
Suasana ramai di kediaman pantai, bukan riuh karena adanya event menarik di tempat itu. melainkan karena ada pesta pernikahan salah seorang pemilik cafe tersebut.
Seperti kelelahan usai menggunakan tangannya untuk melakukan hal monoton, atau mengangkat sesuatu yang berat. Gibran pun tak mengerti kenapa kedua tangannya bergetar begitu hebat saat ini. Terlebih getaran itu tidak dapat dia kendalikan, membuat wajah tampan nya di selimuti kecemasan.
"Kau sakit?," tegur Angga, selain tangan yang bergetar, kening sang sahabat pun di penuhi keringat.
Sembari memberikan tisu kepada Gibran"Tenangkan dirimu! perbanyak sholawat. Jangan sampai kau pingsan di hadapan penghulu!," Agam hadir di antara mereka.
"Nenang, om!," ujar bocah kecil yang di gendong Agam. Bocah lelaki yang di beri nama Ahmad Arjuna Pratama, mengacungkan ibu jarinya kepada Gibran.
"Yaaaa~~~," pria tinggi dengan sepasang mata boba itu tersenyum masam, jika hanya bicara itu memang mudah. Akan lain halnya dengan dirinya yang sedang mengalaminya, owh! ayolah tangan, bekerjasama dengan baik hari ini. Setidaknya hingga acara ijab qobul selesai saja. Selain keluarga, dan para tamu undangan, ada banyak awak media yang juga hadir di sini. Tentu dengan benda kotak yang selalu menyoroti tingkah laku dirinya. Gibran tidak ingin kegugupannya di ketahui para pencari berita, bisa-bisa dirinya menjadi bahan olokan khalayak ramai, karena sangat gugup di acara pernikahannya.
Keinginan hanya tinggal keinginan. Rasa gugupnya semakin menjadi saat di sandingkan bersama Kanaya, sesaat sebelum acara ijab qobul. Abian sampai memegangi jemari sang putra yang berada di samping nya"Pa, seharusnya Gibran minum obat penenang tadi," bisiknya lirih.
Astaga! Abian hampir tergelak tawa mendengar bisikan si bontot. Terlihat sekali betapa cinta dan sayangnya Gibran terhadap Kanaya. Pria itu bahkan tak kuasa menatap Kanaya lekat-lekat, meski berada di sampingnya. Dia yakin akan seperti es krim yang terpesona dengan indahnya sang mentari, dia akan meleleh, bisa jadi dia akan pingsan di depan penghulu, seperti yang Agam ucapkan tadi.
"Tarik napas dan buang perlahan," bisik Abian tersenyum kecil.
Rasanya sedikit tenang usai melakukan saran dari papa nya. Tangannya masih bergetar saat hendak menjabat tangan sang penghulu, dan hal itu membuat tawa para tamu undangan yang menyaksikan pecah. Owh! ayolah biarkan saja hal ini terjadi, jangan buat Gibran semakin gugup dengan mentertawakan dirinya. Tapi, wajah tampan selebriti ini sangat menggemaskan, atensi para pencari berita tersita sepenuhnya pada dirinya saja, alih-alih Kanaya yang sangat cantik.
"Saya.....,akh!," untuk kali pertama, lidah Gibran tidak bekerja dengan baik. Dengan gemas dia memukul mulutnya sendiri kemudian melenguh kesal. Berbeda dengan Gibran yang kesal setengah mati, orang-orang yang menyaksikan semakin di buat geli, dan tertawa berjamaah.
"Tarik napas nak Gibran, tenang....keringatmu lebih besar dari biji jagung, apa menikah sangat menakutkan?," tanya pak penghulu, sedikit bercanda.
"Tidak! menikah sangat menyenangkan," sahutnya spontan.
Hahhahaha!!!
Para saksi kembali di buat tertawa. Bagaimana ini? calon pengantin pria nya sangat lucu, meski dia tidak berniat untuk melucu. Ini momen sakral, dan Gibran tak berniat sedikit pun menjadikannya lelucon.
"Santai saja, kau akan semakin gugup jika terlalu tegang."
Sembari mengusap waja, kembali Gibran menarik napas, dan membuangnya pelan."Saya terima nikah dan kawinnya_____."
Seperti di kerja hantu, kalimat panjang itu di ucapkan Gibran dalam satu tarikan napas. Wajahnya tegang usai mengucapkan kalimat itu dengan sempurna, dua bola matanya berlarian menunggu jawaban dari para saksi.
"Bagaimana? sah?," seru pak penghulu.
__ADS_1
"Sah!!!," sahut para saksi kembali berjamaah.
"Alhamdulillah!!!!," seru mereka lagi. Tepian mata indah Jena menampung genangan air mata, yang akan jatuh jika sekali saja berkedip mata.
Owh!!! tubuh Gibran rasanya lemas sekali. Pria itu hampir merosot ke lantai jika tidak di tahan oleh sang papa.
"Gibran udah nikah pa?," dan pertanyaan model begini terlontar begitu saja dari mulut nya.
Reska memeluk Kanaya, putri tersayang nya"Selamat nak, kau sudah menjadi seorang istri."
"Lekas ambil salim tangan suamimu," bisik Reska lagi, yang di angguki Kanaya pelan.
Sumpah! wajah cengengesan Gibran tidak bisa tertolong lagi. Dengan polosnya pria itu tersenyum lebar, hingga menampilkan barisan gigi putihnya dengan sangat nyata.
"Di usap kepalanya!," gemas Agam, saat mereka tak sengaja beradu pandang.
Oh! Gibran seperti orang linglung saja, padahal segala persiapannya sangat matang tadi malam. Dan alih-alih mengusap pucuk kepala Kanaya seperti rencananya tadi malam, Gibran justru mencium ubun-ubun wanitanya, dan dengan suara bergetar Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum."
Agam menepuk keningnya"Gibran!! yang di cium keningnya! bukan ubun-ubun nya!!," ucapnya lirih. Jena terkekeh, juga Angga.
"Kanaya punya ilmu? ilmu apaan?," ibu satu orang anak itu bertanya, dengan polosnya.
Angga dan Agam berpandangan, dari sini mereka meyakini bahwa Gibran dan Jena memanglah saudara. Jika di depan sana ada Gibran yang meleyot usai menikahi Kanaya, di sini ada Jena yang tak mengerti dengan candaan Angga.
"Ilmu menaklukkan buaya tengil," sahut Arkan ikut bergabung bersama mereka.
"Abang! kenapa baru datang?," Jena mencubit lengan Arkan, pria tampan dengan tinggi yang sangat tidak adil baginya.
Mengambil Arjuna dari pangkuan Agam"Aku menjinakan Melisa dulu, dia ngotot ingin hadir di sini, sedangkan siang ini dia harus ujian."
"Uluh-uluh... Arjuna nya om! makin cakep aja, sama seperti om nya," ujarnya mencium kedua pipi Juna.
"Nonono~~," seru Juna seolah tak setuju dengan ucapan Arkan.
"Aku bang, aku yang cakep. Dan daya tarik ku ini yang menurun kepadanya!," Agam menyampaikan keluhan Juna, bocah berusia dua tahun yang belum pandai bicara.
"Oho~~~," dan benar saja, Juna menganggukan kepala bak boneka india.
__ADS_1
"Eish!! kau ini. Apa kau lupa jasa om tampan mu ini? Ayahmu hampir pingsan menggendong ibu mu yang akan melahirkan dirimu saat ke rumah sakit. Jika bukan om yang melanjutkan perjuangan ayahmu menggendong ibu mu, kau sudah lahir di lorong rumah sakit."
"Abang! dia hanya anak kecil, dan kau berniat beradu mulut dengannya??!," melotot, sorot mata Jena membuat Arkan menekan air ludah.
"Maaf, aku hanya teringat kau, yang hendak melahirkan tapi memakai mukena tanpa bawahan. Apa kau saat itu hendak sholat? atau sudah selesai sholat?."
Agam menggeleng, tertawa namun menatap ke arah lain. Panik saat hendak membawa Jena ke rumah sakit dia tahun yang lalu, dia sampai lupa membawa pakaian yang layang untuk Jena kenakan. Mengingat dengan mukena yang selalu tersedia di dalam mobil, Agam pun memakaikan atasan dari mukena itu kepada Jena, untuk menutupi tubuhnya yang begitu aduhai mengenakan lingerie pilihannya.
Sementara Jena, merasa malu jika mengingat kejadian itu. Haruskan dia katakan bahwa sedang memakai lingerie kepada Arkan, saat hendak melahirkan itu?. Tentu saja tidak! urat malu Jena begitu kokoh, meski Arkan adalah saudara kandungnya, menjelaskan hal itu terasa aneh baginya.
"Kalau begitu....kau bisa mengajaknya ke sini saat malam. Ujiannya tidak mungkin sampai malam, bukan?," jurus mengalihkan pembicaraan. Jena mengungkit Melisa, gadis yang di paksa tinggal di pondok pesantren demi keamanan dirinya.
"Ya," sahut Arkan kembali bercengkrama bersama Arjuna.
Suasana begitu meriah, bukan hanya di tempat itu, dalam rasa suka cita fans Gibran turut merayakan pernikahan sang idoal. Awalnya mereka menentang hubungan Gibran, sebab merasa bahwa Gibran hanyalah milik mereka.
Kanaya si gadis lembut, bukan hanya mampu menaklukkan Gibran, tapi juga para fans nya. Ketika sang maha pencipta ikut andil dalam hubungan setiap manusia, pasangan itu kerap terciduk sedang menghabiskan waktu bersama, meski sudah berusaha menutupi identitasnya tetap saja Gibran dapat di kenali. Dan ketika para fans mengerumuni Gibran, untuk sekedar menyapa atau meminta foto bersama, Kanaya menepikan diri dengan sendirinya. Sikap kecil itu saja, sudah membuat para pengagum Gibran berbesar hati atas kehadiran Kanaya dalam hidup sang idola. Alih-alih ingin memiliki Gibran hanya untuknya, sikap Kanaya yang memberi ruang untuk para fans menyapa Gibran meluluhkan hati mereka. Apalagi gadis itu tidak segan membantu fans untuk mengambil foto bersama Gibran. Kelembutan sikap nya itu membuat dirinya juga di cintai para penggemar.
Malam harinya, acara sederhana kembali di gelar. Namun kali ini di hadirin mereka saja, dan para orang tua.
"Haish!! Kanaya! susah sekali untuk sampai di sini. Aku hanya ingin melihat sahabatku menikah! tapi peraturan di pondok pesantren itu sungguh menyebalkan. Aku harus menyetor hapalan Nadhom Alfiah sebelum ke sini."
Suara keras Melisa, sangat berbanding terbalik dengan penampilan nya saat ini. Kerudung yang menutup hingga ke dada, dengan gamis longgar menutupi tubuhnya. Yah... seperti itulah penampilan Melisa sejak dua tahun terakhir.
"Owh, calon menantuku. Kau sudah datang? ku dengar kau sedang ujian siang tadi. Apa kau lapar? ada kue kesukaan mu di dapur."
Amarah Melisa seketika runtuh karena kehadiran Adila. Wanita paruh baya itu datang dengan membawa Arjuna.
Dan entah mengapa, panggilan calon menantunya itu selalu saja membuat Melisa menciut, padahal dirinya sudah sering di panggil seperti itu.
"Melisa, apa kau tidak ingin kue?," tegur Adila, menyadari Melisa masih terdiam tersipu malu.
"Mau dong bu," sahutnya seketika menjadi wanita yang lemah dan lembut.
Tawa mereka pecah, melihat cinta yang mampu mengendalikan emosi seorang gadis keras seperti Melisa. Entah sejak kapan, Arkan akhirnya membuka hati untuk Melisa, dan entah sejak kapan jua, Adila yang kasar kini menjadi lembut kepada Jena. Seiring berjalannya waktu sifat keras dari dalam diri mereka perlahan berubah, menjadi sosok yang lembut dan hangat.
...~The End~...
__ADS_1