Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Kehamilan Zafirah?


__ADS_3

Sungguh sedap masakan Kanaya, membuat Jena terus menyuap makanan itu meski perut nya sudah terasa kenyang. Tidak seorang pun boleh mencicipi masakan itu, sedikit pun!!.


"Apa seenak itu?," bahkan Zafirah pun, yang sempat menjadi pilihan Jena alih-alih Agam, tidak dapat sekedar mencicipi hidangan olahan Kanaya.


"Enak sekali, tapi kau tetap tidak boleh mencicipinya," ujar Jena tegas.


Seperti biasa, aroma sedap tercium semerbak dari hidangan Kanaya, namun masalah rasa... entahlah!.


"Apa jangan-jangan, lidahmu juga mati rasa?."


Sebuah tutup botol melayang dengan indah ke arah Gibran, mendarat dengan sempurna di keningnya hingga menimbulkan suara renyah"Pletok!!."


"Kamvret!!aku sudah membawa Kanaya ke sini! inikah caramu berterima kasih??," sentaknya memegangi kening, yang sekarang sudah terlihat merah merona.


"Kau memang membawa Kanaya ke sini, memenuhi keinginanku. Tapi, bukan berarti kau bebas menghinaku, bocah tengil!," gerutu Jena mendecih pada Gibran.


Tersungut-sungut, Gibran menarik Kanaya pergi dari hadapan Jena"Dasar! wanita berlidah pahit. Kau bahkan tidak tahu caranya berterima kasih!."


Kanaya tertawa, terkekeh melihat sang kekasih yang kesal karena ulah sang kakak. Dan lucunya, Jena malah tersenyum puas melihat kekalahan Gibran, pasangan kakak beradik ini memang gemar saling menyakiti perasaan.


"Sedikit saja," ujar Zafirah mencoba meminta hidangan itu.


Jena tetap tidak bersedia memberikannya kepada Zafirah. Namun, Zafirah tidak patah semangat, dia berkata sedang mengidam dan sangat ingin mencicipi selera baru Jena itu.


"Benarkah!!, cepat sekali Zafirah! apa kalian punya jurus jitu? ah! aku lupa, Khair kan seorang duda, dia pasti sangat berpengalaman dalam hal mencetak keturunan," serunya spontan dengan nyaring. Zafirah sampai menutup mulut Jena dengan kedua tangan, agar suara sang sahabat tidak terdengar oleh suaminya. Sungguh, dirinya akan sangat malu jika ucapan Jena terdengar oleh Khair.


Jena mendekati Zafirah sambil memeluk piring berisi hidangan itu"Baiklah, aku akan menyuapi mu, satu suap saja. Oke? aku sangat tidak rela jika keponakanku ini lahir dengan air liur yang terus menetes."


Zafirah tersenyum canggung, terlebih saat Jena menepuk perutnya dan terlihat oleh Khair. Pria itu langsung menghampiri mereka, khawatir ada hal buruk yang menimpa sang istri.


"Zafirah kenapa?."


"Kenapa?," Jena balik bertanya, sampai gagal menyuapi Zafirah.


"Kenapa kau menepuk-nepuk perut Zafirah? apa dia sakit perut? jangan katakan perutnya sakit setelah memakan masakan itu?," Khair terus menodong Jena dengan pertanyaan, namun di balas tawa oleh sahabat istrinya itu.

__ADS_1


"Tuan Khair, justru makanan ini yang akan menenangkan perut istrimu. Aku yakin bayi di dalam perutnya tidak akan meronta lagi karena telah mencicipi masakan enak ini," celoteh Jena membuat Khair membulatkan kedua mata.


Pandangannya beralih kepada Zafirah, terlihat jelas wajah wanita itu sudah sangat merah, seperti kepiting rebus.


"Ta...tapi, kami baru menikah beberapa hari," ujar Khair terbata.


"Woho! cepat sekali bro!," seru Agam. Ocehan Jena menarik perhatian Agam, hingga akhirnya ikut bergabung di meja makan.


Khair nampak bingung, otak kecilnya coba mencerna perkataan Jena tentang sang istri.


"Hei, ayolah! bukankah kau seharusnya senang akan menjadi ayah lagi."


Khair menatap Agam dengan kedua mata mengerjap"Zafirah, benarkah telah ada bayi di dalam perutmu? kita bahkan baru berapa kali...," astaga! dia menanyakan hal itu di hadapan Jena dan Agam.


Rasa malu sungguh menguasai diri Zafirah, dia langsung menarik tangan Khair dan hendak berpindah ke toko buku"Sepertinya aku sudah tidak menginginkan masakan Kanaya, aku ingin melihat-lihat koleksi bukumu, apakah boleh?," sorot matanya tertuju kepada Jena.


Kedua alis Jena terangkat, merasa senang karen jatah makanannya tidak jadi di ambil Zafirah"Silahkan, ada banyak buku yang akan kau sukai di sana. Ah! sebentar," tukasnya menghentikan langkah mereka.


"Selamat atas kehamilanmu," senyuman wanita itu merekah indah. Juga acungan jempol yang Agam layangkan kearah Khair.


Khair menarik napas pelan, penjelasan sang istri sudah cukup membuatnya mengerti akan keadaan"Ku kira kau benar-benar hamil."


Memainkan jemari-jemari, Zafirah menggeleng, sangat menyesal telah menimbulkan salah paham"Maaf mas."


"Kenapa kau meminta maaf," senyum hangat kini menghiasi wajah Khair, dan menatap lembut ke arah Zafirah.


"Jangan salah paham, aku tahu kau pasti sangat terkejut karena aku mengaku hamil kepada Jena. Sedangkan kita... baru saja menikah."


Sontak, Khair menarik tubuh sang istri ke dalam pelukan"Tidak mengapa sayang, justru.....aku akan sangat senang jika kau benar-benar hamil."


Sempat terhanyut berada dalam dekapan Khair, Zafirah menengadah menatap wajah sang suami, lekat-lekat"Kau tidak keberatan jika aku segera hamil?."


Menunduk, kemudian mengusap ujung hidung wanitanya"Kau sangat baik, wanita yang hampir sempurna, tentu aku sangat menantikan keturunan soleh dan solehah darimu."


Hati Zafirah di buat lega, dia pikir sebab sudah memiliki Enda, Khair akan meminta untuk menunda dahulu niat untuk menimang keturunan kembali.

__ADS_1


"Terimakasih mas, ku pikir kau akan menolak jika aku benar-benar hamil," ujarnya menunduk, terlalu lama beradu pandang akan membuat wajahnya semakin merah.


Mengusap pucuk kepala berbalut kerudung berwarna cream, Khair juga mendaratkan kecupan lembut di kening sang istri"iya, kalau begitu, setiap malam kau akan selalu tidur denganku."


Zafirah semakin menenggelamkan wajah di dada bidang Khair, membicarakan hal itu di tempat seperti ini, rasanya sangat memalukan jika terdengar orang lain.


"Bagaimana?."


Wanita itu hanya mengangguk, tanpa suara. Sikapnya saat menahan malu membuat Khair tak tahan untuk tidak mencium pipi sang istri. Beruntung, belum ada seseorang yang masuk ke toko buku, namun tetap saja interaksi manis mereka tersorot sebab dinding kaca transparan itu.


Dan, kebersamaan itu menegaskan kepada para pelanggan wanita, bahwa sang koki tampan itu sudah ada yang memiliki.


"Aku mau kopi," Jena menagih secangkir kopi kepada Agam.


"Dengan rasa jeruk," sambung Agam.


Nampak, Jena memanyunkan bibir dengan jemari di bawah dagu"Hem..., tidak mas, aku mau dalgona coffe saja."


Alis Agam di buat kerkerut, selera sang istri mengalami perubahan akhir-akhir ini. Sejauh ini, Agam tidak pernah menjumpai Jena menikmati dalgona coffe, dan hari ini wanita itu meminta minuman tersebut kepadanya.


"Sayang, ada apa dengan selera makanmu? sejujurnya aku sempat mencicipi masakan Kanaya, dan rasanya masih sama seperti biasanya, tidak enak! tapi kau terus saja mengatakan masakan itu sedap dan nikmat. Dan sekarang, kau meminta minum yang tidak pernah kau nikmati."


"Entahlah, aku hanya ingin mencoba minuman itu, mas," jawab Jena sambil mengusap perut.


Tindakan Jena mengusap perut, menimbulkan tanya di benak Agam. Apakah???


Tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan, Agam segera membuatkan minuman yang di inginkan Jena. Usai menyerahkan minuman tersebut, Agam mengusap pucuk kepala sang istri dan menciumnya lembut"Aku tinggal sebentar ya, sayang," yang kemudian di amgguki Jena.


Di luar cafe, Agam menghubungi sang bunda. Menceritakan perihal nafsu makan Jena yang berubah, juga sikap kekanak-kanakan yang kerap terlihat padanya akhir-akhir ini.


"Besok bunda akan ke kediaman pantai, dengan membawa sesuatu," suara Arabella terdengar bersemangat.


Dan saat Agam menanyakan benda yang akan Arabella bawa"Rahasia, kau tidak perlu tahu."


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2