
Jalanan menuju pantai yang biasanya sepi, malam ini mendadak ramai oleh beberapa kendaran yang beriringan. Rio di larikan ke rumah sakit, bersama Jena dan Arkan yang mengemudikan mobil. Abian menyusul di belakang, namun di persimpangan kota lelaki paruh baya itu berpisah dari mereka, dia harus kembali ke rumah untuk menjemput Adira. Meski tidak terluka parah, kening putrinya mendapat beberapa goresan dari kuku Tiara. Tubuhnya juga perlu di periksa sebab di hantam terjatuh ke lantai saat Tiara menggila.
Gibran berada di urutan ke tiga, pria bontot itu sangat terkejut saat kembali ke rumah. Orang-orang berwajah tegang saat Tiara pingsan dengan darah di paha dalamnya. Sedikit mendapat penjelasan dari Arkan, Gibran pun kembali masuk ke dalam mobil, menyusul mobil ayah dan kakak laki-lakinya menuju rumah sakit.
Dan di barisan terakhir, mobil Dewa melaju dengan sangat kencang. Pria itu menyalip tanpa takut kehilangan nyawa, sebab Tiara terkapar tak berdaya dengan darah yang terus keluar dari paha dalamnya.
Memukul-mukul klakson seperti orang kerasukan, kini Dewa berada di barisan pertama. Tiara sedang bertaruh nyawa di dalam mobil itu, sungguh Dewa tidak ingin wanita itu meninggal meski sangat membencinya.
Terdengar rintihan di kursi belakang, membuat Dewa semakin gugup saat berkendara.
"Bertahanlah Tiara, kita akan segera sampai ke rumah sakit".
"Maafkan aku Dewa, aku sangat mencintaimu hingga melakukan hal ini".
"Diamlah!", ujarnya dalam kepanikan.
"Jika aku selamat, bersediakah kau untuk tetap bersamaku?".
"Diam Tiara!!!", sentaknya meninggikan nada bicara.
"Eshhh", kembali terdengar ringisan. Perut bagian bawah Tiara terasa sangat sakit. Wanita itu sempat berpikir, apakah ini akhir dari hidupnya??!.
Mendadak pria itu merasa iba "Bersabarlah Tiara, jangan banyak bicara. Kau harus selamat, juga anak yang sedang kau kandung", tukasnya sedikit lembut.
"Apa kau menyusulku karena khawatir akan keselamatan Jena?", di saat seperti ini, Tiara masih saja menyimpan iri dengki terhadap Jena.
Dewa tidak merespon apa-apa. Entah terbuat dari apa hati wanita di belakangnya ini, kebenciannya terhadap Jena sangat teramat besar, membutakan mata dan hatinya hingga kehilangan akal sehat.
Kabar penyerangan terhadap Jena yang di lakukan Tiara telah tersebar dalam keluarga mereka, Ane yang mendengar kabar itu segera menghubungi Tian untuk lekas pulang. Mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan.
Seperti biasa, Tian bertutur kata lembut kepada Ane"Iya sayang, aku sedang menuju rumah, kau bersiaplah agar sesampainya aku di rumah kita akan langsung ke rumah sakit".
"Apa kau tidak berganti pakaian dahulu sayang?".
"Tidak perlu, keluargamu sangat berarti untukmu. Sekedar berganti pakaian, aku bisa melakukannya saat kita kembali ke rumah".
Terdengar helaan napas lega"Terimakasih sayang, Kau sangat pengertian".
"Sebab aku mencintaimu, Ane".
"Aku juga mencintaimu, Tian".
...πΈπΈπΈπΈ...
Mendapat beberapa jahitan, Rio kini terbaring di bankar rumah sakit. Prosedur penyelamatan nya telah usai, tidak perlu menginap, malam itu juga Rio di perbolehkan untuk pulang. Berbeda dengan Jena, meski tidak terkena sayatan pisau, tubuhnya banyak mendapat luka lecet dan lebam. Mereka semua heran, sekuat apa Tiara. Tubuhnya sama kecilnya dengan Jena, namun dampak dari amukannya sangat besar pada tubuh Jena.
Kepala belakangnya berkali-kali terhantam pintu, siku kirinya mendapat luka kecil, mungkin saat dirinya melorot ke lantai dengan keras. Punggungnya terasa ngilu, ada sedikit memar di sana sebab terhantam galangan pintu saat terjerembab di terkam Tiara. Keningnya mendapat dua cakaran, tidak panjang namun cukup dalam. Kedua punggung tangannya yang melindungi wajah, terasa sangat perih saat perawat membersihkan luka cakaran itu. Yang terakhir, kakinya terkilir saat jatuh bersama Rio menghindari serangan pisau Tiara.
Kedua mata Arkan memerah, betapa emosinya tersulut melihat sang adik mendapat banyak luka tak berdarah. Namun, saat menyambangi kamar rawat inap Tiara, pria itu tidak mampu untuk menuntut keadilan. Sebab Tiara sudah jatuh dalam jurang kesedihan, janin yang dia kandung telah tak bernyawa.
Isak tangis mengantarkan Arkan keluar dari kamar inap Tiara, Dewa yang semula begitu marah tidak mampu berkata apa-apa. Kesedihan Tiara teramat sangat dalam, tangisannya begitu pilu menyayat hati. Kepergian Arkan dari kamar itu di susul Tiara yang akan segera menerima prosedur pengangkatan jaringan. Sempat menolak untuk di tindak, akhirnya Tiara menyerah saat Dewa menyakinkan bahwa janinnya telah benar-benar tiada.
"Bukankah kau sudah melihatnya, janin dalam kandunganmu sudah tidak bernyawa", ujarnya mengingatkan saat dokter melakukan USG.
__ADS_1
"Bahkan detak jantungnya pun tidak terdengar, janin itu tidak bergerak sama sekali Tiara!".
Tangisan Tiara kembali pecah, segala ketakutan bercampur dalam benaknya. Takut saat akan menjalani proses kuretes, takut jika dirinya benar-benar tidak terselamatkan. Dan satu hal yang sangat dia takutkan, bagaimana reaksi Jelita saat tahu calon cucunya telah tiada???!.
Malam semakin larut, orang tua Rio datang menjemput putranya. Luka itu membuat Abian berkali-kali meminta maaf, Rio mendapat luka itu saat menyelamatkan wanita yang telah menolak lamarannya. Sebagai orang tua, bisa jadi orang tua Rio akan menyalahkan Jena atas insiden itu, namun beruntung, orang tua Rio bersikap bijak dan tidak menaruh dendam kepada Jena. Justru Tiaralah yang kelak akan menerima akibatnya.
Sempat bersikeras ingin menemani Jena, Arkan menarik Rio dan berbicara hati ke hati padanya"Terimakasih telah melindungi adikku, tapi, bisakah kau tidak membebani pikirannya? dia akan sangat terluka melihat tanganmu, juga kehadiran orang tuamu. Akan berbeda ceritanya jika Jena menerima lamaranmu Rio. Kau mengerti kan apa maksud perkataan ku??".
Ya! suasana akan menjadi canggung jika Rio tetap menjaga Jena, sedangkan wanita itu tidak ingin menjadi pendamping hidupnya. Apa yang akan orang tua Rio pikirkan jika Jena terus menerima kebaikan Rio, Arkan tidak ingin sang adik di pandang hanya mengambil keuntungan dari kebaikan seorang Rio.
"Baiklah, aku mengerti maksudmu. Dan aku yakin, kau pasti akan mengurusnya dengan sangat baik".
"Ya! tentu saja. Meski dingin, dia tetap adik kesayanganku", ujar Arkan mencoba tersenyum pada Rio.
"Kau pulanglah dahulu, semoga kau lekas pulih, Rio", ujarnya menepuk pundak pria yang sangat tergila-gila pada Jena.
"Hem, baiklah. Aku akan pulang", berdamai dengan keadaan, demi Jena, pria itu memilih pulang dari pada harus berada di sana namun menjadi beban di hati wanita pujaannya.
Tidak lama usai kepergian Rio, Gibran tengah menerima panggilan.
"Kau tanyakan saja pada perawat", ujarnya pada seseorang di ujung telepon. Selang beberapa menit kemudian, Agam berlari di lorong rumah sakit. Menuju kamar yang telah perawat tunjukan untuk bertemu Jena.
"Kau sendi____".
"Apa ini kamarnya?? bagaimana keadaan Jena??", Agam bertanya dengan napas tersengal-sengal, nampaknya dirinya menguras banyak tenaga hingga sampai di sini.
"Tenang Agam, tenangkan dirimu!", titah Gibran "Kak Jena hanya banyak luka kecil dan memar saja".
Hanya??? hanya banyak luka kecil??? dan memar saja???, Agam nyaris mengumpat kepada Gibran. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu dengan santai, tanpa menunggu lagi Agam segera masuk ke kamar inap Jena.
"Kau, kenapa tersengal-sengal begitu? apa kau berlari dari rumah mu ke sini?", tanya Arkan saat menyadari kehadiran Agam.
Bocah itu menggeleng tanpa suara, hatinya tercabik-cabik melihat keadaan Jena. Bahkan kedua tangannya di perban, sebrutal apa Tiara menghantam Jena???.
Melihat kekhawatiran pada diri Agam, Arkan mulai curiga akan suatu hal.
"Apa kau menyukai Jena?", tanpa berbasa-basi, pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Arkan.
"Iya", sahut Agam tanpa beban.
Jawaban itu membuat kedua bola mata Arkan membulat"Kau masih kecil, apa yang bisa kau berikan untuk Jena??".
"Apa dia sangat ketakutan saat di serang, bang?", alih-alih menjawab pertanyaan Arkan, Agam malah balik bertanya.
"Kau lupa, dia wanita kuat dan pemberani".
"Syukurlah!", ucapnya menghela napas lega.
"Setelah di cek keseluruhan, dokter mengatakan tidak ada yang parah, setelah kakinya pulih dia akan segera pulang".
"Alhamdulillah", gumam Agam.
"Apa kau sangat lega?".
__ADS_1
Agam tersenyum, sebab Arkan melontarkan pertanyaan itu dengan wajah mengejek padanya.
"Eh bocah, kau belum menjawab pertanyaan ku, kau punya apa begitu berani menyukai Jena?apa kau bisa memenuhi segala kebutuhannya?".
Agam mengeluarkan permen rasa jeruk dari sakunya"Boleh aku menitip benda ini? aku yakin dia akan sangat membutuhkan benda ini saat bangun nanti".
Kening Arkan di buat berkerut, sikap Agam sungguh tidak dapat dia mengerti.
"Hanya dengan permen jeruk?, Agam! bercandamu sangat keterlaluan", protes Arkan.
"Yakinlah bang, benda ini akan membuatnya tersenyum".
"Kau___".
"Aku serius bang Arkan, jangan menilai suatu benda dengan porsinya!"
"Baiklah, letakan saja di atas nakas", ujarnya akhirnya. Melihat dari keyakinan Agam, Arkan merasa tertarik dengan hubungan Agam dan Jena.
Ingin rasanya Agam memandang lebih lama wajah wanita itu, namun akan sangat tidak baik untuk hatinya. Usai meletakan permen jeruk di atas nakas, Agam pamit untuk keluar dan di angguki oleh Arkan.
"Kau sudah ingin pulang?".
Agam menggelengkan kepala.
"Baguslah, kau temani aku di sini".
"Aku datang untuk kak Jena, bukan untukmu".
Gibran melayangkan protes"Aku calon adik iparmu, bersikap baiklah padaku".
"Kau selalu ingin menang Gibran, terserah kau saja", ucapan itu membuat Gibran tersenyum.
Sejenak Agam dan Gibran terdiam.
"Ku dengar, kak Jena menolak lamaran Rio".
"Sepertinya begitu, tapi Rio tetap ingin menikahi kak Jena. Dia bahkan mendapat luka yang cukup dalam di lengannya saat melindungi kak Jena dari pisau Tiara", terang Gibran.
Wajah Agam tertekuk sendu, teringatlah pertanyaan Arkan tadi, dirinya dan Rio sangat jauh berbeda. Rio memiliki karir yang mapan, sama seperti Jena, jika mereka bersama maka akan menjadi pasangan penulis yang luar biasa.
Sedangkan dirinya? dia hanya punya bisnis konter yang di bangun bersama Angga dan Gibran. Meski dari keluarga kaya raya, Agam tidak ingin sepenuhnya bersandar pada kedua orang tuanya.
"Gibran, lihatlah posisiku, apa kau yakin aku akan bisa memenuhi segala kebutuhan kak Jena? karirnya sangat cemerlang, sedangkan aku___".
Kata itu tercekat, namun Gibran mengerti apa yang sedang Agam bicarakan.
"Apa kau lupa caranya bersyukur, Agam", sontak sebaris kata itu menampar batin Agam.
"Astaghfirullah, aku khilaf. Aku melupakan kuasa Allah sang pemilik segala-galanya".
To be continued....
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€π€