Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Luka di sebalik senyum Kanaya


__ADS_3

"Setan seperti apa yang kau maksud?," usai bersikap manis di depan para fans, mau tidak mau Gibran di seret oleh Jena ke toko buku. Tersungut-sungut, pria tinggi menjulang itu mengekori langkah sang kakak, demi keselamatan daun telinga nya.


"Setan yang keras kepala," tukas Jena telah siap dengan laptop di hadapannya.


Sementara Gibran, dia masih menatap Jena dengan kening berkerut"Setan kepala batu?, kau bilang dia keras kepala bukan??."


Dengan kesal, Jena mengusap wajahnya. Sepertinya dia salah mendatangi orang, berkali-kali menjelaskan apa yang dia maksud namun Gibran tak jua mengerti.


"Ah sudahlah! lupakan saja. Aku haus, buatkan minuman dingin."


Sebelah alis sang adik di buat terangkat naik, menatap kakak perempuan yang galak, juga kerap bersikap tidak jelas.


"Tidak....."


"Ayolah! kau telah Membuang waktuku! dengan bersikap manis kepadamu di hadapan para fans mu," tukasnya melirik Gibran, tajam.


Memanyunkan bibir, Gibran beranjak dari tempatnya dan segera menuju dapur. Sempat-sempatnya pria itu menarik rambut sang kakak saat melewatinya, membuat Jena berteriak dan mentap horor kepadanya.


"Arggh!!, kau menyakitiku, bocah raksasa!!."


Mengangkat kedua tangan sebatas dada"Maaf, aku tidak sengaja!!."


Ash!! sungguh kesal. Jena kembali menatap layar laptopnya, alih-alih membuang waktu dengan bertengkar melawan si bocah tengil.


Seperginya Gibran menuju dapur, Khair dan Agam kembali dari luar. Mereka melihat-lihat keadaan di luar cafe, merancang hendak seperti apa acara pembukaan cafe itu esok hari.


"Jadi, kalian tidak akan berbulan madu?," tanya Jena setelah Khair mengambil duduk tak jauh darinya."


"Tidak perlu, hanya membuang waktu saja. Lagipula Zafirah pun tidak menginginkan hal itu."


Ada perasaan hangat, juga malu-malu saat menyebutkan nama Zafirah, sang istri. Takdir Allah sungguh membuat hatinya kerap berdebar hebat, di berikan jodoh secantik dan selembut Zafirah, hati siapa yang tidak senang bukan kepalang. Juga sikap pengertian tingkat tinggi seorang Zafirah, wanita itu langsung menolak saat Khair membicarakan perihal bulan madu kepadanya.


"Tidak perlu, lebih baik uangnya di simpan, untuk keperluan sekolah Enda. Ku pikir hal itu jauh lebih penting dari pada bulan madu."


Ucapan Zafirah tadi malam, membuat Khair tersenyum simpul, ah! sedang apa ya wanita cantik itu sekarang? baru saja meninggalkan sang istri bersama putranya di rumah, Khair sudah merasakan rindu.


Usai berbincang sekilas dengan Khair, Jena yang sudah di suguhi minuman dingin oleh sang adik langsung undur diri, membawa minuman itu menuju lantai atas.

__ADS_1


"Kalian berdiskusilah, aku akan menemani istriku ke lantai atas dulu," tukas Agam membawakan laptop Jena.


Saat Agam telah menjauh mengekor langkah Jena, Khair mendengar lenguhan napas berat Gibran. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat, air mukanya tidak ceria seperti biasanya"Kenapa? dari wajahmu saja, aku bisa membaca bahwa kau sedang berada di dalam masalah."


Meneguk minumannya sekali tegukan, Gibran mulai bercerita tentang hatinya yang memang sedang gundah"Ini masalah Kanaya, aku menanyakan pasal cita rasa masakannya yang aneh itu kepada Angga. Dan ternyata ada kisah kelam di balik semua itu."


Masakan bercita rasa unik milik Kanaya, cukup menarik untuk di bahas, alih-alih membicarakan rencana pembukaan cafe tepi pantai itu"Kisah kelam?."


Gibran mengangguk"Hem..., ternyata dia pernah di culik saat kecil."


Di culik?? kedua bola mata Khair membulat mendengar hal itu"Ini kisah Kanaya? kau tidak sedang bercerita tentang sebuah alur film kan?."


Memutar bola mata, jengah"Ayolah, aku sudah katakan, ini perihal Kanaya."


"Baiklah, sepertinya ini masalah berat, jika menyangkut masalah culik menculik," tukas Khair lebih fokus kepada Gibran.


jadi, Gibran pun bercerita panjang lebar kepada Khair. Tentang Kanaya yang pernah di culik mantan pembantu di kediaman mereka, karena tidak rela di berhentikan dari pekerjaannya. Saat itu, Kanaya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, dengan polosnya mengikuti sang bibi pelayan yang datang menjemputnya langsung di depan gerbang sekolah.


Berhari-hari Kanaya di kurung di dalam kamar berukuran kecil, dengan suguhan makanan yang tidak layak untuk di makan. Karena perut yang lapar, Kanaya memaksakan diri untuk mengkonsumsi makanan tidak layak itu.


Khair sampai mengerutkan kening, kisah Kanaya yang sangat memilukan"Lantas?."


"Peristiwa itu menyisakan trauma yang mendalam. Karena saat itu, dirinya di paksa untuk memakan apa saja di bawah tekanan, demi keselamatan hidupnya. Hingga membuat lidahnya menjadi mati rasa."


Gibran diam, rasanya tidak sanggup lagi mengingat kisah masa lalu sang kekasih yang di jabarkan oleh Angga. Kanaya gadis yang ceria, sangat tidak di sangka memiliki luka batin yang mendalam hingga meninggalkan bekas yang sulit untuk di hilangkan.


"Ku dengar, dia dari keluarga kaya raya, mengapa tidak bertobat, keluar negeri misalnya," tukas Khair, mencoba mengimbangi keluh kesah Gibran.


Menyugar rambutnya"Sudah, mereka sudah berusaha mengobatinya sejak dahulu. Namun, dokter-dokter yang pernah menanganinya mengatakan lidahnya baik-baik saja.


Termenung, sama seperti Gibran, Khair mengajak otak kecilnya untuk berpikir lebih keras lagi, mungkin saja dia bisa memberikan solusi untuk mengatasi masalah sahabatnya itu. Tapi, ini bukan perkara mudah, apalagi bagi orang biasa seperti dirinya. Mungkin akan lain halnya jika masalah Gibran berhubungan dengan kue-kue, atau olahan makanan sedap lainnya.


...❣️❣️❣️❣️...


Rasa lelah usai bekerja di kantor, semakin bertambah melihat pemandangan dari balik pintu kediaman Melisa.


Arkan menjumpai pakaian gadis kecil itu berantakan, berserakan di lantai, bergelantungan di atas sofa, juga pagar balkon, entah apa yang sedang di lakukan gadis itu saat Arkan tiada.

__ADS_1


"Sialann! seharusnya aku langsung pulang ke rumah saja, dari pada singgah ke sini untuk memeriksa keadaan kucing liar ini," gerutunya kesal. Sungguh melihat sesuatu yang berantakan seperti sekarang ini, membuat isi di dalam kepala Arkan juga ikut jungkir balik, memusingkan.


"Melisaaaaa," serunya meninggikan suara, memanggil si gadis kecil.


Terdengar suara gaduh, dari sebuah kamar yang belum pernah Arkan masuki.


"Nona Melisa?," ujarnya lagi, sembari melangkah mendekati kamar itu dengan waspada.


Krieeeet, perlahan Arkan mendorong pintu kamar yang semula telah sedikit terbuka.


Dan, brak!!


"Melisa!."


"Ughk..., ya??," kepala gadis itu menyembul di balik kardus-kardus berisi....pakaian. Posisinya telah berada di atas lantai. Ternyata suara keras tadi adalah karena dirinya yang terjatuh bersama barang-barang pribadinya, yang belum di tata rapi pada tempatnya.


"Apa yang kau lakukan?," menatapnya dengan kedua mata memicing.


Sedikit kesusahan, Melisa mencoba bangkit"Aduh, aku sedang mencari pakaian-pakaian terbaik ku."


"Untuk apa?," mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan itu. Ckckck sepatu-sepatu bermerek yang masih tersimpan di dalam kotaknya, di timpuk sembarangan hingga menggunung tinggi. Juga pakaian-pakaian wanita, yang di lihat dengan mata orang awam saja sudah tahu bahwa itu bukan pakaian yang murah, di susun tak beraturan pada gantungan besi, dan juga pada kardus-kardus besar.


"Kau," ucap Arkan sejenak terjeda"Menyimpan semuanya di sini? tanpa perawatan khusus?."


Memutar bola mata, menelisik kamar berantakan itu yang sudah seperti kapal pecah.


"Hehehe, aku sempat melupakan barang-barang ini, jika saja aku tidak mendapat kabar bahwa adik-adik mu akan mengadakan pembukaan cafe tepi pantai esok hari, mungkin kamar ini akan tetap terkunci.


Lagi-lagi Arkan di buat mengerutkan kening. Dirinya bahkan belum mendengar kabar pembukaan cafe adik-adiknya"Dari mana kau tahu besok adalah pembukaan cafe mereka?."


Sedikit kesusahan melewati barang-barang berharga yang berserakan itu, Melisa akhirnya bisa meraih sang gawai yang dia letakan di sudut kamar, di atas kotak sepatu yang nampak berdebu"Aku melihatnya di internet, beritanya sudah sangat heboh, apa kau tidak mengetahuinya?," sembari memperlihatkan layar ponselnya kepada Arkan.


Bukan hanya sekedar berita, potret cafe sekaligus kediaman pantai juga terlampir bersama berita itu"Bocah-bocah tengil! mereka lebih dahulu memberi kabar kepada para wartawan, alih-alih diriku!," gerutunya kesal.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2