Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Amarah Arabella.


__ADS_3

...***Kau seperti hujan basahi bumi,...


...Turun dengan derasnya dan mencegahku untuk beranjak pergi,...


...Namun......


...Setelah kau reda tanpa ku pinta,...


...sungguh tak ku sangka kesejukan mu sedetik saja***...


...🌼🌼🌼🌼...


Patah hati terdalam, kehilangan tambatan hati untuk selamanya. Kepedihan yang paling dalam, menapaki jalan cinta tanpa sosoknya yang selalu di puja.


Sebagai rekan kerja, Rio juga termasuk dalam daftar penerima undangan pernikahan Agam dan Jena. Salman sebagai kepala pemimpin penerbit Will, juga sebagai saudara dari ayahanda Agam, memberikan undangan itu tanpa ada beban. Sebab, meski bukan rahasia lagi bahwa Rio menyukai Jena, nyatanya sekarang wanita itu telah resmi menjadi istri keponakannya. Bertujuan untuk membuka mata hati Rio, meski tersakiti pria itu tetap harus berhadapan dengan kenyataan.


Menerima dan memandangi kartu undangan itu dengan seksama, ucapan terimakasih pun terasa berat untuk di ucapkan.


Mengerti tentang hati yang tengah terluka, Salman membiarkan Rio tenggelam dalam segala gundah hatinya.


"Pak kepala, aku sedang kejar setoran naskah, mungkin tidak akan sempat menghadiri pernikahan mereka," tukasnya saat kaki Salman baru beberapa langkah meninggalkannya.


Pria dewasa itu berbalik menatap Rio"Hak mu untuk hadir ataupun tidak di pesta pernikahan mereka."


"Boleh titip pesan?," tanya Rio lagi. Sungguh, Jena tidak dapat dia hubungi. Tanpa Rio tahu ponsel wanita itu telah tenggelam di dasar sungai Mentaya.


Salman melangkah maju, semakin tepat berhadapan dengan Rio yang tampan rupawan. Dengan perawakan tinggi tegap, wajah yang tampan, karir yang bagus, dan berduit pastinya, sangat di sayangkan pria ini harus menelan pil pahit cinta bertepuk sebelah tangan.


"Rio, alasanmu untuk tidak hadir di pernikahan mereka sungguh sangat lucu. Rio yang ku kenal bukanlah seorang pecundang, kenapa kau bersembunyi dari kenyataan?."


Pria itu membuang pandangan ke luar jendela. Berada di lantai 5 dari gedung itu, terbersit keinginan untuk meloncat dengan indah dari atas atap, bukan sekali dua kali dia merasakan patahnya sang hati, hanya saja kali ini patahnya terlalu menyakiti"Cukup satu kali aku melihatnya bersanding dengan lelaki lain, aku tidak yakin akan sanggup melihatnya bersanding untuk kedua kalinya, dengan lelaki yang bukan diriku."


Salman menarik napas berat, selama ini meski terkenal ramah pada setiap wanita, tidak satu kali pun dia mendengar Rio memiliki seorang kekasih. Bertahun lamanya mengumpulkan keberanian untuk mengungkap cinta, sayangnya panah sang dewi amor tidak bersarang pada hatinya dan Jena. Benang merah yang mengikat jari manis Jena tidak pernah berhujung pada jari manisnya, sungguh Rio sempat gusar pada sang maha pencipta.


"Aku dapat merasakan betapa hancurnya hatimu, namun....akan lebih baik jika kau berbesar hati sekali lagi Rio. Seperti kau berlapang dada saat wanita itu menikah untuk pertama kalinya," tatapan teduh Salman penuh kehangatan, sayang....Rio tak merasakan perhatian itu sebab luka di hati yang kembali menganga.


Pria bermata tajam itu menggeleng"Cintaku terlampau banyak padanya, terlebih saat dia resmi menjanda, harapanku semakin terlampau banyak."


"Kau seorang penulis yang pandai menguntai kata-kata, kau juga banyak tahu berbagai ungkapan dari berbagai insan di dunia, aku sungguh tidak yakin kau tidak pernah membaca apa yang pernah di katakan sahabat nabi."


Mengangkat wajah yang tadinya menunduk sedih"Siapa? kata seperti apa yang dia katakan?," tanyanya kepada Salman.


"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan di dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia, begitulah kata sahabat nabi Ali bin Abi Thalib."


Ucapan Salman membuat Rio termenung....


❣️❣️❣️❣️


Ketika ketetapan sang maha kuasa di baluri dengan berbagai macam prasangka, maka...

__ADS_1



Pesta pernikahan telah berlangsung, dengan gaun nan cantik Jena terlihat semakin cantik. Keraguan terus menyelimuti hatinya saat melangkahkan kaki, bersanding dengan Agam yang terus memandang kagum kepadanya.


Sepanjang acara pesta, senyum di wajahnya terus mengembang, begitu pula dengan Agam. Pria itu berdiri dengan gagah, dengan setelan pengantin pria yang semakin menambah ketampanannya.


Kedamaian dan keceriaan terus berlanjut, tamu-tamu undangan terus berdatangan dan memberi selamat kepada mereka. Seperti dugaan Jena, ada beberapa wartawan yang datang meliput pesta pernikahan mereka, entah siapa yang mengundang, para wartawan itu dapat masuk dengan bebas ke dalam acara mereka. Prasangka-prasangka buruk pun mulai muncul kembali dalam hatinya.


"Apa kau lelah??," tanya Agam saat senyuman mulai memudar dari wajah istrinya.


"Sedikit, tapi tak mengapa. Aku senang, semua orang nampak bahagia hari ini," sahutnya tersenyum kecil.


"Bertahanlah sebentar lagi, pesta ini hanya berlangsung hingga sore hari," ujar Agam mengusap lembut punggung tangan Jena.


"Hemm," Jena mengangguk patuh.


Rombongan ibu-ibu pengajian yang kerap di hadiri Arabella baru saja hadir, dan seperti negeri avatar yang terusik sebab serangan negeri api, kedamaian dalam pesta itu pun perlahan terusik.


"Hei....ku kira menantunya akan mengenakan hijab, ckckckckck!."


"Hah??? astaghfirullah, jika memang tidak berjilbab dalam kehidupan sehari-hari setidaknya wanita itu menggunakan hijab saat menikah. Lihatlah Agam yang tampan itu, dia seorang lelaki yang soleh......"


Duduk begitu dekat dengan pelaminan, ibu-ibu pengajian itu bahkan tidak merendahkan nada bicaranya.


Mendengar dengan sangat jelas, Jena menggenggam erat jemari-jemari nya.


"Sudahlah, jangan mengurusi kehidupan orang," tegur salah satu ibu pengajian.


"Hus!!!! kita datang untuk memberi doa baik, bukan bergibah!," tegur yang lainnya.


Teguran itu membuat dua ibu-ibu itu diam, memang, di antara banyaknya ibu-ibu pengajian dua wanita itu sangat gemar mengomentari kehidupan orang lain.


Bukan hanya Jena, Agam juga mendengar ucapan mereka. Meraih jemari kecil Jena, Agam menggenggam erat tangan wanita itu sembari memandangnya lekat.


"Jangan di dengarkan, mereka memang suka bergosip."


Jena mengangguk kecil.


"maaf, teman-teman bunda membuatmu kecewa," lanjut nya dengan suara pelan nan lembut.


"Tidak mengapa, aku tidak sadar diri, seharusnya aku meminta MUA memasangkan hijab, seperti akad nikah kita di pondok pesantren kemarin," ujarnya lemah.


"Jangan menyalahkan diri, aku juga tidak mengingatkanmu tentang hal itu. Aku yang salah, seharusnya aku menyarankanmu berhijab saat pesta ini," melihat wanita itu bersedih, Agam sangat menyesal telah lalai kali ini.


Memperhatikan anak dan menantunya sedari tadi, Arabella datang menghampiri mereka"Ada apa sayang?," wanita itu mengambil jemari Jena dari genggaman Agam.


"Tidak ada apa-apa bunda," Jena langsung tersenyum. Seolah semuanya baik-baik saja.


"Kau nampak sedih," ujar Arabella lagi. Jemarinya mengusap lembut pipi mulus Jena"Kau sangat cantik sayang."

__ADS_1


Jena tersenyum malu, Arabella terus saja mengatakan dirinya cantik sejak tadi.


Kehadiran Arabella di pelaminan menarik perhatian teman-temannya, mereka pun memanggil Arabella untuk bergabung bersama mereka.


Setelah kembali mengusap lembut pipi mulus Jena, Arabella segera menghampiri teman-temannya.


Tersenyum lebar, nampak sekali rona kebahagiaan di raut wajah Arabella"Kalian mau cemilan lagi?," tanyanya sembari mengambil duduk bersama mereka.


"Boleh," sahut ibu bergibah tadi.


"Aku akan meminta pelayan memenuhi meja ini dengan cemilan lagi," sahut Arabella sembari memberi kode pada pelayannya.


Dua wanita itu nampak senang, cemilan-cemilan mahal akan segera hadir di hadapan mereka.


"Eh Arabella, kau tidak salah memilih menantu?," ibu yang satu lagi mencolek lengan Arabella.


"Kenapa? menantuku cantik sekali bukan."


Ibu-ibu melengos"Kami tahu dia sangat cantik, tapi....kau tinggalkan di mana hijab nya???."


Ibu-ibu yang lain perlahan menjauh, jika sudah memprotes penampilan orang lain, dua wanita ini memang juara. Tidak ingin terlibat, mereka yang tidak menyukai perkataan dan tingkah mereka memilih meninggalkan meja itu. Tinggallah Arabella dan sepasang ibu penggibah itu.


"Jadi, kalian memandang hina menantuku??," nada bicara Arabella mulai berubah, tidak lagi ada keramahan di dalamnya.


"Bukan begitu, kami hanya tidak menyangka Agam mendapat jodoh wanita yang tidak islami. Ku pikir seharusnya dia mendapat istri solehah seperti Zafirah."


Rahang pria berlesung pipi itu mengeras, tiba-tiba hatinya menjadi panas. Hendak berdiri dan menghampiri wanita-wanita itu, Jena menahan suaminya agar diam saja.


Arabella mengulum bibir, tak berbeda dengan Agam, dirinya juga mulai tersulut emosi.


"Menantuku hanya belum berjilbab, gaun yang dia pakai juga masih menutup aurat. Jika kalian tidak bisa memberi komentar baik, setidaknya jangan berkomentar buruk terhadapnya."


Wajah-wajah di hadapannya menegang, seketika nyali dua wanita itu menciut. Mereka menelan saliva yang tercekat di kerongkongan dengan sulit.


"Maafkan kami Arabella," cicit mereka bersamaan.


Arabella berdiri"Jika sudah menyantap hidangan, silahkan ambil sovenir kalian dan pulanglah," wanita itu meninggalkan dua temannya yang tercengang tak percaya. Arabella terlihat mengerikan saat sedang marah.


"Letakan cemilan-cemilan ini di meja ibu-ibu pengajian yang lain saja", Arabella menahan pelayannya yang akan mengantarkan cemilan ke meja dua wanita penggibah itu.


"Baik nyonya, jadi meja mereka tidak perlu di isi cemilan lagi?."


"Kalian bisa mengisinya saat mereka sudah pergi, sebentar lagi mereka akan segera pulang," sedikit meninggikan suaranya, dapat di pastikan ucapan Arabella terdengar jelas di telinga dua temannya.


"Baik nyonya," ujar pelayan patuh.


Sekilas, Arabella menatap Jena yang kembali terlihat sedih. Hati nya terasa sakit, bukan salah Jena jika tidak mengenakan hijab di pesta ini, Arabella sangat menyesali keteledoran nya melupakan hal itu. Kecantikan Jena mengenakan gaun itu sangat membuatnya terpesona, di tambah rambut yang di tata dengan sangat indah, Arabella sungguh jatuh hati pada kecantikan menantunya itu.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2