
Rasa tidak nyaman itu sungguh mengganggu. Meksi Zafirah perlahan kembali bersikap lembut, Khair tetap saja merasa tidak enak hati, karena munculnya Andara.
Begitu pula dengan Jena, meski senyum hangat seorang Agam selalu mengawali hari-hari nya, dirinya ingin memberikan sebuah kejutan yang bisa membuat Agam percaya, bahwa Jena telah benar-benar yakin akan cintanya.
Awalnya, Khair mengutarakan niat hati untuk memberikan kejutan kepada Zafirah. Dia berdiskusi terlebih dahulu kepada Agam, dan bos sekaligus sahabatnya itu menyarankan untuk mengajak Zafirah mencari hiburan terlebih dahulu.
"Hiburan? apa aku harus membawanya ke taman hiburan?."
Agam menatap dengan kedua mata berkedip cepat"Ku pikir, tempat itu memang cocok dengan Zafirah. Sebenarnya, dia gadis yang masih kekanak-kanakan."
"Seolah kau sangat mengenal istriku," liriknya.
"Memang, apa dia tidak pernah bercerita, bahwa kami tumbuh besar bersama?."
Khair mengangguk-angguk, dia baru tahu akan hal itu. Baiklah, karena Agam sangat tahu dengan pribadi sang istri, dia pun segera meminta pendapat tentang hal apa yang di sukai Zafirah.
Agam tersenyum, ketika Khair menanyakan hal itu. Dari senyuman itu, khair sudah tahu sang sahabat ini sangat bisa di andalkan.
Mengingat taman hiburan, Agam jadi teringat dengan sang istri. Dia pun meminta izin untuk bergabung bersama Khair dan Zafirah, dan tentu saja Khair sangat menyambut mereka berdua.
Saat sore menjelang, Khair di perbolehkan pulang lebih awal oleh Agam. Sedangkan Gibran, mengerutkan kening saat melihat Khair memacu motornya, meninggalkan cafe.
"Hendak kemana dia?."
"Tentu saja pulang."
"Hei, cafe belum tutup. Kenapa koki itu sudah pulang? bagaimana jika ada yang ingin memesan makanan ringan??."
Agam menyerahkan celemek yang semula di kenakan Khair kepada Gibran.
"Ayolah, hari ini aku memang tidak memiliki jadwal, aku ingin berleha-leha alih-alih menggantikan Khair di dapur," pria itu mengibaskan tangan di dada, menolak celemek yang di sodorkan Agam kepadanya.
"Kenapa tidak kau saja? masakanmu lebih sedap dari masakanku," lanjutnya berbicara dengan sedikit senyuman, berharap Agam akan melunak.
__ADS_1
"Aku juga akan pergi."
Oh tidak! jawaban Agam membuat bibir bawah Gibran sontak memaju. Kedua alis pria itu menukik turun"Aku sedang liburan, tapi kalian justru membuatku bekerja!!."
"Bang Gibran, hidangan yang kau buat juga nikmat. Apalagi jika para pelanggan tahu bahwa kau yang menjadi koki sore ini, aku yakin pelanggan kita pasti akan semakin banyak."
Ocehan seorang pekerja, menambah keyakinan Agam untuk menyerahkan urusan dapur cafe kepada Gibran. Sementara Agam tersenyum dengan kedua alis turun naik, Gibran melengos kesal, mau tidak mau harus bekerja di hari liburnya.
Berhasil membujuk Gibran, Agam segera memberi kabar kepada Jena, sebentar lagi dia akan menjemput sang istri yang sedang berada di kantor penerbit.
"Apa urusanmu sudah selesai?," tanya Agam di ujung telepon.
"Tinggal menyetujui pergantian covernya saja, kenapa?."
"Jalan-jalan ke taman hiburan, bersama Zafirah dan Khair, apa kau mau?."
Jena sontak tersenyum lebar"Tentu saja!! lekas jemput aku."
Jena tidak lagi di kenal sebagai penulis yang dingin, juga cerewet. Setelah menjadi istri dari seorang Agam, Jena lebih banyak tersenyum. Dirinya bahkan tak segan-segan untuk menyapa lebih dahulu para staff kantor, tidak seperti dirinya yang dahulu, terkesan sombong.
"Kau terlihat bergegas, apa ada masalah?," Salman, yang sedang menyeduh kopi di pantry bertemu Jena. Dari langkah cepat dan besarnya, Salman dapat memastikan bahwa wanita itu sedang di kejar waktu.
"Tidak juga om, aku hanya akan singgah ke perpustakaan sebelum mas Agam menjemput. Ada beberapa buku yang ingin ku bawa pulang."
"Boleh?," ujarnya lagi, setelah melihat Salman seperti sedang berpikir.
Seulas senyuman terukir di wajah Salman"Tentu saja boleh. Tapi....ku dengar kau sedang hamil, alangkah baiknya jika kau berjalan dengan pelan. Juga..," Salman menurunkan pandangan, ternyata atensinya tersita pada sepatu bertumit tinggi yang di pakai Jena.
"Mulailah memakai sepatu dengan hak datar."
Jena tersenyum kecil, baru menyadari kebenaran dari perkataan Salman"Oh, baiklah paman. Seingatku di mobil mas Agam ada sepatu kets, aku akan menggantinya saat dia datang nanti."
Dua jempol pria itu terangkat naik"Bagus! baik-baiklah menjaga calon cucu ku."
__ADS_1
Jena semakin tertawa, dengan sedikit memiringkan kepala.
"Oh!! tidak terasa sebentar lagi aku akan memiliki cucu keponakan," Salman juga nampak tertawa.
"Katakan Jena, apakah aku sudah cukup tua untuk di panggil kakek?."
Jena lantas menggelengkan kepala"Tidak, om selalu terlihat muda."
Salman tak kuasa menahan gelak tawa. Pria itu pun akhirnya terkekeh sembari menunjuk-nunjuk Jena"Kau ini, sekarang sudah pandai bercanda."
Lagi-lagi ucapan Salman di benarkan oleh Jena dalam hati. Dia sendiri pun merasakan, bahwa hatinya yang sempat muram kini cerita kembali. Dirinya yang sempat berteman akrab dengan sepi kini begitu enggan jika sendiri. Rasanya, akan lebih menyenangkan jika berkumpul dan bercanda bersama dengan orang terdekat.
Usai berbincang sejenak bersama Salman, Jena melanjutkan langkah menuju perpustakaan.
Jena yang sangat menyukai buku, merasakan ketenangan saat masuk ke dalam perpustakaan. Seperti biasa, aroma buku-buku itu membuatnya betah berlama-lama di dalam perpustakaan. Rak demi rak dia jelajahi, tanpa tersadar bahwa sang waktu telah banyak terlewati.
Agam sudah sampai beberapa waktu yang lalu, pria itu langsung masuk ke perusahaan dan menanyakan keberadaan Jena, pada orang-orang di sana. Mengingat sang istri sedang rapat dengan beberapa rekan kerjanya, Agam tidak melakukan panggilan telepon. Padahal Jena telah usai dengan pekerjaan nya.
Entah, kecantikan jenis apa yang Jena miliki. Sedikit sinar yang masuk pada dinding kaca bangunan itu, membingkai sosok cantiknya yang semakin terlihat menarik di mata Agam. Pria itu mengeluarkan ponsel, dan mengambil gambar sang istri yang sedang sibuk di ujung rak sana, membaca sampul belakang buku-buku yang dia pilih.
Suara jepretan kamera ponsel sang suami, memecah kesunyian di ruangan itu. Sontak Jena menoleh ke arah suara, dan wanita itu tersenyum saat melihat Agam di ujung sana.
Bukan hanya mereka berdua yang ada di sana, masih ada beberapa orang yang sedang menghabiskan waktu di tempat itu. Tapi, Jena seolah melupakan hal itu, dia melangkah dengan pasti menuju prianya"Sayang, ternyata kau sudah datang," tangannya melingkar di pinggangnya Agam, dengan wajah sedikit mendongak.
Dua bola mata nan cantik itu menatap Agam lekat, karena terbawa suasana, hampir saja Agam menyambar bibir ranum sang istri di tempat itu. Oh!!! mata para pelanggan yang melihat adegan mereka sungguh ternista! mereka meringis di dalam hati! apakah mereka sedang menonton Opera romansa??
Masih dengan buku yang menutupi bibirnya"Mas, kendalikan dirimu!," tegur Jena dengan kedua mata menyipit.
Agam mengulum bibir, ups!! hampir saja!!.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1