
Mengawali hari dengan sapaan hangat istri tercinta, menikmati sarapan yang di masak dengan cinta dan kasih sayang. Saat bekerja, pesan-pesan bermuatan rindu selalu dia dapatkan dari wanita terkasih, belaian manja juga pelukan hangat pun dia dapatkan saat kembali ke kediaman mereka.
Dewa menatap nanar sosok yang sedang tersenyum malu-malu di depan konter makanan itu. Alih-alih menyapanya, sekedar bertanya kabar, Dewa memilih bersembunyi di balik rak minimarket.
Begitu cantik, entah kapan kali terakhir dirinya menyaksikan senyum manis itu. Nyatanya, saat masih bersama dirinya, senyuman itu telah perlahan pudar, hingga akhirnya menghilang dari wajah wanita tercintanya.
Melihat betapa baiknya perlakuan Agam terhadap Jena, seketika hati kecil pun mencelos, perih.
Dewa menatap pantulan gambar diri di kaca pintu kulkas, betapa buruknya dirinya saat ini. Bahkan dasi yang dia kenakan tidak terpasang dengan rapi. Kemeja yang dia kenakan terlihat lusuh, meski tertutup blazer, tetap saja penampilan nya sangat jauh berbeda saat Jena masih menjadi istrinya.
Rambut yang mulai memanjang, juga perawakan yang terlihat lebih kurus. Bahkan bulu-bulu halus telah terlihat di rahang nya. Sungguh, Dewa telah kehilangan semangat hidup sejak berpisah dari Jena.
Di pandanginya makanan instan yang hendak dia beli, sekotak nasi kepal minimarket. Pola makannya tak lagi sehat.
Dewa lekas menarik diri saat Jena melangkah menuju rak tempatnya bersembunyi. Seperti sedang main kucing-kucingan, dirinya lekas menuju kasir saat Jena dan Agam berada di lorong yang lain.
"Lakukan dengan cepat, aku sedang terdesak" ujarnya pada karyawan bagian kasir.
Tak perlu waktu lama, Dewa kini berjalan keluar dari minimarket.
Saat hendak masuk ke dalam mobil, seseorang menahan pintu mobilnya dengan keras.
"Siapa...," suara Dewa tercekat saat berbalik.
Agam, dengan sorot mata yang tajam telah berdiri di hadapannya.
Panik, Dewa menatap sekitar, takut Jena juga hadir bersama pria itu.
"Kenapa kau bersembunyi?," tanya Agam masih menahan pintu mobil Dewa.
"Tidak mengapa. Lagipula aku tidak bersembunyi," sahutnya. Demi menghindari Jena yang mungkin akan menyusul Agam, Dewa membawa diri masuk ke dalam mobil.
Agam sedikit menyandarkan tubuh, meletakan kedua tangan di pintu dan kap mobil, seperti sedang mengurung Dewa yang telah duduk di kursi mobil"Aku sudah melihatmu sejak kami memasuki minimarket itu, dan kau jelas bersembunyi dari kami."
Dewa menarik napas, coba menetralkan jantung yang berdebar, khawatir Jena mendapati dirinya saat ini"Bukankah sikapku patut di acungi jempol? aku sudah menunjukan sikap baik di hadapan kalian."
"Dengan menghindari kami?," tanya Agam lagi.
"Sejujurnya, aku hanya menghindari Jena," sahut Dewa menyalakan sepucuk rokok. Begitulah Dewa, selain minuman keras yang dapat mengobati luka di hati, merokok adalah salah satu cara untuk menutupi kegugupannya.
Jawaban pria itu membuat Agam mengerutkan kening.
"Aku tahu, cinta dan kasih Jena kepadaku tidak akan terganti. Jika kami kembali bertemu, aku yakin akan membuatnya semakin sulit melupakanku."
"Hahahahah," gelak tawa Agam pecah, terkekeh sembari memegangi perutnya.
__ADS_1
Gusar, Dewa meniupkan asap rokoknya ke arah Agam.
Tetap saja, mengibaskan tangan di udara mengusir asap bermuatan nikotin itu, Agam masih tergelak tawa.
"Tidak ku sangka, kau menjadi seorang pelawak sekarang," celoteh Agam menunjuk wajah Dewa.
"Apa kau tahu, Jena memiliki panggilan sayang terhadapku," lanjut Agam.
"Oh ya! aku mendengarnya memanggimu, mas," tutur Dewa bernada ketus. Ternyata bukan hanya mengintip, Dewa mendengar percakapan mereka di dalam minimarket tadi.
"Ya," Agam akhirnya berhenti tertawa, dengan tepian mata yang sedikit berair. Nampak sekali dirinya begitu menikmati kelucuan seorang Dewa.
Pria bermata elang itu mendecih"Dia juga memanggilku dengan sebutan, mas," ketus Dewa lagi membuang pandangan.
Menampilkan barisan gigi putihnya, Agam tersenyum lebar menatap Dewa"Itu dulu, aku tidak perduli tentang apa yang telah terjadi di masa lalu."
"Apa kau begitu bangga? kau hanya mendapatkan wanita yang sudah pernah ku miliki!."
Ada gurat amarah di wajah Agam saat mendengar ucapan Dewa. Namun, bukan Agam jika langsung terpancing emosi"Yang menentukan sebuah kemenangan bukanlah kisah di awal cerita, tapi kisah di penghujung senja."
Agam sengaja memperlihatkan tangan dengan cincin nikah di jari manisnya"Dan, pada tangan inilah wanita berharga itu akan selalu berpegangan, bahkan hingga rambut hitamnya memutih sempurna."
"Ash!!," Dewa mendorong kasar tubuh Agam. Menarik keras pintu mobil hingga akhirnya tertutup.
Dewa pergi dengan perasaan gusar, juga kekalahan yang yang di iringi tawa menggema Agam. Sedangkan Jena, wanita itu menggelengkan kepala, suaminya memang sangat lihai membuat lawannya kesal.
...πΌπΌπΌπΌ...
Kembali ke apartemen yang telah di milikinya, Dewa merasa kehabisan tenaga jika harus kembali ke kantor. Usahanya menjauhi Tiara nampaknya tak membuahkan hasil, wanita itu begitu gigih mendekati dirinya.
Merasakan ketenangan setelah beberapa waktu tak berjumpa dengan wanita itu, sisa-sisa semangat untuk menjalani hidupnya kembali kacau karena kemunculan Tiara beberapa hari yang lalu.
Sepintar-pintarnya Dewa bersembunyi dari Tiara, wanita jeli itu akhirnya mengetahui bahwa Dewa bekerja di anak perusahaan milik sang mertua. Terletak di ujung perkotaan, dengan beberapa karyawan saja, Dewa sangat yakin keberadaanya tak kan di ketahui oleh istrinya. Namun sayang, bukan hanya dirinya yang berusaha menghindar, Tiara pun selalu berusaha untuk bisa bertemu dengannya.
Dan hari ini, wanita itu bahkan telah berdiri di depan pintu apartemen sang suami. Berkali-kali menekan bel, dan berkali-kali pula dirinya di abaikan.
Betapa putus asanya Tiara, saat nomor ponsel sang suami yang baru beberapa hari lalu dia dapatkan, kini tidak bisa di hubungi lagi.
"Dewa!!! sejauh apa kau berlari, aku akan terus mengejar dirimu!!," teriak Tiara di depan pintu.
Tak perduli telapak tangan yang perih memukul pintu kokoh itu, Dewa tak sedikitpun merasa iba dengan teriakan putus asa sang istri.
"Baiklah, aku akan tetap di sini," ujarnya coba meredakan gemuruh di dalam dada.
__ADS_1
Ucapan itu sungguh memuakkan bagi Dewa. Kesabaran nya telah sampai di ambang batas. Lelah berlari, akhirnya pria itu membuka pintu dan nampaklah Tiara yang sedang berjongkok di depan pintu.
"Masuklah," ujarnya mempersilahkan Tiara masuk.
Sikap itu mengundang tanya di benak Tiara, ada apa dengan sikap baik suaminya ini?. Namun, lekas Tiara menyadarkan diri bahwa ini adalah kesempatan yang langka.
Ruangan itu di penuhi wangi aroma jeruk, hati kecil di dalam sana seketika tercubit. Di antara mereka, hanya Jena yang sangat menyukai sesuatu berbau jeruk. Lantas, Tiara semakin menyadari betapa prianya tak pernah melupakan sahabatnya barang sejenak pun.
"Silahkan duduk, aku akan membuatkan minuman untukmu," Dewa mempersilahkan Tiara untuk duduk, seperti sedang menjamu seorang tamu asing.
"Mas Dewa," ujarnya hendak mengekor langkah pria berwajah sendu itu. Setelah di pandangi, nampak betapa kesedihan begitu erat memeluk Dewa, selama ini.
"Duduklah di situ, aku akan membuatkan jus apel, kesukaanmu."
Tiara semakin di buat terperanjat, sikap itu sudah sangat lama tidak dia dapatkan dari sang suami.
"Aku ingin melihat-lihat tempat ini," ujarnya lagi.
Dewa memegang pundak Tiara, sedikit menekannya agar kembali untuk duduk"Tidak perlu, kau diamlah di sini. Kita akan bicara setelah aku membuatkan minuman untukmu."
Meski sangat penasaran dengan tempat tinggal suaminya, Tiara akhirnya harus duduk manis di sofa itu tanpa banyak bicara.
Keadaan hening melingkupi sepasang suami istri itu. Beberapa menit berlalu, dan Dewa tak jua berkata-kata kepada Tiara.
"Minumlah," ujarnya setelah usai membuat minuman kesukaan Tiara, menyuguhkannya langsung kepada wanita itu. Nampak segar, Dewa mengakui jika istrinya terlihat lebih saat ini.
Tiara tersenyum, jus racikan Dewa terasa nikmat. Dirinya tak bisa berhenti dan terus menenggak minuman itu.
"Enak sekali," ujarnya dengan tepian bibir yang belepotan.
Dewa sedikit maju, menyabet selembar tisyu kemudian menyeka tepian bibir Tiara, dengan lembut"Benarkah, maka segeralah kau habiskan."
Sungguh, dunia seolah berubah indah, sikap Dewa sama seperti dahulu, saat topeng kepalsuan Tiara belum terungkap. Tiara kembali tertawa, kerinduan di dalam dada pun semakin membuncah.
Terus memperhatikan gerak-gerik sang istri, sorot mata Dewa mengikuti gerak tangan Tiara yang meletakkan gelas jus itu ke atas meja.
"Sudah habis, sangat enak," ujar Tiara tersenyum puas.
Namun, senyum itu seketika sirna saat Dewa menggeser meja berbahan kaca itu. Dirinya membawa diri berlutut di hadapan Tiara, dengan pandangan yang sangat mengiba.
"Mas Dewa! apa yang kau lakukan!!."
"Tiara, aku mohon, lepaskanlah diriku, biarkan aku hidup di sisa-sisa semangat ini."
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€