Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Belum saatnya.


__ADS_3

Menikmati kehidupan sebagai warga pantai, Agam membuat Jena kehilangan fokus saat sedang memasak. Sore itu, saat mentari sudah mulai menepi, Agam dan Gibran bermain air di tepi pantai. Membawa papan surfing dengan tubuh yang basah, Jena sempat mengalihkan pandangan dari pria itu.


"Kak, sekalian cuci bajuku ya," Gibran dengan santainya membuka baju di beranda belakang. Meski tubuh pria itu tergolong berotot, Jena sudah biasa menyaksikan hal itu. Namun, ketika Agam juga ingin melakukan hal yang sama, lekas-lekas Jena bersuara"Bisa kan lepas bajunya di kamar mandi? apa kau tidak malu di lihat banyak orang."


Agam memutar bola mata pada sekitar, memang banyak orang, tapi kebanyakan dari mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Lagipula, hampir semuanya pria.


"Gibran boleh buka baju di sini? kenapa aku tidak? lagipula tidak ada perempuan lain selain dirimu di sini."


"Aurat, kau... kau akan pamer aurat jika membuka baju di sini," ujar Jena tak kuasa menatap Agam yang sudah menarik sebagian bajunya. Barisan otot kotak-kotak mulai mengintip dari balik baju basah Agam.


Agam tertawa"Tubuh bagian laki-laki tidak termasuk aurat, Jena sayang."


Gibran berdecih"Ck!!! katakan saja kau tergiur melihat tubuh suamimu."


"Gibran!! jaga mulutmu!," Jena memelototi sang adik. Demi keamanan tubuhnya, Gibran segera minggat ke lantai atas saat centong sayur di tangan Jena terangkat di udara.


Jena mendengus kesal, tapi ucapan Gibran memang benar adanya.


"Oh...jadi begitu," ucap Agam menatap nakal Jena.


"Apa yang di katakan Gibran itu benar?," tanyanya lagi.


Alih-alih menjawab tanya yang di lontarkan Agam"Cepat ke kamar mandi, aku tidak akan merawatmu jika masuk angin."


"Sebentar, akan lebih cepat jika aku langsung melepas pakaian di sini, bukan."


Jena meletakkan alat memasak dan sedikit melangkah menuju daun pintu"Lakukan sesukamu, semakin lama kau semakin pandai menggodaku, Agam," Jena menutup pintu menuju beranda, demi keamanan jantungnya, Jena harus melakukan hal itu.


Agam di buat semakin tertawa. Sikap Jena yang galak namun malu-malu membuatnya semakin menggemaskan. Sejujurnya, setelah di pikiran-pikiran perkataan Jena ada benarnya. Spontan ingin mengikuti tingkah laku pecicilan Gibran yang membuka pakaian di area terbuka, Agam membuka kembali pintu yang telah Jena tutup.


"Kenapa lagi?," tanya Jena, Agam masih lengkap dengan pakaian basahnya.


Pria itu menuju kamar mandi sambil berucap"Aku tidak tega membiarkan asetku di lihat orang lain."


"Nah! setidaknya kau masih berpikiran waras" celetuk Jena.

__ADS_1


Usai membilas diri di kamar mandi, Agam kembali memanggil istirnya.


"Ada apa lagi, Agam??," sahut Jena malas. Dirinya masih sibuk dengan segala kegiatan memasak.


"Aku lupa bawa handuk," kepalanya menyembul dari balik pintu kamar mandi, basah dan berantakan. Namun hal itu kembali membuat jantung Jena berdegup kencang.


"Ck! kenapa bisa lupa? aku sudah kelaparan, tapi kau menyita waktuku dengan mengambil handuk ke kamar," mengomel, namun langkahnya begitu ringan menuju lantai atas.


Agam kembali terkekeh, wanitanya sangat cerewet dan pemarah, tapi Agam menyukainya.


"Udah masaknya?," Jena menjumpai Gibran di lantai atas.


"Kau pikir aku jin, tinggal jentikan jemari maka pekerjaan ku segera selesai," ujarnya tersungut-sungut.


"Lah, ngomel," cerocos Gibran mengusap rambutnya dengan handuk.


Jena keluar dari kamar dengan handuk biru di tangannya.


"Cie.... perhatian sekali, kau harus hati-hati saat menyerahkan handuk itu kepada Agam."


Jena melirik dengan tanda tanya.


Jena menatap handuk itu sejenak, meresapi perkataan Gibran yang.... mungkin memang benar.


"Hati-hati ya," bisik Gibran lagi.


"Ugh! bukan hanya Agam yang otak mesum, kau pun sama," ketus Jena segera turun ke lantai bawah.


Sedikit waspada, Jena menjaga jarak saat hendak memberikan handuk itu kepada Agam.


Ada sedikit rasa kecewa saat Agam berlaku sewajarnya, pria itu tak seperti aktor pria di drama-drama romansa yang Gibran ceritakan tadi. Ah! Jena menepuk keningnya, lekas menyadarkan diri. Mengapa hatinya jadi mengarapkan adegan itu terjadi!!!.


Kembali mengaduk sayur yang sedang dia masak, kembali sibuk dengan aktivitasnya, rangkulan dari prianya kembali membuat jantung di dalam sana meloncat.


Lengan kekar pria itu merangkul pinggangnya dari belakang"Aku akan segera membantumu, cup," tak lupa ciuman manis mendarat di pipi Jena, sontak kedua matanya membulat sempurna.

__ADS_1


"Heiiiii," desisnya.


Sebelum Jena kembali mengomel, Agam segera melepaskan tubuh kecil yang sangat pas ketika dia peluk. Segera dia menuju lantai atas untuk berpakaian. Dan sempat-sempatnya Agam mengedipkan mata dengan senyuman saat hendak menaiki tangga.


Sungguh sulit sekedar menelan saliva, Jena menuang air minum dan segera meminumnya dalam sekali tenggakan"Bagaimana bisa dia begitu leluasa bertelanjang dada," lirihnya memegangi letak sang jantung.


...♥️♥️♥️♥️...


"Mengapa kau menolak Yahya, Zafirah?," Syabila menghampiri Zafirah yang sedang duduk di taman, sembari melambaikan tangan kepada para santriwati yang akan pulang ke kediaman mereka.


"Aku tidak ingin mengulang kisah kelam, bagaimana bisa aku menerima Yahya sedangkan di hatinya telah ada wanita lain. Cukup Agam saja yang sempat mengisi hatiku kemudian pergi dengan wanita yang dia cintai. Sebelum aku jatuh hati kepada Yahya, lebih baik aku menolaknya saja."


Wanita lain? setahu Syabila, Yahya tidak pernah terdengar telah mempersunting seorang wanita. Mendengar hal itu membuat hatinya bertanya-tanya.


"Bukankah Yahya belum memiliki calon pasangan?."


Zafirah mengangguk"Ya, memang belum. Tapi aku pernah mendengar bahwa dia mengatakan cinta kepada seorang wanita."


"Benarkah? Yahya yang pemalu terhadap wanita itu?," nampak terkejut, Syabila tidak menyangka pria itu telah jatuh hati pada seorang wanita.


"Kau ini, kenapa terkejut sekali. Lelaki pemalu bukan berarti tidak memiliki perasaan cinta. Aku yakin kau akan semakin terkejut saat tahu siapa wanita itu," ujar Zafiah tersenyum kecil.


Seketika Syabila mendekati Zafirah, memasang telinga lebar-lebar demi mendengar perkataan Zafirah"Katakan, siapa wanita itu?."


"Kau tidak perlu tahu, gadis itu menolak perasaannya. Meski Yahya berniat melamarnya setelah lulus sekolah, gadis itu tetap menolak."


Syabila menggeleng, merasa iba terhadap cinta sepihak Yahya"Kasihan sekali, cintanya bertepuk sebelah tangan."


"Bukan! gadis itu juga mencintainya."


Seketika kening gadis berwajah bulat itu berkerut"Lantas, mengapa dia tidak menerima Yahya?."


"Ada suatu dan lain hal, sebaiknya kau tidak perlu tahu," usai menyentil ujung hidung Syabila, Zafirah beranjak dari kursi taman hendak kembali ke asrama.


Membuang napas berat, zafirah ini! untuk apa dia bercerita jika tidak ingin berbagi hingga tuntas. Menyisakan rasa penasaran di hati Syabila, wanita itu memberengut mengekor langkahnya menuju asrama.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2