Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Detektif patah hati.


__ADS_3

Angin berhembus kencang, memeluk tubuh kurus wanita bersurai panjang di tepi pantai. Rekan bicaranya nampak kedinginan, namun tak sedikitpun wanita itu berniat beranjak dari tempatnya.


"Apa kau tidak merasa dingin?, tanya Kirana, gadis itu melipat kedua tangan di dada, mencoba mencari kehangatan di antara dinginnya pagi berangin kencang di tepi pantai.Hatinya mencelos ketika ucapannya kembali tidak mendapat sambutan, ternyata bukan hanya angin yang membawa udara dingin, wanita di hadapannya juga menyebarkan aura dingin yang semakin menggigit tubuh.


Berkali-kali membuka percakapan, berkali-kali pula dia di abaikan. Tidak ada jalan lain, seperti biasa dengan nada merengek bak anak kecil, Kirana mengguncang tangan Jena sekuat tenaga "Sampai kapan kau akan mengabaikanku??? aku masih editor mu!".


Wajah datar itu menatap Kirana "Aku sudah mengirimkan naskah terakhir kepadamu? apa lagi yang kau harapkan?".


Kedua mata Kirana membulat "Naskah terakhir? apa novelmu akan tamat?".


"Itu satu-satunya cara agar kerjasama kita berakhir".


"Jena___apa kau sangat membenciku?".


"Tidak".


"Lantas mengapa kau ingin menjauhiku?".


"Aku tidak suka berdekatan dengan penjilat".


Hati kecil Kirana meringis, namun mengingat apa yang telah dia lakukan, dirinya pantas mendapat kata-kata pedas itu.


"Katakan berapa banyak keluarga Dewa membayarmu?".


Ada keraguan tergambar di wajah Kirana.


Jena kembali menyerang Kirana "Apa kau juga di bayar untuk tidak membicarakan hal itu kepadaku?".


Seketika Kirana menggeleng-gelengkan kepala "Tidak, Jena!".


"Lantas?!".


"Nyonya Jelita memberiku uang tunai sebesar 5 juta rupiah", cicitnya pelan.


Suara itu menyatu bersama angin yang berhembus kencang, Jena merasa tidak yakin dengan apa yang dia dengar.


"Hah??, coba kau ulangi lagi!".


Semua jemari tangan kirinya mengarah kepada Jena "Lima juta", ujarnya lagi.


Dapat di lihat dari raut wajah Jena, wanita itu menggelengkan kepala dengan rasa tidak percaya.


"Semurah itu karya yang ku kerjakan siang dan malam, kenapa kau tidak menjual hidupmu kepada mereka? mungkin saja kau akan mendapatkan lebih dari 5 juta!", sentaknya kesal.


"Maaf Jena!! aku sudah mengembalikan uang itu".


Jena membuang muka "Selain maaf, apa yang bisa kau katakan? telingaku ingin tertawa mendengar kata maaf darimu, sangat menggelikan Kirana!".


"Aku khilaf, aku menyadari kesalahan itu", wajah kecil Kirana tertekuk.


Meski kerap berkata pedas, masih terselip sedikit maaf untuk Kirana. Namun tidak mudah untuk mendapat maaf dari seorang Jena, dia pun memberikan sedikit pelajaran kepada Kirana.


"Aku lapar, ingin makan cumi asam pedas di resort ujung pulau".


"Aku akan membelikan cumi itu untukmu", kedua mata gadis itu berbinar senang.


"Aku juga ingin es kopi".


"Akan aku carikan, kau mau es kopi dari cafe mana???".


"Cafe seberang penerbit Will".


"Baiklah", serunya senang.


"Tapi, aku ingin kedua makanan itu sampai di hadapanku dalam keadaan segar. Cumi asam manis yang panas, dan es kopi yang dingin. Bukan di panaskan atau di dinginkan!".


Mendengar itu, Kirana terdiam. Bagaimana dirinya harus berlari ke kiri dan ke kanan dalam waktu bersamaan.


"Jenaira___".


"Aku mengantuk, bangunkan aku jika hidangan itu sudah kau dapatkan", tanpa menghiraukan perkataan Kirana, Jena meninggalkan gadis itu di tepi pantai.

__ADS_1


"Jena~~~~", bibirnya bergetar menahan dingin, namun Jena tidak sekalipun menoleh kepadanya.


Belum sempurna punggung wanita dingin itu menghilang, gawai di saku Kirana berdering. Kepala pimpinan menyampaikan suatu kabar yang membuatnya ingin menggali pasir dan membenamkan diri saja di sana.


"Katakan kepada Jena, besok malam dia harus menghadiri acara penghargaan penulis terkenal. Dirinya masuk dalam daftar penulis terbaik tahun ini, kehadirannya sangat di harapkan untuk menerima langsung trofi kemenangan itu".


Sekian lama Jena menyandang status seorang penulis, tidak satu kali pun dia hadir dalam setiap undangan. Kerap, Kiranalah yang hadir menjadi perwakilan atas pencapaian yang telah dia raih dalam dunia menulis novel. Permintaan pak kepala sangat tidak mungkin Kirana kabulkan, apalagi dengan hubungan dirinya dan Jena yang semakin tipis usai masalah yang dia timbulkan sendiri.


"Oh Tuhan, bisakah kau cairkan sebentar hati yang beku itu? bisakah kau bukakan pintu hati wanita dingin itu untuk hadir di malam penghargaan??", penuh harap, Kirana menatap langit biru pagi itu.


*


*


*


*


Di kediaman keluarga Abdillah.


Arabella mencoba menghibur hati sang putra yang sedang berduka. Namun Agam bukanlah seorang pria yang lemah, ketika sang bunda menawarkan bermacam menu masakan untuknya, dia justru menanyakan apa yang ingin di santap oleh sang bunda.


"Kau ini, bunda ingin memasak sesuatu untuk mu, kenapa kau balik bertanya kepada bunda".


Seulas senyum mengembang di wajah Agam, namun mata seorang ibu tidak akan tertipu, ada kesedihan di balik senyum manis itu.


"Agam akan makan apa saja yang bunda masak".


Arabella menarik napas, dadanya terasa sesak menatap putra semata wayangnya berusaha tegar di hadapannya.


"Bagaimana jika kita makan di luar saja? bunda teringat masakan di restoran dekat kantor ayah, kita bisa makan siang bersama juga kan".


Senyum itu kembali mengembang, sembari mengangguk, Agam memamerkan kedua lesung pipinya kepada bunda.


Lantas, wanita itu mencubit gemas kedua pipi itu "Anakku Agam, maafkan bunda yang sempat menolak wanita idaman kamu nak", ujarnya beralih mengusap lembut pucuk kepala Agam.


Agam menarik jemari Arabella dengan lembut "Bunda tidak bersalah, meski sangat menginginkan Jena, jika kami tidak berjodoh Agam bisa apa?, rasa cinta itu datang dari sang maha pencipta, Agam hanya berharap dia akan meredam rasa cinta ini agar hati Agam kembali tenang dan damai".


"Amiin ya Allah".


Sudah beberapa hari Agam tidak hadir di konter, dua sahabatnya cukup memahami. Kabar lamaran Rio tentu juga sudah sampai kepada mereka. Kerap bertukar pesan, setidaknya mereka mengetahui bahwa Agam baik-baik saja.


"Lantas, apa jawaban kak Jena?".


Gibran menggelengkan kepala "Entahlah, ayahku tidak bercerita, dia langsung pergi usai kak Jena mengusirnya tanpa kata-kata".


"Menurut kamu, apakah pernikahan mereka akan terjadi?".


Gibran menatap Angga "Kau tahu kan bagaimana sikap kedua orang tuaku kepada kak Jena".


"Hem, aku mengerti", tukas Angga.


"Apa aku perlu menyumbangkan sebuah lagu di pernikahan mereka?", lanjutnya.


"Mengingat penolakan kak Jena, apa kau punya nyali untuk bernyanyi di pesta pernikahan tanpa cinta itu??".


"Hehehe, sepertinya aku harus menyimpan suara merdu ini. Aku tidak yakin akan selamat dari amukan kak Jena".


Gibran mengacungkan jempol ke arah Angga "Setidaknya kau masih sayang dengan nyawamu".


*


*


*


*


Memasuki lift sembari menggelayutkan tangan pada pria pujaan hati, Tiara tidak ambil pusing akan berpasang mata yang menyaksikan kemesraan mereka. Lagi pula, hotel ini lumayan jauh dari ruang lingkup mereka, Tiara sangat yakin pergerakan mereka tidak akan menyita perhatian.


"Kau ingin makan apa sayang?".

__ADS_1


"Apa kau ingin spaghetti? kau sangat menyukai hidangan itu bukan?", lanjut pria itu.


"Tidak, apa kau lupa aku tidak lagi menyukai hidangan itu sejak mengandung".


Jemari pria itu memainkan rambut tergerai Tiara "Maaf, aku terkadang melupakan hal itu. Kau tahu bukan, bermain kucing-kucingan sangat menyenangkan, namun juga sangat melelahkan".


"Tidak mengapa sayang, aku memahami pikiranmu yang terbagi untuk diriku dan istrimu", bisiknya.


Pria itu kembali berbisik "Apa kau cemburu?".


"Apa yang harus membuatku cemburu, sedangkan kau tega meninggalkan wanita itu demi menemaniku", ujarnya sembari mengedipkan mata.


Tidak mampu berkata-kata lagi, pria itu hanya bisa tertawa. Tiara sangat memahami dirinya, juga hubungan mereka. Apalah daya, hatinya terperangkap dalam keserakahan. Memiliki istri yang begitu cantik, lemah lembut, juga sangat perhatian. Sedangkan Tiara, meski tidak pandai memasak seperti istrinya di rumah, namun wanita itu adalah cinta pertamanya. Jauh sebelum bertemu sang istri, dirinya sudah sangat mendambakan Tiara, begitu pula dengan Tiara. Karena saling suka dan saling mengerti, dia pun memaklumi status Tiara sebagai istri orang, begitu pula dengan Tiara yang memaklumi statusnya sebagai suami orang.


Dan begitulah kisah terlarang mereka terjadi, atas dasar saling suka, atas dasar saling memahami, mereka memadu kasih di belakang pasangan mereka.


*


*


*


*


Siang itu, bersama ayah dan bunda, Agam merasa menjadi anak kecil kembali. Kedua orang tuanya sangat memanjakannya di meja makan, meski banyak pelanggan lain Akhtar tidak segan menyuapi sang putra.


"Ayah, bukan maksud Agam menolak suapan ayah. Hanya saja, Agam sudah dewasa untuk menerima suapan ayah", ujarnya menahan tawan.


Akhtar mengayun-ayunkan suapan itu di depan wajah Agam "Apakah sebuah kedewasaan menjadi alasan untuk menolak niat baik ayah?".


"Bukan begitu ayah", ujar Agam. Sementara Arabella sudah tertawa geli melihat tingkahnya dua lelakinya.


"Lagipula, bukankah suasananya akan lebih manis jika suapan ini beralamat kepada bunda", di bawah sana, Agam menarik-narik gamis yang di kenakan Arabella, mengharap bantuan sang bunda dari perlakuan manis sang ayah.


"Aaaaaa", Arabella membuka mulut "Mari kita buat ayah bingung, menyuapi bunda yang cantik atau Agam yang tampan".


Pria paruh baya itu pun tertawa "Hahaha tentu saja aku harus berpaling pada si cantik ini", ujarnya yang langsung membuat Arabella kembali membuka mulut.


"Lihatlah ayah, saat mengunyah makanan pun bunda terlihat manis".


"Tentu saja, dia bidadari tercantik ayah".


"Hanya milik ayah?", protes Agam.


Akhtar sedikit ragu, mengingat hati yang tengah patah, haruskah dia terus meladeni celotehan sang putra tentang bidadari hatinya.


Gelagat keraguan di wajah Akhtar tertangkap jelas, tidak ingin merusak suasana, Agam kembali melontarkan kata-kata "Ayah! ada apa dengan raut wajah itu. Lupakan kesedihan yang telah berlalu, lihatlah! Agam baik-baik saja".


"Benarkah?", tanya sang ayah "Jika benar begitu ayah hanya dapat mendoakan semoga bidadari hatimu adalah wanita Sholehah nak".


"Amiin", Agam dan Arabella meng'aminkan.


Keluarga kecil itu kembali bercengkrama. Agam pun menarik napas lega, jika kaca bisa pecah, raut wajah tetaplah harus indah. Hal itulah yang sedang Agam lakukan di depan ayah dan bundanya. Keceriaan kembali menghiasi dirinya, hingga kedua orang tua itu yakin bahwa sang anak telah baik-baik saja.


Sedang menikmati waktu bersama keluarga, fokus lelaki muda itu tersita kepada seseorang. Sudah kedua kalinya dia mendapati pria itu di tempat tidak biasa.


Pertama dia melihatnya saat sedang menunggu Jena di penerbit Will, sedangkan ruang lingkup pria itu terbilang jauh dari area tersebut. Ah, mungkin saja dia sedang mengisi waktu luang bersama istrinya, pikir Agam saat itu, meskipun wanita yang saat itu samar-samar terlihat bukanlah istrinya. Yang kedua kali ini, Agam terperangah saat wanita yang sempat dia yakini adalah istri dari pria itu, ternyata wanita lain!!!.


"Ayah, bunda, Agam permisi sebentar", ujarnya tergesa-gesa.


"Kau hendak kemana?", Arabella bertanya.


"Ada hal mendesak", sembari mengusap perut. Tingkah itu membuat Kedua orang tuanya beranggapan dirinya hendak ke toilet.


Seperti ninja, Agam mendadak menjadi mata-mata yang melesat kesana dan kemari tanpa di sadari targetnya.


Pria yang dia kenal itu melenggang keluar dari restoran. Memeluk pinggang wanita di sampingnya dengan sangat erat.


"Astaghfirullah, sangat jelas wanita itu bukanlah tante Ane!".


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya 🤭🤭🤭🤭


__ADS_2