Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Rival berat Ben!


__ADS_3

Bukan main-main, rantang yang di jinjing Kanaya mengeluarkan aroma sedap yang menggugah selera. Tapi! bukan hal baru jika aroma masakan wanita manja itu tercium sangat sedap, cicipi dahulu, maka kau akan tahu bagaimana rasanya.


Selang 5 menit setelah kesampaiannya di kediaman pantai, dirinya kini duduk manis di depan televisi, sementara para penghuni kediaman itu melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Agam dan Gibran berangkat ke mushola, dan Jena melaksanakan kewajibannya di lantai atas. Lantas, bagaimana dengan dirinya? wanita itu malu-malu mengungkapkan dirinya yang sedang kedatangan tamu bulanan, dan Gibran yang menanyakan hal itu pun mengangguk dengan wajah canggung.


"Tunggu aku sebentar, selepas ini aku.....," Gibran menatap rantang di pangkuan Kanaya dengan ragu"Kita akan makan malam bersama," ujarnya akhirnya, yang langsung mengundang tawa mengejek seorang Agam.


"Hem, baiklah," sahut Kanaya tersenyum manis. Hufpph, senyuman gadis itu begitu mempesona di mata Gibran, mungkin karena itulah dirinya tak jua tergoda dengan pesona wanita-wanita cantik lainnya. Juga Bella, artis perempuan yang dia jumpai di acara penghargaan malam itu. Juga gadis di ujung pulau, meski kerap menebar pesona, Gibran tak benar-benar ingin menjalin kisah manis dengan gadis pantai itu, sebab Kanaya tetaplah kekasih yang selalu bertengger di tempat tertinggi dalam hatinya.


"Kau, apa tidak lelah hanya berpacaran saja dengannya? ku lihat kau begitu mencintainya, dan dia pun sama. Jika sudah merasa cocok kenapa tidak segera di halalkan saja," sembari memutar keran air untuk berwudhu, Agam berucap kepada Gibran.


Gibran yang masih sibuk menggulung lengan kemejanya menyahut"Masih menjadi misteri, kenapa masakannya terasa amburadul seperti itu, ku lihat dia menikmati masakannya sediri dengan lahap. Alih-alih langsung melamarnya, alangkah lebih baiknya aku memikirkan keselamatan lidahku dulu, bukan?."


Agam mengurungkan niat mengambil air wudhu, sorot matanya menatap Gibran dengan tajam. Jangan katakan Gibran hanya memikirkan dirinya saja dalam hubungan asmara bersama Kanaya!.


Sadar akan ucapannya yang terkesan egois"Yang terutama, aku memikirkan misteri masakannya? sepertinya ada yang tidak beres dengannya," ujarnya cengengesan.


"Alasan!, kau selalu saja berkilah saat di ajak bicara serius. Terserah kau saja, aku hanya ingin bilang, tidak baik berlama-lama menjalin hubungan tanpa ikatan halal, ingat! makhluk ketiga di antara dua manusia adalah setan!," tuturnya segera mengambil air wudhu. Percuma memikirkan kebaikan Gibran, toh pria itu terkesan santai-santai saja dengan wanita yang di cintainya. Setidaknya Agam sudah menyarankan kebaikan untuk hubungan mereka, jika yang bersangkutan tidak menanggapi saran baik itu, ya sudah!.


Di kediaman pantai...


Tak berapa lama, Jena turun dari lantai atas. Menghampiri Kanaya yang masih duduk manis di depan televisi.


Hidungnya kembang kempis, aroma masakan di dalam rantang itu sungguh menggugah selera. Jena pun segera meminta Kanaya untuk membuka rantangnya, dan....salah satu hidangan yang di masak Kanaya sangat cantik, paduan warna sayuran yang hijau, bulir jagung yang menguning, juga irisan wortel yang berwarna oren. Tiba-tiba Jena jadi penasaran ingin mencicipi masakan itu.


"Boleh, silahkan kak Jena. Aku memasaknya memang untuk kita santap bersama."


"Aduh, maaf Kanaya, sepertinya aku dan Agam tidak bisa makan malam bersama kalian," ujar Jena berwajah lesu. Keceriaan Kanaya saat mengungkapkan keinginan untuk makan malam bersama, membuat Jena sangat tidak enak hati, sebab dirinya dan Agam harus segera meluncur ke pondok pesantren Al-jannah untuk menyaksikan pernikahan Zafirah.


"Cicipi saja dulu, kak. Jika kau menyukainya kau boleh menyimpannya untuk di makan nanti," lantas Kanaya sedikit berbisik kepada Jena"Aku janji tidak akan memakannya saat kau tidak ada di sini," sambil mengedipkan mata. Jena tersenyum, sikap Kanaya manis sekali.


Hap! satu suapan telah sampai di lidah Jena. Hem...kali ini masakan Kanaya tidak bercita rasa buruk seperti biasanya, justru terasa enak di lidah. Sepertinya Kanaya sudah mengerti dengan takaran rempah yang semestinya saat memasak hidangan itu.


"Enak," ujarnya mengacungkan dua jempol ke arah Kanaya.


"Benarkah? kalau begitu kau boleh mengambil semuanya," Kanaya begitu senang sebab masakannya dapat di nikmati oleh orang lain, tidak hanya dirinya.


"Terimakasih, ujar Jena tersenyum tak kalah manis dari Kanaya. Dirinya segera menutup kembali hidangan itu, meletakannya di ujung meja makan kemudian besiap naik ke lantai atas lagi untuk berganti pakaian.


Sejenak sebelum Jena ingin pamit diri ke lantai atas, Agam dan Gibran telah kembali dari mushola. Agam pun segera naik ke atas untuk berganti pakaian, sedangkan Gibran yang sudah tahu perihal pernikahan Zafirah memilih menyusul saja. Meski dengan makanan bercita rasa unik, Gibran akan menghabiskan sedikit waktu lagi bersama Kanaya.


"Bagaimana? apa aku cantik?," tanya Jena saat meletakan kerudung di atas kepalanya.


Agam langsung tersenyum lebar"Sangat cantik!," sungguh, tatapan penuh cinta seorang Agam membuat Jena tersipu malu.


"Kau, seperti seekor kucing jantan yang sedang menatap ikan panggang yang besar."


Ucapan Jena membuat Agam tertawa renyah"Hahahaha, kalau begitu seharusnya aku langsung menerkam mu saat ini, sayang. Memandang saja tidak akan membuat si kucing kenyang," maju selangkah, Agam mulai mendekati istrinya yang semakin cantik dengan kerudung berwarna nude itu.


Ck! Jena mengendikan bahu sembari membuang pandangan, sembari tertawa"Ingat, waktu kita tidak banyak. Jangan sampai kita melewatkan acara pernikahan Zafirah, demi si kucing jantan yang lapar."


Agam mengusap tengkuknya, dan tertawa"Zafirah itu, tadi sore dia telah menggagalkan ciuman lembut istriku, dan malam ini sepertinya dia juga akan menggagalkan makan malam si kucing jantan."

__ADS_1


Jena menepuk pundak Agam"Sudahlah Mas, segeralah bersiap-siap," wanita itu lekas berbalik dan segera mengenakan kerudungnya dengan rapi. Dan Agam memeluknya sekejap sembari menatap pantulan diri mereka di depan cermin"Iya mbak istri, tapi jangan lupa dengan kucing jantan ya."


Jena terkekeh, dasar Agam! ingatannya begitu kuat jika menyangkut hal yang satu itu.


...❣️❣️❣️❣️...


"Ayah! kenapa ayah di suruh duduk berdekatan dengan ustadzah Zafirah??," Enda, bocah itu melayangkan protes pada ayahnya. Bagaimana tidak, sang ayah tiba-tiba mengatakan bahwa mereka tidak akan pulang malam ini. Dan sekarang sang ayah di suruh untuk duduk berdekatan dengan wanita yang membuatnya tersipu malu! ayolah! bukankah pak ustadz pernah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh berdekatan?.


"Sebab ayah akan menikah dengan ustadzah Zafirah," jawab Ben mengambil jongkok, agar tingginya lebih setara dengan Enda.


"Menikah?," kedua bola mata Enda berputar, kekiri, kekanan, bahkan ke atas, nampaknya bocah itu belum mengerti dengan kata menikah.


"Sebentar lagi ustadzah Zafirah akan menjadi umma nya Enda," ujar Syabila. Gadis itu mendekati Enda untuk membawanya bersama dirinya, sementara Ben harus mengucap janji suci bersama Zafirah.


"Umma?," Enda berpikir sejenak. Dari pelajaran yang dia dapat di pondok pesantren ini, umma artinya ibu, jadi.....


Wajah bocah itu memberengut"Ayah! kenapa ustadzah Zafirah ayah ambil! ustadzah Zafirah kan cewek Enda!!," berteriak, suara kecil Enda membuat semua orang menahan tawa.


Ben di buat panik, aroma kesedihan mulai tercium dari roman wajah putranya. Sungguh, dia tidak tahu bahwa Enda menyukai Zafirah, dan sekarang dirinya justru akan menikahi ustadzah idola putranya. Tengkuknya tidak terasa gatal, hanya saja Ben spontan menggaruknya untuk menenangkan diri.


"Enda sayang, jika ayah Ben menikah dengan ustadzah Zafirah, maka ustadzah Zafirah akan tinggal bersama kalian," ujar Yahya, santri senior yang sempat menjadi kandidat calon suami Zafirah.


Alih-alih mereda, emosi Enda semakin memuncak hingga membuatnya bersedekap"Abang! katanya abang teman Enda, kenapa abang membela ayah? ayah jahat abang! dia ambil cewek Enda."


Kemarahan Enda semakin menggelikan bagi semua orang, ah! terkecuali Ben. Dirinya takut Enda benar-benar marah kepadanya, sungguh dirinya hanya punya Enda saat ini.


"Paman, bagaimana ini? pernikahan tiba-tiba ini membuat saya tidak sempat berbicara banyak dengan Enda," seorang ayah tunggal itu meminta pertolongan kepada calon ayah mertuanya. Hatinya benar-benar cemas melihat Enda gusar kepadanya.


Berada di tepian lapangan, Enda di temani Yahya di jumpai Kiyai Bahi"Assalamualaikum," ujar pria tua itu.


Enda diam, merajuknya bukan main-main saat ini.


"Assalamualaikum," ulang Kiyai Bahi.


Enda masih menekuk wajah, dan Yahya terlihat sedang mencuil lengan bocah itu"Dosa jika tidak membalas salam," bisiknya.


"Waalaikumsalam," sahut Enda akhirnya.


"Masya Allah, Enda anak yang baik. Mendengar orang mengucapkan salam kamu langsung menjawab."


"Tidak langsung Pak Kiyai, Enda juga mendengar salam yang pertama," celotehnya dengan bibir memanyun.


"Benarkah, hem...kenapa salam yang pertama tidak langsung di jawab?," tanya Kiyai mendekat pada Enda.


"Enda marah.....," ujarnya dengan nada kesal.


"Sama ayah," kali ini suaranya terdengar pelan. Bocah itu jongkok dan mengambil sebilah lidi yang ada di bawah kakinya. Menulis acak pada tanah tepian lapangan.


Mengambil posisi yang sama dengan Enda, Kiyai Bahi membuat Yahya juga mengambil jongkok seperti Enda. Jadilah tiga pria bermacam-macam generasi itu jongkok bertiga di tepi lapangan"Kenapa marah kepada ayah? apa karena ayah akan menikah dengan ustadzah Zafirah?."


Enda mengangguk.

__ADS_1


"Enda cemburu?."


Lagi, bocah itu mengangguk.


"Memangnya ustadzah Zafirah siapanya Enda?."


"Cewek Enda," dengan polosnya dia menjawab seperti itu.


"Oh....," Kiyai Bahi tidak bisa menahan tawanya"Heheheh, jadi Enda suka dengan ustadzah Zafirah?."


"Iya, tapi kata pak ustadz perempuan sama laki-laki tidak boleh berdekatan. Jadinya Enda suka diam-diam saja sama ustadzah Zafirah."


"Hupffhh!!," Yahya lekas menutup mulutnya. Baru kali ini dia menjumpai bocah selucu Enda, juga pandai bicara seperti Enda.


"Kenapa harus diam-diam? jika ayah menikah dengan ustadzah Zafirah maka kalian akan hidup bersama. Jadi Enda tidak perlu diam-diam lagi menyukai ustadzah Zafirah, Enda juga bisa memanggilnya dengan sebutan umma, Enda akan makan masakan umma, tidur di bacakan kisah nabi oleh umma, di antar ke sekolah sama umma, apa lagi ya.....," ujar Kiyai Bahi sembari meletakan jemarinya di bawah dagu, seperti orang yang sedang berpikir.


"Juga memandikan Enda sebelum berangkat ke sekolah," ujar Yahya membantu menyakinkan Enda.


Lekas Enda menggelengkan kepala"Tidak! umma tidak perlu memandikan Enda, Enda sudah bisa mandi sendiri. Enda malu jika umma melihat....," menatap ke bawah, tiba-tiba Enda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Plak!," Kiyai Bahi menepuk keningnya, entah apa yang sedang di pikirkan bocah kecil ini, di bawah lampu beranda kelas TPA, roma merah terlihat menjalar ke daun telinganya.


"Pak Kiyai!! bagaimana ini??," tanya Yahya tertawa, perutnya bagai di kocok menghadapi Enda yang sangat lucu.


"Hahaha , masa tuaku akan semakin berwarna memiliki cucu selucu dia," sahut pak Kiyai tertawa lebar.


"Jadi, sekarang bolehkah ayah menikah dengan ustadzah Zafirah?," tanyanya usai mereda tawa.


"Boleh, tapi tidak perlu memandikan Enda," ujar bocah itu akhirnya.


"Alhamdulillah," ucap Kiyai Bahi dan Yahya bersamaan.


"Ya sudah, nanti Enda mandi sama abang saja," ujar Yahya meraih jemari Enda, perlahan mengajak bocah itu kembali ke kediaman Kiyai Bahi.


"Boleh saja, tapi tetap saja abang tidak boleh melihat burung Enda," rupa-rupanya si burunglah yang membuatnya malu hingga merona tadi.


"Hahaha, tidak akan. Lagipula kita tidak di anjurkan mandi tanpa sehelai benangpun," ujar Yahya lagi.


"Benarkan?."


"Hemm... benar sekali," sahut Kiyai Bahi.


"Ooooo," Enda membulatkan mulut.


"Lekaslah, waktu kita tidak banyak," ujar Kiyai Bahi mempercepat langkahnya.


"Sini abang pikul," Yahya menawarkan punggungnya kepada Enda, agar lebih cepat sampai.


"Tidak perlu abang, Enda bukan beras untuk di pikul," lagi-lagi celotehan bocah itu membuat orang tertawa.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2