Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Kepanikan Angga.


__ADS_3

Memberikan kesempatan kedua kepada ular yang menyimpan bisa? sungguh sebuah kebodohan yang tak terelakkan dari seorang Ane.


"Yakinkah engkau, racun yang di milikinya tidak akan membuatmu mati?."


"Yakinkah engkau, dekapan hangatnya tidak akan mencekikmu hingga kau mati?."


Abian masih menunggu jawaban adik iparnya di ujung telepon. Tanya yang dia lontarkan, hanya sekedar mengingatkan Ane, sejatinya Bastian adalah sosok lelaki hangat berjiwa ular.


Selama ini, secara diam-diam, Abian mengintai setiap gerak gerik seorang Tian. Mengaku telah berpisah dengan Tiara, nyatanya pria itu kerap bertemu secara diam-diam dengan wanita ular tersebut.


Setelah pemulihan, Tiara yang dahulu hanya berleha-leha di rumah, meminta kepada Jelita agar di pekerjakan di perusahaan mereka. Dengan wajah cantik, tingkah yang lembut cenderung kemanja-manjaan, sukses membuat Tiara banyak di sukai. Dalam kurun waktu singkat, sosok Tiara menjelma menjadi dewi kecantikan yang selalu berhasil menaikan rating penjualan produk kecantikan milik keluarga Dewa.


Betapa bangga seorang Jelita, saat menantu cantiknya mulai di kenali khalayak ramai. Bukan hanya sekedar di akun media saja, bau-bau mendapat panggilan di acara televisi mulai tercium. Mengingat karir Tiara mulai cemerlang, Jelita dengan suka rela menjadi manager dari menantunya. Bagaimana dengan Dewa? lupakan saja perasaan pria itu! Jelita, wanita yang gila popularitas itu mengesampingkan kebahagiaan putra tunggalnya. Meski kerap bertikai dengan sang suami yang menagih janji menendang Tiara dari kediaman mereka, nyatanya kicaukan Bagas hanyalah siulan merdu yang tak di indahkan Jelita.


Kembali kepada Ane, wanita itu masih enggan memberi maaf kepada Jena.


"Lukaku masih berdarah, untuk saat ini aku belum bisa bertemu Jena, apalagi memberikan restu di pernikahannya."


Menghela napas, Abian mengakhiri panggilan telepon pada adik iparnya itu.


Usai berbicara dengan Abian, Ane turun ke ruang keluarga. Di sana, Tian terlihat serius dengan pekerjaan. Menatap layar laptop sembari berbicara para rekan kerja via telepon, sungguh gambaran seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh atas keluarga kecilnya.


Langkah kecil Ane akhirnya sampai di samping Tian, segera meletakan ponselnya dan menyalakan loudspeaker, tangan besar Tian terjulur menyambut kehadiran Ane dan menarik tubuh kecil itu ke dalam pangkuannya.


"Baiklah Tuan Charlotte, besok kita akan bertemu di perusahaan," ujar Tian mengakhiri panggilannya.


Nampak transparan, Tian seolah membuktikan kepada Ane tidak ada rahasia lagi di antara mereka. Dan Ane, meski kepercayaannya sempat ternodai, berkat sikap dan ketulusan Tian, wanita itu kembali melabuhkan segenap jiwa pada suaminya.


"Apa kau lelah? mau aku pijat?," tanya Ane dalam pangkuan Tian sembari menyugar lembut rambut pria itu.


Meraih jemari kecil Ane dan mengecupnya sekilas"Cukup dengan memandangmu, lelahmu telah sirna sayang."


Memukul pelan pundak sang suami"Kau, berhentilah menggoda ku."


Pria itu tertawa, ketampanannya semakin nyata"Aku tidak menggodamu sayang, kau segalanya bagiku. Semangat ku, obat lelahku."


Merangkul tubuh tegap Tian dengan erat"Kau juga segalanya bagiku sayang," ujarnya setengah berbisik.


Mengusap lembut punggung terbuka Ane yang mengenakan gaun tidur"Hemmm", ujarnya mencium aroma manis sang istri"Kau tadi sedang berbicara dengan siapa sayang."


"Kau mendengar ku?."

__ADS_1


"Tentu saja, kau begitu tegang hingga tak menyadari ku yang masuk ke kamar untuk mengambil ponselku," ujarnya menunjukan gawai pada Ane.


Ane pun bercerita, tentang maksud Abian menelponnya. Dan dari situlah Tian tahu kabar pernikahan Jena. Sebuah senyuman yang sulit di artikan, lantas, pria itu memegang lembut kedua pipi lembut istrinya.


"Sayang, tidak seharusnya kau menolak menghadiri pernikahan keponakanmu!."


"Lagipula, kenapa sampai saat ini kau belum bisa memaafkan kesalahannya? seharusnya...., seharusnya kau menyalahkanku," lanjutnya tertunduk lesu.


Melihat kesedihan Tian, Ane meraup wajah itu dan mendaratkan ciuman di kedua pipinya bergantian.


"Jika bukan karena Jena, kau tidak akan tertipu bujuk rayu wanita ular sahabat Jena, sayang. Kau hanya korban."


Sejatinya, Bastian kembali merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukan. Dengan seringai tawa kemenangan, Tian sangat puas dengan pencapaian nya hingga kembali menduduki tahta tertinggi di hati Ane.


...🌺🌺🌺🌺...


..."Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."...


"ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya."


Dengan suara bergetar, Agam memegang ubun-ubun Jena sembari mengucap doa. Prosesi sakral telah selesai, malam itu status dua insan itu telah resmi menjadi suami istri. Belum begitu menyadari akan perasaannya terhadap Agam, Jena hanya dengan pasrah mengikuti prosesi tersebut.


Keharuan mengharu biru, air mata bahagia tumpah begitu saja, baik Arabella dan Adila yang keras kepala. Sejatinya, Adila kini dapat bernapas lega, apa yang sangat dia inginkan akhirnya terlaksana jua. Tidak perduli dengan perasaan cinta di hati Jena yang bahkan belum berkecambah, yang Adila tahu sekarang, akan ada seorang lelaki pendamping anak perempuannya. Dengan begitu, Arkan dan juga Gibran tidak akan lagi terlalu mengkhawatirkan Jena, dan.... perhatian dua suadara itu akan kembali kepadanya.


Bagaimana dengan Zafirah??? entah terbuat dari apa, hati wanita itu begitu tegar. Tanpa air mata, justru tawa dan keceriaan selalu menghiasi wajahnya sepanjang jalannya prosesi pernikahan sederhana itu.


Gibran tersenyum lebar, begitu juga dengan Arkan. Perjuangan Agam akhirnya berlabuh pada biduk rumah tangga. Sebagai sahabat sekaligus adik ipar, mengingat usia Agam yang sedikit di atas Gibran"Bang Agam," bisik Gibran bernada bercanda.


Kikuk, Agam yang tak terbiasa dengan panggilan itu melirik sepasang mata boba Gibran"Apa?!," sahutnya datar.


Gibran begitu tidak sabar untuk menggoda Agam"Ingat, aku perperan banyak dalam hubungan kalian. Jangan lupa bingkisan spesial untukku ya."


"Ish!!! bisa-bisanya kau membahas masalah itu di saat begini," desis Agam setengah berbisik.


Arkan yang mendapati dua pria itu berbisik, ambil bagian bersama mereka"Hei! hei! bocah-bocah ingusan, jangan lupakan abang Arkan. Jika ada sesuatu yang menarik kalian harus membaginya bersamaku," sembari mengapit Gibran dan Agam di kedua lengannya. Bobot tubuh besar Arkan sukses membuat dua bocah itu terpekik.


"Plak!!!, bang! jangan buat acara indah ini menjadi acara pemakaman mereka berdua."


"Hus!!!," sentak Arabella mendorong tubuh Angga.


"Kau mendoakan putraku mati?."

__ADS_1


Adila melirik Angga dengan tatapan tajam.


Seketika pria itu mengatupkan kedua tangan"Ampun ibu-ibu cantik, Angga hanya bercanda."


"Kau!!!!," dengan telapak tangan di udara, Adila membuat Angga mengambil langkah seribu. Pria yang selalu tertawa itu melarikan diri ke luar dari kediaman kiyai Bahi. Di luar rembulan tengah bersinar terang. Saat melangkahkan kaki menuju lapangan luas, pandangannya tersita pada sosok yang tengah duduk sendirian di bangku taman. Rasa penasaran memandu Angga untuk menghampiri nya"Bukan setan kan???," tanyanya sembari terus melangkah.


Menapaki anak tangga di samping masjid, akhirnya Angga dapat memastikan siapa sosok yang sedang duduk sendirian di bangku taman itu.


"Zafirah, bukankah kau sedang di dalam tadi?," tanyanya mengambil duduk di bangku lain.


"Hem, dan sekarang aku sedang ingin sendiri," sahutnya dengan senyuman pahit.


Angga memilih untuk diam, mengingat perkataan Zafirah yang sedang ingin sendiri. Terlanjur menemui wanita itu, terasa tidak pantas jika meninggalkan nya dalam kesendirian.


Sedetik...


Dua detik...


Tiga detik...


"Sudah ku katakan aku ingin sendirian," ujar Zafirah lagi.


"Dan aku tidak tega meninggalkan kau sendirian."


"Aku tidak sedang baik-baik saja. Aku mungkin akan menangis. Bisakah kau meninggalkanku sendiri? akan sangat memalukan jika aku menangis di hadapanmu," suara lembut itu mulai bergetar.


"Tetap saja aku tidak bisa meninggalkan mu, anggap saja aku tidak ada, menangislah Zafirah. Aku akan menulikan telingaku."


Hati yang lara semakin berduka, tingkah Angga membuatnya semakin kesal"Angga!! kau sangat menyebalkan!!!," pekik Zafirah mulai tersedu-sedu.


Ingin menyentuh pundak Zafirah, namun Angga dengan cepat mengurungkan niatnya"Hei! hei! ku katakan kau boleh menangis. Tapi bisakah kau turunkan nada tangisanmu? aku tidak siap di keroyok para santri sebab tertuduh membuatmu menangis!!," Angga mulai panik. Sungguh, penyesalan itu selalu datang belakangan. Andai saja dia tidak penasaran dengan sosok sendirian ini! andai saja dia tidak berniat menghampiri sosok Zafirah ini!!.


"Hick...hick... kau memang jahat Angga!! kau keterlaluan. Bagaimana kau menyuruhku menangis tapi kau juga memintaku untuk tidak tersedu-sedu!!!," tangisan wanita itu semakin jadi. Tubuhnya bergetar dengan kedua tangan memegangi kedua mata berairnya.


"Syutttt 🀫🀫🀫!!!, Zafirah yang maniiisss, pelankan suaramu!!!," pekik Angga dengan suara tertahan.



To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2