
Keheningan di ruang kerja perlahan pecah, dering ponsel dari putra tersayang membuat Akhtar bergegas mencari sang istri, Arabella.
Tak berbeda dengan sang suami, Arabella yang mendapati panggilan tak terjawab dari sang putra memanggil sang suami dengan rasa gelisah.
"Bagaimana perkembangan perjuangan Agam mas", ujar Arabella penuh harap.
"Segeralah berganti pakaian, kita harus segera menyusul ke kediaman kiyai Bahi", jawaban sekaligus ajakan Akhtar langsung di laksanakan Arabella. Wanita paruh baya nan cantik itu membuka lemari pakaian dan segera memilah pakaiannya.
"Sayang," Akhtar berucap di sela kegiatan berganti pakaian.
"Hem...?."
"Jangan lupa cincin turun temurun dari mendiang ibuku."
Perkataan itu membuat Arabella memutar badan dan menghampiri suaminya.
"Apa anak kita berhasil?."
"Dia hanya meminta kita untuk segera ke kediaman kiayi Bahi, tidak ada salahnya sekalian membawa cincin turun temurun dari mendiang ibuku bukan."
"Semoga saja berbuah manis, aku sungguh tidak tega melihatnya tercenung saat sendirian. Jika saja aku tahu Adila sangat ingin menikahkan putrinya, seharusnya sejak awal aku merestui keinginan Agam mas," ada sorot kesedihan dari dua bola mata Arabella.
"Penyesalan selalu hadir di akhir cerita sayang."
Menggelengkan kepala"Tidak! aku tidak berharap ini adalah akhir dari cerita putra ku mas."
"Baiklah, cepatlah bersiap, aku sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi di sana."
...πΊπΊπΊπΊ...
Membuka lemari pakaian, memilah di antara pakaian yang tersusun rapi. Zafirah mengambil pakaian yang masih terbungkus rapi, pakaian baru yang belum pernah dia kenakan.
Beberapa bulan yang lalu, Zafirah mengidamkan pakaian cantik itu di sebuah butik. Sebuah gamis berwarna putih berpadu warna emas, lengkap dengan kerudung panjangnya.
"Akan sangat cantik jika aku mengenakan pakaian itu saat menikah dengan Agam," gumamnya saat itu.
Melihat harga yang cukup tinggi, Zafiah berpasrah kepada sang maha pencipta, saat uangnya telah terkumpul semoga saja gamis itu masih berjodoh dengannya. Dan, seminggu setelah itu Zafirah dapat tersenyum puas. Gamis yang dia idam-idamkan akhirnya telah resmi dia miliki.
"Kenakan gamis ini kak Naira, dan aku juga akan memasangkan kerudungan putih ini di kepalamu."
__ADS_1
"Kenapa harus gamis itu, kau bahkan belum pernah memakainya Zafirah!," sungguh tidak rela, Syabila yang di paksa menahan diri akhirnya bersuara.
Sepasang netra cantik Zafirah membulat menatap Syabila"Kau tidak tahu, betapa beruntungnya gamis ini, dia akan di pakai di hari yang sangat membahagiakan."
Sangat kesal, Syabila berdecih dan melarikan diri dari kamar Zafirah. Sementara Jena, wanita itu lebih banyak berdiam diri. Tanpa banyak bertanya, dengan sukarela Jena mengganti pakaiannya. Hingga saat Zafirah menghias dirinya, juga memasangkan kerudungan di kepalanya, Jena masih terlihat sedih.
Di pandangi dengan seksama, Zafirah menyadari gamis itu hanya di titipkan kepadanya, lihatlah betapa hampir sempurnanya penampilan Jena saat mengenakan gamis itu. Sungguh indah, cerminan seorang pengantin wanita yang elegan.
"Ck! ada apa dengan wajahmu? kau akan segera menikah kak Naira, dengan lelaki sholeh pula. Kau tidak tahu betapa beruntungnya dirimu menjadi istri seorang Agam, pria berhati lembut dan juga santun kepada orang tua," perih, luka yang menganga tersiram air garam dan semakin berdarah. Namun, ketentuan sang maha pencipta tiada satu manusia pun yang mampu melawannya. Selain berdamai dengan takdir, Zafirah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Kau sangat mengenal Agam, Zafirah."
Seulas senyum Zafirah terbitkan di wajah manisnya"Tentu saja, dia sudah seperti kakak laki-lakiku kak Jena."
"Apa kau tahu, dialah pria yang mengenalkanku pada surah Ar-rahman."
Lagi, hati itu semakin tersakiti. Genangan air mata lolos begitu saja dari kedua matanya. Cepat-cepat Zafirah menyeka, sedikit berdehem demi menetralkan suara bergetar nya.
"Wah, kalian sungguh sangat berjodoh kak, apa kau pernah mendengar bang Agam melantunkan surah tersebut?."
Jena menggeleng perlahan.
"Tapi apa?," rasa penasaran muncul dalam diri Jena.
"Suaranya kalah merdu dengan suara lelaki idamanku.," ujarnya kemudian.
Untuk pertama kali sejak kedatangan Adila, sebuah senyuman kembali terbit di wajah Jenaira.
"Hei, apa kau mengolok calon suamiku?."
"Calon suami??? seharusnya aku yang berkata seperti itu," pekik hati kecil Zafirah di dalam sana.
Menggeleng cepat, Zafirah menyadarkan diri dari bisikan setan iri dengki"Baiklah kak Naira, bang Agam dan pria idamanku sama-sama bersuara merdu," dengan begitu wajah cantik Jena tak lagi tertekuk sedih.
Wanita yang hampir selesai di kenakan kerudung itu melontarkan pertanyaan"Jika boleh tahu, siapa pria itu?."
Kembali terjeda, Zafirah menarik napas demi menetralkan kesedihan di dalam hati.
"Pria itu telah bertemu jodohnya, ku dengar dia telah menikah," begitulah cara Zafirah berkelit di hadapan Jena.
__ADS_1
"Semoga kau mendapat jodoh yang lebih baik Zafirah, kau wanita yang sangat baik. Kau pasti akan bertemu jodoh yang sangat baik jua."
"Amiin," Zafirah mengamini.
Di tengah obrolan mereka, terdengar seseorang mengucap salam di muara pintu. Bersamaan menyambut salam orang tersebut, Zafirah terperangah saat tahu bahwa bunda Agam yang mendatangi mereka.
Kesedihan semakin menjadi, rasa tidak rela tiba-tiba menyeruak di dalam dada. Betapa inginnya seorang Zafirah bertukar tempat dengan Jenaira saati ini, namun....
"Astaghfirullah π," sungguh kuat jiwa seorang Zafirah. Setelah hati kecil beristighfar, kesadaran diri muncul kembali.
"Silahkan masuk tante," dengan ramah, Zafirah meraih jemari kanan Arabella dan mencium takzim.
Kesedihan juga tergambar jelas di wajah Arabella, dengan tangan bergetar wanita itu mengusap lembut pucuk kepala Zafirah.
Netranya kini terpaku kepada Jenaira yang telah usai di rias. Meski hanya riasan tipis, kecantikan wanita itu sungguh membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana. Di tambah balutan kerudung yang dia kenakan, Arabella sampai berdecak kagum.
"Kau sangat cantik," ujarnya spontan.
Jena tersenyum kecil, mematut diri di depan cermin, tidak menyangka dirinya terlihat cocok mengenakan kerudung.
Zafirah pamit diri, memberikan ruang pada dua wanita yang akan segera menjadi keluarga itu.
"Agam tidak salah pilih, kau memang sangat cantik Jena."
Menatap Jena semakin dalam, tak henti-hentinya Arabela memuji kecantikan calon menantunya.
Tak tahu harus memanggil wanita itu dengan sebutan apa, Jena yang trauma pada ibu mertua hanya tersenyum menanggapi celoteh Arabella.
Di sela ketakutan berbalut senyuman, Jena terjengkit saat Arabella meraih jemarinya tiba-tiba.
"Aku tidak banyak meminta kepadamu nak Jena, sayangi Agamku dengan segenap jiwa. Sungguh, aku tidak meminta lebih kepadamu," sorot mata itu penuh pengharapan. Membuat Jena bingung harus berkata apa, hanya mengangguk dan beradu pandang.
Di buat semakin terkejut, Jena mendapat pelukan hangat dari Arabella, pelukan seorang ibu yang tidak pernah dia dapatkan dari Adila.
Sembari membalas rengkuh pelukan Arabella"Terimakasih telah menyambutku dengan sangat baik....ibu," lirihnya pelan.
"Bunda! panggil aku bunda sayang," ujar Arabella usai mengurai pelukan hangatnya.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya π€π€π€