Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Merindukan senja


__ADS_3

Angin perkotaan sungguh menyesakkan dada, bangunan-bangunan tinggi menjulang menghalangi pandangan. Jena menatap hampa pada jendela kamar inap, tidak ada burung camar yang terbang kesana kemari, hiruk pikuk kendaraan di bawah sana memekakkan telinga, Jena sangat merindukan nyanyian merdu sang ombak di tepi pantai.


"Kenapa kau tidak menyantap makan siangmu", Gibran melirik nampan besar di atas nakas.


"Aku tidak lapar".


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?".


"Tidak".


"Lantas, mengapa kau melamun?".


"Tidak kenapa-kenapa", sahut Jena tak lepas menatap keluar jendela.


"Apa kau ingin cemilan?".


"Tidak".


"Mau permen jeruk?".


"Aku sudah banyak memakannya, ini baru pertengahan hari, aku akan diabetes jika terlalu banyak memakannya".


"Kau mau______".


"Hentikan, lebih baik kau acuh padaku. Tidak bisakah kau bersikap biasa-biasa saja? contohlah ibu, ah, mama mu yang bersikap apa adanya di depanku", sikap Gibran yang banyak bertanya mengusik ketenangan. Kenapa semua orang berusaha menyenangkan hatinya akhir-akhir ini, hal ini sungguh membuatnya tidak nyaman.


Gibran memberengut"Kau melamun sejak Agam pergi".


Jena memalingkan wajah dari jendela, berbalik menatap Gibran yang sedang duduk di sofa"Kau sembarangan berasumsi, aku tidak sedang melamun, juga tidak sedang merajuk karena Agam pamit pulang".


"Benarkah, tapi kau kerap menahan senyum saat dia ada", celoteh pria tinggi menjulang itu. Porsi tubuh nan menjulang tinggi itu kerap membuat Jena mendongak saat menatapnya, ash! pembagian jatah tinggi badan mereka sangat tidak adil, Arkan dan Gibran begitu tinggi tegap, sedangkan Jena, kecil dan mungil.


"Matamu terlalu banyak menyimpan dosa, kau pasti gemar menonton video dewasa hingga akhirnya kau menjadi rabun".


"Bug!", Gibran melempar bantal sofa tepat mengenai kepala Jena. Membuat wanita itu terhuyung sambil terpekik.


"Ah, maaf kak", pria berkulit sawo matang itu malah panik karena perbuatannya sendiri.


"Apa keningmu baik-baik saja", ujarnya mendekati wajah Jena demi memeriksa kening yang masih di balut perban.


Sorot mata nan tajam kembali menatap Gibran"Kau!!!! apa sudah bosan hidup?", Jena menggeram. Tidak bisakah Gibran sedikit lembut kepadanya? sepertinya dia benar-benar buta, hingga tidak melihat benda yang masih tertempel di keningnya.


Tanpa permisi, Gibran merapikan helai rambut Jena yang berantakan"Kak Jena, kau sangat cantik. Bisakah lebih banyak tersenyum dari pada memasang wajah datar. Jujur saja, aku sangat senang melihat kau tertawa saat bersama Agam".


"Plak", Jena memukul lengan Gibran. Menepisnya agar berhenti memegangi rambutnya"Sejak kapan kau berani menyentuh rambutku? apa kau tidak sayang dengan jemari nakal ini",Jena menggenggam erat jemari Gibran.


Cengkeraman yang sangat kuat hingga sang empu kesakitan"Aw! awh! kau bisa mematahkan jariku kak!", pekiknya.


"Berjanjilah untuk tidak menjodohkan ku dengan Agam. Usia kami terpaut beberapa tahun, aku tahu kau tidak menyukaiku, jangan coba-coba mengacaukan ketenanganku".


Gibran mendesis"Ash!!! kak Jena, sepertinya otakmu harus di beri cairan pemutih pakaian, agar pikiran kotor yang melekat di sana menghilang. Aku sangat baik terhadapmu, apa kau tahu Agam pria yang baik, dari segi agama pastinya".

__ADS_1


"Berhenti berkicau Gibran!".


"Dengarkan aku kak Jena!", sentak Gibran menarik kedua tangan yang Jena letakan dia kedua telinganya, berharap segala apa yang Gibran katakan tidak dapat di dengar.


"Hei, hei! berani sekali kau memaksaku!".


"Jenaira!", sentak Gibran. Dua bola mata boba itu menatap Jena lekat-lekat"Aku tidak pernah membencimu, aku bahkan sangat sayang kepadamu. Saat kita berjauhan aku sangat merindukanmu kak!, aku mungkin kerap membuatmu kesal, kau harus tahu, hal itu ku lakukan karena senang berinteraksi denganmu".


Jena mengerutkan kening, ada kesungguhan dalam sorot mata Gibran. Membuat Jena terperangah namun cepat-cepat menyadarkan diri"Kau seperti burung beo, berkicau sembarangan. Kau sangat berisik, sudahlah! aku mendadak lapar. Bisakah kau pergi dari sini, aku butuh ketenangan agar dapat mencerna makanan dengan baik".


Seketika barisan gigi kelinci nan putih terlukis di wajah Gibran, akhirnya sang kakak mau menyantap makanannya"Baiklah! aku akan pergi keluar, ku harap saat aku kembali kau sudah menghabiskan makananmu".


"Kau memperlakukan diriku seperti bocah ingusan".


"Kau lebih menggemaskan dari bocah ingusan, kak Jena".


"Oh! jadi begini caramu merayu wanita. Aku kasihan pada Kanaya, dia terbujuk rayuan gombalan recehmu".


Gibran terkekeh"Hahahaha, kau tidak menyadari betapa tampannya adik lelakimu ini kak, sebuah kehormatan bagi Kanaya karena menyandang status sebagai kekasihku".


Terlalu malas meladeni kicauan Gibran, Jena hanya membalas Gibran dengan kerlingan malas kedua matanya. Pria itu kembali tertawa, sembari melayangkan ciuman, dia pun menghilang dari balik pintu.


"Huh! aku penasaran, ibu mengidap apa saat sedang mengandung bocah tengil itu. Tingkat percaya dirinya sangat tinggi, sungguh menyebalkan", gerutu sang kakak.


Beberapa menit kepergian Gibran, Jena yang sedang menyantap makananya di buat terkejut bukan kepalang. Kehadiran sosok tampan itu membuat kerongkongannya terjepit. Sendok itu terlepas dari tangannya, meraih air mineral dan segera meminumnya.


"Hai, apa aku menganggu makan siangmu?".


Nampan itu di geser ke atas nakas, melihat hal itu Dewa segera membantu Jena. Dengan terpaksa Jena menyerahkan nampan itu kepadanya.


"Sepertinya kedatanganku memangkas selera makanmu, Jena".


Jena tahu, Dewa sedang memandangnya lekat. Namun beradu pandang dengannya adalah sebuah siksaan bagi Jena"Kau jelas sangat tahu hal itu, lantas, mengapa kau datang ke sini", menundukan wajah, Jena lebih nyaman memandang ubin di bawah sana.


"Aku hanya ingin bertemu sebentar denganmu. Hari ini aku melewati jalanan tepi kota. Aku singgah ke cafe langganan kita dan memesan minuman ini untukmu", es kopi dengan rasa jeruk. Mungkin varian itu terasa aneh bagi kebanyakan orang, namun bagi Jena menyesap kopi bervarian jeruk sangatlah nikmat.


Wanita itu menelan saliva, rasa minuman itu seakan telah sampai di lidahnya.


"Kau, tidak menginginkan minuman ini?", uluran tangan Dewa menggantung, untuk sepersekian detik es kopi di tangannya hanya di pandang saja oleh Jena.


"Ambilah Jena, tanganku lelah", tukasnya lagi sebab Jena tak jua menerima pemberiannya.


"Ah, baiklah", sahut Jena akhirnya. Desir di dalam dada terus mengusik ketenangan, sekian lama tidak berjumpa, rasa itu masih melekat di dalam dada. Menahan diri agar tidak bergetar, Jena meletakan kopi itu di atas nakas.


Hening tengah singgah di antara dua makhluk yang sempat saling mencinta, ah! bahkan sekarang masih saling mencinta. Benteng pertahanan yang selama ini berdiri kokoh, terasa goyah saat pria itu hadir kembali di hadapannya.


"Aku sudah menerima pemberianmu, kau bisa pergi sekarang", perlahan, menata dahulu sang hati yang porak poranda, hingga sang suara keluar dengan nada yang sangat lemah.


Duduk di tepian ranjang, Dewa berharap Jena membalas tatapan matanya"Apa kau sangat membenciku hingga tidak sudi membalas tatapan ku?".


"Pergilah Dewa", jemari Jena saling bertautan, saling bercengkraman demi membunuh perasaan di dalam dada.

__ADS_1


Jika Jena sedang menguatkan diri, Dewa pun sama. Rindu yang telah lama bersarang di dalam dada membuat Dewa sangat ingin meraup wanita itu kedalam pelukan. Namun, jika berbalas tatapan saja Jena tidak sudi, apakah wanita itu akan rela kembali masuk dalam pelukannya.


Semakin menunduk, saat pertahanan itu semakin goyah, Jena membenamkan wajah di balik dua telapak tangan. Melihat itu membuat Dewa ingin mengusap lembut pucuk kepala wanita yang tetap bertengger di tahta tertinggi hatinya.


Namun, jemari tangan yang telah terarah kepada Jena, terhenti begitu saja. Teringat apa yang telah dia lakukan pada wanita di hadapannya ini, Dewa memilih untuk lebih menahan diri.


"Maafkan aku Jena. Aku hanya ingin kau memaafkanku".


"Aku sudah memaafkanmu, sejak resmi meninggalkan kediaman kita dahulu", sahut Jena tanpa berani mengangkat wajah.


"Jenaira, aku akan menceraikan Tiara".


Hening kembali memeluk dua insan itu, Jena kembali kehabisan kata-kata.


Memandangi tubuh kurus Jena, hati kecil Dewa terasa sakit. Betapa kejam apa yang telah dia lakukan, betapa bodoh dirinya dengan memilih Tiara, padahal sudah jelas rasa cintanya tidak bertepi terhadap Jena.


"Kau terlihat lebih kurus Jena, apa kau tidak makan dengan baik".


"Bagaimana aku bisa makan, seluruh isi dadaku telah hancur, menjalar pada seluruh rongga di dalam perutku. Pikiranku melayang entah kemana, bahkan aku sempat berpikir untuk bersemayam di dasar samudera".


Tidak tertahan lagi, genangan air mata telah turun dari kedua mata Dewa"Maukah kau kembali padaku? secepatnya aku akan menceraikan Tiara".


Perlahan, Jena mengangkat wajah. Memberanikan diri menatap pria yang masih sangat dia cintai itu"Apa kau tahu, benang merah yang telah putus tidak akan indah jika di sambung kembali?".


"Tidak perlu di sambung, kita bisa memintal kembali dan menciptakan benang merah yang lebih indah, Jena".


"Lihatlah kedua tanganku", Jena memperlihatkan kedua tangan yang terluka karena ulah Tiara.


"Kedua tanganku sungguh tidak kuat untuk memintal kembali, pergi saja kau dari hidupku Dewa. Biarkan tanganku bebas tanpa ikatan benang merah takdir".


"Kau akan kesepian".


"Aku telah terbiasa dalam kesepian, berteman dengan sunyi tanpa bersandar pada manusia lain".


Bergetar, Dewa menghapus genangan air mata di pipi Jena dengan jemari yang bergetar"Maafkan kebodohan ku, aku mohon kembalilah padaku".


Jena menggenggam erat jemari Dewa yang kini singgah di pipinya, merasakan betapa sang rindu begitu curang kepada mereka. Saat tidak berjumpa, rindu itu mampu bertahan, namun saat telah berjumpa, gejolaknya sangat menyiksa jiwa.


"Hick, hick, aku bisa gila. Aku sungguh akan menjadi gila", pekik Jena dalam isak tangis. Dewa menariknya ke dalam pelukan, mencium kembali aroma manis yang hanya dimiliki Jena.


"Jika kau begitu tersiksa, kenapa kau tidak ingin kita kembali bersama", ujarnya membelai lembut pucuk kepala Jena.


Sungguh, tangisan itu terlanjur tumpah. Kesedihan yang selama ini tertahan akhirnya tumpah di dada sang penoreh luka dalam jiwa.


"Aku akan kembali mengejar mu Jena, meski kau menolak, aku akan kembali mendekatimu", ujar Dewa semakin mengeratkan pelukannya.



To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2