Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Adila vs Jena.


__ADS_3

Tempat yang tengah di datangi Jena dan Agam, juga Khair dan Zafirah, adalah lokasi proyek pembangunan jembatan yang dulu sempat di kepalai oleh Tian. Saat jembatan itu ambruk, pembangunan di serahkan kepada Arkan, sementara Tian di tendang begitu saja dari perusahaan Ahmad. Itu pun sebuah keberuntungan bagi Tian, seharusnya dia mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan keteledorannya demi mengais cuan haram.


Di tengah kerumunan yang cukup ramai, terlihat Jena dan Agam masih singgah di sebuah stan makanan. Jena sungguh terlena, alih-alih segera mencari keberadaan Khair dan Zafirah, dirinya kembali menikmati makanan-makanan yang di jual oleh para pedagang.


"Ini yang terakhir, ya?," Agam tidak menyangka, istri kecilnya makan dengan banyak sore ini.


Jena mengangguk, seolah patuh akan perkataan sang suami"Setelah sup ini habis, kita akan segera mencari mereka berdua," ujarnya menunjuk sup bercita rasa pedas.


Sedikit lagi, sup itu akan segera tandas. Kenikmatan yang Jena rasakan harus segera berakhir, Adila berdiri di sampingnya, dengan kedua mata melotot"Sudah ku katakan, jangan memakan makanan pedas!!."


Hardikan Adila, sukses menghilangkan selera makan Jena. Sementara Agam, menggigit bibir. Dia yakin, bukan hanya Jena yang di omeli, tetapi juga dirinya.


"Kau Agam!," sentak Adila. Betul bukan? baru sedetik pikiran itu melintas, Adila sudah memulai aksi mengomelnya.


"Ibu...," cengir Agam sembari menurunkan jari telunjuk Adila, yang mengacung kepadanya.


"Baru hari ini bu, Agam tidak berbohong," ujarnya lagi, mencoba meredakan amarah sang ibu mertua dengan senyuman.


Sebelah alis Adila terangkat naik, berani juga menantu satu ini. Di saat dia marah, dengan perlahan menurunkan jari telunjuknya"Kau berani bersumpah??."


"Kalau bersumpah, Agam tidak berani," pria itu mengangkat dua tangan ke udara, seperti orang yang mengaku kalah dalam berperang.


Adila mencebik"Hais! kau banyak berkelit," gerutunya mengambil duduk. Ah! Jena merasakan sesak di dada saat Adila bergabung bersama mereka.


Wanita paruh baya itu menarik manguk sup di hadapan Jena, membuat Jena menyerngitkan kening"Ibu jangan ambil jatah ku, kalau mau ibu pesan sendiri."


"Aku hanya sekedar menghabiskan yang tersisa ini, agar kau tidak lagi memakan sup pedas ini. Awsh!!," Adila mendesis, kadar ketahanan pedasnya memang rendah, sangat jauh berbeda dengan Jena yang sang penggila makanan pedas.


Jenaira mendelik"Hilih, segitu saja sudah mendesis."


"Jenaira ~~~," suara lembut Agam menegur tingkah sang istri, meski kerap berlidah pahit tidak seharusnya juga Jena bersikap seperti itu terhadap Adila.


"Ibu sudahlah! jika tidak tahan pedas jangan memaksa," ujarnya menarik kembali mangkuk di hadapan Adila.


Demi apapun itu, Adila menahan mangkuk itu"Aku tidak selemah yang kau kira. Setidaknya aku bisa mengurangi kau memberikan makanan pedas ini kepada cucuku di dalam perutmu!!."


Ehey!! Agam tersentak, rupanya Adila punya maksud baik melarang Jena memakan makanan pedas.


Namun"Oh Tuhan!!! sangat aneh mendengar ibu berkata seperti itu!!," hardik Jena, kini mangkuk itu di berikan sepenuhnya kepada Adila.


"Kenapa? kau pikir aku tidak menginginkan cucu??," ujarnya masih menyeruput kuah pedas.


"Aneh!! ibu tahu aneh bukan?? bersikaplah seperti biasanya, setidaknya aku tidak bertambah mual mendengar ucapan ibu."

__ADS_1


Jenaira Ahmad," Agam sedikit berseru. Hatinya begitu gemas ingin meredam emosi sang istri, sungguh dua wanita ini hampir tidak pernah terlihat akur.


Melihat bola mata Agam sedikit membesar, Jena berdecak"Oh!! jadi mas membela ibu?."


Pertanyaan itu membuat Agam terpojok, jika berkata iya, Jena akan marah. Namun, jika ia berkata tidak, Adila yang akan marah.


Alih-alih menjawab pertanyaan Jena, Agam menyapukan pandangan pada sekitar. Terlihat Arkan sedang menuju ke arah mereka.


"Bang Arkan!," hatinya bersorak, kehadiran Arkan akan membuat pertanyaan berbahaya itu berlalu.


Jena memutar pandangan, melihat sang abang telah bergabung bersama mereka"Kebetulan kau datang. Cepat bawa ibu dari sini, aku ingin makan, aku ingin menikmati semua hidangan di sini."


Adila menatap Jena tajam"Apa maksudmu?."


"Jangan bertanya lagi ibu! ibu tahu betul kan telah mengganggu ritual makanku??."


Arkan dan Agam saling berpandangan, sudut bibir mereka terangkat naik, tertawa tapi dengan kedua alis menurun.


Demi Jena, Arkan segera mengajak Adila bersamanya"Bu, sebentar lagi acara potong pitanya akan di mulai. Bukankah ibu mau menemaniku?."


Jena menatap Arkan, dengan tatapan penuh tanya.


"Hari ini peresmian jembatan yang telah usai di bangun."


"Ini hanya acara biasa Jena, hanya rekan-rekan kerja saja."


"Ibu? kau mengajak ibu??," setelah Agam lepas dari kancang macan, kini giliran Arkan yang akan masuk di dalamnya. Di rundung pertanyaan memojokkan dari Jenaira, sang adik tersayang.


"Ya ampun!! jika kami tidak ke sini, kami tidak akan tahu bahwa acara ini di adakan oleh perusahaan ayah."


"Bukan!! ini bukan acara kami, semua ini hanya kebetulan saja Jena."


Jena bersedekap"Alasan!! sudahlah!! cepat ajak ibu tercinta ini pergi bersamamu."


Adila menarik pipi Jena"Kauuuuu, tidak sopan sekali. Kau mengusir ibu dan abangmu??."


Pekikan Jena membuat Agam tertawa, alih-alih kasihan, Jena yang merajuk terlihat lucu di mata Agam.


"Ini hanya salah paham."


Agam mengangguk, saat Arkan menatap dirinya.


"Iya, aku paham bang. Jena memang terlalu sensitif akhir-akhir ini."

__ADS_1


"Jangan marah," tukasnya kepada Jena.


"Pergilah," sahut Jena membuang muka.


"Heh!! sudahi merajukmu!," Adila menghardik Jena.


"Baiklah, cepatlah pergi, kami masih ada acara lain."


Selalu begitu, emosi Adila selalu turun naik jika bertemu Jena. Arkan akhirnya berhasil mengajak Adila pergi, setelah sebelumnya meminta Jena untuk tersenyum kepadanya. Sang adik galak itu dengan terpaksa tersenyum, agar mereka cepat berlalu.


Tidak ingin kembali di temui Adila, Jena bergegas mengajak Agam untuk mencari Khair dan Zafirah.


"Di ujung tepi sungai," begitu pesan yang di kirimkan Khair kepada Agam.


Berjalan beberapa menit menyusuri tepian sungai, Jena di buat terpekik saat melihat Khair dan Zafirah berada di dalam sebuah perahu.


"Mas!! mau kemana mereka??."


"Entahlah," sahut Agam. Langkahnya sedikit terseret, Jena begitu bersemangat ingin lebih cepat bergabung bersama Khair dan Zafirah.


"Zafiraaaahhh," salah satu kebiasaan baru Jena, berteriak.


"Sayang, kecilkan suaramu," beberapa pengunjung sontak melihat mereka, karena teriakan Jena.


"Buruan mas!! aku juga mau menaiki perahu itu!!," tidak perduli dengan tatapan orang, juga teguran Agam.


"Zafiraaaahhh," teriak Jena lagi.


"Jenaira," jangan berlari. Mereka tidak akan meninggalkan kita."


Andai saja Jena bisa terbang, dia pasti sudah melesat di udara menghampiri Zafirah dan Khair.


Teriakan itu terdengar jelas oleh Zafirah. Wanita itu tertawa, melihat Jena melambai-lambai ke arah mereka.


"Ya Allah Jena, aku yakin anaknya nanti pasti petakilan."


"Petakilan? bukankah Jena dan Agam cukup kalem? kenapa kau mengatakan anak mereka akan petakilan?."


"Sejak mengandung, sikap Jena berbanding terbalik dengan dirinya sebelum hamil. Dia lebih cerewet, lebih galak, banyak bicara dan juga sangat suka berteriak, seperti saat dia memanggil ku tadi mas," menahan tawa, Zafirah merasa geli melihat Agam terseok-seok mengekori langkah cepat Jena.


"Lihat, Agam sampai terseok-seok mengejarnya," ujarnya, membuat Khair juga tertawa melihat pasangan itu.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2