
Sudah dua hari Jena di rumah sakit, meski sudah jauh membaik namun Abian tidak mengijinkan Jena untuk segera pulang. Sikap itu sungguh membuat Jena menggelengkan kepala, bukan tidak senang mendapat perhatian dari sang ayah, hanya saja hal itu terasa sangat tidak nyaman baginya.
Sembari memainkan bungkus permen jeruk"Aku tidak suka di perlakukan seperti ini, bisakah kalian bersikap seperti dahulu saja. Sungguh aku jauh berasa nyaman dengan sikap tak acuh kalian".
Jelas Abian tidak setuju dengan keinginan Jena, sementara Adila, wanita itu tidak bisa bersikap manis seperti Abian.
"Kau dengar itu ayah, pulangkan saja jika dia bersikeras untuk pulang. Dia bukanlah bocah berusia 5 tahun yang harus di urusi siang dan malam", Adila menyapu pandangan pada mereka yang mengelilingi ranjang pesakitan Jena.
Jari telunjuk nya menyusuri mereka satu persatu "Kau Arkan, selama dua hari ini tidak fokus bekerja hanya karena kakinya belum sembuh total".
"Dan kau!, kau seorang pemimpin perusahaan, kau membuang banyak waktu dengan menghabiskan waktu di sini saja. Untuk apa kau mengenakan setelan jas itu jika akhirnya hanya menjaga Jena di sini seharian!!?", emosi itu melonjak naik. Penolakan Jena membuat dirinya tidak bisa menahan diri. Memanglah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Jena yang pemarah pasti mendapatkan gen itu dari sang ibu.
Khawatir akan melukai hati Jena, Abian menutup mulut Adila yang terus mengomel"Apa yang kau lakukan! apa kau ingin kehilangan jari-jari tangan dengan membekap mulutku!?", pekik Adila sembari melepaskan diri dari Abian.
Jena membuang pandangan ke luar jendela, sejujurnya, lebih baik Adila yang galak seperti ini dari pada Adila yang berpura-pura bersikap manis sejak dirinya masuk rumah sakit.
"Mama, kata-kata itu sangat menyakitkan. Apa tidak khawatir akan melukai hati kak Jena?", bisik Gibran bertanya.
"Ck!", terdengar decihan dari sang kakak perempuan"Yang sakit hanya kakiku, bukan telingaku hingga menjadi tuli. Aku bisa mendengar bisikan mu Gibran".
Adila kembali tersulut emosi"Lihatlah, percuma kalian khawatir kepadanya".
"Bu, pelankan suara ibu".
Adila melirik Arkan dengan galak"Kau, cepatlah bekerja. Aku saja yang menunggu wanita keras kepala ini".
Segurat senyuman terbit di wajah Abian, di balik kata-kata setajam belati itu, setidaknya Adila masih ingin menemani Jena di rumah sakit.
"Kenapa ibu tidak sekalian saja ikut bersama ayah? aku bisa mengurus diriku sendiri".
"Jenaira____".
"Ayolah ayah, hanya tinggal kakiku saja yang sedikit nyeri. Tubuhku yang lain sudah sembuh total".
"Tapi bagaimana jika kau ingin ke toilet? berjalan saja kau masih kesakitan".
"Aku bisa memanggil perawat", sahut Jena. Arkan menggelengkan kepala melihat betapa keras kepalanya adiknya itu.
"Lantas, apa kau lebih senang di urus oleh perawat? aku sebagai ibumu kau anggap apa??", sentak Adila dengan nada meninggi.
Jena memandang Adila sekilas, kemudian kembali memalingkan wajah darinya"Kau wanita yang melahirkanku. Itu saja".
Gibran menggigit bibir, dua wanita di hadapannya ini sungguh membuat kepalanya berdenyut. Sang mama yang keras kepala, juga sang kakak yang tak kalah keras kepala, apakah pagi ini akan terjadi perperangan di ruangan ini??
"Jaga ucapan mu Jena, hormati ibumu!".
"Ayah, kalian yang memaksaku untuk berkata seperti ini. Sejak tadi meributkan hal yang sepele, ibu hanya ingin kalian pergi bekerja, alih-alih menjagaku di sini".
"Dan ibumu akan menemanimu di sini sementara kami pergi bekerja".
"Tidak perlu ayah, aku bisa sendiri".
"Lihat, betapa sombongnya putri mu itu Abian", ujar Adila dengan gigi bergerutuk menahan kesal.
Jena berkata malas"Ibu~~~~ aku juga putrimu bukan? lagipula, apa kau tidak lelah terus mengomel seperti itu? aku melihat kerutan di wajahmu semakin bertambah".
Ucapan itu sontak mengundak tawa Arkan dan Gibran. Sedangkan Abian mati-matian menahan tawa, akan panjang urusannya jika dirinya tertangkap basah mentertawakan istrinya.
"Kau___memang sangat menyebalkan Jena!", pekik Adila sangat sakit hati, di rebutnya bungkus permen yang sedari tadi di mainkan Jena. Suara bungkus permen itu terasa sangat mengganggu baginya
__ADS_1
"Jika aku menyebalkan maka pergilah bersama mereka", dengan cemberut Jena menatap pasrah bungkus permennya di buang ke tempat sampah.
"Ash! aku sudah tidak tahan lagi. Lebih baik aku mengunjungi Ane dari pada menemanimu di sini.
"Hem, pergilah ke kediaman tante Ane. Tanyakan perihal luka di ujung bibir om Tian".
Kembali teringat luka itu, tadi malam Tian berkata jatuh di toilet hingga melukai ujung bibirnya. Terasa janggal, namun mereka semua tidak ambil pusing akan hal itu.
"Kenapa aku harus repot-repot ke sana hanya untuk menanyakan hal itu, kau menyarankan hal yang sangat tidak berguna".
Jena tertawa, tidak terbayang bagaimana reaksi mereka jika tahu perselingkuhan yang di lakukan Tian.
"Sudahlah, aku ingin beristirahat. Jangan lupa tutup pintunya saat kalian pergi", ujarnya menarik selimut dan membenamkan diri di sana.
"Aku saja yang menemanimu kak".
Tiba-tiba kepala wanita itu menyembul dari balik selimut "Apa kau akan meracuniku saat sarapan tiba?".
"Jenaira, berhentilah berprasangka buruk terhadap Gibran, kita bersaudara".
"Bang Arkan, apa kau lupa saudara juga bisa membunuh saudara".
Sungguh, jika tidak di tahan Abian, Adila mungkin akan memukul kening putrinya itu.
Meski di cecar perkataan kasar, Gibran bersikeras untuk tinggal dan menjaga Jena.
"Aku akan membelikan mu permen jeruk itu saat kembali", ujar Arkan sebelum pergi.
Tidak ada sahutan dari Jena.
"Atau, apa aku harus membawa orang yang memberikan permen itu saja kesini?".
Lagi-lagi Arkan tidak mendapat jawaban.
Tiara telah kembali ke kediaman mereka, sikap Jelita masih sama seperti sebelumnya, lembut dan sangat perhatian. Meski calon cucu telah tiada, perkataan dokter menyisakan harapan di hati Jelita untuk menimang cucu dari Tiara dan Dewa.
Bagas sungguh tidak tahan lagi menyaksikan kebaikan Jelita, menantu mereka sangat tidak bermoral, untuk apa bersikap baik pada wanita yang membodohi mereka.
Lembaran-lembaran foto yang di kirim pesuruh Bagas masih tersimpan rapi dalam brankas pribadi Dewa. Sandi yang awalnya di ketahui Tiara telah di rubah, sejak perselingkuhan itu terungkap, Dewa tidak memiliki kepercayaan lagi terhadap Tiara.
"Kau, apa tidak lelah begitu sibuk memasak untuk Tiara, apa gunanya pelayan di rumah ini jika engkau yang melayani segala keperluan Tiara".
Jelita melirik Bagas yang baru hadir di dekatnya"Ini tidak sepadan dengan pengorbanan Tiara mas, dia baru saja keguguran, apa salah jika aku lebih memperhatikan menantu kesayangan kita?".
"Hanya kesayanganmu, aku lebih sayang kepada Jena saat dia menjadi menantu kita", sangkal Bagas. Sungguh kesalahan terbesar saat dia memberi restu di pernikahan Tiara dan Dewa, penyesalan itu terus menghantui pikiran pria paruh baya itu
Jelita meletakan pisau untuk mengiris -iris sayurnya dengan kasar "Tidak bisakah kau melupakan wanita sial itu, dia sangat tidak berguna. Untuk apa terus mengenangnya, bahkan jasanya menghabiskan waktu di rumah ini sudah ku bayar. Uang yang ku kirim ke rekeningnya pasti bisa membayar semua pengorbanannya yang tidak seberapa itu", celotehnya dengan napas yang memburu.
Emosi bersambut emosi, Bagas sangat tidak terima saat Jelita mengungkit uang kompensasi yang mereka berikan kepada Kena"Tidak seberapa? kau menyuruh suaminya menikah dengan sahabatnya! bagaimana jika hal itu di lakukan ibuku kepadamu?!".
Kedua alis Jelita beradu, "Aku bisa memberikan kau anak, kenapa kau menanyakan hal yang tidak mungkin ibumu lakukan kepadaku? lagipula, jangan pernah kau bandingkan aku dengan wanita mandul itu mas, ingat! Dewa lahir dari rahimku, sedangkan Jena tidak pernah mengandung. Lihatlah! betapa sangat besar perbedaan kami".
"Kau tidak takut semua gigimu rontok? mengoceh begitu cepat tanpa jeda".
Terdengar Jelita membuang napas kasar"Huh!, aku sangat kesal jika membicarakan Jena, kau sudah tahu itu kan. Jika tidak ingin aku mengoceh terus, berhentilah membicarakan dia".
"Jelita, apa jadinya jika anak yang sempat di kandung Tiara bukanlah anak Dewa?", alih-alih mengakhiri perdebatan, Bagas justru mengungkap kebenaran di hadapan Jelita.
Jelita mengentikan aktivitasnya, memalingkan wajah lebih dekat kepada Bagas"Apa yang kau ucapkan mas?, kau jangan mencuci otak ku agar membenci Tiara".
__ADS_1
"Aku tidak sedang mencuci otak mu, aku bertanya bukan tanpa sebab".
Tuduhan itu kembali terjadi"Pasti Jena memberimu sesuatu, wanita itu pasti sudah mengguna-gunai dirimu mas".
"Aku tidak menerima apapun dari Jena, kau saja yang selalu berprasangka buruk padanya", Bagas menarik kursi dan duduk di sana. Di meja makan itu mereka berdua mulai membahas tentang Tiara.
"Kau sudah tahu sebab pertengkaran mereka?", tanyanya usai menarik tubuh Jelita hingga duduk berhadapan.
"Pasti karena Jena, wanita itu masih mendekati Dewa meski telah resmi berpisah".
Bagas menatap manik Jelita lekat-lekat"Kau salah, perkelahian mereka terjadi bukan karena Jena. Jena bahkan tidak tahu menahu dengan rumah tangga Dewa dan Tiara".
"Kau selalu membelanya mas, kau___".
"Dengarkan aku Jelita, kau selalu menyela perkataanku. Bagaimana kau akan mengerti tentang masalah ini jika kau begitu keras kepala".
Jelita pun diam, wajah merah padam Bagas menciutkan nyalinya.
"Aku, memergoki Tiara berselingkuh", ujarnya dalam sekali tarikan napas.
"Ck! itu hanya fitnah yang di buat Jena", sangkal Jelita.
"Sadarkan dirimu Jelita, Tiara itu sangat licik, bahkan anak yang sempat dia kandung bukan darah daging Dewa. Dengan telingaku sendiri, aku mendengar dia berkomunikasi dengan ayah bayi itu via telepon. Apa kau sudah melihat foto yang di kirim orang suruhanku?".
"Jadi kau yang mengirim benda itu?".
"Aku tidak bisa diam saja Jelita, aku menyelidiki Tiara beberapa hari. Dan hasilnya adalah foto itu".
Jelita membuang napas kasar"Itu hanya editan orang suruhanmu, orang itu pasti di bayar lebih oleh Jena".
"Brak!!!", kesabaran Bagas telah sampai pada batasnya. Gebrakan kedua tangannya di meja membuat Jelita terkejut bukan main, suaminya akan sangat mengerikan jika sedang marah.
"Dewa!!!", Bagas berteriak memanggil Dewa. Suara pria itu menggelegar memenuhi seisi rumah.
"Dewaaaa!!!", teriakan itu sampai ke lantai dua, membuat Tiara yang sedang berada di kamar ketar-ketir. Apa lagi yang akan terjadi, kenapa akhir-akhir ini keributan kerap terjadi.
"Dewa, ayah kenapa?".
Dewa tidak memperdulikan Tiara, pria yang hendak pergi ke kantor itu segera menghampiri sang ayah.
Setibanya di dapur, Bagas meminta Dewa membawa bukti perselingkuhan Tiara. Segera Dewa kembali ke kamar untuk mengambil bukti, Bagas menelpon seseorang, selang beberapa menit sebuah notifikasi terdengar dari ponselnya.
"Srak!!", Bagas melempar lembaran-lembaran foto itu di hadapan Jelita.
"Ini, bukankah pria ini om nya Jena. Pria ini pasti bersekongkol dengan Jena, mereka bekerja sama untuk menghancurkan rumah tangga Dewa".
Bagas sangat frustasi, istrinya selalu saja menyangkal kebenaran perselingkuhan Tiara.
"Bu, usia kehamilan Tiara selisih banyak dengan pertama kali aku berbuat salah, sebelum bersamaku dia sudah lebih dulu hamil", tukas Dewa ikut membeberkan kebenaran kepada Jelita.
Wanita itu memandangi foto-foto itu, pikirannya sangat kacau, pengkhianatan Tiara membuatnya kehabisan kata-kata. Berkali-kali menyangkal namun kedua pria di hadapannya ini punya bukti kuat tentang kejahatan Tiara.
Bagas meletakan ponselnya di hadapan Jelita, rekaman kemesraan Tiara dan Tian di dalam lift terpampang nyata di sana.
"Apalagi yang akan kau katakan, selama ini kita di bodohi Tiara".
Tangannya bergetar, dia bahkan menggenggam erat benda itu hingga berupa bola kertas. Jelita memandang foto itu dengan pandangan kosong. Kemudian, Jelita menangis tanpa suara, dia bahkan menghabiskan uang dalam jumblah yang banyak untuk menyelamatkan Tiara.
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗