
...🥀Sepenggal kata yang di sebut cinta.......
...Meski telah di hapus,...
...Perasaan itu tak serta merta hilang dengan segera🥀...
...🌻🌻🌻🌻...
Keputusan Zafirah menyerahkan pilihan jodohnya kepada ayah tercinta, sebagai bentuk dari usahanya untuk segera melupakan pria yang bukan untuknya. Sebut saja Zafirah wanita yang terlampau dungu, demi menghapus jejak Agam dari hatinya, wanita itu dengan suka rela menyaksikan kemesraan dua insan halal itu.
Seperti hari ini, usai sholat zuhur mereka membagikan jajanan untuk para pengungsi. Terlihat pasangan Agam dan Jena sangat menikmati kebersamaan mereka, membagikan bingkisan jajan itu dengan wajah penuh cinta.
Juga sesaat setelah mereka menunaikan sholat zuhur di mushola kecil asrama MTQ itu, Agam dengan sabar menuntun Jena membaca surah Ar-rahman.
"Untuk apa kau berdiam diri di sini? menonton kemesraan mereka justru membuat hatimu terasa sakit," tegur Syabila. Gadis berwajah bulat itu segera mengajak Zafirah menuju aula, mempersiapkan segala kebutuhan sebelum membagikan bingkisan itu.
Terseok-seok Zafirah melangkah bersama Syabila"Kau ini, mengapa jadi galak sekali. Aku melakukan hal ini agar bisa melupakan Agam."
Syabila mendadak berbalik, membuat mereka saling bertabrakan"Awwwwhhh!!," pekik mereka bersamaan.
"Maaf," lirih Zafirah, melihat Syabila memegangi kening nya. Tinggi mereka hampir sama, dan saat bertabrakan kepala mereka saling berbenturan.
"Jangan meminta maaf padaku, minta maaflah pada dirimu sendiri, aku baru tahu ada seseorang gadis sepintar dirimu. Berusaha move on tapi dengan cara menyakiti hati sendiri," cerocosnya menyindir dengan nada gusar.
Bukannya membalas amarah Syabila, Zafirah lantas tersenyum manis padanya. Seketika wajah marah Syabila berubah sedang menahan tawa.
"Kau, hentikan tersenyum begitu," ujarnya menunjuk wajah sahabatnya begitu dekat.
"Jangan galak, kau sangat jelek ketika sedang marah," jari telunjuk itu di genggam erat oleh Zafirah, sembari melontarkan candaan kepada Syabila. Sikap nya membuat Syabila tak lagi bisa marah padanya, dengan cemberut dia merangkul pundak Zafirah dan berjalan beriringan bersama.
"Ck! aku sangat tidak bisa marah padamu, meski sikapmu sangat menyebalkan," terdengar helaan napas berat Syabila.
"Setidaknya, lekaslah menikah Zafirah. Kau gadis yang baik, aku yakin Allah pasti akan mengirimkan jodoh terbaik untukmu."
"Aamiin," seru Zafirah mengayunkan jemari yang bergenggaman dengan jari Syabila.
...🌹🌹🌹🌹...
Di pondok pesantren Al-jannah.
Kiyai Bahi tengah berbicara pada salah satu santri senior. Seorang pria soleh, tahun ini dia akan menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren itu.
Setelah mengetahui santri itu belum memiliki calon, tannpa basa-basi, Kiyai Bahi mengutarakan niat hatinya pada santri senior itu. Sempat ada keraguan pada wajah pria itu, namun tawaran menjadi menantu seorang Kiyai Bahi sungguh akan sangat membanggakan kedua orang tuanya.
"Setelah Zafirah kembali, aku akan mempertemukan kalian," ujar pria tua itu.
"Iya kiyai," sahut pria itu begitu pelan.
__ADS_1
Kembali ke tempat pengungsian.
Ucapan nenek gemul benar, seperti sulap air yang menggenangi kota itu perlahan turun, hanya dalam satu malam saja.
"Hujan memang turun, namun tidak selalu menambah tinggi air. Dia hanya sedang turun dan menggiring air hingga menuju muara lautan, dan sampailah air itu ke lautan yang luas," tuturnya pada sang cucu. Pria itu masih begitu setia menemani nenek manisnya.
"Baiklah, nenek memang sangat tahu dengan keadaan kota ini. Tapi, tetap saja nenek harus ikut bersamaku ke kota sebelah."
"Tidak! aku tidak mau," sentak sang nenek.
"Ayolah nek!! ayah selalu sibuk, setelah pulang dari kantor penerbit aku kerap sendirian di rumah," seperti anak kecil, pria itu merengek pada sang nenek.
"Hei, daripada mengajak nenek tua ini tinggal bersamamu, mengapa tidak lekas mencari istri saja? dia bisa mengurus mu dan menemanimu."
Wajah sang cucuk seketika sendu.
"Kenapa?? kenapa kau terlihat sedih? ah! nenek ingat, kau pernah bercerita tentang gadis cantik yang sangat kau sukai. Bagaimana? apa sekarang kau sudah dekat dengannya??."
Celotehan sang nenek membuat sang cucu semakin sedih"Gagal nek, dia sudah jadi milik orang."
Nenek gembul langsung memeluk tubuh tegap sang cucu"Uluh-uluh, cucuku yang tampan, jangan bersedih. Kau sangat baik, kau pasti akan segera bertemu gadis yang baik pula."
"Iya nek, semoga saja," ujarnya membalas pelukan sang nenek.
Manik mata sang nenek tersita pada rombongan relawan yang berjalan semakin dekat pada tempatnya"Ah, gadis itu. Dia gadis yang menggendongku dalam banjir. Betapa mulia hatinya, meski berlidah tajam tapi dia ambil bagian dalam kegiatan amal ini," tuturnya melerai pelukan mereka.
Dan....di antara relawan itu, seorang gadis yang selalu cantik dimatanya, ada bersama mereka.
"Jenaira,"lirihnya.
"Hah, apa kau mengenalnya?," tanya sang nenek.
Rio, cucu sang nenek adalah Rio. Dia mengangguk pada sang nenek. Wajah itu sempat terlihat ceria saat menatap Jena, namun kembali sendu saat bayang seorang Agam juga hadir bersama wanita itu.
Melihat gelagat Rio, sang nenek menjadi curiga"Apa gadis yang kau sukai adalah gadis itu."
Lagi-lagi Rio mengangguk.
Plak!! sang nenek menepuk lengan Rio"Tunggu apa lagi, segera bantu dia membagikan bingkisan itu, kau ini kenapa lamban sekali."
Rio menggelang pelan"Bagaimana aku begitu lancang membantunya nek, dia sudah bersuami, dan suaminya sedang melakukan tugas itu untuknya."
"Oh, yang mana suaminya?."
Rio tak sempat menjawab pertanyaan nenek, rombongan itu telah sampai di tempat nenek gembul, dan.... betapa terkejutnya Jena. Rio yang sempat menghilang kini berada di tempat ini.
"Rio, apa yang kau lakukan di sini?," tanyanya spontan.
__ADS_1
Nenek gembul segera memeluk lengan Rio"Dia cucuku, bagaimana? tampan bukan??."
"Oh... ternyata nenek gembul neneknya Rio," ujar Jena sembari mengangguk.
Agam membuang muka, juga Gibran, demi membuang pandangan dia tanpa sengaja menatap Syabila yang terlihat mencibir kepadanya. cih! Gibran jadi gemas ingin menarik ujung kerudung gadis itu.
"Nenek! jangan seperti itu. Lebih baik nenek meminta maaf kepadanya, sebab nenek sudah membuatnya menggendong nenek di tengah banjir."
Kedua bola mata Agam membuat"Oh, jadi nenek yang di gendong istri saya??," ada sebuah penekanan ketika menyebutkan kata istri, hal itu sengaja dia lakukan. Berhadapan dengan nenek dari pria yang sempat menggilai istrinya, juga si nenek jahil yang membuat lengan istrinya terasa sakit, ckckckckkc Agam harus menahan diri agar tidak mencubit pipi gembul sang nenek.
"Iya, aku nenek yang di gendong istrimu, kenapa? apa kau marah?," seperti menantang, sang nenek sama menyebalkannya dengan Rio, bagi Agam.
Agam menggelang"Tidak, justru saya mau berterimakasih terhadap nenek, berkat nenek istri saya jadi menyadari kesaktiannya, ternyata dia punya ilmu tenaga dalam."
"Hais, mulutmu sama lemesnya dengan mulut istrimu," ketus nenek Gembul, bibir wanita itu sampai manyun menatap Agam.
"Hupfff!!," Yasir menahan tawa.
Jena mencubit lengan Agam. Segera Agam menarik tangan Jena yang mencubitnya, menggenggam erat jemarinya dengan sangat nyata di hadapan Rio.
Agam mengambil bingkisan yang di bawa Yasir"Ini nek bingkisan buat nenek, semoga suka ya," ujarnya memberikan dua bingkisan.
"Kenapa di kasih dua?," tanya nenek itu.
Agam melirik kepada Rio, ada raut kepuasan pada wajah pria berlesung pipi itu"Buat cucu nenek yang tampan ini."
Ah, si nenek langsung tertawa. Hatinya berbunga-bunga sebab Agam juga memuji ketampanan cucunya"Matamu normal nak, kau dapat melihat dengan jelas ketampanan cucuku. Terimakasih bingkisannya ya, nenek senang sekali."
Rio menatap pahit pada Agam, kurang ajar! songong sekali bocah ini.
"Selamat menikmati nek, kami permisi, Rio," ujar Jena sembari tersenyum. Demi apa, Agam masih menggenggam erat jemarinya meski mereka hendak berlalu dari tempat itu.
Sesaat hendak berlalu, Agam berbalik mendekati nenek gembul dan Rio.
Melepas kacamata baca yang selalu dia kenakan"Nenek, jawab jujur ya, cakep saya apa cakep cucu nenek??," pria itu sengaja tertawa memamerkan sepasang lesung pipinya di hadapan nenek gembul. Terlihat wajah nenek gembul sempat meragu menatap Rio....
"Karena kau memberi dua bingkisan, kali ini kau yang lebih cakep dari cucuku," ujarnya tertawa nakal.
"Yes!!!," seru Agam.
Bagaimana dengan Rio?? pria itu melenguh kesal menatap ubin-ubin di bawah saja. Hanya karena bingkisan, sang nenek rela mengakui ketampanan Agam di banding dirinya.
To be continued.....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1