
"Aku mencintaimu," bisik Agam, sesaat setelah kembang api itu menyala. Menghiasi langit malam dengan berjuta warna, sorak sorai kebahagiaan terdengar dari para pengunjung, namun bagi Jena, dirinyalah yang paling bahagia malam ini.
Segera membalikkan badan saat bisikan itu terdengar, wajahnya merangsek pada dada bidang sang suami"Aku juga mencintaimu, mas."
Ini bukan pertama kali Agam menyatakan cinta kepadanya, namun di tatap dengan sorot mata nan sayu milik sang kekasih hati, tentu saja membuat hati wanita itu berbunga-bunga.
Dan jawaban dari sang istri, mengundang rasa gemas hingga Agam segera memeluknya erat. Sejauh ini, Jena masih jarang mengucapkan kata cinta, dirinya lebih banyak mengungkapkan cinta lewat bahasa tubuh, alih-alih perkataan.
Tubuh wanita itu hampir menggantung saat Agam memeluknya erat"Mas!!," pekiknya meminta di lepaskan.
"Kau memeluk ku atau mencekik ku?!," ujarnya mencubit lengan sang suami.
Pria itu tertawa lebar usai melepaskan pelukan. Dia juga sempat mengaduh karena serangan dari tangan sang istri pada lengannya"Mana mungkin aku mencekik mu!! makanya jadi perempuan jangan terlalu cantik, aku jadi ingin memeluk mu terus."
Sedikit mendongak, ingin rasanya Jena mencubit pipi berlesung itu. Dia mengatakan Jena cantik dan menggemaskan, apa dia tidak tahu bahwa dirinya pun begitu.
Perayaan malam itu terus berlanjut, kembang api masih terus di nyalakan, dan di bawah langit penuh warna itu lagi-lagi Agam hampir lepas kendali.
"Astaghfirullah!! jangan di sini!! kau akan puas menciumnya saat di rumah nanti!," hardik Khair, membuat Agam tersentak kaget.
"Dia istriku!," ujarnya membela diri.
"Tapi tidak baik juga mempertontonkan kemesraan di depan khayalan ramai. Ckckckc!! kau terlalu bucin sobat."
"Ya! kau benar Khair. Semakin hari dia memang terlampau bucin."
Agam menatap wanitanya dengan wajah pundung"Sayang, ini salahmu. Saat hamil kau semakin menggoda."
Oh Tuhan!! obrolan jenis apa ini?? Zafirah menutup wajahnya mendengar ocehan pria bucin itu.
"Jenaira, kenapa suamimu!!."
Jena menggeleng dengan terkekeh"Entahlah, sepertinya bawaan bayi."
__ADS_1
...🐝🐝🐝...
Kekalahan yang di dapatkan para bandit, membuat amarah sang bos besar meledak. Satu-persatu anak buah yang di suruh melanjutkan siksaan kepada dua dari anak buah Jake, mendapat hukuman berat.
"Serahkan jari kelingking kalian, sekarang juga!!."
"Tidak!! maafkan kami bos!! ampun!!," teriak mereka bersamaan.
"Meminta maaf?? keparat! kalian bahkan meloloskan satu dari anak buah Jake?? memalukan!! seharusnya langsung ku habisi saja mereka berdua, alih-alih menyerahkan sisanya kepada kalian!!."
"Aku meminta kalian membuka mulut mereka, bukan meloloskan salah satu dari mereka!! dan sekarang, kalian pulang dengan tangan kosong? dengan alasan takut di penjara??," bos bandit menggeram kesal. Sejauh ini anak buahnya tidak ada yang bekerja dengan benar layaknya para bandit yang kejam. Memiliki anak buah yang payah, sungguh memalukan untuk dirinya yang di kenal kejam.
"Mereka punya video bukti kekejaman kami bos," lirih pria yang berlagak menjadi bos.
"Bodoh!! itu hanya ancaman!! arggghhh!! pergilah kalian. Serahkan jari kelingking kalian sekarang!!!!."
"Bos!!! ampun bos!!."
Amarah sang bos besar, membuat bulu kuduk para bandit amatir meremang. Yah!! sungguh kesialan itu selalu melekat kepada mereka. Berlagak sok jagoan, nyatanya Aron berhasil kabur setelah berlagak mati di tangan mereka. Pengawal cengeng Melisa itu berpura-pura mati, membuat para bandit ketakutan. Tanpa pikir panjang mereka menyuruh salah satu dari mereka membuang tubuh Aron, namun sang pesuruh hanya meninggalkan Aron yang berpura-pura mati di tumpukan kayu, tidak jauh dari lokasi penyekapan mereka. Ckckckck, Aron yang malang masih bisa terselamatkan.
Teriakan memohon ampun kembali terdengar, namun bos besar itu seakan tuli. Sedangkan anggota lain langsung menyeret rekannya yang gagal melanjutkan penyiksaan terhadap Ryung dan Aron.
"Baiklah, jika Jake tidak mudah untuk di temukan. Bagaimana dengan adik perempuannya? apa ada kabar baik tentang gadis itu??."
"Sejauh ini, kami belum menemukan keberadaan Melisa, bos," sahut anak buah senior.
"Ck! sudah cukup lama tidak bertemu dengan gadis itu. Mungkin sekarang dia sudah cukup dewasa. Aku khawatir tidak lagi mengenali wajahnya."
Terlihat, sang anak buah senior mengantupkan bibir, dia pun tidak lagi mengenali Melisa.
"Bodoh! wajahmu terlalu bisa untuk di baca. Lekas cari informasi tentang gadis itu. Target kita beralih kepadanya," lantas, bos bandit memutar badan, menghadap para anak buah yang siap siaga jika dia menurunkan perintah.
"Sekarang target kita beralih kepada Melisa, adik perempuan Jake. Kalian ingat gadis kecil yang selalu bersama Jake?."
__ADS_1
Gusar itu semakin menjadi, mereka semua tidak lagi mengenali Melisa.
Bos bandit menatap tajam sang anak buah senior"Lekas!! cari tahu keberadaan gadis itu. Jika sudah ketemu, culik dia!!."
"Siap bos!!," suara para anak buah bos bandit menderu, patuh untuk segera menculik Melisa jika telah menemukan keberadaan gadis itu.
Di tempat lain, Melisa dan Arkan menginterogasi Aron dan Ryung. Bukan di rumah sakit, tapi di sebuah markas rahasialah mereka berdua di rawat"Katakan, siapa yang menyakiti kalian?," Melisa Sungguh tidak rela, melihat dua pengawal ini babak belur. Hanya mereka berdua yang kerap menjaganya sejak masih ingusan. Alih-alih menjalankan misi sebagai pengawal, dua saudara sepupu ini lebih terasa sebagai teman oleh Melisa. Mereka berdua sangat mudah di ajak bekerja sama, salah satunya kabur dari penjagaan ketat Jake kepada Melisa, saat masih sekolah dahulu.
"Mereka anak buah bos bandit yang kalah di meja judi tempo hari, oleh bos Jake," tukas Ryung. Akhirnya, pria ini dapat bicara dengan lancar, setelah sebelumnya kesusahan untuk berkata-kata.
"Kalah ya kalah saja! mengapa masih mencari Jake? apa dia tidak menerima kekalahan itu?," alis Arkan di buat berkerut, tindakan bos bandit ini sangat menggelikan.
"Seharusnya begitu, tapi...bos Jake berlaku curang. Dia bermain licik, kau tahu bukan dia memang pandai mengelabui musuhnya jika bermain judi?," ucap Ryung lagi.
Melisa merutuki perbuatan Jake"Si bodoh itu!! kenapa dia sangat menyukai kecurangan?? sekarang lihatlah! kalian yang menjadi sasaran empuk para bandit itu."
"Sebenarnya para bandit itu bukan apa-apa,", sahut Aron pula"Mereka hanya sekumpulan preman bodoh yang tidak berotak," ujarnya lagi.
"Tapi kalian babak belur, bukankah kalian yang lebih bodoh!," hardik Melisa, menatap Aron dan Ryung bergantian. Hatinya kesal, jika memang para bandit itu tidak berotak kenapa sampai membuat mereka hampir mati??.
"Bukan mereka! kami di hajar bos bandit itu bersama dua kaki tangannya. Setelah kami babak belur bos besar dan dua kaki tangannya pergi, setelah menerima telepon," terang Aron.
Setelah memahami jalan kejadian itu, Akan melontarkan tanya"Lantas, dari mana mereka mendapatkan nomor ponsel Melisa?."
"Tentu saja dari ponselku. Mereka berebutnya dariku," ucap Ryung, menatap Melisa dengan sorot mata nan sayu.
"Nona, berikan ponselmu!."
Dengan raut wajah penuh tanya, Melisa menyerahkan ponsel miliknya kepada Arkan.
"Hancurkan ponsel ini, dengan nomor sim di dalamnya juga," titahnya kepada pengawal yang lain"Hancurkan di tempat yang sangat jauh dari sini," tanpa bertanya lagi, pengawal itu segera angkat kaki, melaksanakan perintah dari Arkan.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗