
Irama syahdu di kamar hangat bermural sepasang lumba-lumba itu telah mereda, berganti suara percikan air yang tak biasa dari kamar mandi. Beruntunglah, pilihan Gibran membuat telinganya selamat dari rintihan aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.
Beberapa saat menghabiskan waktu bersama di kamar mandi, usai melaksanakan kewajibannya, Jena kini di manjakan sang suami dengan pelayanan ala-ala salon mas Agam.
"Oho, kau semakin pintar mengeringkan rambutku, mas," ujarnya berkomentar melihat cara Agam menggunakan hair dryer di rambutnya.
"Tentu saja, jika untuk mu aku akan selalu melakukan yang terbaik."
Jena melirik pantulan diri Agam di cermin, pria itu tengah tersenyum kepadanya"Dasar mulut lelaki, perkataanmu selalu saja manis!."
"Sayang, aku berkata manis hanya kepadamu."
"Benarkah, lantas bagaimana dengan bunda?."
"Juga bunda," ujar Agam tercengir tertawa lagi.
Jena mendongakkan kepala, menatap Agam yang sedang menunduk membalas tatapannya"Tak mengapa jika hanya aku dan bunda," kemudian Jena mengepalkan tangannya berlagak hendak menghantam kening pria itu"Keningmu akan terluka jika kau berani berkata manis pada wanita lain."
"Cup" ciuman sekilas kembali mendarat di kening Jena.
"Tidak akan, sudah ku katakan, aku hanya milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu."
"Menjadi milikku bukan berarti kau akan selalu bersikap baik kepadaku, bukan."
Menarik pundak sang istri hingga pandangan mereka bertemu secara langsung"Kenapa berkata seperti itu? apa kau meragukanku lagi?," sorot mata pria itu terlihat bergetar.
Jena, hati kecil wanita itu berbunga dalam sekejap. Entah mengapa, dirinya begitu suka menggoda Agam akhir-akhir ini, membuatnya resah hingga semakin menunjukan cintanya kepada Jena, sikap itu membuat Jena sangat bahagia.
"Aku hanya sekedar berucap, suamiku," ucap Jena pelan, hampir berbisik.
Tubuh pria itu tak lagi tegang, menyadari sejatinya sang istri hanya sedang menggoda dirinya"Eghhh! kau mulai jahil akhir-akhir ini," memeluk Jena begitu erat, hingga membuat Jena menepuk dada bidang suami untuk meregangkan pelukannya.
Di lantai bawah....
Ben tengah bersiap mengatar Enda ke perkotaan, tempatnya belajar mengaji. Fokusnya terusik saat melihat bus berwarna hijau dengan tulisan"Al-ma'hadul islami Al-jannah."
"Gib, itu bus sekolah ya? sudah beberapa hari ini ku lihat melewati tempat ini, saat siang dan sore hari."
"Entahlah," sahut Gibran sembari mengendikan bahu.
"Kamu bisa baca tulisan arab kan, itu nama sekolahann bukan," ujar Ben menunjuk bus tersebut, kebetulan tengah singgah tak jauh dari cafe mereka.
Terlihat beberapa bocah seusia Enda masuk ke dalam bus, bocah sekitaran pesisir.
"Al-jannah? rasanya bus itu tidak asing di mataku," gumam Gibran.
"Sebentar, aku tanya kak Jena dulu. Sepertinya kak Jena lebih tau kepada siapa kita harus bertanya."
Saat hendak melangkah ke lantai atas"Sebentar, kenapa kamu jadi penasaran dengan bus itu?," tanyanya kepada Ben.
__ADS_1
"Aku sedang mencari tempat mengaji untuk Enda, jika benar itu bus sekolah yang bisa mengantar dan menjemput murid-muridnya, ku pikir akan lebih baik jika Enda ku pindahkan ke sekolah itu."
Mengangguk tanda mengerti, Gibran melanjutkan langkahnya ke lantai atas.
"Kak Jenaaaaa," serunya sengaja meninggikan suara. Bukan apa-apa, tahu betul lantai atas sudah menjadi wilayah pasangan lengket itu, Gibran memberi kode kedatangannya dengan berteriak. Siapa tau saja saat dirinya datang tiba-tiba, Jena dan Agam sedang melakukan ini dan itu, mata bobanya bisa menyaksikan aktivitas yang tak seharusnya dia lihat, bukan?. Bukan hanya tak baik bagi Jena dan Agam, hal itu juga tidak baik untuknya, bisa-bisa dirinya akan iri dan kebelet ingin menikah, ckckckc dirinya merasa belum siap untuk menikahi Kanaya, terutama untuk lidahnya yang harus mencicipi masakan unik sang kekasih setiap hari.
"Haish! harus ya berteriak seperti itu untuk memanggilku?," seperti biasa, Jena akan menjadi galak saat berhadapan dengan Gibran.
"Ya Allah, aku masih memanggilmu dengan sebutan kakak ya! bukan hanya dengan namamu saja, kenapa kau galak sekali?," dan pria itu, akan menanggapi amarah Jena dengan semakin membuatnya kesal.
Terlihat, Agam tengah memakai headset gaming"Woiiii kau tidak mengajakku bermain?," melebarkan langkah mendekati Agam cepat-cepat, Gibran menyampirkan tangannya di pundak Agam dengan sedikit merunduk. Sedikit lagi wajahnya mendarat di pundak Agam, sungguh suasana yang sangat ganjil di mata Jena.
"Jiiitt," Jena menarik cuping telinga Gibran, membuat sang adik menjerit kesakitan.
"Kenapa sih kak! kau hampir membuat telinga ku putus!," tersungut-sungut, Gibran memijat daun telinganya yang terasa sangat sakit.
"Jaga jarakmu! kau hampir mencium suamiku, tengil!."
Mencebik kesal"Ck! aku hanya ingin melihat permainannya, kau ini! jahat sekali!."
"Nyenyenye~~~~," ledek Jena mengolok-olok Gibran.
Agam yang sedari tadi fokus pada gamenya, menjadi tertawa melihat ulah sang istri. Benar bukan, Jena semakin terlihat kekanak-kanakan akhir-akhir ini.
"Dunia atas ini memang tidak cocok denganku, sungguh pilihan yang salah aku membawa diri kemari," melipat kedua tangan di dada, Gibran menyandarkan diri di daun pintu.
"Cerewet, katakan, apa yang membawamu kemari?."
Teringat tentang Enda, Agam menyudahi aktivitas bermain gamenya"Benarkah? jika benar itu bus pondok pesantren, akan lebih baik jika Enda di pindahkan mengaji di sana saja. Dengan begitu Ben tidak perlu mengantar dan menjemputnya ketika belajar mengaji.",
Menyimak percakapan dua pria itu, Jena sedikit memahami maksud kedatangan Gibran di sini.
"Aku tidak tau tentang bus itu, apa sebaiknya ku tanyakan kepada Zafirah?."
"Kedatangaku ke sini untuk menanyakan hal itu....."
"Aku tau! aku tau bawel!," sambar Jena meraih gawainya di meja tempat Agam bermain game.
Dan ternyata benar, bus itu memang milik pondok pesantren Al-jannah. Anak-anak di tepian pantai mulai banyak belajar mengaji di pondok pesantren tersebut. Dan karena itulah beberapa hari ini bus tersebut mulai beraktivitas menjemput dan mengantar para anak-anak itu di sana.
Sungguh, segala kebimbangan hati Ben berusai udah. Segera dirinya meminta pendapat Enda tentang rencana itu, dan beruntunglah Ben, sebab Enda yang terlahir dalam lingkungan keras dapat memahami keinginan hati ayah nya. Di tuntut untuk selalu bersikap seperti orang dewasa saat tinggal bersama ibunya, Enda tumbuh menjadi anak lelaki yang memiliki pemikiran seperti orang dewasa.
"Benarkah? kau tidak sedih jika harus berpisah dengan teman-teman di tempat mengaji?," tanya Ben saat sang putra mengganguk setuju untuk di pindahkan.
"Ehem," ujarnya sembari menggelengkan kepala.
"Jadi kau bersedia dengan rencana ayah?," tanya Ben lagi.
"Hem," angguk Enda dengan polosnya.
__ADS_1
"Bukankah Enda juga akan pindah ke TK yang di ujung sana, tempat yang kemarin ayah tunjukan kepadaku."
Jena, wanita itu menahan gemas melihat Enda berceloteh layaknya orang dewasa
"Iya sayang, kau mengerti? apa jangan-jangan kau menguping pembicaraan ayah dan om Agam?," selidik Ben sembari mengacak pucuk kepala Enda.
Tidak di sangka, bocah itu menepis tangan sang ayah"Jangan ayah, nanti rambutku berantakan."
Kyaaaa!!! Jena menggigit bibir menahan diri agar tak langsung memeluk Enda.
"Ayah dan om Agam berbicara dengan keras, bukan salah Enda jika mendengarnya," lanjutnya membuat Agam terkekeh geli, juga Gibran.
Sementara Ben, pria itu menepuk keningnya karena celotehan sang putra"Enda...kau baru berusia 6 tahun, kenapa seperti orang dewasa."
"Hem....kata papa, Enda harus cepat dewasa agar mama tidak selalu memikirkan Enda."
Celotehan itu terdengar lucu di telinga Agam, Gibran dan Jena. Namun membuat hati kecil Ben tercubit. Kembali terbayang bagaimana Enda di tinggalkan mantan istrinya di depan pintu rumahnya, di pagi yang bergerimis.
...#Flashback#...
"Apa kau ayahku?," tanya si kecil Enda saat Ben membuka pintu kediaman sederhananya.
"Kau...," melihat wajah bocah laki-laki itu, Ben teringat akan putra yang tak boleh di temui sejak dia lahir itu.
"Apa kau Enda?," Ben balik bertanya.
"Ya," sahut bocah kecil itu. Sendirian, dengan tas di pundak dan koper yang lebih besar dari tubuhnya.
Ben menyapukan pandangan pada sekitar, tak terlihat pergerakan siapapun di sana.
"Melihat dari koper besar ini, tidak mungkin kau datang sendirian," ujar Ben menatap Enda lekat-lekat. Ini kali pertama mereka berjumpa, sungguh sebuah kejadian yang tak pernah Ben sangka-sangka. Andara, wanita yang meninggalkannya karena lelaki yang lebih kaya, baru menyadari kehamilannya saat telah resmi menjadi istri dari pria kaya raya itu. Awalnya Enda sangat di cintai di dalam keluarga barunya, namun saat kemiripan wajahnya semakin mendekati wajah Ben, yang ternyata ayah kandungnya, membuat kehidupan indahnya berubah bencana.
"Aku tidak bisa berdekatan dengan anak itu, wajahnya mengingatkanku dengan mantan suamimu," ujar Frans, ayah sambung Enda.
Tak ingin di usir dari keluarga kaya itu, Andara setuju untuk memberikan Enda kepada Ben. Dan hal itulah yang membawa Enda sampai di kediaman ayah kandungnya saat itu.
"Tadi aku bersama pelayan di kediaman papa Frans."
"Lantas, kemana pelayan itu?."
"Dia sudah pergi setelah menekan bel."
Ben terdiam. Paginya di awali dengan kejutan yang sangat tidak terduga.
"Ayah, aku akan bersikap baik dan patuh."
Ucapan Enda membuat hati Ben terasa teriris. Nampaknya, kehidupan sang putra tidak baik-baik saja di kediaman kaya raya itu.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€π€
Kisah Enda ada di novel lain, mungkin akan up di sini jika revisinya sudah selesai βΊοΈ.