
Suara pecahan piring memanggil Jelita untuk segera ke dapur, nampak Tiara sedang berjongkok hendak membersihkan kekacauan tersebut.
"Tiara, apa yang kau lakukan??!", tukas Jelita segera membawa Tiara untuk duduk di kursi.
Pelayan tergopoh-gopoh menyusul Jelita menuju dapur, dan betapa terkejutnya si mbok itu, piring mahal milik majikannya telah hancur tercerai-berai di ubin.
"Maaf bu, aku tidak sengaja menjatuhkan piring itu".
Jelita mengedarkan pandangan, sepertinya Tiara sedang mencuci piring sebelum kejadian itu terjadi.
"Kau mencuci piring?".
Wajah cantik itu tertekuk"Iya, baru selesai makan. Dan kulihat cucian piring kita menumpuk banyak".
"Apa kau lupa? di rumah ini ada pelayan. Kau tidak di haruskan mencuci piring. Lagi pula, kau yg belum sembuh total, sebaiknya perbanyak waktu istirahat saja.
"Iya non, kan ada saya", cicit si mbok.Hatinya gundah gulana, apakah sang nyonya besar akan menyalahkan dirinya atas keteledoran Tiara mencuci piring. Juga, dalam rangka apa nona muda ini mencuci piring, sejak kedatangannya ke kediaman ini si mbok hampir tidak pernah melihatnya melakukan hal itu.
Tiara memasang wajah sendu"Aku hanya ingin sedikit membantu bu, ku lihat si mbok sedang sibuk bersama ibu di taman. Karena sedang senggang ku pikir tidak ada salahnya membantu mencuci piring-piring kotor itu".
"Tapi kau justru menambah pekerjaan si mbok!", ucap Jelita tegas.
Menantu itu kembali menundukan wajah, Jelita jadi tidak sampai hati untuk melanjutkan omelannya"Sudahlah, antar nona Tiara kembali ke kamar mbok", titahnya kepada si mbok.
Tiara masih mengucap maaf di sela langkahnya menuju lantai atas, juga kepada si mbok. Sikap wanita itu benar-benar berubah akhir-akhir ini. Tidak ada lagi Tiara yang keras kepala, Tiara yang kerap bermanja kepada Jelita, juga Tiara yang gemar bersikap semena-mena kepada para pelayan di rumah itu.
Di saat Jelita memantapkan hati melepas Tiara, saat itu pula wanita itu bersikap baik dan manis di depannya. Juga di hadapan semua orang di kediaman itu. Harapan yang pernah karam, perlahan muncul kembali. Niat awal yang ingin menendang Tiara dari kehidupan putranya perlahan terkikis oleh sikap manis Tiara.
Sungguh, Bagas sangat menyayangkan sikap Jelita yang perlahan melunak terhadap Tiara.
"Kau akan kembali kecewa Jelita, tidak seharusnya wanita seperti itu tetap menjadi menantu kita", ujarnya saat mereka mengobrol menjelang tidur.
__ADS_1
"Mas, Tuhan saja maha pengampun, apalagi kita yang hanya manusia biasa ini. Tiara benar-benar berubah, sikap dan kelakuannya bukan seperti Tiara yang dahulu. Ayolah mas, mari kita berikan kesempatan kedua untuknya. Ingat kata dokter, Tiara masih bisa hamil lagi".
Perkataan Jelita membuat kepala Bagas berdenyut hebat. Alih-alih menarik selimut dan pergi tidur, pria tua itu memilih meninggalkan Jelita yang cemberut, memandang punggung yang perlahan menghilang di balik daun pintu.
"Dasar lelaki tua keras kepala, kau sungguh tidak bisa berbesar hati. Memaafkan seseorang bukanlah suatu kerugian bukan!!", gerutu Jelita kesal.
Mendudukan diri di ruang tamu, Bagas memandang jam besar di tengah rumah itu sembari mengusap pelipisnya. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, namun putra semata wayangnya belum juga kembali dari kantor.
"Kau di mana Dewa?", tanyanya melalui panggilan telepon.
"Aku___, aku di rumah ayah", sahut Dewa, terdengar lambat dan lemah, Bagas tidak yakin Dewa benar-benar telah berada di rumah.
"Apa kau benar-benar sudah di rumah, ayah sedang di ruang tamu. Apa kau mau menemani ayah untuk mengobrol?".
Suara di ujung telepon terdengar gaduh, hentakan musik tiba-tiba memekak kan telinga.
"Dewa, kau sebenarnya ada di mana??", tanya Bagas lagi.
"Ck! kau mabuk Dewa", ucap Bagas lirih.
"A~~ benarkah ayah", tanya Dewa seperti orang dungu"Baiklah, aku akan mabuk dulu ayah~, bye bye ayaaa~~~ahh", panggilan itu terputus.
Bukan mengamuk, bukan pula menangis, sebuah bentuk kekecewaan terbesarnya hanyalah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan kasar. Sejatinya kebahagiaan benar-benar telah sirna dari kehidupan keluarganya. Dahulu, saat Jena masuk dalam keluarga mereka, wajah-wajah penghuni kediaman itu kerap tersenyum dan tertawa. Bahkan sikap Jelita sangat berbanding terbalik dengan Jelita yang sekarang ini, semua perlahan menghilang saat Tiara kerap datang mengunjungi Jena. Menghasut Jelita hingga membangun jarak di antara Jena dan Jelita. Kebahagiaan semakin menghilang dengan sempurna saat Tiara menggantikan posis Jena, sungguh, Bagas tidak menyangka berganti menantu justru memangkas tawa dari kediaman mereka.
"Jenaira, apa kau baik-baik saja sekarang nak", Bagas berkata lirih mengingat Jena.
Dentuman musik mengalun kuat menemani Dewa, pria itu menenggak minuman beralkohol tak henti-henti. Pikirannya melayang bak layang-layang, terombang-ambing di langit kelabu yang di guyur hujan badai.
"Jena~~~~", terus memanggil nama itu, bahkan saat matanya terasa sangat berat pun, mulutnya masih memanggil nama wanita itu.
Kembali menenggak minuman"Jenaira~~~~, kau sungguh tak kan terganti".
__ADS_1
"Jenaira~~~~", teriaknya sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
Tubuh tegap itu tiba-tiba terjerembab di meja, miring ke arah kiri, bayangan Jena sangat nyata sedang duduk di sampingnya saat itu.
Seketika tangannya melepaskan gelas, menjatuhkan ke lantai hingga pecah, tangan itu menangkap lengan wanita di sampingnya"Jena sayang, kau menyusulku ke sini??".
Wanita itu terlihat risih"Hei! kau salah orang".
"Jena maafkan aku", sepasang mata tajam Dewa mulai memerah, genangan air nampak siap mengalir dari dalam sana.
Mengguncang lengan sang wanita"Aku sungguh menyesali perbuatanku,!!! aku mohon maafkan aku Jena. Segera, saat Tiara sudah sembuh total aku akan segera menceraikannya. Kau tahu, bahkan ibu sudah tidak ingin mempertahankan Tiara".
"Pengganggu dalam rumah tangga kita akan di singkirkan, kita akan kembali bahagia Jena", cerocosnya tak kunjung berhenti.
Wanita itu berusaha melepaskan diri dari Dewa. Cengkeraman yang kuat, hingga wanita itu meminta bantuan orang lain agar menjauhkan Dewa darinya"Tolong aku! pria dungu ini salah mengenali orang".
Musik perlahan mereda, orang-orang mulai mengerumuni Dewa yang mabuk. Membantu sang wanita lepas dari Dewa, sungguh sangat sulit sekali.
"Dewa!! wanita ini bukan Jena", seorang pria yang mengenalinya mencoba membantu.
"Kau buta? jelas-jelas dia adalah Jenaku!".
"Bukan! kau mabuk Dewa. Kau tidak sadarkan diri" Rio, yang juga sedang berada di club itu berusaha melepas cengkeraman Dewa dari sang wanita. Butuh kesabaran membuka jemari-jemari Dewa hingga sang wanita terbebas, otot-otot Rio saat melepaskan jemari Dewa menyita perhatian orang-orang di sana.
"Waw, tubuhnya sangat atletis, lihatlah! betapa nyamannya jika menyandarkan diri di pundak pria itu", pekik wanita lain yang sedang menonton kejadian itu.
"Ya! lihatlah otot di lengannya!!", pekik wanita lainnya.
To be continued....
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗