Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Hasil dari sebuah kelicikan.


__ADS_3

Sekali kau berbohong, maka kau akan terus berbohong demi menutupi kebohongan yang telah lalu. Sekali kau berkhianat, kau akan terus terperangkap dalam perbuatan tak terpuji itu. Dan, saat kau menikmati hasil dari kecurangan itu, kau akan terus terlena hingga akhirnya lupa akan arah yang benar.


Buah dari kecurangan Bastian, proyek pembangunan jembatan di nyatakan gagal total, setelah melewati waktu pembangunan yang panjang. Bagaimana tidak, material yang di setujui Abian dan para rekan kerja lain tidak sesuai dengan apa yang telah sampai di lokasi pembangunan. Jembatan setengah jadi itu ambruk, bukan hanya itu, kejadian itu memakan korban luka-luka yang cukup parah. Meski tidak sampai menelan nyawa, namun kerugian yang di tanggung perusahaan cukup mengejutkan.


Sontak, kabar itu tercium awak media dengan sangat cepat. Tentu saja Tian yang di ketahui sebagai kepala pembangunan proyek itu menjadi bulan-bulanan netizen. Bukan hanya itu, dirinya terancam masuk bui demi mempertanggung jawabkan segala keteledoran itu.


Abian turun langsung untuk mengatasi masalah yang di timbulkan Tian, dan Arkan selalu mengikuti pergerakan sang ayah untuk segera menyelesaikan permasalahan itu.


Tengah sibuk mengatasi masalah yang melanda, Lisa yang telah hengkang dari perusahaan datang menawarkan bantuan dana.


"Tidak perlu, hal ini masih bisa kami atasi," ujar Abian. Kini dirinya telah mengetahui identitas Lisa, dia sang malaikat kecil yang telah menyelamatkan putra sulungnya dari muara kematian. Dan, apa kalian tahu bagaimana reaksi Adila saat mengetahui hal itu???


"Lekaslah nikahi dia, dia adalah dewi penolongmu, Arkan."


Sungguh, dirinya sudah di buat pusing karena ulah Tian, di tambah permintaan tak masuk akal sang ibu, bagaimana kepala Arkan tak serta-merta berdenyut hebat.


"Lupakan saran itu, ibu," ujarnya berlalu menuju kamar.


Adila memberikan kode kepada Lisa untuk mengikuti Arkan, gadis itu mengekor Tian dari kantor hingga ke rumah. Dan merasa mendapat dukungan dari ibu negara, jelas saja sang hati di dalam sana senang bukan kepalang. Lantas bagaimana dengan tanggapan Abian? pria paruh baya itu tak punya cukup nyali untuk menolak saran sang istri tercinta, membuat Arkan menatap sang ayah sembari membuang napas.


"Berhenti!, aku ingin istirahat di kamarku. Kau sebaiknya kembali saja ke apartemen mu."


Penolakan itu membuat wajah Lisa tertekuk sedih, menatap kepada Adila dengan manik yang berkaca-kaca.


"Arkan! ini masih sore, lebih baik kau menghabiskan waktu bersama Lisa. Menonton film di kamarmu, contohnya."


Abian tahu betul, Adila langsung menyukai Lisa sang gadis periang sejak pertama berjumpa. Namun mempersilahkan Lisa menonton film bersama sang putra, di kamarnya, sungguh membuat Abian sedikit terkejut. Juga Arkan, ada apa dengan sang ibu yang biasanya besikap dingin terhadap gadis yang mendekati putra-putranya.


Di kediaman pantai, Agam tengah berbincang dengan Ben, ayah tunggal bocah lelaki nan manis, Enda. Demi memangkas waktu, agar bisa fokus bekerja juga fokus mengurus segala keperluan Enda, Ben meminta saran dari Agam.


"Setahuku, di sini ada taman kanak-kanak yang cukup bagus," ujar Agam mulai memberikan pendapat. Mengingat tempat bersekolah Enda yang berada di perkotaan, jarak tempuh nan jauh itu menimbulkan sedikit masalah bagi Ben.


"Jadi, maksud mu aku lebih baik memindahkan Enda untuk bersekolah di sini?."


Agam mengangguk"Kau bisa sekali mendayung untuk melampaui 2 sampai 3 pulau, bukan."


Ben cukup mengerti dengan saran yang di berikan Agam, jika Enda bersekolah di sini maka dirinya dapat mengantar Enda sekolah sekaligus berangkat bekerja.


"Saranmu boleh juga, jadi aku hanya perlu mengantarnya untuk mengaji siang hari."


"Ben, bolehkan aku memberi saran juga?," Gibran datang dengan menjinjing rantang makanan yang di kirimkan Kanaya melalui jasa pesan antar.


"Tentu saja boleh," Ben menarik kursi untuk Gibran duduk bersama mereka.


Sembari meletakan rantang itu di atas meja, Gibran kembali berucap"Apa kau lupa, teman kita ini sangat jago dalam membaca Al-Qur'an, kenapa tidak kau suruh saja dia yang mengajari Enda membaca Al-Qur'an."

__ADS_1


Hei!! mengajari si bocah Enda? lelaki menggemaskan yang membuat Jena terpesona pada pandangan pertama?. Memang terasa menggelikan, namun hati kecil Agam merasa tertolak untuk mengajari Enda. Lagi pula, dirinya bukanlah guru mengaji yang cukup berpengalaman. Jika hanya sekedar pandai mengaji, Gibran pun juga pandai melantunkan ayat suci Al-Qur'an itu.


"Dan apa kau lupa, bahwa dirimu juga pandai membaca kitab suci Al-Qur'an, kenapa menyarankan hal itu kepadaku?," Agam balik menodong Gibran.


"Lagipula yang di butuhkan Enda bukan sekedar belajar membaca Al-Qur'an, dia juga harus di latih untuk menulis huruf hijaiyah, menghafal doa untuk sehari-hari, dan masih banyak hal lainnya."


Perkataan Agam di angguki Ben, pertanda dirinya sepemikiran dengan Agam.


Gibran lantas memberengut"Aku hanya memberikan saran, jika tidak berkenan jangan marah dong."


"Aku tidak marah, aku hanya menjelaskan," tukas Agam menyambar rantang kiriman Kanaya.


Lekas Gibran mengambil alih Kiriman kekasih hati itu"Hais! kau main sambar saja, aku bahkan belum selesai bicara."


"Tidak perlu kau lanjutkan, saranmu sudah jelas di ketepikan Ben."


Pria berkulit coklat itu berpaling menatap Ben, dan pria duda itu tertawa dengan polosnya kepada Gibran.


"Huh, kau dan dia sama saja! sama-sama menyebalkan."


Agam dan Ben yang di tunjuk Gibran bergiliran tertawa nakal bersamaan menatap Gibran.


"Maaf, tapi benar apa yang di katakan Agam. Daripada memikirkan hal itu, aku lebih tertarik dengan benda di dalam rantang ini. Kau tidak ada niat untuk membukanya bersama kami?."


"Hemmm," Gibran mendengungkan suara"Ini bukan kali pertama Kanaya mengirimi ku makanan. Jika tebakanku benar, aku tidak yakin kalian akan menerima benda ini bahkan jika aku berikan."


"Buka saja, jangan tertele-tele," jadi penasaran, Agam lantas mendesak Gibran untuk segera membuka si rantang bersusun.


"oke, baiklah!," Seru Gibran begitu yakin.


Setelah terbuka, aroma sedap langsung tercium dari hidangan yang di masak dengan kasih sayang Kanaya. Ben sebagai chef pun menelan air ludah karena aroma dari masakan itu.


"Waaaghhh!!! aromanya saja sudah sedap. Ini pasti nikmat!," seru Ben.


Dengan hati seringan bulu, Gibran menyodorkan rantang pertama yang telah dia buka itu kepada Ben"Cicipilah, aku yakin kau pasti suka."


Aroma sedap itu membuat Ben langsung mengambil sendok, mencicipi masakan kekasih Gibran yang katanya....sangat gemar memasak.


"Wahhh, kau tidak marah aku lebih dulu mencicipinya?."


Seringai tawa Gibran nyaris tak terlihat"Tidak mengapa, aku sudah sering mencicipi hidangan seperti ini, sendiri."


Sebut saja itu oseng-oseng baby cumi, entah apa nama dari masakan itu, melihat dari bahan utama si baby cumi maka Ben mengira itu adalah oseng-oseng baby cumi.


Tanpa ragu, Ben langsung mencicipi olahan itu. Kedua matanya membulat sempurna, lengkap dengan kedua alis terangkat naik.

__ADS_1


"Apakah seenak itu?," tanya Agam. Ekspresi Ben sangat tidak bisa di tebak, entah itu enak atau justru sebaliknya.


"Huum," sahut Ben seperti mengulum si baby cumi.


"Duhai adik ipar ku yang tampan, izinkan aku mencicipinya juga," pinta Agam sembari merayu kepada Gibran.


"Oh, tentu. Aku akan mengambilkan sendok untuk abang ipar yang juga tampan ini," begitu bersemangat, Gibran tak segan merepotkan diri beranjak menuju dapur cafe untuk mengambil sendok, seperti yang telah Ben lalukan saat mengambil sendok sebelumnya.


Senyum mengembang di wajah Agam saat menerima sendok yang di berikan Gibran"Terimakasih."


"Silahkan di cicipi, jangan sungkan begitu," ujar Gibran kembali duduk. Di pandanginya Ben yang nampak berusaha mengunyah si baby cumi dan menelannya, senyumnya pun semakin lebar.


Hap!, satu suapan si baby cumi telah masuk ke mulut Agam dan "Huweekkkk!!," Agam lekas berlari ke dapur cafe. Memuntahkan apa yang telah dia makan.


Baru saja turun dari lantai atas"Mas, kenapa??," Jena bergegas mendatangi Agam. Wanita itu nampak sangat khawatir melihat suaminya mencuci mulut di wastafel.


Ben, terlihat berjalan menuju kulkas. Meraih air mineral dan segera meminumnya. Ben berkumur-kumur dahulu sebelum meminum air mineral itu.


"Ada apa dengan kalian?," tanya Jena memijat pundak Agam. Menyapukan pandangan pada tiga pria itu bergantian.


"Kau pasti mengerjai mereka, kan?," melihat Gibran yang tertawa terbahak-bahak, Jena sangat yakin bahwa ini pasti ulah sang adik tengil.


"Hahaha, aku hanya berbagi masakan yang di olah kekasihku dengan cinta," sahutnya tanpa rasa bersalah.


"Ck! masakan itu lagi!," ucap Jena berdecih.


Usai mencuci mulutnya, Agam terlihat menggelinjang"Asin, sangat asin. Ada rasa pahit juga. Rempah-rempah jenis apa yang di gunakan Kanaya saat memasak? lidahku hampir mati rasa mencicipi sesuap hidangan yang dia olah."


Lekas, Jena mengambil permen jeruk yang tersimpan di dalam jar, terletak di atas meja kasir"Makanya, lain kali berhati-hatilah. Beruntung hanya makanan asin, pahit, dan rasa aneh lainnya. Bagaimana jika terdapat racun di dalam makanan itu, aku tidak punya penawarnya, mas Agam," menyuapkan permen jeruk itu ke mulut Agam, sembari sedikit mengomel.


"Kau juga memakan hidangan itu?," tanya nya kepada Ben.


"Heem," sahut Ben kembali meminum air mineralnya.


"Enak?," Jena oh Jena, kau menanyakan hal yang bahkan kau sendiri sudah mengetahui jawabannya.


"Hahaha, enak sekali, sampai aku tidak berniat mencicipinya lagi," tukasnya tertawa namun dengan tatapan mengejek pada Gibran.


Jena pun mentertawakan mereka. Dua koran baru atas hidangan yang di masak Kanaya. Selain Agam dan Ben, ternyata dirinya juga sudah pernah mencicipi hidangan bercita rasa unik itu. Kala itu, dirinya sampai menjerit merasa dengungan di kedua telinga, selain asin, hidangan yang di cicipinya kala itu juga sangat pedas.


Sepasang mata boba Gibran menatap mereka bergantian"Kak Jena juga mau mencicipi? atau kalian juga mau mencicipi lagi?," Gibran kembali menawarkan hidangan dari sang kekasih itu kepada mereka.


"Tidak!!!," sahut mereka bersamaan.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2