
Meniti karir yang semula hanyalah sekedar memenuhi keinginan sutradara Han, nyatanya sekarang Gibran mulai menikmati rutinitas sebagai artis, tanpa paksaan sedikit pun. Entah hanya karena kewajiban, atau memang karena menyukai pekerjaan ini, Gibran terus menerima tawaran iklan yang berdatangan. Dan Angga, pria yang menjadi rekan kerja dadakan ini mulai mengambil langkah mundur.
"Ayolah, aku sudah nyaman bekerja denganmu!."
Angga meletakan kopi milik Gibran di atas meja, tepat di samping sahabatnya itu sedang duduk. Di depan mereka para staff sedang melakukan tugas mereka, mempersiapkan peralatan syuting yang akan mereka jalani hari ini.
Meraih sebuah produk susu whey protein"Ini bukan duniaku, Gibran. Aku lebih nyaman menjaga konter kita, alih-alih bekerja di dunia hiburan seperti ini," ujarnya menjawab tanpa menatap langsung kepada Gibran, nampaknya membaca kemasan itu lebih menarik dari pada menatap wajah sahabatnya.
Merasa di abaikan, Gibran merebut kemasan tersebut dari tangan Angga"Aku bisa memberikan banyak produk ini kepadamu, setidaknya lihat wajahku ketika berbicara."
Angga melipat kedua tangan di dada"Seandainya kau wanita, hal itu sudah ku lakukan dari dahulu."
"Aish!! kau ini," meletakan benda itu di atas mejanya, Gibran kembali menghenyakkan diri pada kursi yang dia duduki"Jika ini masalah wanita, kau bisa memilih salah satu dari mereka," matanya mendelik pada sekumpulan staff wanita di sudut lain, beberapa kali Gibran mendengar mereka membicarakan Angga hari ini.
"Dengan senang hati aku akan menerima pemberian mu," senyuman seorang Angga mengembang, membuat kedua matanya membentuk seperti bulan sabit"Tapi aku tidak berniat mendekati mereka. Aku hanya ingin menjalani kehidupan seperti dahulu, Gibran."
Menekuk kedua kaki pada kursi santainya, Gibran juga meletakan salah satu lengannya sebagai penopang kepalanya, dia kini menatap Angga yang masih berdiri di sampingnya"Apa kau lupa, aku di paksa sutradara Han untuk menjadi artis, dan aku selalu menolak hal itu. Namun setelah aku terjun ke dalam dunia ini, ternyata aku menyukainya."
"Itu kau, aku tidak begitu."
"Ck! ini hanya masalah waktu. Lagipula kau bukan sebagai pemeran utama di sini, kau hanya menjadi manager ku, oh tidak! akan lebih nyaman jika jabatan itu di tiadakan. Kau hanyalah seorang sahabat yang akan selalu mengurusi setiap hal bersamaku di dunia hiburan ini."
"Tidak!," Angga tetap pada pendiriannya.
"Kau juga akan selalu mendapat apa yang aku dapat, selain penghasilan lebih banyak dari menjaga konter, kau juga akan mendapatkan semua produk yang ku iklankan."
Angga melirik para staff yang memberi aba-aba bahwa semua telah siap"Tidak perlu! lepaskan jaketmu itu! sekarang kau bekerjalah, giliran aku yang akan duduk di kursi ini."
Baiklah, kali ini Gibran tak ingin melanjutkan bujuk rayu agar Angga bersedia menjadi rekan secara sah. Tapi lihat saja, dia tidak akan melepaskan Angga begitu saja"Oke," tukasnya sembari melepaskan jaket besar yang menutupi tubuhnya.
Sungguh, tubuh berotot Gibran membuatnya semakin pantas menjadi bintang iklan produk yang satu ini. Dan sebelum memulai syuting, tubuh kekarnya harus di olesi oil, owh!!! seorang staff wanita dengan suka rela maju untuk melakukan tugas tersebut.
__ADS_1
Sementara Angga, menatap interaksi mereka dengan seksama, tidak di sangka sahabat tengilnya menjadi idola dari banyak wanita. Selain berwajah tampan, tubuh bagusnya juga menjadi daya tarik dari seorang Gibran. Tiba-tiba Angga kembali meraih kemasan produk protein fitness tersebut, dan secara spontan tangannya memegangi area perut. Yah!! bukan hanya Gibran yang punya tubuh bagus, dirinya pun sama. Hanya saja dia sangat jarang memperlihatkan otot-otot di tubuhnya, terlebih otot bagian perut yang selalu bersembunyi di balik kaus longgarnya.
...🍒🍒🍒🍒...
...#Flashback#...
Agam berbalik dengan tangan menggenggam erat jemari sang istri. Berniat menyerahkan kado yang akan di berikan Jena untuk sasa, yang tertinggal di dalam mobil, Agam justru mendengar ocehan tidak berguna dari teman-teman semasa sekolah sang istri. Apalagi menyangkut Dewa, hatinya langsung memanas saat itu juga, semua sudah lama berlalu namun Dewa masih menjadi bayang-bayang yang di jadikan senjata untuk menyerang Jena.
Dan, rasa kesal itu semakin menjadi saat sosok Dewa mematung di muara pintu. Rahang Agam seketika mengeras, semula sorot mata Dewa menatap istrinya, namun dengan langkah kecil Agam melindungi Jena hingga akhirnya tatapan mata mereka yang bertemu.
"Bocah, begitukah cara menyapa orang yang lebih tua."
Agam tersenyum sarkas"Bocah? itu berarti aku lebih muda dan jelas lebih menarik dari pada kau."
Enggan meladeni Agam, Dewa melangkah mendekati Jena. Namun dengan sigap Agam kembali menghalangi"Dan seorang yang tua bangka ini sangat tidak sopan! mendekati wanita milik orang lain tanpa rasa malu."
Jena meremat erat jemari Agam, hawa panas itu mulai terasa dan Jena tak ingin Agam berkelahi"Ayo mas, kita segera pulang."
Emosi di hati Dewa memuncak karena ocehan Agam, dan semakin menjadi setelah mendengar Jena memanggil Agam dengan sebutan mas! owh!! seperti itu juga dia memanggil dirinya dahulu.
Agam hendak kembali melindungi sosok Jena dari Dewa di sebalik tubuhnya, namun Jena dengan yakin menahan tindakan Agam"Maaf Dewa, sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan."
"Dewa? hanya Dewa?."
"Lantas? kau ingin di sebut apa?."
"Meksi hubungan kita telah hancur, aku sangat ingin kau masih memanggilku dengan sebutan mas, mas Dewa."
Ya Allah, Agam rasanya ingin muntah. Wajah Dewa saat berbicara dengan Jena, sungguh menggelikan"Semua sudah hancur, maka dari itu jangan berharap semuanya masih tersisa."
"Diam kau, bocah!," hardik Dewa pada Agam.
__ADS_1
"Cukup!," sentak Jena.
"Dewa, kau adalah masa lalu, jalan hidupku akan berantakan jika terus menatap ke belakang. Dan kau harus tahu, hidup mu pun akan terus hancur jika masih menatap biduk rumah tangga kita yang telah hancur!."
"Bahkan puing-puing itu masih sangat berarti untuk ku, Jenaira," sahut Dewa, mencoba melangkah lebih dekat dengan Jena.
Sudah cukup Agam memberikan waktu dan ruang untuk mereka berbicara, pria itu tetap menggenggam erat jemari sang istri di belakang tubuhnya, sementara tangan yang lain menarik kerah baju yang di kenakan Dewa.
Hal itu membuat Jena panik, beruntung Joy yang sedari tadi masih memperhatikan mereka di muara pintu segera menghampiri"Dewa! sadarkan dirimu!."
"Aku tidak gila! aku sangat sadar, Joy!," ujarnya mentap Joy dengan mata memerah.
"Kau melakukan hal gila dalam kesadaran! ini bisa di laporkan ke pihak kepolisian!!," seru Joy lagi.
Kepolisian!! akh! Dewa sangat membenci hal itu.
"Bro! lepaskan, semua bisa di bicarakan baik-baik. Ingat! Jena sedang mengandung," ujar Joy kepada Agam. Sontak ucapan Joy membuat Agam melepaskan cengkraman di kerah baju Dewa.
"Ash!! kau beruntung ada yang menengahi kita," geram Agam menatap tajam pada Dewa.
"Jena hamil?," lirih Dewa di sela-sela mengatur napas.
"Ya, dan ku harap kau menyerahlah. Jalan hidupmu masih panjang Dewa, masih banyak wanita baik yang bersedia mencintaimu."
Dewa memegangi kepalanya, pria itu berjongkok, ucapan Jena membuat hatinya sangat terluka.
"Sudahlah, Dewa. Jena sudah bahagia, dia juga sedang mengandung. Sikapmu justru akan membahayakan dirinya. Jika kau memang benar mencintainya seharusnya kau bahagia melihatnya bahagia."
"Semua tidak semudah itu, Joy," ucapnya lirih"Aku sudah berusaha, tapi aku tidak bisa."
Berhadapan dengan Dewa memang sangat menyulitkan, Agam segera membawa Jena pergi dari hadapan pria itu.
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗