
"Hanya melihat kabar itu melalui internet, mengapa kau sudah sibuk mencari pakaian terbaikmu? apa kau di undang ke acara pembukaan cafe mereka?."
Baiklah! tidak mengapa jika Arkan berubah sedikit cerewet akhir-akhir ini. Namun kata-kata terakhirnya, membuat Melisa meliriknya tajam"Bahkan, jika mereka tidak mengundangku, aku akan tetap datang ke sana."
Di tatapnya wajah angkuh seorang Melisa, saat mengatakan hal itu"Kau punya dendam pada mereka? kenapa kau terlihat marah?."
"Aku tidak marah, aku hanya kelelahan membongkar barang-barang ini. Ah! dari pada kau banyak bertanya, lekas bantu aku mengemasi barang-barang ini," menarik kaki Arkan yang hanya berdiri menatap nya, sedangkan dirinya sendiri masih berada di atas lantai, dalam posisi duduk tak beraturan usai terjatuh tadi.
Bukannya lekas membantu, Arkan justru menjauhkan diri dari Melisa"Tidak! aku ke sini hanya untuk melihat keadaanmu. Ku lihat kau masih hidup, berarti aku sudah bisa pulang kerumah ku."
"Yak!! Arkan! kau pikir aku apa??."
"Manusia! memangnya kau mau di sebut apa? suster ngesot? dari pada memaksaku untuk membantumu, lebih baik segera bereskan semua kekacauan ini," pria itu bersandar di muara pintu, dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Aku belum menemukan pakaian terbaik untuk di pakai esok," cicit Melisa.
"Bagaimana kau boleh datang, sedangkan kau tidak di undang. Ayolah nona Melisa, setidaknya kau harus punya sedikit rasa malu."
Ucapan Arkan, membuat sudut bibir Melisa mencibir"Aish! sudah ku katakan, meksipun tidak di undang, aku pasti akan datang. Bersamamu," setelah berucap, dirinya tersenyum penuh arti kepada Arkan. Itu pertanda dirinya akan menempel kepadanya seperti perangko, dan sudah jelas itu akan membuat Arkan repot.
"Tidak akan!."
"Hei, ayolah! kau harus menjagaku."
"Kau bukan bocah kecil lagi, Melisa."
"Bukan bocah kecil? kalau begitu apa sekarang aku sudah dewasa? jadi, apakah aku sudah bisa menjadi pasanganmu? kau bilang hubungan kita mustahil terjalin karena aku hanyalah bocah kecil. Tapi sekarang kau sendiri yang mengatakan bahwa aku bukan bocah lagi," Arkan terjebak oleh perkataannya sendiri, Melisa menatapnya dengan kedua mata yang berkedip-kedip, seperti bola lampu soak.
"Aku lapar. Aku harus segera pulang," jurus melarikan diri, Arkan tidak menghiraukan rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut gadis itu. Membuat Melisa memanyunkan bibir, merasa kesal.
Seperkian menit, langkah pria itu semakin jauh namun dirinya masih berada di kamar itu, mencari cara agar Arkan tidak meninggalkannya saat ini.
Tepat saat Arkan berada di muara pintu"Brak!!," Melisa menggagalkan Arkan untuk membuka pintu.
"Apa lagi???," hardiknya.
__ADS_1
"Aku lapar."
"Hupffhh!!," terdengar berat, pria itu membuang napas kasar. Terlihat dirinya memejamkan kedua mata, berusaha mengatur emosi yang turun naik"Lekas kemasi ruangan ini, jika tidak, aku tidak akan memasak untuk mu."
"Siap laksanakan!!!," seru Melisa gembira. Gadis itu bahkan sampai meloncat senang, dan Arkan...hawa panas yang sempat menguasai harinya mendadak dingin. Senyum dan tawa Melisa membuat hatinya tentram, terlepas dari sikap pecicilan gadis cerewet itu.
...❣️❣️❣️❣️...
"Assalamualaikum," terdengar ucapan salam di muara pintu, sebuah rumah sederhana yang terlihat lebih rapih dari biasanya.
Suara lari bocah kecil terdengar semakin mendekat, dan saat daun pintu terbuka, wajah tampan Enda menyembul dengan senyum merekah sempurna"Waalaikumsalam, Ayah pulang bawa apa??."
Khair tersenyum, mengusap pucuk kepala sang putra setelah punggung tangannya di cium takzim"Ayah hanya punya oleh-oleh kue molen mini."
Enda segera menyambar bungkusan yang di sodorkan oleh Khair"Waahh, ini kue enak ayah, Alhamdulillah. Terimakasih ayah," serunya membawa bungkusan itu berlari kecil, kepada sang umma yang sedang memasak di dapur.
"Umma mau? ini oleh-oleh ayah."
Zafirah mengambil duduk di meja makan"Mau dong, boleh Enda menyuapi umma?."
Terlihat, rona merah di wajah Enda. Bocah itu mengangguk sembari menyuapi umma cantik nya itu.
Sementara Khair, dia tersenyum setelah pandangannya bertemu dengan sepasang mata cantik Zafirah.
"Sudah pulang mas?," ujarnya sembari berjalan maju, meraih tangan Khair dan mencium punggungnya.
"Iya," sahutnya, hubungan mereka belum benar-benar mencair. Pengantin baru ini masih membutuhkan banyak waktu bersama, ngobrol bersama, saling bertukar cerita tentang diri masing-masing. Namun sayangnya, pada saat malam pengantin, justru harus di habiskan Zafirah bersama Enda. Malam kedua pun sama, bocah itu tidak berniat melepaskan pegangannya pada lengan sang umma hingga subuh menjelang.
Saat Khair mencoba memberikan pengertian, agar sang umma seharusnya tidur bersama dirinya, wajah Enda langsung Menunduk"Enda senang sudah mempunyai umma, dulu ibu tidak pernah menemani Enda tidur. Enda selalu ditemani bibi, setiap hari."
memikirkan hal itu, membuat kepala Khair berdenyut. Bunga di depan mata ini sangat indah, namun dirinya belum bisa memilikinya seutuhnya, bahkan hanya untuk sekedar mencium wanginya.
"Mas....," Zafirah memanggil Khair, yang duduk termangu di meja makan, sementara dirinya sedang menyiapkan hidangan.
"Apa yang kau lamunkan, mas," ujarnya saat Khair mengangkat pandangan.
__ADS_1
Pria itu hanya menggelengkan kepala"Tidak ada, aku hanya sedikit lelah usai dari cafe."
Mengangguk kecil, Zafirah tersenyum kepadanya"Usai sholat isya, jika masih lelah, aku bisa memijatmu."
"Hem," tukas Khair mengikuti pergerakan Zafirah dengan ekor matanya. Sang istri sedang menuang sayur kedalam mangkuk, nampak wanita ini begitu cekatan saat di dapur.
Tiba-tiba"Sruk!!," Zafirah di buat terkejut, dengan dua bola mata membulat, merasakan pelukan hangat dari belakangnya.
"Mas....," ujarnya pelan.
Khair masih memeluknya, dengan erat. Pria itu meletakan wajahnya di pundak kecil sang istri, meski sedang berkutat di dapur, aroma tubuhnya terasa nyaman baginya.
"Mas Khair kenapa?," ujarnya, sebab Khair hanya diam, membuatnya mulai merasa khawatir.
"Zafirah....," ucapnya, namun terjeda, seperti sedang terperangkap dalam keraguan.
Lantas, Zafirah membalikan badan, dan kini mereka telah saling pandang, begitu dekat"Ada apa mas? apa kau sedang dalam masalah?."
Ya Allah, seminggu yang lalu wanita di hadapannya ini masih bukan siapa-siapanya, bahkan mereka belum begitu kenal. Dan ketika memandangnya dalam jarak sangat dekat seperti ini, jiwa kelelakian Khair meronta-ronta. Pipi mulus itu, kening , hidung yang mancung, mata yang sangat indah, dan...bibir ranum itu....
Perlahan jarak di antara mereka semakin terkikis, Zafirah tenggelam dalam pandangan teduh pria lembut itu, dan Khair semakin gemas ingin mencicipi hak nya.
Dan saat bibir mereka bertemu, ada gelenyar aneh yang membuat Zafirah tegang, hingga mengepalkan kedua tangannya. Berbeda dengan Khair, ini bukan kali pertama baginya, namun sangat berbeda rasanya saat mencium lembut istri manisnya ini. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai tenggelam dalam manisnya cinta, hingga mereka lupa bahwa ada manusia lain di kediaman mereka saat ini.
"Umma...., Enda sudah mulai lapar," suara bocah itu terdengar bersama langkah kakinya menuju dapur.
Mendorong tubuh Khair"I....iya nak, umma sedang menyiapkan....," napasnya berderu, seperti orang yang sedang berlari jauh.
"Umma sudah selesai nak," ujarnya, dan Enda telah hadir di antara mereka.
"Enda, boleh ambilkan ponsel ayah? rasanya tadi ayah letakkan di dekat televisi."
"Siap ayah,"celoteh bocah itu kembali menuju ruang tamu.
Segera, Khair menyeka tepian bibir Zafirah, merapikan kembali lipstik merah muda yang menjadi berantakan karena ulahnya.
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗