
Memilah dan memilih pakaian, mungkin terlihat mudah namun sangat sulit saat di lakukan. Apalagi bagi seorang wanita yang super duper cerewet peserta Adila. Tujuan dan maksud kedatangannya ke butik ini, dengan mengajak dua calon menantunya itu, adalah untuk memberikan pilihan pada pakaian yang akan dia beli. Kabar bahwa sang putra akan memasuki dunia hiburan, sungguh suatu kebanggan baginya.
"Gibran ku akan segera menjadi artis, kita akan mengadakan pesta untuk merayakan karir baru putra tampan ku itu," ujarnya berdiri di hadapan Melisa dan Kanaya, seolah-olah sedang berpidato di depan rakyatnya.
Sedangkan dua wanita itu, Melisa mengangguk patuh, sedangkan Kanaya tidak. Dia langsung berucap"Tante, Gibran belum menjadi artis, pamali jika kita merayakan hal itu lebih dahulu. Bagiku, akan lebih baik jika perayaan ini di adakah setelah iklannya di tayangkan di televisi."
Ucapan Kanaya, membuat bibir Adila miring ke kiri dan ke kanan"Dia itu kekasihmu! mengapa kau seperti tidak mendukung kesuksesan dirinya?."
Kanaya mengambil duduk, pada sebuah sofa tunggal yang tersedia di butik itu"Bukan begitu tante, hanya saja tante terlalu cepat bertindak. Aku ingin bertanya, apakah hal ini sudah di bicarakan bersama Gibran??."
"Namanya saja pesta kejutan, untuk apa aku berbagi cerita kepadanya?," Adila juga mengambil duduk, tak lupa dia menarik lengan Melisa untuk duduk bersamanya di sofa panjang.
"Begini tante, gibran bahkan belum menemukan iklan mana yang akan dia pilih."
"Sudah! dia sudah menentukan pilihan, Kanaya?," sambar Adila.
Gadis yang sedang berargumen dengannya itu mengerutkan kening, dengan kepala sedikit memiring.
"Dia telah beberapa kali berlatih bersama gadis bernama Bella, dia bilang akan memilih iklan peninggi badan," ujar Adila lagi.
"Menurutku, iklan itu memang pantas untuknya, lihat saja tubuhnya sangat bagus," sambung Adila terdengar begitu bangga.
"Betul bukan?," ujarnya lagi menatap Melisa, meminta pendapat yang harus di angguki sang gadis.
Paham akan situasi tersebut, tentu saja Melisa lekas mengangguk dengan senyuman.
Ck! Melisa ini! di saat bersama Arkan, dia selalu merepotkan. Namun saat bersama Adila, dia langsung berubah menjadi kucing manis dan penurut terhadap majikannya. Andai saja Arkan melihat tingkah laku Melisa, bisa jadi dirinya akan terheran-heran.
Sementara Kanaya, mendengar nama Bella, juga mengetahui pertemuan beberapa kali Bella dengan kekasihnya, membuat mood nya semakin merosot ke dasar bumi. Dia tidak lagi banyak bicara, dia bahkan tidak menolak saat Adila memaksa agar memilihkan gaun untuknya.
"Pilih juga beberapa gaun untuk kalian," titah Adila kepada Melisa dan Kanaya.
Wanita paruh baya itu duduk sembari menikmati secangkir teh, sedangkan dua calon menantunya sibuk mencari gaun terbaik yang pantas dia kenakan.
"Kau, kenapa jinak sekali di hadapan wanita galak itu," ujar Kanaya, dia bukan tidak tahu tabiat Melisa saat bersama Arkan. Segala kekacauan yang dia perbuat tentu telah sampai ke telinganya.
__ADS_1
Melisa tersenyum, tidak bisa menyembunyikan tawanya di hadapan Kanaya"Kau jujur sekali ya, ingat! dia calon mertua kita, setidaknya bersikap manislah agar dia mendukung hubungan kita."
Kanaya mencibir"Cih! kau begitu yakin dengan bang Arkan?."
"Ya, tentu saja. Dia pria yang baik, juga penyabar," sahut Melisa dengan senyum mengembang.
"Seandainya Gibran juga sebaik itu," ucap Kanaya lirih. Meski pelan, ucapan Kanaya dapat di dengar oleh Melisa.
"Apa Gibran berlaku tidak baik terhadapmu? ku perhatikan, dia pria yang baik, juga humoris."
Kanaya membawa sebuah gaun cantik, dan mematut dirinya bersama gaun itu depan cermin"Kau tidak melihat berita hiburan? dia sedang di gosipkan menjalin hubungan."
"Hemmm," sedang berpikir, Melisa memang tidak begitu mengikuti berita-berita terbaru pada dunia hiburan"Dia memang sedang menjalin hubungan, dengan kau, bukan?."
Kanaya tersenyum pahit"Tidak, dia di gosipkan menjalin hubungan dengan artis cantik, bernama Bella."
"Oh ya?," Melisa nampak terkejut"Artis yang sedang mengajarinya berlakon di depan kamera itu??."
Kanaya mengangguk, dengan malas.
Di saat yang bersamaan, Gibran yang sedang menjadi buah bibir dua wanita itu datang. Seperti biasa, Adila langsung memeluk erat sang putra, dan tak segan untuk menciumi kedua pipi sang putra.
"Kau ke sini sendirian?," tanya Adila menarik Gibran untuk duduk bersama.
"Tadi di antar Bella," ucapnya. Gibran berucap tanpa beban, sebab dia tidak tahu bahwa Kanaya dan Melisa bersama sang mama di butik itu.
Dan tentu saja, telinga Kanaya langsung berdiri mendengar nama Bella, di sebut sang kekasih. Melisa coba menenangkan hati Kanaya, sebab dia mengerti apa yang tengah gadis itu rasakan. Bella masin aman karena berurusan dengan Kanaya, namun kedamaian hidup Bella akan porak poranda jika yang di dekatinya adalah Arkan.
Melihat betapa pasrah Kanaya, sungguh hati kecil Melisa tidak bisa hanya menonton saja. Di pun gegas menariknya untuk lebih dekat dan membisikan sesuatu"Apa kau hanya akan marah terhadap Gibran? bertindaklah Kanaya!."
Menatap Melisa lekat-lekat"Aku belum tahu, siapa yang gatal di antara mereka."
"Oleh karena itu cepatlah kau pastikan! jika itu Gibran kau harus segera memberinya hukuman. Dan jika itu Bella, kau harus segera membantunya menggaruk ginjalnya yang gatal! begitu berani mendekati Gibran."
Kanaya mencerna segala ocehan yang di bisikan Melisa. Setelah di pikir-pikir, memang seharusnya dia mengambil tindakan, alih-alih merajuk kepada Gibran seperti ini.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera bertindak."
Melisa tersenyum sembari mengacungkan jempol"Bagus! katakan saja jika kau perlu bantuan. Kau lihat mereka yang sedang berjaga-jaga itu, mereka para pengawalku. Selain menjagaku, mereka juga bisa mencari informasi tentang siapa saja, sangat mendetail bahkan hingga informasi nenek moyangnya sekalipun."
Kedua bola mata Kanaya membulat, ternyata orang-orang bertubuh besar itu pengawal Melisa. Dan rasa terkejutnya tak sampai disitu saja, mengetahui bahwa mereka dapat langsung mengulik informasi sedalam-dalamnya, membuat hati Kanaya berdecak kagum.
"Sejujurnya, aku belum tahu harus mulai dari mana," ucapnya lirih. Melisa gadis yang baik bagi Kanaya, dan tidak ada salahnya jika sedikit bersandar kepadanya.
Mendengar hal itu, Melisa tersenyum penuh arit"Kalau begitu, serahkan semua ini kepadaku."
"Terimakasih banyak, Melisa," ucap Kanaya dengan kedua mata berbinar.
"Bukan apa-apa, anggap saja ini hadiah awal pertemanan kita."
"Katakan, apa kau bersedia menjadi temanku?, ah! sahabatku?," ucap Melisa lagi.
Kanaya tersenyum manis"Ya! tentu saja, mulai sekarang kita adalah sahabat."
...πΊπΊπΊπΊ...
"Jangan katakan kepada ibu, aku takut dia beranggapan yang tidak-tidak," ucap Jena ketika Agam hendak membagi kabar baik kehamilan sang istri.
"Kenapa? bukankah ini kabar yang sangat di nantikan semua orang, sayang," Agam memegang kedua tangan Jena, menatap wanitanya lekat-lekat.
"Bagi ibu, aku hanyalah beban. Yang aku tahu, salah satu sumber kebenciannya terhadapku, karena ia mengalami kesulitan saat sedang mengandung diriku. Hampir di sepanjang masa kehamilannya, ibu mengalami selera makan yang sulit, juga tidur yang sulit."
Agam mengusap kedua pipi Jena"Dan kau takut kehamilanmu akan membuat ibu repot?."
Jena mengangguk, dengan wajah bersedih.
Segera, Agam meraup tubuh sang istri kedalam pelukan. Menyalurkan kehangatan yang mampu mengusir segala keresahan di dalam dada Jena.
"Aku akan selalu berada di dekatmu, dan sebisa mungkin kita tidak akan membuat repot ibu Adila."
Jena mengeratkan pelukan, dia mengangguk dengan rasa syukur di dalam dada. Sungguh, menikah dan menjalani kehidupan bersama Agam sangat tidak pernah dia bayangkan. Pria yang lebih muda darinya ini, justru sangat mengerti dan sangat baik untuknya, ketimbang Dewa, pria dewasa yang menoreh luka tak terobati pada relung hatinya.
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€π€