
Seperti janji Jena pada Arabella dahulu, jika mereka melakukan perjalanan ke kota, maka mereka akan bertandang ke kediaman mertuanya. Sungguh senang hati seorang Arabella, menyambut kedatangan menantu cantik tersayang dengan rona bahagia. Alih-alih mencium kedua pipi sang putra, seperti kebiasaan yang dia lakukan pada Agam ketika masih bujangan dahulu, kini sambutan manis itu justru tertuju kepada Jena. Hanya ada Arabella di kediaman itu, sedangkan sang ayah mertua sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota.
Entah seperti apa buah hati Agam dan Jena kelak, tingkat kecemburuan yang di miliki Agam sungguh luar biasa. Tidak hanya kepada Enda yang seorang bocah ingusan, bahkan rasa cemburunya pun bersarang kepada Jena, sang istri.
Pria itu mengambil duduk pada kursi tunggal di ruang tamu mereka, menatap dua wanita cantik berbeda generasi itu saling bercengkrama dengan ekor matanya.
"Agam, ada apa dengan tatapan itu? apa kau sedang gusar? kepada bunda? atau kepada Jena?."
Mengulum bibir yang cemberut"Bisa-bisanya bunda melupakan sambutan manis kepadaku! apa aku sudah tidak tampan lagi di mata bunda?."
Jena menyerngitkan kedua alis, langsung menatap sang suami"Hei! duhai Abdillah Agam Pratama! kau cemburu kepadaku?."
Dengan lekas mengalihkan pandangan"Tidak."
Bunda mengantupkan bibir, menatap kaki sang putra yang bergerak-gerak kecil di bawah sana membuat hatinya geli, lelucon apa ini?!!.
Jena mengalihkan pandangan kepada Arabella"Bunda, sudah cukup lama aku hidup bersamanya, dan ini kali pertama dia iri kepadaku," ujarnya. Dua wanita itu saling menahan tawa, tingkah Agam sungguh kekanan-kanakan.
"Agam, kau iri pada istrimu?."
"Tidak," sahutnya bernada datar.
"Lantas, hal apa yang membuatmu menekuk wajah seperti ini? kau bukan tidak tampan lagi di mata Bunda, selain kau, Bunda juga sayang kepada Jena."
Emosi itu perlahan mereda, saat merasakan belaian lembut di pucuk kepalanya, yang di lakukan oleh Arabella. Yah! seperti sebuah sihir, Agam yang cemberut kini tersenyum kecil.
Jena terperangah, satu lagi prilaku suaminya yang baru terkuak"Mas, kau aneh."
Memiringkan kepalanya"Aku pun merasa begitu, entahlah! ada apa denganku," ujarnya mengusap lengan Arabella, meletakan kepalanya pada pundak kecil sang Bunda.
"Bunda, aku juga ingin bersandar seperti itu," rengek Jena.
Oh! Arabella tergelak tawa, kedatangan menantu dan putra semata wayangnya ini membuat suasana rumah menjadi lebih ceria.
Jemarinya mengarah kepada Jena"Kemarilah, sebelum kita memeriksa daftar nama calon buah hati kalian, Bunda akan meminjamkan pundak kecil ini kepada kalian," sembari mengendikan kedua pundaknya.
"Bagaimana? nyaman bukan?," ujar Agam, sebab pundak Arabella ada dua, jadi kali ini dia tak keberatan berbagi rasa nyaman itu kepada sang istri.
__ADS_1
Begitu nyaman, pundak kecil itu terasa begitu kokoh memberikan rasa nyaman kepada Jena, pantas saja Agam sangat suka meletakan kepalanya di pundak sang Bunda"Hem, nyaman sekali," sahut Jena tersenyum.
"Nyaman bagi kalian, berat bagi Bunda," lirih Arabella.
Jena dan Agam kompak menegakkan badan, menyudahi sandaran mereka pada pundak sang Bunda"Sehat-sehat ya Bunda," pria itu mengusap-usap sandaran ternyamannya.
"Ya, tentu saja, Bunda akan selalu sehat dan berumur panjang," tukasnya membenarkan letak duduk.
"Aamiin," sahut mereka berdua.
Arabella meminta kepada pelayan untuk mengambil sebuah buku agenda berukuran sedang, dengan sampul kulit berwarna biru malam di ruang kerja sang suami.
Setelah sang pelayan menyerahkan apa yang di minta majikannya, Arabella mengucapkan terimakasih kasih, kemudian membuka agenda itu di hadapan kedua orang tersayang.
Ada begitu banyak pilihan nama yang telah di siapkan Akhtar untuk sang calon cucu, baik itu nama bayi laki-laki, juga bagi perempuan. Hati kecil Jena sungguh terenyuh, begitu besar kebahagiaan yang di rasakan orang-orang di sekitarnya setelah kehamilan dirinya.
Namun, di balik rasa haru dan bahagia itu, ada sedikit rasa takut. Ada banyak orang yang menantikan bayi itu lahir, itu berarti ada banyak hati yang sedang merindukan sebuah kebahagiaan, dan hal itu berpusat kepadanya. Jena sungguh takut , takut dirinya gagal menghadirkan kebahagiaan itu, dan justru berganti dengan rasa kecewa yang besar.
Sejauh ini, ngidam yang dia rasakan tidaklah teramat menyiksa, karena ini kali pertama, Jena sempat merisaukan hal itu.
Melihat wajah cantik sang istri menyiratkan sebuah kegundahan, Agam berpindah tempat duduk di samping Jenaira.
Jena menggelengkan kepala"Aku bahkan hampir lupa, bahwa dia pernah hadir di masa laluku," ucapnya mengalihkan pandangan kepada Agam, dan kini tatapan mereka bertemu.
Mendengar nama Dewa di sebut, Arabella meletakan agenda itu di atas meja, dan kini menatap Jena dan Agam bersamaan"Kalian bertemu dia?."
"Sebelum ke sini, aku mengantar Jena untuk menghadiri reuni kecil yang di adakan teman-teman di masa kuliahnya. Dan di sanalah kami bertemu dengan Dewa."
"Aduh!! apa dia menyakitimu, sayang!," ujarnya memegangi kedua pundak sang menantu, menyapukan pandangan pada seluruh tubuhnya.
"Jena baik-baik saja, Bunda. Ada mas Agam yang selalu menjaga ku."
Arabella menatap Agam, sembari mengangguk-angguk"Bagus! kau akan menerima hukuman, jika menantuku mendapatkan lecet sedikit saja."
"Bunda, jangan menakutiku," lirih Agam.
Kini pria itu beralih pada sang istri"Jika bukan karena sikap Dewa, lantas hal apa yang membuatmu terlihat risau?."
__ADS_1
"Aku takut mengecewakan kalian, dengan kehamilan ini," suaranya begitu pelan, rasa takut nya begitu dalam. Wanita itu memainkan jemarinya di dalam pangkuan, dan Agam tahu itu terjadi jika sang istri sedang dalam kegelisahan.
"Kalian rutin ke dokter kandungan, bukan?."
"Ya, tentu saja," sahut Agam.
"Bagaimana?."
"Bagus, dokter bilang tidak ada hal yang perlu di khawatirkan," sahut nya lagi.
"Nah, hal apa yang membuatmu risau, sayang?," Arabella menarik jemari Jena, menggenggam nya dengan erat.
"Aku tidak begitu mengalami masa mengidam yang sulit, muntah-muntah di pagi hari pun hanya ku rasakan beberapa hari. Hanya selera makan ku saja yang terus meningkat, Bunda. Lihatlah, aku begitu cepat gendut," ujarnya memperlihatkan lengannya yang mulai gempal.
"Juga gangguan pada indra penciuman," tambah Agam"Kau bahkan tidak lagi menyukai aroma jeruk, juga rasanya."
Arabella kembali tergelak tawa"Jeniara! Bunda pikir ada hal apa?!. Seharusnya kau senang, calon cucuku tidak mengerjai lambung mu, dia hanya menagih makanan yang banyak kepadamu."
"Bunda, ibuku merasakan penderitaan yang teramat menyiksa saat mengandung diriku. Dan aku yakin begitulah seharusnya orang yang sedang mengandung."
Barisan gigi Arabella yang rapi, terlihat begitu nyata sebab dia masih saja tertawa"Kau ingin dengar bagaimana Bunda saat mengandung suamimu?."
Jena tertarik dengan perkataan Arabella, dia pun mengangguk dengan kedua mata berbinar"Mau dengar Bund, apa dia juga menyebalkan, seperti diriku saat masih di dalam kandungan?."
Agam menarik pipi Jena"Hei wanita cantik, dengarkan dulu cerita Bunda."
"Plak!!," Arabella menepuk tangan nakal Agam"Kau ini! gunakan tanganmu untuk membelai istrimu, bukan mencubitnya seperti itu!."
"Hanya perlahan, Bunda," sahut Agam mengusap tangannya.
Sedangkan Jena memperlihatkan wajah meledeknya kepada Agam. Akh! Agam semakin gemas, ingin lagi dan lagi mencubit pipi sang istri yang mulai terlihat seperti bakpao itu.
"Ayo Bunda, lekas ceritakan kelakuan pria ini saat masih di dalam kandungan."
Arabella pun mulai bercerita, mengenang kembali masa-masa menyenangkan dirinya saat mengandung putra semata wayangnya ini.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗