Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Tekad gila seorang Jena.


__ADS_3

Ketika perasaan takut kehilangan mengikis akal sehat di dalam kepala, ketika pedihnya kesepian mencipta keresahan yang terus menggerogoti dada, saat itulah langkah kaki seorang putus asa berayun dengan lunglai.


"Aku hanya pergi sebentar, ada suatu hal yang perlu aku tuntaskan."


Petang telah menjelang di kediaman pantai. Tubuh letih dan lelah usai perjalanan dari perkotaan kini luruh ke lantai. Bagaimana tidak, wanita yang begitu dia cintai mengambil langkah tanpa menunggu kehadirannya. Apakah wanita itu lupa, dirinya telah menjadi tanggung jawab seseorang. Betapa hati seorang Agam tengah hancur dan porak-poranda, apakah kejadian ini di karenakan kejujurannya tentang perasaan Zafirah padanya? jika kejujuran itu memang menjadi sebuah alasan,lantas, haruskah dia berbohong saat Jena menanyakan hal itu?


Dengan tangan bergetar, Agam mencoba menghubungi gawai sang istri, namun hanya suara operator yang dia dengar.


"Ck!," Gibran menggenggam secarik kertas yang Jena tinggalkan"Bahlul, ku pikir otaknya sudah bekerja layaknya manusia normal. Ternyata, dia tetaplah wanita aneh dengan segala pikiran yang gila."


Memang, sejak siang menjelang Jena tidak membalas pesan yang di kirimkan Agam padanya. Keadaan konter tengah ramai-ramai nya, jadi Agam memutuskan untuk menghabiskan waktu makan siang bersama Gibran dan Angga di sana.


Menjumpai sang istri yang sangat dia rindukan, Agam sangat yakin lelahnya akan segera hilang saat perjumpaan mereka. Sayang, semua itu hanya tinggal harapan. Nyatanya, secarik kertas itu telah menggores kekecewaan di dalam dada seorang Agam.


Marah?


Tidak!


Agam hanya menyesali kelalaiannya, seharusnya dirinya pulang dan menghabiskan waktu makan siang bersama Jena di kediaman mereka. Meski jarak tempuh menghabiskan waktu lewat dari setengah jam, Agam tidak mempermasalahkan hal itu.


"Kira-kira kemana kita mencarinya?," tanya Gibran beringsut, alih-alih menatapi kertas yang telah menjadi bola tidak beraturan itu. Tidak ada gunanya hanya berdiam dengan segala prasangka, akan lebih baik bergerak dan mencari langsung kemana perginya kakak perempuannya itu.


"Sebentar, apa kalian bertengkar?," selidiknya saat Agam berjalan menuju lantai atas.


Agam menggeleng kan kepala, hanya saja"Dia menanyakan perihal Zafirah, aku berkata apa adanya kepadanya. Dan sikapnya biasa-biasa saja setelah mendengar penjelasan ku."


Gibran menyipitkan mata"Agam oh Agam, apa kau lupa kak Jena itu makhluk paling sensitif di dunia halu. Apalagi dirinya telah menemukan sosok sahabat dalam diri Zafirah, apa kau yakin dia akan baik-baik saja setelah tahu perasaan Zafirah terhadapmu?."


"Berkacalah pada kejadian Tiara, betapa seorang Jena yang riang dan ceria berubah menjadi manusia kutub setelah kehilangan sahabatnya," lanjut Gibran mengacak kasar rambutnya.

__ADS_1


"Cepat hubungi Zafiah, apakah sekarang Jena sedang bersamanya," ujarnya lagi.


Segera, Agam menekan nomor Zafirah. Namun sama seperti nomor ponsel Jena, tidak bisa di hubungi.


Agam menghubungi Syabila, dan terdengar nada tunggu di ujung telepon.


Tubuh pria itu semakin bergetar, Syabila mengatakan Jena tidak sedang bersama mereka. Lagipula, mereka masih berada di luar kota.


Gibran segera membagi informasi hilangnya Jena kepada Arkan. Dan tanpa berpikir panjang, Arkan segera melakukan pencarian terhadap Jena.


"Sangat mengherankan, kenapa bocah ini gemar sekali melarikan diri," gerutu Arkan setelah mendapat telepon dari Gibran. Pria itu menggelengkan kepala memikirkan tingkah Jena.


Di kota seribu sungai, Kabar hilangnya Jena telah sampai kepada Zafirah. Wanita itu sangat terkejut, sungguh hatinya menjadi sangat-sangat khawatir.


"Kenapa! kenapa dia menghilang. Bukankah dia telah bahagia bersama Agam? apa Agam menyakitinya?? apa Agam membuatnya kecewa???," Zafirah bertanya kepada Syabila, dia bahkan mengguncang lengan gadis berwajah bulat itu.


Dengan tatapan terkejut"Aku tidak tahu, Agam hanya bertanya apakah Jena sedang bersama kita, itu saja," ujarnya.


"Beristirahatlah jika kau lelah, aku akan mengganti pekerjaan mu," ujar rekan relawan itu.


"Terimakasih," ucapnya lirih. Dengan pikiran yang berkecamuk, Zafirah melangkah menuju tenda milik mereka. Kembali memikirkan hal buruk apa yang tengah menimpa sahabatnya.


Gadis itu meraih gawai yang dia simpan di dalam ransel. Sudah berhari-hari ponsel itu seolah di lupakan, sebab begitu banyak kegiatan yang mereka lakukan di tempat itu. Dan Zafirah baru menyadari ternyata ponselnya dalam keadaan mati, seperti itulah ponsel tua yang telah lama menemainya kerap mati dengan sendirinya.


Nampak beberapa kali Jena melakukan panggilan pada aplikasi gelembung hijau, Juga Agam yang melakukan panggilan beberapa saat lalu. Hati wanita itu semakin resah, ternyata Jena telah mencari keberadaanya"Mungkinkah kau mencariku karena ingin berbagi cerita tentang masalahmu?," gumamnya. Sunguh, Zafirah merasa gagal menjadi seorang sahabat. Di saat Jena membutuhkan, justru dirinya tidak bisa sekedar mendengarkan ceritanya.


Saat itu, Yasir datang di muara tenda"Zafirah, bantuan bahan makanan insya Allah akan tiba esok hari. Rombongan tambahan sedang dalam perjalanan menuju kemari."


"Alhamdulillah," perasaan wanita itu sedikit lega. Setidaknya satu keresahan di dalam hatinya telah berkurang. Curah hujan menambah tinggi air di kota itu, juga kota sebelumnya. Rumah yang terendam air semakin banyak, dan warga yang memerlukan bantuan semakin bertambah. Mendengar bantuan akan segera tiba sungguh membuat dirinya dapat bernapas lega.

__ADS_1


"Ku dengar, jalan trans di kota mentaya sudah tidak bisa di lewati. Para relawan akan menempuh jalur air seperti yang kita lewati di musim banjir sebelumnya," ujar Yasir lagi.


"Semoga rekan-rekan kita mendapat kemudahan," ujar Zafirah menarik napas.


Yasir segera meng'amin kan. Setelah itu, dirinya menatap Zafirah yang tertunduk menatap gawainya. Wanita itu kembali melakukan panggilan seperti yang dia lakukan saat Yasir datang.


Terlihat sedih, Yasir menjadi penasaran akan sikap Zafirah"Kau sedang menghubungi kyai?, apa panggilanmu tidak di angkat? mungin beliau sudah berada di masjid."


Zafirah menggeleng"Bukan, aku tidak sedang menghubungi Abi."


"Lantas??," sambar Yasir.


"Jena menghilang," ucapnya lirih. Kedua manik cantik itu nampak berbinar menahan air mata.


"Innalilahi, hilang bagaimana??," seru Yasir sangat terkejut.


"Entahlah, ponselku dalam keadaan mati, dan saat menyalakannya aku mendapat panggilan tak terjawab dari nomor Jena. Aku takut hal buruk telah menimpanya," genangan air mata sukses turun begitu deras di wajah Zafirah. Wanita itu tersedu, suaranya membuat Yasir bingung.


"Syuuutttt," ujarnya meletakannya jari telunjuk di mulut.


"Kau boleh menangis, tapi jangan keras-keras. Jangan sampai aku di tuduh membuat mu menangis," seru Yasir dalam kepanikan.


Zafirah semakin tersedu. Sungguh hatinya sangat-sangat mengkhawatirkan Jena.


Di perbatasan kota mentaya dan kota cantik. Setelah melewati jalur sungai yang cukup panjang, akhirnya rombongan relawan memasuki sungai kecil yang mengantarkan mereka menuju tepi kota yang juga terendam air. Ah! bukan sungai! tapi itu area pasar tepian sungai yang terendam banjir. Kelotok yang mereka naiki menepi langsung ke jalan raya.


Seorang wanita dengan tas ransel di pundak, menatap jalanan yang beberapa waktu lalu sempat di tapakinya. Lagi, takdir mengantarkan Jena bersama rombongan sampai di sini.


To be continued....

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2