Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Derita Gibran.


__ADS_3

Hari semakin sore saat ketiga penghuni rumah pantai itu duduk bersama di meja makan. Hidangan yang di masak Jena sangat menggoda lidah, bentuk dan aromanya menggambarkan betapa nikmatnya masakan wanita cantik ini. Agam tersenyum senang, dulu hanya dalam angan duduk dan makan bersama di meja makan, kini wanita cantiknya bahkan menyediakan hidangan yang di masak sendiri olehnya.


Gibran, pria itu melengos mendapati pandangan cinta dari Agam kepada Jena. Kembali di sadarinya, seharusnya dia tak bertahan di kediaman ini, seharusnya dia menuruti ajakan Adila untuk kembali ke kediaman mereka di tengah kota. Lihatlah, sekarang dirinya bagai selingkar obat nyamuk di sudut rumah, menyaksikan kemesraan dua insan di mabuk cinta ini dengan hati berasap.


Mengambil piring dan mengisinya dengan nasi putih, Jena tersentak ketika benda di tangannya di ambil paksa oleh Gibran.


"Hei!!!," seru Jena menghujani adik laki-laki nya dengan tatapan tajam. Alih-alih menanggapi, Gibran mengambil semua hidangan kedalam piring itu.


"Bro! apa kau sangat kelaparan? kau terlalu banyak mengambil lauk!," protes Agam tak bisa hanya diam menatap tingkah Gibran saja.


"Gibran! kau tuli?."


Kali ini Gibran melayangkan tatapan pada sang kakak"Aku akan makan di lantai atas, makan bersama kalian di sini membuat mataku sakit."


Agam membulatkan kedua mata"Kenapa? apa matamu kemasukan pasir saat bermain air tadi?."


"Jangan sok perduli, terus saja pandang-pandangan, terus saja senyum-senyuman. Aish!! aku tidak yakin bisa bertahan lebih lama tinggal di rumah ini," Gibran mengambil langkah besar, menuju kulkas untuk mengambil air mineral.


Akhirnya Jena menyadari, entah itu rasa cemburu, atau rasa iri, ternyata Gibran tak ingin makan bersama karena kemesraan dirinya dan Agam.


Jena terkekeh geli, sorot matanya mengikuti langkah Gibran menuju lantai atas. Sedangkan Agam, pria itu justru tertawa puas, membuat cemberut di wajah Gibran semakin kentara.


Usai kepergian Gibran, kini tinggallah Jena dan Agam saja di meja makan. Agam semakin leluasa meraih tangan Jena dan membuka telapak tangannya.


"Garis tangan yang bagus," ujarnya menyusuri garis pada telapak tangan Jena.


"Apa bagusnya?."


Layaknya seorang peramal garis tangan, Agam terlihat serius menatap telapak tangan istrinya"Selain berwajah cantik, kau terlahir dengan bakat seorang chef. Di sini, di katakan kau sangat pandai memasak, dan masakanmu akan meninggalkan kesan yang mendalam terhadap penikmatnya."


"Hupfff," spontan Jena tertawa, tawa yang seolah meragukan ucapan Agam.


Pria itu menatap Jena kembali"Sayang, apa kau meragukan bakatmu sendiri?."


"Hehehe, sudahlah, jangan terlalu memujiku. Kau bahkan belum mencicipi satu pun hidangan ini."


Agam mengambil piring, menyerahkan benda itu kepada Jena"Aku sudah tidak sabar ingin mencicipi semua hidangan ini," tatapan itu penuh cinta. Tak henti-hentinya senyuman manis terbit di wajah pria itu.


Namun, senyuman itu pudar saat dirinya mencicipi sop olahan sang istri.


"Hem, apa seenak itu? kau sampai terdiam," celoteh Jena saat kembali dari mengambil air minum.


Sudah ku katakan, masakan mu pasti sangat berkesan," pria itu nampak sangat menikmati hasil masakan sang istri. Dengan lahap, Agam terus menikmati sop itu.


"Sudahi ocehan mu, ini bukan kali pertama kau mencicipi masakan ku, yah.... meskipun sejauh ini lebih banyak kau yang memasak ketimbang diriku," Jena tertawa, ada perasaan bersalah terselip pada dirinya.


Menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pria yang lebih muda darinya, Jena sempat berpikir akan lebih ekstra dalam melayani perut suaminya ini. Namun ternyata, pikiran yang sempat membuat wanita itu takut, berbanding terbalik dengan kenyataan. Agam, justru pria itu kerap menyediakan hidangan untuk istri tercinta.


"Kau wanita tersayang ku, kau adalah prioritas ku."


"Aku sungguh penasaran, apa yang di idamkan bunda saat mengandung dirimu," ujar Jena mengambil piring untuknya.


"Kenapa?," Agam menahan piring itu saat Jena hendak mengambil nasi.


"Kau sangat baik, lembut, kau juga sangat pandai mengambil hatiku," sorot mata Jena terlihat sendu, setelah kerikil tajam menjadi alas kehidupannya, sangat tidak terduga dirinya di perlakukan dengan sangat baik oleh suami keduanya.


Lekas Agam mengusap pipi lembut Jena"Jenaira, kau melupakan satu hal."


Jena memandang Agam lekat-lekat"Apa?."


"Selain pandai mengambil hatimu, aku juga tampan," Agam meletakan jemarinya di bawah dagu, berpose layaknya seorang koboy yang telah sempurna menembakkan pelurunya.


Astaga! Jena terkekeh, raut wajah yang sempat sendu kembali ceria lagi. Jena sangat menyadari ketampanan prianya itu, hanya saja dia tidak mengira Agam begitu narsis tentang pahatan sang ilahi pada rupanya.


"Oh, tentu saja, kau memang sangat tampan. Tapi haruskah hal itu lebih kau perjelas? bukankah akan lebih menawan jika kau bersikap santai saja."


Agam di buat tersipu malu oleh ucapan Jena. Tapi setelah melihat senyum dan tawa yang begitu tulus di wajah istrinya, Agam tidak keberatan jika harus bersikap seperti itu di lain waktu.


Setelah tawa mereda, Jena kembali ingin mengambil hidangan.


"Kenapa? bukan hanya kau yang ingin menikmati masakan ku, aku pun mau."

__ADS_1


"Hemm...," Agam memainkan ujung-ujung jarinya di atas meja.


"Bolehkan sayur sop ini hanya untuk ku?," ujarnya lagi.


"Kau.... kenapa rakus sekali."


"Kau boleh mengambil hidangan yang lain. Aku hanya menginginkan sayur sop ini," ujar Agam. Pria itu memindahkan semangkuk sop di depannya, kemudian melingkarkan kedua tangan nya sebagai tanda hidangan itu adalah miliknya.


Sikap itu mengundang tanya di benak Jena, ada apa dengan sayur olahannya itu. Lantas, Jena berusaha mengambil alih hidangannya dari Agam, namun berakhir gagal.


"Aku juga sangat menginginkannya, berbagailah dengan ku," dia bisa saja mendapatkan sop itu dari pancinya, namun dirinya lebih tertarik dengan sop yang sedang di hindarkan Agam darinya.


Teringat sebuah cerita sang baginda Rasulullah, Agam tersenyum kecil kemudian menarik kursi Jena agar lebih dekat padanya.


"Baiklah, jika kau sangat menginginkannya," meletakan semangkuk sop itu di hadapan sang istri.


Jena mendekatkan piringnya, mengambil sedikit kuah sop dan segera menikmati nya dengan sedikit nasi.


"Huekkk!!!!," tubuh wanita itu sampai bergidik, kuah sop itu terasa seperti larutan garam saja. Di pandanginya Agam yang sedang menggigit bibir menatap nya.


"Kenapa kau masih memakannya? sop ini sangat asin."


"Yah.....tapi sop ini masakanmu," lirih Agam menuangkan air minum untuk istrinya.


"Agam....seharusnya kau katakan saja jika masakanku tidak enak!."


"Bukan tidak enak, kau hanya kelebihan bumbu saja. hal ini masih bisa di perbaiki."


Jena segera menenggak minuman yang Agam sodorkan di mulutnya.


"Parah, hanya ada rasa garam," celoteh Jena usai meminum air.


"Kak Jenaaaaa!!!!," teriak Gibran dari lantai atas.


Agam mengusap wajahnya, hilal pertempuran dua saudara sudah mulai terasa. Jena mengusap tengkuknya, kemudian tersenyum kecut pada Agam.


"Dia pasti akan mengamuk," lirih Jena.


"Tidak, ini memang salahku. Aku tidak fokus memasak sop itu, sepertinya pikiranku sedang terbagi dengan naskah novel yang belum selesai," kilah Jena. Padahal, setelah di ingat-ingat, tanpa sengaja Jena menambahkan begitu banyak garam saat melihat Agam sedang memikul papan surfing kembali dari pantai. Dalam keadaan basah, dan rambut yang berantakan karena tersapu angin. Ckckckckck!


Terdengar bunyi gaduh dari lantai atas, Gibran datang dengan sepiring nasi beserta lauk pauk yang masih banyak.


"Ka!!," sentaknya.


"Maaf," Jena langsung meminta maaf. Dia tahu Gibran pasti akan mengomel panjang lebar kepadanya.


"Ck!!!," ujarnya benar-benar hendak mengomel.


"Sudahlah, hanya sopnya saja yang sedikit asin. Kita masih bisa menikmati hidangan yang lain.


Memberengut, Gibran yang di tatap tajam oleh Agam akhirnya tak memperpanjang permasalahan. Menepikan sop yang terlampau asin itu, mereka melanjutkan makan dengan hidangan yang lain saja.


...🌻🌻🌻🌻...


"Besok siang, kau akan di jemput untuk makan siang bersama."


Arkan meletakkan benda pipih itu di atas nakas. Rasa lelah semakin terasa setelah membaca pesan dari orang yang di hindarinya.


Jake, sang pengirim pesan adalah ketua dari komplotan dunia kelam yang telah lama dia tinggalkan. Usai meninggalkan komplotan itu, Arkan sangat tidak ingin berurusan kembali dengan mereka. Namun akhir-akhir ini Jake kembali hadir dalam hidupnya, mengusik ketenangan seorang Arkan.


"Kau tidak akan mendapatkan ketenangan jika hanya menghindarinya, seharusnya kau menghadapi nya, menyelesaikannya hingga keadaan kembali seperti sedia kala."


Ucapan Zafirah terngiang-ngiang dalam ingatan Arkan, namun jika harus menemui Jake.... Arkan belum merasa siap. Entah apa yang di inginkan seorang Jake dari dirinya, mengingat bisnis yang di geluti pria itu, Arkan tidak yakin Jake hanya sekedar ingin jumpa kangen dengannya.


"Arkan," kemunculan Abian membuat tubuh Arkan terjengkit.


"Iya yah, ada apa?," ujarnya menoleh pada Abian, pria itu berdiri di muara pintu.


"Ayah ingin bicara," terdengar helaan napas yang berat"Ini tentang pamanmu."


"Bastian?,"

__ADS_1


Abian mengangguk"Lagi-lagi material yang sampai ke lokasi, tidak sesuai dengan apa yang telah di laporkannya kepada ayah."


Lantas, Arkan mengajak sang ayah untuk duduk bersama di balkon kamar"Selama ini, Arkan meminta seseorang untuk mengawasi gerak-gerik nya, ayah."


"Ayah pun sama," tukas Abian.


"Lantas, apa yang ayah temukan?."


"Banyak, selain masih berhubungan dengan wanita yang merusak rumah tangga Jena, dia juga berbisnis barang terlarang."


"Hah? barang terlarang?."


Abian meminta Arkan akan meredakan suara"Jangan sampai hal ini diketahui ibu mu. Dia pasti akan bercerita kepada tantemu."


"Bukankah itu lebih baik ayah," Arkan kini berbicara setengah berbisik.


"Tidak perlu, kakak beradik itu hanya akan menambah pusing kepala kita saja," keluh Abian.


"Oh, tapi ayah, aku tidak terpikir dirinya akan merambah bisnis haram, ayah."


"Selama ini kita hanya melihat dari rupanya saja, kita tidak tahu betapa busuk hatinya," ujar Abian memijat pelipis, membuat keningnya semakin berkerut.


Arkan memperbaiki duduknya, lebih dekat pada sang ayah kemudian berbisik"Apa ayah tahu tanah milik tante ane telah berpindah nama."


Bisikan sang putra sukses membuat kedua bola mata Abian membulat"Lantas, tantemu menyetujuinya?."


"Tante tidak tahu hal itu."


"Bagaimana bisa??!," Abian menggeram, sungguh telah banyak kerugian yang keluarga mereka alami karena Tian.


Arkan menceritakan perihal komplotan Anderson, tentang orang-orang Anderson yang sedang mengelabui akal bulus Tian. jika Tian dengan berani membodohi Ane, maka masih ada Arkan yang memegang kendali di belakang nya.


Abian terkekeh geli"Jadi, kau sedang mengerjainya?."


Arkan ikut tertawa geli, berkat tindakan Arkan, kini Abian dapat sedikit lega. Setidaknya aset milik Ane masih terjaga.


...🌻🌻🌻🌻...


Adzan berkumandang di kediaman pantai, Agam segera mengambil air wudhu, lebih dahulu dari Jena.


Jena melirik nakal pada Agam, dia berdiri di depan Agam tanpa berniat memberi ruang untuknya lewat.


"Kenapa? cepatlah ambil air wudhu, aku tunggu di atas ya."


"Belum iqomah, kenapa kau tidak mengambil air wudhu lagi," ujarnya membuat kedua alis Agam bertaut naik.


"Jenaira...., apa yang sedang kau pikirkan," dari senyuman miring istrinya, Agam mulai merasakan hawa gangguan yang akan di lakukan sang istri.


"Hehehe," dan benar saja, Jena hendak menyentuh lengan Agam.


"Sayang!," sentak Agam"Aku sudah berwudhu!."


"Stok air bersih di sini sangat melimpah, tidak ada salahnya mengambil air wudhu lagi, bukan?," ujarnya tersenyum lebar.


"Jenairaaaa," Agam terpojok ke daun pintu beranda. Dengan berani, Jena menggoda hendak membatalkan wudhu suaminya.


"Hei, sudah masuk waktu sholat, kita tidak boleh mengulur-ulur waktu," ujar Agam mencoba menghentikan keusilan istrinya.


"Bukan mengulur waktu, kan belum iqomah."


Ingin rasanya Agam segera menarik kedua pipi Jena, lagi-lagi istrinya ini bersikap seperti anak kecil.


"Jenairaaaaa," pekik Agam ketika Jena menarik ujung bajunya.


Jena begitu senang mengerjai Agam, beberapa waktu mereka habiskan sekedar bersenda gurau saja. Hingga terdengarlah suara iqomah, juga suara deheman dari seorang Gibran.


"Ehem!!! sholat dulu! tolong dong, aku juga mau mengambil air wudhu," decihnya merasakan beban tinggal bersama Jena dan Agam.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2