
...πΊπΊπΊπΊ...
Alih-alih melanjutkan perjalanan di tengah malam, Yasir memilih mengistirahatkan kelompok relawan yang dia pimpin sembari menunggu pagi tiba.
Membuka tenda bawaan dan mendirikannya di bahu jalan, Yasir membangun mushola mini untuk anggotanya menunaikan sholat subuh di sana. Secara bergantian mereka melakukan kewajiban, namun Jena hanya memandang saja dengan aktivitas yang mereka kerjakan.
"Kau sedang datang bulan?", tanya Syabila.
Jena menggeleng"Tidak".
"Lantas, mengapa kau tidak menunaikan shalat subuh juga?", betapa polos Syabila, gadis itu bertanya sembari menjelajahi penampilan Jena yang baru dia sadari. Hanya Jena yang tidak mengenakan kerudung seperti mereka.
"Aku___", perkataan Jena tercekat.
"Sudahlah, kau jangan membuatnya tidak nyaman", Zafirah hadir di antara mereka. Dengan mukena putih yang masih melekat di tubuhnya.
"Aku tahu sholat itu wajib", ujar Jena perlahan.
"Lantas???", lagi-lagi Syabila menodong Jena.
Wanita bersurai panjang itu menghela napas"Yah, mungkin karena jauh dari Tuhan, hidupku menjadi berantakan".
Zafirah mencubit lengan Syabila, membuat gadis kecil itu meringis kesakitan"Aku belum begitu mengenal dirimu, namun, jika kau sedang dalam masalah besar datanglah kepada Allah, kau akan menemukan pertolongan".
"Ucapanmu mengingatkanku pada seseorang. Dia mengenalkanku pada surah Ar-rahman, aku kerap mendengarkan surah itu untuk mencari kedamaian", Jena sedikit berwisata ke masa lalu, teringat Agam sang bocah tengil yang menyetel murotal ayat-ayat suci Al-Qur'an saat mereka terjebak hujan.
"Surah Ar-rahman", tatapan Zafirah pun menerawang"Surah yang mengingatkan ku pada seseorang, suaranya sangat indah saat melantunkan surah itu".
"Apa dia pria??", di sini, Jena merasa lepas berekspresi, entah mengapa beban di dada terasa menghilang sejak bergabung bersama kelompok relawan ini.
Syabila tersenyum nakal"Tentu saja pria".
"Bila!!, jangan membual", sentak Zafirah yang sukses membungkam mulut Syabila.
"Hei___", seloroh Jena.
Zafirah menggeleng"Jangan terpedaya, Syabila memang tukang bual. Entah berapa banyak bertanggung jawaban kata-kata yang dia lontarkan kelak di hadapan Allah".
"Zafirah~~~~, aku hanya bercanda", rengek Syabila menggoyangkan lengan rekannya.
Jena tertawa"Kau seperti anak kecil yang merengek pada kakaknya".
Zafirah menganggukkan kepala"Betul, Syabila memang seperti anak kecil".
__ADS_1
"Hei, kalian mengolok-olok ku", rengeknya lagi.
Jena kembali tertawa, begitu pula dengan Zafirah. Saat tiga wanita itu bercengkrama, Yasir meminta para relawan untuk segera bersiap. Pikap yang akan mengantarkan mereka menuju pelabuhan akan segera tiba, bukan hanya 1, tapi 5 pikap akan berangkat bersama pagi itu juga.
"Nak Naira, hati-hati di jalan", pak supir itu mewanti-wanti Jena bagai seorang kakek yang hendak melepas cucu kesayangan.
"Jangan sembarangan bertindak, banjir sangat rentan dengan aliran listrik, jika kau terjatuh kedalam air segeralah berteriak agar teman-teman mu tahu. Jaga kesehatan nak, kau pergi untuk menolong orang, namun kau juga harus pandai menolong dirimu sendiri", tatapan itu begitu lembut. Membuat Jena kembali teringat akan sosok kakek tersayang. Seketika, anak sungai terbentuk di kedua pipi, tanpa ragu Jena menangis di hadapan pak supir tua.
Zafirah dan Syabila merasa bingung, mereka tahu ini adalah pertemuan pertama Jena dan pak supir, emosi yang meluap sungguh di luar dugaan. Jena menangis sejadinya hingga bahu bergetar. Zafirah menarik tubuh wanita itu kedalam pelukan, sementara Syabila mengusap pundaknya lembut.
"Sepertinya kau memang datang dengan beban di hati Naira", ucap Zafirah.
"Benar nak Zafirah", sahut pak supir.
"Kau bisa membagi bebanmu kepada ku jika mau", lanjut Zafirah.
"Juga denganku", Syabila mengacungkan jari ke atas, seperti bocah kelas 1 SD yang mengacungkan jari saat bu guru memanggil namanya.
Jena sesenggukan, air matanya membasahi kerudung yang Zafirah kenakan.
"Terimakasih atas keperdulian kalian, aku akan bercerita saat sudah siap".
Mengusap pelan bahu Jena"Hem, kami akan selalu menunggu saat kau berbagi cerita", Zafirah sungguh sosok yang membuat Jena merasa nyaman saat bersamanya.
"Panggil saya kakek Ahem", tawa yang begitu mirip dengan tawa mendiang kakeknya, Jena kembali tersenyuh dan kembali meneteskan air mata.
...πΊπΊπΊπΊ...
Gibran berjalan bolak-balik di konter, membuat Angga menjadi pusing tujuh keliling sebab mengikuti langkah Gibran dengan lirikan matanya.
"Kau sedang cosplay menjadi setrikaan?", tanya Angga.
"Tidak", sahut Gibran singkat.
"Berhentilah berjalan Mondar-mandir, kau membuat kepala ku berdenyut".
Enggan untuk berhenti "Abaikan saja aku, kau bisa melakukan hal itu bukan".
"Kau seperti sedang menari di depanku, dengan tubuh tinggi besar seperti mu bagaimana aku bisa mengalihkan pandangan", protes Angga, benar saja, bukan hanya Angga. Pedagang lain di mall itu ikut memperhatikan tingkah seorang Gibran.
"Aku sedang menunggu kabar dari kak Jena", ujarnya akhirnya.
Seketika Angga menarik Gibran untuk duduk bersama"Kak Jena kemana?".
__ADS_1
"Aku mengusirnya".
"Plak!!!, berani sekali kau Gibran. Kau sungguh tega mengusir kak Jena", telapak tangan Angga melayang dengan indah ke kening Gibran.
Meringis sembari mengumpat"Ash!!! sialan!!! kau tahu betapa sangat berarti wajah tampanku ini".
"Kau yang sialan, katakan kenapa kau tega mengusir kak Jena, hah!", Angga meradang. Meski pemarah, Angga sungguh tidak sampai hati jika Jena di perlakukan seperti itu.
Gibran menarik Angga, mengunci kepalanya dengan tangan kekarnya"Kau pikir aku melakukan itu tanpa alasan!!! aku tidak gila Angga!!!".
"Aw!!! lepassss!!", Angga memukul lengan Gibran berkali-kali, napas nya tersengal-sengal saat telah lolos dari kuncian Gibran.
Kegaduhan mereka berdua mereda saat Agam datang.
"Kalian sedang berlatih judo? lakukan di tempat lain saja, aku tidak rela jika konter ini hancur karena ulah kalian", pria itu menghenyakkan diri di sofa, menggibas-ngibaskan kemejanya sebab kepanasan.
"Kau dari mana saja?? berkali-kali aku menghubungi gawaimu, kau tidak menerima panggilanku", cecar Gibran.
"Kau akan terkejut saat tahu kabar terbaru ini", tukas Angga memeriksa lehernya, takut terluka usai di piting erat lengan berotot Gibran.
"Usai sholat subuh aku menemani bunda ke pasar, sesampainya di rumah aku membantunya membongkar belanjaan. Berolahraga setengah jam kemudian melakukan hal lain. Aku meninggalkan benda pipih itu di kamar saat beraktivitas", Agam menjelaskan dengan detail.
"Kau terlalu banyak bicara", Angga kembali berucap.
"Kak___",
"Dia mengusir kak Jena", sambar Angga memutus kata-kata Gibran.
Agam memandang Gibran tajam"Kenapa kau lakukan hal itu???".
"Tenanglah, aku melakukannya bukan tanpa alasan".
"Dia__".
"Diamlah Angga", sentak Gibran, kemudian dia melanjutkan kata-katanya. Gibran bercerita panjang lebar, tentang amarah Adila, tentang Rio yang pantang menyerah, tentang Ane yang termakan bujuk rayu Tian, hingga tentang sebab dia mengusir Jena.
"Dan sekarang kau tidak bisa menghubungi Jena??", tanya Agam lemah.
Gibran mengangguk pasrah, sungguh, dia mengusir Jena demi kebaikannya.
To be continued....
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€
__ADS_1