Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Jejak Jena


__ADS_3

Dalam keterpurukan, Tiara terus melanjutkan misi meluluhkan kembali hati sang ibu mertua. Segala pekerjaan para pelayan dia lakoni meski tertatih, meski mendesis menahan perih Tiara tetap menebar senyum pada semua penghuni kediaman Dewa. Tak mengapa dirinya kembali merendahkan diri, asalkan mendapat kembali kepercayaan Jelita maka hal itu bukan apa-apa bagi Tiara.


Siang itu, Tiara kembali membuat gaduh, suara jemuran besi yang terjatuh membuat Jelita menjerit histeris, pasalnya, Tiara nampak tertimpa jemuran itu saat dirinya telah berada di tempat kejadian.


Rasa khawatir yang mendalam, terus menimba rasa kesal dan kecewa atas kesalahan Tiara, perlahan sesal itu menyusut hingga menimbulkan rasa iba. Kelicikan Tiara berbuah manis, meski sikap Dewa tetap kasar padanya, namun tidak dengan Jelita.


Meninggalkan mantan sahabat berhati busuk, Jena yang menghilang tak kunjung terdeteksi oleh Adila. Wanita itu kembali ke kediaman Jena dan Gibran di pantai, memeriksa setiap sudut kamar Jena, berharap ada sedikit jejak untuk menemukan keberadaan putrinya.


"Dia telah menghilang, bukankah ini yang kau inginkan", Abian bermuram durja, keluarga ini saling menyalahkan saat hilangnya Jena. Seolah di rundung duka saat sang putri tiada, bukankah saat Jena ada, Adila justru ingin Jena menikah dan meninggalkan mereka.


"Seharusnya kau berpesta, merayakan kehilangan Jena dari hidup kita", ujar Abian lagi.


Sepasang mata coklat Adila menatap Abian nyalang"Kau menyalahkanku? bukankah kau juga membenci gadis kecil kita?."


Pria paruh baya itu balas menatap sang istri"Aku memang sempat membencinya, karena ulang si peramal gila itu. Tapi sekarang tidak lagi Adila, aku menyadari bahwa diriku sangat menyayangi putri semata wayang kita."


Seperti biasa, Adila masih saja membela peramal abal-abal"Peramal itu hanya terjebak sial, buktinya selama ini apa yang dia ramalkan kepada kita terbukti benar dan akurat."


"Dia sudah mendekam di dalam penjara, itu adalah bukti yang lebih akurat. Bukti pasti bahwa dirinya benar-benar penipu ulung yang terkena batunya!", mendudukan diri di tepian ranjang Jena, Abian memegang erat selimut yang kerap menutupi tubuh sang putri saat tertidur lelap.


"Apa dia tidur dengan baik? apa dia makan dengan baik? apa yang sedang dia lakukan sekarang?", tanya batinnya di dalam sana.


Adila nampak semakin gusar, sebuah kesalahan dia mengajak Abian ke kediaman ini, suaminya sudah tak sepemikiran sejak kembalinya Jena dari kediaman Dewa. Terlebih kedua putranya, mereka langsung saja menempel kepada Jena dan terkesan melupakan keberadaannya. Teringat Arkan yang selalu menelponnya di saat jam makan siang, ck! hal itu telah jarang terjadi sejak kembalinya Jena. Arkan lebih banyak menghabiskan waktu mengejar perhatian Jena ketimbang memperhatikan dirinya.


Tak ingin terus membahas cenayang palsu, Adila tak menghiraukan ucapan Abian. Wanita itu terus memasang wajah cemberut di sepanjang aksinya menggeledah kamar Jena.


Di tempat lain, Arkan menggibas-ngibaskan lembaran pencarian orang hilang di sekitaran lehernya. Matahari nan terik sukses membentuk keringat sebesar biji jagung berjatuhan dari tubuhnya. Seorang diri, pria dengan setelan jas itu membagikan selebaran pada siapa saja yang dia temui.

__ADS_1


Meletakan selebaran itu di kursi belakang, Arkan berniat menyusul ayah dan ibunya di kediaman Jena. Membelah jalanan, saat memasuki area pantai Arkan kembali menatap halte tempat dia menemukan kendaraan Jena beberapa hari yang lalu. Pria itu sejenak singgah di sana, merenungi jika dirinya di posisi Jena langkah apa yang akan dia ambil saat itu.


Cukup lama Arkan di sana, menyaksikan dua kali bus berbeda yang singgah dan mengangkut penumpang dari sana. Jam makan siang hampir usai, namun Arkan tak jua beranjak dari halte bus, hingga datanglah bus ke tiga Arkan ikut naik ke dalam bus dan berbicara pada sang supir.


"Maaf pak, bolehkah saya menempel selebaran ini di pintu bus anda? juga membagikan selebaran ini kepada penumpang bus anda?", tanya Arkan santun.


Sang supir yang masih terbilang muda itu mempersilahkan Arkan, tahu betul bagaimana sakitnya kehilangan sanak saudara, menjadi alasan mengapa sang supir memperbolehkan tindakan Arkan.


Foto dan nama Jena tertera di selebaran itu, juga nomor yang bisa di hubungi jika ada seseorang yang melihat atau mengetahui keberadaan Jena. Sudah 2 hari hal ini Arkan lakukan, di ujung asa Arkan terus berusaha untuk menemukan adik perempuannya. Terlepas dari pencarian yang di lakukan Adila, Arkan sudah bersekongkol dengan orang suruhan Adila untuk lebih dahulu memberi kabar kepadanya jika telah menemukan Jena.


Rio telah berbalas pesan dengan admin pengunggah video di laman youtube, meski tidak begitu yakin Rio tetap ingin memastikan kebenaran wanita yang mirip dengan Jena itu.


"Namanya Naira, anggota relawan kami", balas sang admin yang tak lain adalah Yasir.


Naira, bukanlah Jena. Otak pria itu di paksa untuk lebih tajam dalam berpikir, meski namanya berbeda tidak ada salahnya untuk kembali bertanya bukan?


"Dia mirip seseorang yang sedang ku cari, bisakah kau mengirim kan fotonya padaku?", pinta Rio setelah pergulatan batin yang panjang. Pantang menyerah, begitulah motto dalam hidup seorang Rio.


"Apa kau lupa dengan kuasa sang maha pencipta?", tanya Arabella memecahkan lamunan Agam. Pria dengan sepasang lesung pipi itu termenung di ruang tamu, meski televisi terdengar nyaring, Agam terperangkap dalam kesunyian.


"Kau terkejut saat volume televisi itu sangat nyaring, kau pasti sedang melamun sayang", Arabella kembali berujar.


Senyum pahit terbit di bawah Agam, masih terlihat manis dan sedap di pandang, tapi sungguh ada kesedihan di wajah rupawan itu.


"Bunda ngomong apa tadi?."


Arabella terperangah"Kau bahkan tidak mendengar ucapan bunda?."

__ADS_1


"Maaf bunda, Agam tidak fokus", Agam mengusap tengkuk, mungkin akan pasrah jika sang bunda akan mengomel padanya.


"Ya! kau memang sedang tidak fokus. Bunda mengingatkan mu akan kuasa sang maha pencipta. Jika sedang lara, seharusnya kau menadahkan tangan padanya, bukan membuang waktu dengan tercenung begini", amat gemas, Arabella mencubit kedua pipi Agam. Wajah pria berkulit putih itu memerah, untung saja hal itu di lakukan bunda saat mereka berdua saja, jika ada orang lain yang melihat, Agam akan sangat malu.


"Agam sudah berkeluh kesah kepada-nya, hanya saja hati kecil di dalam sana tetap saja resah. Entah di mana Jena sekarang, Agam sangat khawatir bunda."


Arabella mengangkat wajah sang putra yang tertunduk sendu"Apa kau sudah bertanya kepada Gibran?."


"Pada keluarganya?."


Agam mengangguk"Dan mereka pun tidak mengetahui keberadaannya", lirih Agam.


"Cobalah kau bertanya pada teman-teman nya", lanjut Arabella.


Agam menggeleng pelan"Setelah di khianati Tiara, dia tidak lagi memiliki teman bunda."


"Agam putraku, memintalah pada sang pemilik segalanya. Jika usahamu tak membuahkan hasil, merayulah pada sang maha pencipta, merengeklah padanya, panjatkan apa saja yang kau pinta, jangankan Jena, syurga pun bisa kau dapatkan atas kehendaknya."


Agam menatap sepasang manik cantik milik Arabella"Namanya terus hadir di sepertiga malam bunda."


"Nak, meminta itu bukan hanya sekali dua kali."


"Setiap malam bunda", sambar Agam.


Wanita itu menghela napas, betapa dia tahu usaha putranya untuk meminta Jena menjadi jodohnya bukan main-main belaka"Jika sudah begitu, kita hanya bisa berserah kepada Allah."


"Kau sudah berusaha untuk mendekati wanita itu, kau juga sudah menapaki jalur langit. Kini, kita serahkan semuanya kepada Allah, dia yang maha tahu apa yang tebaik untuk kita."

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2