari hadapan suaminya.


Usai menghindari sang suami, kini Jelita mengurung diri di dalam kamar. Bagi dirinya, titik awal kehancuran kebahagiaannya adalah saat Dewa pergi dari kediaman mereka, saat sang putra semata wayangnya memilih tinggal terpisah alih-alih seatap dengan Tiara, menantu pilihannya.


Dia mengepalkan tangan di dada"Membuang rasa benci ini??? bagaimana bisa! aku juga tidak bisa berdiam diri saja saat wanita mandul itu masuk ke dalam keluarga nyonya Arabella?? ash!!! dia pasti memakai ajian pengasih, dia pasti memakai guna-guna untuk menaklukkan putra nyonya Arabella!!," pekiknya melengos kasar.


"Lihat saja kau Jena, kebahagiaan mu akan segera berakhir, aku akan membongkar tipu muslihat mu!!," geramnya memandangi potret pernikahan Jena dan Agan di akun media sosial nyonya Arabella.


...🌼🌼🌼🌼...


Siang itu, saat sang matahari begitu tegak berdiri di atas sana, Jena dan Agam tengah menuju ke pondok pesantren Al-jannah. Mereka singgah di sebuah minimarket di perkotaan, membeli beberapa camilan dan sekaleng es kopi pastinya.


Memandangi varian kopi yang begitu banyak tersaji di dalam kulkas, membuat Jena begitu lama berdiri di depan benda pendingin itu. Alangkah nikmatnya jika semua varian rasa baru itu dapat Jena cicipi, namun sang suami yang mulai mewanti-wanti dirinya agar mengurangi konsumsi es kopi, membuat Jena bingung menentukan pilihan.


"Hanya 1 kaleng," ujar Agam saat dirinya meminta izin membeli minuman kesukaannya.


Dengan mimik menggemaskan, Jena melancarkan aksi meluluhkan hari Agam.


"Terimakasih mas Agam!!!," serunya sangat senang. Jena hampir memeluk Agam saat itu, jika saja tidak langsung sadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum.


Berbeda dengan Jena yang masih malu untuk menunjukan kasih sayang di depan khalayak ramai, Agam dengan leluasa mengusap lembut pucuk kepada istrinya"Sama-sama, sayang."


Interaksi mereka membuat karyawan di minimarket itu iri, Agam yang tampan dengan sikap lembut dan hangat terhadap pasangan. Ck! di mana dia bisa mendapatkan seorang pria seperti itu. Sempat berharap bisa menarik perhatian Agam, karyawan itu menawarkan kue tart yang sedang diskon kepada Agam. Tentu dengan senyuman lebar.


"Diskon potongan harga?," tanya Agam pada sang karyawan.


"Beli 1 gratis 1, hem....boleh di panggil dengan nama apa ya?," modus, karyawan itu sedang mencari cara agar mengetahui siapa nama pria tampan itu.


"Agam, ujar Agam mengurai senyuman."


Hahahah, beruntung, hidung pesek karyawan itu tidak mimisan saat Agam tersenyum manis di depannya. Dia langsung balas tertawa di hadapan Agam.


"Sebentar, saya panggil istri saya dulu."


Bagaikan petir di siang hari, harapan karyawan untuk mendekati Agam sirna sudah. Pria itu sudah beristri. Dan kemunculan Jena yang lebih jelas di hadapan karyawan itu, membuat harapan yang mulai berkecambah seketika mati.

__ADS_1


"Wah, apakah yang berwarna oren itu beraroma jeruk?," dua manik cantik Jena langsung berbinar. Dirinya melangkah lebih dekat pada konter makanan, dengan sang karyawan yang berdiri jua di sana.


Aroma tubuh Jena tercium oleh sang karyawan. Begitu manis dan elegan, seketika nyalinya menciut, dari aroma tubuh saja sudah kalah saing, apalagi dari rupa.


"Permisi, apa yang ini beraroma jeruk?," tanya Jena kembali.


"I-iya," sahutnya sempat tergagap.


Jena begitu senang, dia lantas berbalik menatap Agam.


"Boleh," tukas pria itu mengerti dengan tatapan berkedip manja sang istri.


"4," tak tanggung-tanggung, Jena meminta 4 kue tart kepada karyawan.


"Jika membeli 4, anda mendapatkan 8 kue nona."


Lagi, Jena melirik manja pada Agam.


"Iya, boleh," ujar pria itu lagi.


Jena menggoyang-goyangkan lengan Agam"Terimakasih."


"Silahkan tunggu sebentar, saya akan mengemas kue-kue anda," ujarnya yang di angguki Agam dan Jena bersamaan.


"Terimakasih saja?," seringai nakal itu terbit di wajah Agam.


Dan Jena yang mengerti dengan tatapan penuh arti sang suami tersipu malu"Hei, ini di tempat umum."


"Sebentar, memangnya apa yang sedang kau pikirkan? aku hanya meminta kau memanggilku seperti anjuran ibu Adila," memandang wanitanya dengan tatapan nakal, Jena semakin tersipu malu di buatnya.


Kedua alis Jena merunduk, bak seekor anak gukguk yang sedang mengiba"Apa kau begitu senang mengerjaiku?."


Wajah tertekuk malu, Agam sangat suka menyaksikan mimik wajah sang istri kala itu. Tak tahan ingin memeluknya erat, Agam lagi-lagi mengusap pucuk kepala Jena dengan lembut sembari berucap"Usiamu boleh lebih tua dariku, tapi kau lebih menggemaskan dari wanita yang lebih muda. Dan wajahmu saat tersipu malu, itu wajah paling cantik dan manis yang pernah aku jumpai."


Jena menarik ujung-ujung rambut menjuntainya. Menutupi wajahnya yang semakin merah dengan rambut-rambut itu.


"Kau semakin menggemaskan jika seperti itu, sayang."


"Mas Agam, hentikan. Kau bisa membuat wajah ku terbakar!," pekik Jena di iringi senyum dan tawa yang mengembang."


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2