Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Saylendra


__ADS_3

Sekian lama hidup seatap dengan ibu dan ayah sambung, meksi berada dalam rumah yang mewah, Enda tidak merasa bahagia barang sedikit pun. Jika di timbang-timbang, kehidupan yang sekarang tengah ia jalani, memang jauh berbeda dengan hidupannya dahulu.


Jika di kediaman Andara dan Frans, akan ada pelayan yang selalu sigap melayani Enda. Baik itu hal besar, atau hal kecil sekali pun. Alih-alih di rawat langsung oleh sang ibu, nyatanya Enda lebih banyak menghabiskan waktu bersama para pelayan.


Namun, katakanlah ketika dirinya telah di buang, di kembalikan kepada sang ayah, jalan kehidupan itu sangat berbanding terbalik. Enda yang tidak lagi mendapatkan pelayanan bak seorang raja, harus terbiasa mandiri, tanpa bantuan orang lain. Hal itu bukan secara mendadak harus dia jalani, Khair dengan perlahan mengajarkan pola hidup mandiri kepada sang putra.


Sejak saat itu, Enda tumbuh menjadi bocah yang pintar menjaga diri. Dan sejak menjadi cucu seoang Kiyai Bahi, Enda lebih banyak menginap di tempat sang kakek, alih-alih tinggal bersama ayah dan umma.


"Ayah sudah bilang, petang ini akan mengajak kita ke taman hiburan."


"Umma pergilah, temani ayah."


"Kenapa hanya umma yang menemani ayah? jangan bilang kau masih ingin menginap di sini," Zafirah duduk berjongkok menghadapi sang putra, yang masih betah memainkan pesawat kayu buatan Yahya.


Bocah itu terlihat mengangguk, namun tidak berani beradu pandang dengan sang umma.


"Lagi? menginap di sini lagi?," ulang Zafirah.


Kali ini, mata bocah itu melengkung, seperti bulan sabit. Dia tersenyum dengan alis turun naik, bertingkah menggemaskan di hadapan Zafirah.


Zafirah mengambil duduk di samping Enda"Katakan, apa yang membuatmu betah di sini? apakah masakan kak Syabila dan yang lainnya lebih enak dari masakan ayah?."


"Tidak juga, biasa saja," sahut sang bocah.


"Hemmm, apa karena di sini banyak teman? tapi yang umma tahu di sini hanya engkau yang paling kecil."


"Karena itulah umma, Enda senang bergabung bersama abang-abang santri putra, memanjat pohon kelapa, memanen ubi, memancing ikan, main bola, Enda suka bermain dengan mereka."


"Tapi kau juga bisa bermain bersama ayah, juga umma."


Enda menggeleng"No!! bermain bersama abang-abang di sini lebih seru."


Wanita itu menghela napas, sepertinya keinginan Enda tidak bisa di tawar lagi.


"Ah! satu lagi," Enda berseru.

__ADS_1


"Kamar kakek wangi sekali, rasanya Enda ingin langsung tidur jika masuk ke kamar kakek."


Yah!! aroma di kamar Kiyai Bahi memang tidak di ragukan lagi. Orang tua itu memang suka dengan wangi-wangian. Dia khusus memesan aroma khas dari timur tengah, untuk di letakan di dalam kamarnya. Bukan hanya Enda yang menyukai aroma itu, Zafirah pun menyukainya.


"Umma bisa meminta wewangian itu kepada kakek, nanti kita letakan di kamar Enda."


"Umma maaf," lirih Enda. Malam ini saja, Enda masih ingin di sini. Besok pagi bang Yahya bisa mengantarkan Enda kembali ke rumah kita, seperti tadi pagi."


Mengusap lembut pucuk kepala Enda"Tapi nak, kau akan merepotkan bang Yahya, kau pun tahu dia juga banyak kegiatan di sini. Sebagai ketua asrama, dia bertugas mengawasi kedisiplinan abang-abang santri putra di asrama."


"Ada Abang Ahim, abang Dullah, abang-abang senior yang lainnya juga banyak, umma."


Hahaha, bernegosiasi dengan Enda cukup sulit ternyata. Diam-diam bocah ini cukup keras kepala, dan Zafirah langsung kehabisan akal saat Enda berucap"Paman supir turun ke kota setiap pagi, untuk menjemput Ustadz Alif yang mengisi kuliah subuh di masjid kota, Enda bisa di antar pulang dengan bus itu kan umma?."


Rupa-rupanya, Kiyai Bahi menyimak obrolan sang putri bersama sang cucu, dan sejak tadi pula Kiyai Bahi menahan tawa, mendengar semua jawaban Enda yang enggan di ajak pulang.


Seulas senyum dia tampilkan saat Zafirah mendapatinya muncul dari dalam rumah"Abi, bagaimana ini?? Enda tidak ingin pulang lagi."


"Bagus, sekalian saja kita masukan dia ke pondok pesantren ini."


Ups!! Kiyai Bahi hanya asal bicara, namun sang cucu menanggapinya dengan serius.


"Abi....," rengek Zafirah. Sementara Kiyai Bahi hanya terkekeh.


Pria tua itu pun mengambil duduk di samping Enda, dengan bersila"Enda cucuku, kau masih sangat kecil untuk menjadi santri."


"Kenapa?," tanya nya.


"Begini, orang yang mondok itu harus tinggal di asrama, mengikuti semua kegiatan yang sudah di jadwalkan, dan jika tidak melaksanakan tugas tanpa alasan yang jelas, akan di hukum."


"Hukumannya apa?."


"Bisa memacul, membersihkan rumput di lapangan, menghafal surah, berendam di kolam ikan, hemmmm, masih banyak lagi" jemari Kiyai Bahi melekat di bawah dagunya, sedang berpikir.


"Ah! hukuman seperti itu Enda tidak takut," seloro Enda begitu yakin.

__ADS_1


Lagi-lagi, Zafirah di buat kehabisan kata-kata. Celotehan bocah ini juga membuat Kiyai Bahi menggaruk kepala, yang jelas tidak terasa gatal.


"Abi sih," gerutu Zafirah pada sang ayah.


"Jangan galak sama kakek umma, tidak baik," ujarnya membela sang kakek.


Hati Zafirah rasanya tergelitik, ingin tertawa. Tapi dia harus menahan diri, sebab Enda terlihat serius ingin mondok di tempat itu.


Lelah membujuk Enda namun tiada hasil, Zafirah dan Kiyai Bahi pun akhirnya menyerah.


"Ya sudah, Enda boleh kok menginap di sini lagi. Tapi masalah memondok, nanti saja ya."


Enda menatap sang kakek lekat-lekat"Kenapa nanti? kenapa tidak sekarang saja?."


"Selesaikan dahulu sekolah dasar mu, jika sudah lulus SD, kakek akan menerima mu jika memang ingin menjadi santri di sini," ujarnya menjelaskan, sembari mengusap pucuk kepala Enda. Betapa lembutnya Kiyai Bahi, hingga kerap mengusap pucuk kepala Enda namun tidak membuat bocah itu protes, takut rambutnya menjadi berantakan. Jika Khair yang melakukan hal itu, tak jarang membuat Enda menyisir kembali rambutnya dengan jemari kecilnya.


Sudah di putuskan, Enda akan kembali menginap di kediaman Kiyai Bahi. Begitu senang hati Enda saat itu, awalnya dirinya sempat ragu untuk meminta izin kepada Zafirah.


"Bang Yahya, mau kemana??," teriak Enda saat melihat Yahya menuruni kelas santri putra, di ujung lapangan.


"Petik sayur di kebun," sahut Yahya.


"Ikuuutttt," bocah itu segera menarik lengan Zafirah, mencium punggung tangannya, dia juga menarik tangan sang kakek dan mencium punggung tangannya"Enda pergi sama abang ya umma? ya kakek?, umma hati hati di jalan. Assalamualaikum," ujarnya segera berlari kecil, menyongsong Yahya yang sedang menunggu di ujung lapangan.


Menggelengkan kepala, Kiyai Bahi tertawa melihat kaki kecil Enda berlarian. Dan tawanya semakin menjadi setelah melihat wajah pasrah Zafirah.


"Abi, dia masih kecil kenapa bertingkah seperti orang dewasa."


"Keadaan mendewasakan dirinya. Tapi syukurlah, semoga saja dia tumbuh menjadi pria yang baik kelak."


"Aamiin," ucap Zafirah.


Akhirnya, wanita itu pulang tanpa Enda. Berbeda dengan Zafirah yang nampak sedih, Khair justru bersyukur di dalam hati"Bagus Enda, kau memang putra ayah. Kau sangat pengertian terhadap ayah dan umma," gumam Khair tersenyum nakal.


To be continued....

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2