Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Couple manis


__ADS_3

Berusahalah, cepat atau lambat pasti akan membuahkan hasil. Kali ini, sebuah kesuksesan datang sedikit terlambat kepada Agam, dirinya harus beberapa kali menukar koin untuk mendapatkan si boneka lumba-lumba.


Memandangi benda itu lekat-lekat"Ckckckck! hanya demi benda ini, kau menghabiskan uang dalam jumblah yang tidak sedikit," Jena kemudian menimang-nimang boneka itu ke udara.


"Jumblah uang itu tidak seberapa dengan binar bahagia yang terpancar dari kedua matamu," sahut Agam tersenyum hangat.


Ash! Jena tersenyum malu, laki-laki ini selalu punya cara untuk membuatnya sekedar tersenyum kecil.


Jika tadi Jena yang begitu antusias menarik Agam ke hadapan mesin capit, kini giliran Agam yang menggiring wanitanya memasuki sebuah toko pakaian.


Barisan seperangkat onderdil wanita terpampang nyata di bagian depan, begitu banyak, berjejer dengan warna yang senada.


"Glek!," Agam menelan saliva, canggung, bukan tempat ini yang ingin dia kunjungi.


Jena menatap barisan pakaian dalam yang berjejer rapi"Apa maksud mu membawaku ke tempat ini?," wanita itu menghujani Agam dengan tatapan nakal. Seringai tawa di wajahnya menambah rona merah yang telah singgah di wajah Agam.


Pria itu tersenyum canggung"Bukan! kita salah tepat."


"Benarkah?," tanya Jena menahan Agam yang hendak mengajaknya keluar dari toko itu.


"Sungguh, kita salah tempat, sayang," lirih Agam, membalas tatapan nakal Jena dengan kedua alis yang turun naik.


Jena di buat tertawa, tak tega menyaksikan Agam yang serba salah"Katakan, kau ingin membawaku ke mana?."


"Kita harus melihat-lihat dulu,"Agam menggandeng Jena dan berjalan perlahan menyusuri area perbelanjaan, hingga sampailah mereka di depan sebuah toko pakaian, namun kali ini bukan seperangkat onderdil wanita yang terpajang nyata di stan bagian depannya.


Rupa-rupanya, Agam menginginkan piyama pasangan. Tak pernah terbayang di benak Jena, akan mengenakan piyama yang sama dengan suaminya. Dan kini, Agam begitu bersemangat meminta Jena memilah motif apa yang harus mereka beli.


"Hehehe," tawa Jena terdengar canggung.


"Motif hello kitty?."


"Oh tidak! aku tidak terlalu menyukai warna merah muda."


Agam mengambil motif yang lain, kali ini berwarna kuning dengan gambar monster lucu berkekuatan listrik, pikachu.


Jena menahan tawa, sebenarnya seperti apa penilaian suaminya tentang dirinya? dari usia saja sudah jelas dirinya yang lebih tua, bukankah motif-motif lucu seperti itu sudah tidak pantas untuk dirinya.

__ADS_1


"Jenaira, ayolah. Kau jangan hanya tertawa," pria itu merengek, seperti bocah laki-laki yang gagal mendapatkan gulali.


"Untuk apa membeli benda seperti ini? lagipula, apa kau mau mengenakan piyama bermotif seperti ini?," tanya Jena menunjuk piyama-piyama yang sempat Agam tunjukan pada dirinya.


"Aku tidak keberatan, toh hanya akan di pakai ketika akan tidur saja."


Jawaban Agam mengundang senyum di wajah pelayan toko itu. Sedari tadi menyaksikan sikap Agam, pelayan wanita itu menatap takjub. Selain tampan, berbicara dengan lembut kepada wanitanya, Agam juga terlihat menggemaskan saat merengek menginginkan piyama pasangan itu.


"Lihatlah, dia sangat kekanak-kanakan, bukan?," ujar Jena kepada pelayan wanita itu.


Sang pelayan masih tersenyum simpul"Apa nona mau motif yang lain? jika tidak ingin motif lucu seperti itu, kami punya banyak motif yang lebih dewasa."


"Apa kau keberatan jika aku memilih motif lain?," Jena meminta pendapat pada suaminya.


Wajah yang sempat tertekuk itu kembali ceria"Asalkan berpasangan, kau bisa memilih motif apapun, sayang."


Jena kembali melempar tawa kepada Agam, dirinya bahkan menggelengkan kepala, merasa lucu dengan keinginan suaminya ini.


Usai mendapatkan beberapa piyama berpasangan, kali ini Agam menginginkan sepasang sendal yang akan mereka gunakan di dalam rumah.


"Warna apa saja, asalkan berpasangan," celotehnya ketika Jena kembali menanyakan pendapatnya.


"Tentu saja, seperti kita," jawabnya dengan sorot mata berbinar senang.


"Begitukah, jadi....apa kita perlu mengganti semua barang kita dengan yang berpasangan?."


Pria itu mengulum senyuman, boleh juga ide yang di katakan istrinya. Sembari mengangguk senang, Agam dan Jena yang kini telah berada di supermarket mendorong troli belanja mereka bersamaan.


Sikat gigi....


Gelas untuk berkumur....


Handuk....


Sendal rumahan....


Penutup mata...

__ADS_1


Dan bandana....


Jena tengah memegang bandana bertelinga kelinci, Agam menatapnya dengan seksama.


"Benda ini, berpasangan juga?."


"Ya, aku akan memilih warna biru, kau ingin warna apa?."


"Jika kau warna biru, maka aku juga akan memilih yang berwarna biru. Tapi sayang, apa aku memerlukan benda ini?," di pandang-pandang, Agam tidak yakin dirinya memerlukan benda seperti ini. Bukankah ini bandana untuk wanita saja??


"Tentu saja, ku lihat kau sering kesusahan ketika mencuci wajah. Rambutmu langsung terkena air, hingga mengganggu aktivitas mu membasuh wajahmu dengan sabun bukan?."


Agam baru mengerti, jadi benda ini di gunakan untuk menahan rambut saat mencuci wajah. Tapi..."Hem...Jena sayang, bolehkan benda ini kita lewatkan saja. Rasanya sangat menggelikan jika aku memakai benda itu, di kepalaku," ujarnya mengusap pucuk kepalanya sekilas. Tidak terbayang akan seperti apa Gibran mengolok-olok dirinya kelak.


"Baiklah, jadi bandana ini aku saja yang membelinya," lantas, Jena mencoba benda lucu itu di atas kepalanya. Dengan telinga kelinci yang berdiri tegak, Jena terlihat sangat manis dan menggemaskan.


"Bagaimana?," tanya Jena.


Spontan, Agam mencubit pelan kedua pipi isrtinya"Kau, memakai apa saja selalu cantik, sayang."


Lagi, hidung wanita itu di buat menyerngit menahan tawa"Bunda pasti ngidam makanan manis saat mengandung dirimu, kau slalu saja berkata manis kepadaku."


"Tentu saja, dan aku hanya akan berkata manis kepadamu dan juga bunda," Agam membenarkan letak bandana di atas kepala Jena. Merapikan helai rambut yang sempat menjuntai di tepian pipi istri tersayangnya.


Interaksi manis mereka mengundang rasa iri bagi para pelanggan yang melihat mereka. Senyum dan tawa mereka juga tertular kepada mereka, namun....ada sosok wanita paruh baya yang menatap tajam ke arah Jena dan Agam.


"Cih... bermesraan di depan umum, dasar wanita tidak tau malu!!," Jelita terbakar api amarah. Dirinya selaku manajer Tiara, menyempatkan diri mengunjungi supermarket itu untuk mencari beberapa keperluan, sangat tidak di sangka kedua matanya harus menyaksikan kemesraan mantan menantunya itu.


"Cepat cari tau siapa orang tua suami wanita mandul itu," perintahnya kepada sang asisten yang selalu menemani dirinya dan Tiara.


Di belakang panggung, Tiara tengah mencari keberadaan Tian. Wajah cantiknya terlihat gelisah, berkali-kali wanita itu mencoba menghubungi ponsel sang kekasih, dan berkali-kali pula dia tak mendapat jawaban.


"Tian!! apa kau sedang dalam masalah???, kau sudah berjanji akan datang melihat penampilanku hari ini," gumamnya begitu khawatir pada Bastian.


Berpeluh keringat, pria yang sedang di khawatirkan Tiara sedang berkegiatan panas dengan istri sahnya. Ane, wanita itu dengan lembut memperlakukan Tian, memberikan sentuhan yang selalu membangkitkan hasrat seksual nya.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗



__ADS_2