Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Tingkah sang nenek


__ADS_3

Seorang Jenaira Ahmad, meski dua saudara lelakinya terlahir dengan perawakan tegap tinggi menjulang, sang illahi menciptakan Jena dengan porsi tubuh yang jauh di bawah mereka. Hanya 164 cm, wanita itu terlihat begitu mungil saat bersanding bersama Gibran sang adik yang di anugerahi tinggi 1,83 cm.


Lantas, bagaimana si kecil mungil Jena menggendong sang nenek? meski tidak setinggi Gibran, bobot tubuh nenek manis itu mungkin bisa membuat tubuh kecil Jena terhenyak ke bumi.


Tepian bibir sang nenek tersenyum kecil"Bukankah kau sendiri yang menawarkan punggung mu untuk ku naiki, beberapa saat yang lalu?."


Mengingat hal itu, membuat Jena ingin menyelam ke dalam air banjir ini. Sungguh, dia sangat menyesali basa-basi itu.


"Ayo saya gendong nek," ajak anggota tim SAR.


Nenek itu menggeleng, membuat hati mereka semakin gemas. Akh! mungkin akan menyenangkan jika bisa memainkan pipi chubby sang nenek, dengan sedikit cubitan pastinya.


Mendapat tatapan jengah, harga diri seorang Jena seolah sedang di pertaruhkan. Wanita itu lantas menyingsingkan lengan jaket. Berjongkok memberikan punggung kecilnya kepada sang nenek.


"Ayo nek, hari akan gelap jika kita hanya berpandang-pandangan saja di tempat ini.


"Apa kau yakin bisa menggendong ku?," tanya sang nenek.


Jena mengulum bibir"Bisa! hanya sampai ke perahu saja bukan?."


"Tentu saja, kau akan membawaku tenggelam jika berniat menggendong ku sampai ke pengungsian," ujarnya bersiap meraih punggung Jena.


"Anu.....," rekan relawan merasa ragu.


"Aku bisa, tenang saja," tukas Jena dengan keyakinan besar.


Tergopoh-gopoh Jena menyusuri kediaman sang nenek dengan badan terendam air banjir, dan tentu dengan beban tubuh si nenek manis di atas punggungnya.


"Waaahhhhhhh, aku tidak yakin bisa menggendong nya seorang diri," gumam rekan relawan pada anggota tim SAR.


"Tapi lihatlah, Jena si mungil mampu menggendong nenek gembul itu," sambungnya.


"Jangan sekedar melihat saja, kau tidak lihat tubuhnya bergetar. Lebih baik kau bantu memegang tubuh sang nenek demi mengurangi beban di punggung nya," ujar anggota tim SAR.


Menyerahkan bawaan nenek yang lumayan banyak kepada anggota tim SAR, rekan relawan segera memegangi lengan sang nenek.


Bukannya diam saja, nenek itu menepis bantuan rekan Jena. Membuat wanita kecil itu hampir membawa sang nenek jatuh terpeleset.


"Jangan pegang-pegang," gerutu sang nenek.


Sungguh, emosi tengah tertahan di dalam dada Jena. Jika saja sang nenek adalah Gibran, atau Arkan, sudah sejak tadi dia hempaskan ke dalam air.


Sedikit lagi, beberapa langkah mereka akan sampai ke atas perahu. Dengan hati-hati mereka membantu sang nenek duduk manis di atas perahu, kejadian itu menjadi tontonan bagi warga sekitar yang masih bertahan di tempat itu.


"Manja, segala minta di gendong. lihatlah, wanita itu sangat kasihan," celoteh warga.


Hal itu mengundang amarah sang nenek. Wanita itu segera berdiri di atas perahu, mencaci dan memaki mereka yang mencemooh padanya.


"Tenang nek, kita kan segera meninggalkan tempat ini," ujar rekan Jena.


"Cepatlah naik, telinga ku akan terbakar jika berlama-lama di sini," ketusnya berusaha mengambil duduk, sementara Jena sedang berusaha naik ke perahu itu.


Apa kau tahu, tubuh gembul sang nenek oleng saat hendak kembali duduk. Keseimbangan wanita itu seketika sirna dan.....

__ADS_1


"Byur!!!!!," sang nenek terjatuh ke dalam air. Tubuh gembul itu menimpa Jena yang mungil.


Seketika keadaan menjadi gaduh, meski tidak begitu dalam, insiden itu membuat siapa saja sangat khawatir. Orang-orang lantas membantu sang nenek yang berteriak, meluapkan amarah yang entah kepada siapa. Sementara Jena.... wanita itu terduduk di dalam genangan air, terbatuk-batuk sebab air yang memasuki rongga hidung nya.


Melihat kepala Jena yang tepat sebatas air, Zafriah segera meminta rekannya untuk mempercepat laju perahu.


Rasa takut tiba-tiba muncul, Jena merasa enggan mendekat pada sang nenek. Setelah keadaan aman terkendali, Jena memilih menaiki perahu yang sama bersama Zafirah.


Wanita itu menekuk kaki dan memeluknya, tanpa suara. Seperti kehabisan kata-kata, Jena yang tadinya banyak bicara meladeni keceriwisan sang nenek kini nampak pucat pasih.


Zafirah melepas jaket yang dia kenakan, menyelimutkannya pada tubuh basah Jena.


Mengelus punggungnya dengan lembut"Apa kau merasa sakit?."


Jena hanya menanggapi dengan gelengan kepala.


"Jena, kenapa kau gemetar? apa kau sangat kedinginan??," tanyanya lagi.


Lagi, Jena menggelengkan kepala.


Keadaan itu membuat Zafriah sangat khawatir, meraih jemari Jena yang terasa dingin, Zafirah mencoba menyalurkan perasaan hangat dari dalam hatinya.


Di sepanjang perjalanan, Jena benar-benar tenggelam dalam diam. Hingga sampailah mereka di tempat pengungsian, wanita itu memilih menyendiri duduk di kursi tua di sudut posko.


"Segeralah berganti pakaian, kau bisa terserang flu."


"Hemm," sahutnya segera beranjak meninggalkan Zafirah.


Langit mulai menjingga, melangkahkan kaki mengitari area pengungsian, terselip keingin tahuan tentang bagaimana keadaan sang nenek gembul tadi.


Setelah menemukan keberadaan sang nenek, perlahan Jena mendekati sang nenek.


"Apa nenek baik-baik saja? maaf, seharusnya aku menjagamu agar tidak terjatuh ke dalam air."


Ucapan wanita itu membuat tatapan tajam sang nenek menjadi redup, sungguh sikap Jena menyentil hati kecil sang nenek.


"Aku baik-baik saja, dan kau....apa kau baik-baik saja setelah kejatuhan buah nangka jumbo???."


Barisan kata berisi candaan, Jena menyadari niat sang nenek melontarkan gurauan kepadanya. Juga dengan senyum yang mengembang di wajah sang nenek, membuat kedua pipi chubby nya membulat seperti bakpao.


Masing-masing menyadari kesalahan pada diri sendiri, kini Jena dan nenek manis itu terlihat saling melempar tawa.


Jalanan berlumpur, menyambut kedatangan tiga pria dengan postur tinggi menjulang. Kehadiran mereka di sana sangat-sangat menarik perhatian, penampilan mereka sangat mencolok di antara para relawan yang berpakaian sederhana.


Agam yang selalu setia dengan jaket levis nya, Gibran yang tak pernah lupa dengan kacamata hitamnya. Dan Arkan, bahkan rambut pria itu masih rapi dan klimis meski sempat di terpa rintik hujan.


Yasir memandu mereka menuju tenda miliknya, lumayan besar, akan cukup tempat meski tiga pria itu bergabung bersamanya.


"Bukankah di sana ada asrama, mengapa kau mengajak kami ke tenda milikmu?," tanya Gibran, jari telunjuk pria itu menunjuk asrama pelatihan MTQ yang di alih fungsikan menjadi tempat pengungsian.


"Jika kau ingin bergabung bersama mereka di sana, silahkan," sahut Yasir.


"Aku lebih nyaman tinggal di dalam tenda ini, rasanya seperti sedang melakukan kemping," lanjutnya membuka pintu ziffer.

__ADS_1


"Memangnya boleh, jika aku ingin tinggal sementara di sana?."


Yasir menanggapi pertanyaan Gibran dengan anggukan"Kalian, jika ingin tinggal di sana, silahkan," memandang Agam dan Arkan bergantian.


Spontan dua pria itu menggelengkan kepala.


"Heh! kenapa tidak mau?," Gibran seolah di tinggalkan, bagaimana bisa rekan seperjuangan menuju tempat ini enggan ikut bersamanya ke tempat yang lebih luas dan nyaman.


"Pletok" Arkan menjitak kening sang adik bawel tanpa aba-aba, membuat Agam tertawa lebar.


Gibran meringis, ingin rasanya berteriak, namun tak jauh dari mereka ada gadis-gadis muda pengungsian yang sedang membantu relawan di dapur posko. Apa kata dunia jika Gibran yang tampan sejagat halu terlihat lemah dimata para wanita???


"Abang! kenapa menjitak kening ku??!," pekiknya memegangi kening yang merah merona.


"Bawel, beruntung kita di persilahkan tinggal bersama Yasir di tenda ini. Kau tidak lihat, tempat itu di penuhi para pengungsi, jangan menambah beban di sana dengan tinggal dan mungkin membuat keributan di sana."


Memandang Arkan dengan tatapan tidak terima"Bagaimana aku bisa membuat keributan? tinggal di sana saja belum?."


"Ck! baru sampai di tempat ini saja keluhanmu sudah sangat banyak, bagaimana jika tinggal di sana? bergabung bersama para korban banjir, Kakek dan nenek, anak-anak kecil, ibu-ibu cerewet. Aku jamin kau pasti lebih cerewet ketimbang ibu-ibu yang sedang resah karena bencana ini."


Lagi, Agam tertawa mendengar ucapan Arkan.


Jari telunjuk Gibran menari-nari di depan wajah Agam"Demi siapa aku rela menerjang banjir? demi istrimu! dan kau, mentertawakan diriku??."


"Grab," jari yang begitu dekat dengan wajah Agam di sambar Arkan, menggenggamnya dengan erat hingga terdengar rintihan dari seorang Gibran


"Bang!!! sakit!," pria itu meronta. Kali ini bukan hanya Agam, para wanita lantas tertawa melihat tingkahnya.


Runtuh sudah, demi mengurangi rasa malu Gibran tersenyum dengan kedua alis menurun, seperti anak gukguk yang mengiba meminta di pungut.


Meninggalkan Gibran yang meringis kesakitan, Agam mengekor langkah Yasir memasuki tenda. Sejenak pria itu melepas penat merebahkan diri di sana, memandang langit-langit dengan perasaan yang sulit untuk di ungkapkan.


Menyambangi tenda Yasir, Zafirah terjengkit saat melihat kedua saudara Jena berada di muara pintu ziffer.


"Ah, gadis cantik, katakan di mana Jena?," seru Arkan saat melihat kedatangan Zafirah.


Suara gaduh terdengar dari dalam tenda, Agam segera keluar saat mendengar nama istrinya di sebut. Tentu hal itu membuat Zafriah terkejut, wanita itu sangat peka, segera dia mengatakan keberadaan Jena kepada Agam.


Melewati orang-orang asing, juga tempat yang masih sangat asing baginya, dengan mudah Agam menemukan wanitanya sedang duduk di sebuah kursi di tepian lapangan.


"Jenaira," serunya sembari berjalan mendekati Jena.


Jemari kecil Jena semakin erat menggenggam benda pemberian Agam. Dia hampir lupa bahwa pria ini benar-benar menyusulnya ke tempat ini.


Jena berdiri dengan perasaan yang sulit di artikan, takut dan rindu menjadi satu dalam dada Jena.


Sedikit terhuyung, tubuh kecil itu terasa begitu hangat saat berada dalam pelukan Agam.


"Maafkan aku," lirih Jenaira.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2