
...#Flashback on#...
Kedatangan Jena dan Agam di sambut hangat oleh kiyai Bahi. Syabila begitu bersemangat saat Jena meminta bantuannya membawa 4 kotak kue tart dengan rasa jeruk itu.
Saat itu, saat mereka telah duduk bersama di ruang tamu, Kiyai Bahi membagi kabar gembira kepada mereka. Benar-benar kabar gembira, hingga Jena merasa sangat terharu setelah memastikan kebenaran kabar itu kepada Zafirah.
"Kalian akan benar-benar menikah?," tanyanya memperhatikan mimik wajah Zafirah, sahabatnya. Tahu betul bagaimana perasaan wanita itu terhadap suaminya, sedikit ragu sempat terselip di relung hati.
Zafirah, gadis manis nan lembut itu mengangguk sembari melempar senyum kepada Jena.
"Kau yakin?."
Lagi, gadis itu mengangguk dengan senyuman.
Jena di buat gemas"Zafirah, kenapa kau hanya senyum-senyum saja! katakan! apa kau yakin dengan pernikahan yang sedang menanti kalian???."
Terdengar suara tawa pelan Zafirah, meraih jemari Jena kemudian berkata"Tentu saja, Jenaira. Bagaimana aku bisa setuju untuk menikah jika hatiku tidak yakin."
"Lantas, apa kau mencintainya?."
"Kau sendiri pun tahu, dia lelaki yang sangat baik, cinta akan segera datang karena terbiasa, Jena."
Jawaban itu membuat Jena meremat jemari Zafirah, sungguh hatinya menjadi resah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sahabatnya"Zafirah, jadi kau setuju menikah hanya karena dia lelaki yang baik??," menelisik lebih dalam kepada sepasang manik cantik wanita itu, namun tak ada keraguan yang terlihat di sana.
"Sama seperi aku dan suamimu, bang Agam, aku dan dirinya juga kerap bersama sedari kecil. Jika perasaanku pada suamimu lekas terdeteksi, ku sadari perasaanku kepadanya muncul perlahan-lahan."
Kedua alis Jena di buat naik mendengar celoteh Zafirah, membuat otak kecilnya berpikir sedikit lebih keras.
"Saat Abi mempertemukan kami berdua, membahas perihal pernikahan, hatiku bergetar Jena. Dan saat dia berkata bersedia menikahiku, perasaan hangat perlahan menjalar ke dalam relung hatiku," wajah Zafirah terlihat merona. Dan setelah melihat wajah tersipu malu itulah Jena akhirnya yakin akan perasaan sahabatnya.
"Kau telah jatuh cinta kepada nya," gumam Jena.
"He'em," angguk Zafirah.
Segera, Jena menarik lengan Zafirah, membawanya kedalam pelukan"Syukurlah, semoga bang Yasir selalu memberikan kebahagiaan kepadamu," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
...#Flashbcak off#...
Para penghuni kediaman pantai masih di sibukkan dengan persiapan pembukaan cafe mereka. Sejauh ini baru Ben saja yang bergabung bersama mereka, untuk permulaan Agam dan Gibran lah yang akan menjadi pelayan di cafe itu. Jena sempat mengutarakan ide untuk merekrut dua atau tiga pelayan, namun karena ini baru permulaan, mereka harus melihat terlebih dahulu apakah bisnis mereka cukup di terima di tempat ini.
"Awas saja, jika kau berani melayani pelanggan wanita dengan pesona mu, aku tidak segan-segan akan menjitak keningmu, mas."
Ben yang mendengar ocehan Jena, menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sema sekali. Beberapa hari bergabung bersama para penghuni pantai, Ben mulai memahami sifat mereka satu persatu.
Di mata Ben, Gibran ya tetaplah Gibran yang memiliki tingkat percaya diri di atas rata-rata. Namun terlepas dari sikap itu, dia seorang pria yang humoris dan baik.
__ADS_1
Dan Agam, sedari dulu pria itu memang terkenal lembut dan hangat terhadap orang-orang terdekatnya. Hanya saja, Ben menangkap sinyal persaingan antara sahabat dan putranya, sungguh menggelikan melihat Agam melengos kesal saat Jena bercanda bersama Enda.
Lantas, bagaimana dengan satu-satunya wanita di kediaman itu? wanita yang di ketahuinya sangat menyukai kopi itu seperti bunglon. Jika bersama Gibran dia akan berubah menjadi wanita super duper galak, namun jika sedang bersama Agam, dirinya berubah menjadi wanita manis dan kerap tersipu malu, juga mudah cemburu. Seperti saat itu, setelah sepakat bahwa suaminya akan menjadi salah satu pelayan di cafe mereka, Jena langsung mewanti-wanti pria itu. Tak tanggung-tanggung, kepalan jemari nya yang tak seberapa besar itu menjadi ancaram bagi kening sang suami.
Agam di buat tertawa alih-alih takut dengan ancaman sang istri. Dirinya menggenggam jemari kecil Jena ke dalam jemari-jemari besarnya"Waw! jangan gunakan jemari lentik ini untuk memukulku sayang, lebih baik kau gunakan untuk mengusap wajahku dengan lembut," kerlingan nakal Agam membuat Jena tertawa malu-malu.
Ya Tuhan!! Ben mulai merasakan hawa-hawa kebucinan di sini. Sebelum dirinya menjadi iri menyaksikan kemesraan mereka, Ben segera melangkah keluar, meraih kunci motor dari sakunya dan duduk pada kuda besinya.
"Mau kemana?," tegur Gibran yang datang bersama para pekerja yang membawa kursi dan meja-meja.
"Jemput Enda sebentar, lagipula aku tidak kuat berlama-lama di dalam," menunjuk dua insan di dalam sana dengan wajahnya.
Gibran menggelengkan kepala kemudian kembali menatap Ben"Nah, akhirnya kau merasakan penderitanku," menanggapi hal itu Ben hanya terkekeh sembari memundurkan motornya.
Seperginya Ben, seorang santri utusan kiyai Bahi datang mengantarkan surat undangan. Sudut bibir pria berkulit sawo matang itu menukik naik, nama Zafirah dan Yasir tertulis jelas pada undangan itu.
Segeralah dirinya menyampaikan undangan tersebut kepada Jena dan Agam di dalam sana. Membaca nama sang sahabat di atas kertas undangan, wanita itu di buat terpekik, senang.
"Sayang, ini bertepatan dengan acara penghargaan yang harus kau hadiri."
Jena menggeleng, beranjak ke dapur untuk menyeduh kopi.
Gibran melempar tanya pada Agam"Penghargaan apa?."
"Eit! ku pikir dia hanya menulis novel horor? bahkan novel romantis yang sempat di akui mbak Tiara gila itu tak tersedia di jajaran novel onlinenya."
"Apa kau terkejut? kakakmu memang pandai menciptakan kejutan, bukan?," memandangi sang istri dengan tatapan penuh cinta.
"Cih! aku sangat muak dengan tatapan cintamu terhadap nya," decih Gibran, kesal.
Memutar pandangan dan berfokus kepada Gibran sepenuhnya"Dia istriku, wajar bukan jika aku memandangnya dengan tatapan cinta. Akan berbeda ceritanya jika aku memandang mu dengan tatapan seperti itu."
"Yakk!! cukup! ocehanmu membuat perutku geli," serunya bergidik.
Agam tertawa, sesekali boleh juga menggoda Gibran seperti saat ini.
Dengan sepotong kue dan kopi, Jena kini kembali ke toko buku, duduk bersama dua pria itu kembali.
"Kak, kau akan hadir di pernikahan Zafirah atau di acara penghargaan?."
"Apa kau pernah melihatku hadir di acara penghargaan? sekali saja?."
Mengerucutkan bibirnya"Hem....tidak pernah," sahutnya menarik pelan-pelan kue milik Jena.
"Nah, itu kau sudah tahu. Untuk apa bertanya lagi, buang-buang waktu saja," ketus Jena mengesap kopinya. Wanita itu belum menyadari keusilan yang dilakukan Gibran. Atensinya tersita kepada Agam yang melepas kacamata sembari menyugar rambut.
__ADS_1
"Mas, pasang lagi kacamata nya!," ujarnya bernada memerintah.
"Iya mbak istri," segera, Agam memasang kembali kacamatanya.
Menatap Jena dan Agam dengan jengah"Dia bahkan tidak rabun kak? tidak ada salahnya kan jika melepas saja kacamata itu."
"Suka-suka aku dong! dia saja tidak protes kenapa kau yang berkomentar??," seru sang kakak ketus.
Melihat kue nya berpindah tempat"Plak!!," jemari kecil Jena menepuk lengan nakal Gibran, menimbulkan suara renyah dan bekas memerah yang cantik di sana.
"Ash!! selain galak! cerewet! kau juga cemburuan sekarang kak," ujarnya mengusap sang lengan.
"Kau bahkan memukul ku!," ujarnya lagi menekuk wajah.
"Itu karena kau jahil sekali! kau berniat mencuri kue ku!"
"Lihatlah, ternyata kau punya satu penyakit lagi, kak," serunya mendorong piring kue itu lebih dekat pada Jena.
"Penyakit?? apa maksudmu!."
"Selain galak, cerewet, cemburuan, kau juga pelit sekarang. Kau sungguh menyebalkan," pria itu menggerutu sembari undur diri dari toko buku.
"Gibran!!," seru Agam.
"Bwek!!! dasar bucin," ledek Gibran dari muara pintu cafe.
Sikap kekanak-kanakan Gibran membuat Jena menahan tawa. Pria besar itu lumayan lucu saat merajuk. Begitupun dengan Agam, ledekan Gibran justru membuat geli hatinya.
"Ternyata dia sedikit lucu saat merajuk," ucap Jena pelan.
"Kau baru menyadarinya? kalian bersaudara, jelas saja dia lucu, sebab kau juga sangat lucu saat merajuk."
Jena menekan lesung pipi Agam saat itu"Oho, benarkah? jangan katakan kau cukup menyukai Gibran."
"Aku? menyukai pria nakal itu? ayolah sayang, meski kalian bersaudara cukup kau saja yang aku sukai."
Jena menatap Agam dengan lirikan nakal"Oh ya? benarkah??."
"Jenaira....kau jangan menggodaku!," seru Agam mulai menggelitik pinggang ramping sang istri.
"Kyaaa!! Agam!!," teriak Jena yang mulai merasa geli.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1