Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Pria-pria tepi pantai.


__ADS_3

Melepaskan buah hati tercinta, untuk hidup dan membina rumah tangga, sungguh sebuah hal yang sulit bagi setiap pria setangguh Kiyai Bahi. Sudah di tahan sekuat tenaga, sudah tersenyum dengan indahnya, namun sang air mata, tetap saja jatuh di kedua pipi.


Sang hati di selimuti kesedihan saat melepas Zafirah pergi menjadi relawan, demi mengobati hati yang telah patah. Dan kepedihan melepas Zafirah untuk tinggal bersama pria pilihannya, justru terasa sangat memilukan. Sempat terbesit sesal, mengapa dia menikahkan putrinya. Namun, segera bisikan sesat itu dia hempaskan, berganti dengan keyakinan bahwa Khair, akan jauh membahagiakan putrinya, alih-alih dirinya.


Bukan sebuah mobil mewah yang mengantarkan dirinya, berbekal sebuah koper besar, Zafirah duduk memeluk pinggang suaminya, berboncengan menaiki motor matic, menuju kediaman barunya. Dan Enda, bocah itu duduk manis di atas koper sang umma di tempat paling depan, tersenyum manis dengan hati yang riang gembira.


"Umma, nanti umma satu kamar sama Enda saja ya," suara bocah itu memecah lamunan Zafirah. Menarik sisa-sisa rasa yang masih tertinggal di pondok pesantren, tempatnya tumbuh dewasa.


"Tidak bisa," belum sempat Zafirah menjawab, Khair telah lebih dahulu memberikan jawaban.


Melalui kaca spion, Zafirah dapat melihat wajah menggemaskan itu cemberut"Ayah! kenapa ayah selalu nakal kepadaku! kata kakek, umma sekarang akan tinggal bersama kita, itu artinya umma akan lebih dekat dengan Enda."


Khair tersenyum simpul"Lantas, mengapa jika umma lebih dekat dengan Enda?."


"Enda akan berbagi kamar dengan umma, tidur bersama umma," sahutnya berceloteh dengan kepala bergerak-gerak.


"Terus, kalau Enda dan umma satu kamar, ayah sama siapa? memangnya umma atau Enda tidak ada yang mau tidur bersama ayah?."


Terlihat, Enda memanyunkan bibirnya seperti anak bebek. Zafirah tak bisa menahan tawa, bocah itu terlalu lucu.


"Enda sudah bosan tidur dengan ayah," ujarnya terdengar halus, di sapu angin yang membelai kasar wajahnya.


"Apa?," Khair seolah tak mendengar. Membuat Enda mendengus hingga hidungnya menyerngit.


"Enda sudah bosan tidur sama ayah!," ucapnya berseru.


Senyum di wajah suaminya mengembang, dan kini pria itu kembali mengusili putranya"Ya sudah, ayah tidur di temani umma saja."


"Tidak bisa! umma akan tidur bersamaku ayah!."


"Jadi, ayah yang tidur sendirian?."


"Ayolah ayah! ayah kan laki-laki. Bukankah ayah sendiri yang bilang laki-laki tidak boleh takut sendirian."


"Kamu juga laki-laki Syailendra," kali ini dia memanggil nama panjang putranya. Membuat Enda gemas ingin menggigit lengan sang ayah, karena menyebalkan. Namun, apa hendak di kata, dirinya tahu mereka akan berada di dalam bahaya jika dia melakukan hal itu. Memberengut, hanya itu yang bisa Enda lakukan saat ini.


Lagi-lagi Zafirah di buat tertawa. Mengintip dari pundak lebar sang suami, pantulan wajah lucu Enda di kaca spion membuatnya ingin mencubit perlahan kedua pipinya.


Sementara Khair, pria itu sedang menahan gejolak di dalam dada. Pegangan erat Zafirah di pinggangnya, membuatnya teringat wajah memerah sang istri saat menawarkan dirinya tadi malam. Ck! Enda sungguh membuat kesabaran ayahnya di uji betul.


Perlahan, Khair mengusap sejenak punggung tangan Zafirah di pinggangnya. Membuat Zafirah terkejut, dan membenamkan wajahnya di punggung sang suami. Ya Allah, sore itu udara sejuk mengiringi laju motor matic yang membawa keluarga kecil mereka, terlihat wajah mereka sangat bahagia, sangat ceria. Juga sebongkah daging di dalam dada, yang di sebut hati, masing-masing mengucapkan syukur kepada Allah sang maha kuasa.


"Ya Allah, terimakasih sudah kasih ustadzah Zafirah menjadi ibuku," lirih hati kecil Enda.


Menatap langit biru yang menaungi mereka, hati kecil Khair berucap"Tuhan yang maha baik, maha pemilik segalanya, terimakasih telah mendatangkan bidadari lembut kedalam hatiku yang sempat takut untuk mencinta."

__ADS_1


Dan Zafirah, wanita itu begitu banyak mengucap syukur di dalam dada, Khair sosok pria yang perlahan mencuri hatinya, pria hangat yang perlahan memberikan rasa aman pada dirinya"Terimakasih ya Allah, setelah perjalanan yang berliku, kau memberikan imam yang begitu lembut, dan baik kepadaku."


Dan masih perkara kamar yang akan di tinggali Zafirah. Enda langsung masuk ke dalam kamar sang ayah, mengambil bantal dan guling, serta selimut. Membawanya ke kamarnya untuk di gunakan Zafirah.


Khair memandang pasrah, pada tempat tidurnya yang kosong melompong"Jadi, ayah tidur berbantal lengan saja, putraku Enda?."


Enda menepuk keningnya"Oh iya ya, kita hanya punya bantal dan guling satu-satu."


Kemudian, Zafirah duduk pada sebuah sofa berukuran sedang di ruang tamu mereka, ruang tamu yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil"Ya sudah, umma bisa kok tidur di sini," ujarnya bercanda.


"Tidak bisa umma," ujar Enda seperti orang dewasa. Bocah itu berkata akan menukar posisi mereka, Zafirah akan tidur di kamarnya, sedangkan dirinya di ruang tamu. Ya Allah, Khair tidak pernah menduga putranya memikirkan hal itu, dia benar-benar bersikap seperti orang dewasa. Namun, jika teringat sebab musabab dewasanya pikiran Enda, hati kecil Khair tercubit, ngilu.


"Tidak mau!," tukas Zafirah berlagak merajuk.


"Mengambil duduk berhadapan dengan Zafirah"Umma berbagi bantal dan selimut dengan Enda saja. Enda janji tidak akan menarik selimut lebih banyak, agar umma tidak kedinginan saat pagi."


Zafirah melirik ke arah Khair, melihat tampang suaminya yang tersenyum pasrah"Baiklah, malam ini umma akan tidur bersama Enda," dan wajah Khair, semakin terlihat menyedihkan. Kedua alisnya menurutnya dengan senyuman pahit, lagi-lagi dia di kalahkan oleh putranya sendiri.


...🐝🐝🐝🐝...


Banyak jalan menuju roma, mungkin pribahasa itulah yang sedang di tapaki sutradara Han. Jika Gibran tak jua datang kepadanya, maka dirinya yang dengan senang hati mendatangi pria berharga itu.


Sesekali, anggap saja berkerja sambil sesekali liburan. Sutradara Han meluncur menuju kediaman pantai, sendirian, tanpa sang supir sekalipun. Hal pertama yang dia jumpa di kediaman pantai, adalah bangunan cafe yang belum jua di resmikan. Sebelum masuk dan menyapa Gibran, yang dia yakini tengah berada di kediaman itu, otak kecil sang sutradara memikirkan strategi untuk menarik minat Gibran bergabung bersamanya.


Dan Gibran, pria itu memang sedang berada di kediaman pantai, sedang menikmati penghujung hari di beranda belakang. Ah! langit yang indah, tak cukup rasanya jika berdiam diri saja di beranda rumahnya. Sembari membawa sebotol minuman bersoda, Gibran menyusuri tepian pantai, bertelanjang kaki.


Pria tinggi berkulit sawo matang itu meoleh pada arah suara, dan kedua bola mata bobanya membulat, mendapati seorang pria terkenal sedang berada di kediamannya"Sutradara Han! apa yang membawa anda kemari," memutar langkah kembali, niat menyusuri tepian pantai pun dia urungkan.


Bahu pria itu mengendik, dengan senyuman kepada Gibran"Tentu saja untuk bertemu denganmu."


Senyuman lebar dengan gigi kelinci nan putih, terbit di wajah Gibran hingga membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Sungguh, sebuah mahakarya sang pencipta yang sangat sayang jika di sia-siakan saja, pikir sutradara Han.


"Mari masuk pak sutradara," ujarnya, mencuci kaki di ujung beranda, kemudian membawa pria itu untuk masuk lewat pintu belakang bersamanya.


Dengan patuh, sutradara Han mengekor langkah Gibran"Tempat tinggal yang nyaman. Pantas saja kau sangat betah tinggal di kediaman ini," ujarnya setelah melihat keadaan di dalam kediaman Gibran.


"Ya, tempat ini memang nyaman, sutradara Han," sahutnya membuka kulkas, menawarkan beberapa minuman untuk pria itu.


Memandangi minuman yang..."Apa tidak ada minuman beralkohol?," tanya pria tua itu menyelidik setiap minuman yang ada di dalam lemari pendingin.


Tersenyum getir"Kami tidak mengkonsumsi minuman beralkohol pak sutradara."


"Oh, baiklah, aku akan mengambil minuman bersoda ini saja," ujarnya mengambil sebotol minuman yang sama dengan Gibran.


Sebuah sambutan yang terlampau ramah, tidak seperti kebanyakan orang yang jika kedatangan dirinya maka akan langsung menjamunya dengan berbagai hidangan mewah. Dari sebotol minuman bersoda itu, sutradara Han menyimpulkan sosok Gibran adalah pria apa adanya. Dan hal itu, menambah ketertarikannya pada sosok di hadapannya ini.

__ADS_1


Mendengar adanya obrolan di lantai bawah, Agam lantas turun, dia pikir Gibran sedang berbincang bersama Khair, tapi bukankah Khair masih berada di pondok pesantren?.


Seketika bertemu pandang, Agam lekas menyapa saat menjajaki lantai dengan sempurna"Selamat sore," ujarnya begitu santun. Dia sedikit menundukan tubuh saat mengangguk sopan kepada sutradara Han, juga sembari tersenyum, membuat kedua lesung pipi nya terlihat.


Dengan celana jeans hitam, kaus hitam longgar, penampilan santai Agam mencuri perhatian sutradara Han. Apalagi wajahnya yang tampan rupawan, dan suara beratnya saat berbicara, ternyata kediaman pantai ini menyimpan dua butir batu permata yang sangat berharga"Selamat sore, apa kau roommate Gibran?."


"Bisa di katakan begitu pak, tapi bukan hanya saya, istri saya juga tinggal di rumah ini," ujar Agam.


"Istri??," sedikit memiringkan kepalanya, sorot matanya menyiratkan sebuah tanya.


"Perkenalkan, dia suami kak Jena," akhirnya, Gibran memperkenalkan Agam kepada sutradara Han.


"Dan Agam, perkenalkan ini sutradara Han. Sutradara hebat yang sempat melirik karya kak Jena."


Dua pria itu saling memperkenalkan diri, sembari berjabat tangan.


"Wah! aku pernah melihatmu di sebuah foto, foto pernikahanmu dengan Jena yang di liputan wartawan. Melihatmu secara langsung, aku tidak menyangka kau adalah pria yang sangat tampan," tak segan-segan, sutradara Han langsung memuji visual Agam yang memang tampan.


"Ah, terimakasih pak sutradara, anda terlalu memuji," ucapnya mengulum senyuman.


Lantas, pria itu di bawa masuk ke area cafe, dan di sanalah dia mengutarakan niatnya kepada Gibran. Saat itu Agam ingin segera undur diri, dirinya teringat niatnya turun adalah hendak mengambilkan kopi untuk istrinya di atas sana.


"Agam, apa kau berniat menjadi artis?."


Gibran menyeringai, motif pria ini sangat kentara sekali.


"Oh tentu saja tidak, saya mati gaya jika di depan kamera," sebuah penolakan telak. Sutradara Han tersenyum pahit mendengar jawaban Agam.


Kini, dirinya kembali fokus kepada Gibran. Dirinya menawarkan sebuah pelayanan terbaik, Jika Gibran mau berlakon pada film pendek yang akan dia harap bulan depan. Dia jua mengatakan keuntungan besar yang sedang menanti Gibran, yang akan berimbas kepada cafe yang akan dia buka, beberapa hari kedepan setelah Khair melewati masa bulan madunya.


"Cafe milik seorang artis terkenal, aku jamin cafe ini akan menjadi tujuan banyak wisatawan."


"Saya belum menjadi artis pak," ujarnya tersenyum.


"Hei, jangan menutupi peluang di depan mata. Kau sedang naik daun sekarang, kau terlahir sebagai artis Gibran, kau harus menerima tawaranku ini! dengan begitu kau akan benar-benar menjadi artis terkenal."


Nampak sedang berpikir, namun sebenarnya Gibran sudah menyiapkan sebuah penolakan kepada sutradara itu. Sungguh, jika hanya memandang rupa, alih-alih kemampuannya, yang bahkan belum pernah berlakon di depan kamera sekalipun, Gibran sangat tidak percaya diri. Dirinya tidak ingin di cap sebagai arti modal tampang saja, dan sepertinya sutradara Han lebih tertarik dengan pesonanya saja.


"Izinkan saya bercerita kepada orang tua saya dahulu," ujarnya beralasan.


Mengangguk, sutradara Han kembali memberikan kartu namanya. Sangat berharap Gibran akan memberikan jawaban yang memuaskan.


Sementara Agam, pria itu mengatakan kepada Jena siapa yang sedang bersama Gibran di cafe, rasa penasaran wanita itu seketika mencuat, hingga berakhirlah pasangan suami istri itu sebagai pencuri dengar obrolan antara Gibran dan sutradara Han.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗



__ADS_2