
Aroma masakan nan sedap, tercium semerbak dari dapur kediaman Melisa. Tapi, bukan gadis itu yang sedang memasak, melainkan Arkan. Pria itu, sungguh di buat sibuk oleh cerewetnya seorang Melisa. Dengan manja, dia meminta Arkan menyediakan makanan untuk mengisi perutnya yang lapar, namun ketika Arkan balik meminta dirinya sendirinya yang memasak, Melisa menolak.
"Tanganku yang terluka ini masih terasa sakit," ujarnya berkilah. Itu bukankah luka yang dalam dan parah, hanya tergores kaca yang menyebabkan luka pada kulit ari nya. Sementara Arkan, luka yang di deritanya cukup parah, namun sekarang kedua insan itu telah sama-sama sembuh dengan sempurna.
"Alih-alih memintaku untuk memasak, bukankah engkau sebagai wanita yang seharusnya berkutat di dapur, bukan bermain ponsel seperti sekarang ini," sepasang netranya menatap Melisa, yang dengan santainya berselancar jari di atas gawai, sembari sesekali mengayun dirinya di atas Hammock.
"Aku lapar," cicitnya dengan wajah tertekuk. Alis menurun, tepian bibir menurun, begitulah wajah-wajah manusia yang sedang membujuk lawan bicaranya.
Jika Jena terlahir dengan tabiat keras kepala, Gibran dengan tingkat percaya diri yang menjulang setinggi langit, sementara Arkan, pria itu terlahir dengan sifat tidak suka bertele-tele. Argumen berkepanjangan yang tidak berguna, membuang waktu dan menguras tenaga, apalagi Melisa bukanlah tipe wanita yang penurut. Membuang napas panjang, Arkan beranjak menuju dapur, memeriksa isi kulkas, memasang celemek dan segera memasak.
Dan Melisa, gadis itu menatap Arkan dengan pandangan penuh cinta. Jika saja ini adalah kisah di dalam komik, balon-balon berbentuk love pasti sedang melayang, menari-nari di atas kepala Melisa.
"Kau sungguh tidak tahu diri, Arkan. Bagaimana aku rela untuk turun ke dapur demi mengisi perutku, sedangkan perutku ini selalu meronta ingin menikmati hidangan nikmat mu," gumamnya tersenyum kecil.
Begitu gesit, Arkan yang piawai menggunakan segala bentuk pisau dan perabot dapur, menyelesaikan aktivitas memasak dalam waktu yang singkat.
Tersenyum senang, wajah cerita gadis itu saat membabat habis hidangan yang telah dia olah, membuat Arkan merasa sangat di hargai. Berharap dapat langsung kembali ke kediamannya usai mengisi perut lapar Melisa, Arkan kembali di buat pusing dengan rengekan sang gadis.
"Temani aku mandi."
Sontak, kedua mata Arkan membulat, hampir melompat dan memantul ke lantai. Seringan bulu, Melisa memintanya untuk menemani dirinya mandi, hello!!! Arkan bukan sedang menjaga seorang bocah ingusan! tapi seorang gadis bohai nan seksoy melohai.
"Apa kau tidak pernah berkaca!," hardik Arkan.
Melisa menatapnya dengan polos"Berkaca? apakah ada sesuatu yang aneh di wajahku?."
Menarik pipi gadis itu, Arkan sungguh gemas"Kau bukan bocah kecil! mengapa meminta seorang pria menemanimu mandi?!, berhati-hatilah nona Melisa! cukup tadi saja kau mengucapkan permintaan tidak masuk akal itu. Lain kali, jangan sampai kau mengucapkan hal yang sama kepada pengawalmu yang lain."
"Heiii," pekik Melisa dengan wajah memerah. Wajah merona itu bukan karena malu, tapi karena sakit di pipinya, ulah tangan durjana Arkan yang menarik pipinya.
__ADS_1
"Sakit tau!," sentaknya menepis tangan pria itu.
Segera melepaskan tangan, Arkan menatap Melisa dengan tajam"Biarlah, agar kau sadar dengan perkataan mu!."
Di tatap seperti itu, Melisa malah membalas tatapan Arkan"Ohoii, kau berani mendelik begitu kepadaku? ku dengar kau terpaksa menerimaku karena di paksa oleh Jake. Jika kau tidak berani melawan perintahnya, bagaimana jika aku membujuknya untuk memintamu menikahiku!!."
Memejamkan kedua mata, mencoba mempertahankan kewarasan di dalam dirinya, Arkan kembali membuka mata sembari menarik napas dalam-dalam"Jake memohon, bukan memerintah. Kau beruntung karena aku bukan manusia kejam, sehingga permohonan abangmu tidak dapat aku acuhkan."
Melisa mendecih, bersedekap seolah-olah Arkan hanya mengada-ada"Cih! dasar lelaki! kau seperti tujang ojek sedang kejar setoran! menyalip dari kenyataan. Dari pada memintaku untuk berkaca, lebih baik kau saja yang berkaca. Agar kau melihat, di wajahmu hanya ada aku!, aku yang harus kau urusi dan kau jaga."
Mendengar hal itu, Arkan diam saja, menolak sorot mata Melisa yang mengejar pandangannya.
"Arkan....."
"Kau terlalu banyak menyoceh, seharusnya aku menambahkan banyak cabai pada hidangan tadi, agar kau kepedasan dan akhirnya diam."
"Hei!! apa kau tidak lelah berkilah, Arkan."
Baiklah, mungkin bukan sekarang saatnya. Melisa mengetepikan dahulu obrolan berat di antara mereka. Dirinya kembali kepada ajaran untuk mandi tadi, dan tetap saja Arkan menolak.
"Sebentar, aku hanya mengajakmu untuk mandi bersama, di kolam renang basement apartemen ini."
Terlihat, ujung mata Arkan bergetar, sepertinya ada sedikit salah paham di antara mereka.
"Maksudmu, berenang?."
Melisa mengangguk"Dan kau tidak mau, cih! kau sungguh pelit dengan waktumu,Arkan," memberengut, gadis itu melangkah ke dalam kamar, bersiap untuk turun ke kolam renang, meski tanpa Arkan.
Arkan terdiam, menepis pikiran aneh yang sempat singgah dalam pikirannya. Bukan hanya itu, sang otak bahkan sempat membayangkan dirinya benar-benar menemani Melisa mandi, di dalam kamar mandi tentunya. Ckckcckckkc!!!
__ADS_1
...🐝🐝🐝🐝...
Di kediaman pantai, Jena sedang menguras otak untuk melanjutkan naskahnya. Sedari tadi, sembari menopang dagu, ah! mengapa ide-ide cemerlang tak jua singgah dalam pikirannya.
Jika sedang kehabisan ide seperti sekarang ini, Jena akan membuka laman mbah gugel berselancar di internet mencari-cari ide menarik tentang dunia horor. Namun, kali ini Jena tak berniat melakukan hal itu. Pertama-tama, Jena mendatangi Gibran di beranda cafe, untuk mengorek jika saja dia memiliki pengalaman menakutkan seputar hantu yang bisa menjadi inspirasinya.
Pria itu sedang menyapa penggemarnya via siaran langsung pada laman akun media sosialnya. Jena tidak menyadari hal itu, dengan santainya berjalan menuju meja Gibran di depannya, membuat dirinya terlihat jelas pada layar ponsel sang adik. Sontak, tangkapan layar itu membuat para fans Gibran penasaran dengan sosok Jena.
"Bisakah kau membantuku," ujarnya seraya mengambil duduk pada kursi di depan Gibran.
Pria itu mengarahkan layar ponselnya tepat ke hadapan Jena"Lihat, aku sedang live."
Segera, Jena menepis ponsel Gibran. Ingin rasanya langsung mengomel kepadanya, namun teringat sang adik sedang siaran langsung, Jena pun menahan diri.
"Ya sudah, nanti saja," ujarnya berniat pergi.
Gibran tetaplah Gibran, bocah usil itu lantas mengerjai sang kakak"Oho, mereka mengenalimu kak," serunya sembari kembali mengarahkan layar ponselnya kepada Jena"Ayo! sapa mereka kak."
Mengulum bibir, dengan napas tertahan, Jena tersenyum kemudian berbalik pada layar ponsel Gibran"Hai," ujarnya begitu canggung.
Reaksi mereka saat Jena menyapa, sungguh tidak terduga. Melihat para penonton yang semakin bertambah, Gibran menarik Jena untuk duduk bersama"Lepaskan, bocah sialann!," bisik Jena masih tersenyum, namun senyum yang tidak lagi ramah.
"Kau ini, belajarnya menyapa para penggemar seperti ini," ujar Gibran juga tersenyum aneh menatap layar ponsel.
"Sialan! kau memaksaku melakukan hal yang tidak ku sukai!," di bawah sana, Jena mencubit paha sang adik, membuat wajah Gibran memerah menahan sakit. Wajah yang sangat menarik bagi Jena, merasa sudah puas memberikan pelajaran pada sang adik, Jena pun kembali menyapa"Iya, aku penulis Jenaira. Terimakasih sudah mencintai adik kesayanganku ini," ujarnya sembari membaca komentar para penonton.
Sungguh, perut Gibran terasa mual mendengar ungkapan cinta Jena terhadapnya. Namun, dirinya terus menebar senyum di depan layar ponselnya. Bagi para penggemar yang sedang menonton siaran langsung itu, pasangan adik kakak ini sangatlah akrab, apalagi dengan wajah cantik dan tampan itu, ah!! Jena dan Gibran sungguh membuat mereka senang melihat interaksi manis keduanya di depan layar ponsel.
Sementara di depan pintu masuk cafe, Khair tersenyum geli menyaksikan kemesraan palsu pasangan adik kakak itu.
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗