
...๐ผKeceriaanmu meluluhkan hatiku yang keras,...
...Tanganmu yang hangat memberikanku kekuatan dan ketenangan....
...Namun,...
...Mengapa hadirmu sejenak saja?๐ผ...
...๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ...
Malam semakin kelam saat Yasir kembali dari kediaman saudaranya, untuk mengantarkan langsung undangan pernikahan dirinya dan Zafirah. Yasir sempat di wanti-wanti sanak saudara agar lebih berhati-hati di perjalanan, mengingat dirinya adalah seorang calon pengantin. Menanggapi hal itu, Yasir tersenyum sembari berucap"Bismillah, saya pasrahkan diri ini hanya kepada Allah azza wa jalla."
Di perjalanan kembali ke pondok pesantren Al-jannah, Yasir di kejutkan dengan dua buah mobil berkejaran. Dan keterkejutan itu semakin menjadi setelah salah satu mobil menghantam mobil berwarna merah, membuatnya terbalik dengan kepulan asap dan api yang memercik dari mesinnya. Terletak di ruas jalan transdaerah, rute menuju pondok pesantren Al-jannah memang sangat sepi saat malam hari. Tepian jalan masih di pagari dengan pepohonan rimbun alih-alih perumahan warga.
Tak telihat akan memberikan pertolongan, sang penabrak mobil justru lekas meninggalkan tempat kejadian perkara itu setelah memastikan penumpang mobil tersebut terluka, atau mungkin telah meninggal.
Segera menepikan motor bebeknya, Yasir mencoba menolong pria dan wanita yang terjebak di dalam sana.
"Astaghfirullah," pekiknya, tubuhnya langsung melorot ke jalanan. Bagaimana tidak, korban dari kecelakaan itu adalah Arkan, dan seorang wanita yang tidak Yasir kenali.
"Tolong," lirih Arkan dengan darah bersimbah. Sementara gadis di sampingnya tak bergerak lagi.
Meraih ponselnya dengan tangan bergetar, Yasir segera mencari bantuan. Dan sungguh, tak satu manusia pun yang terlihat di tempat itu, membuatnya sangat panik dan bingung harus melakukan apa.
"To....long," lirih Arkan lagi, tangannya tergeletak di aspal dengan tubuh masih terjepit di dalam mobil.
Segera menyadarkan diri, Yasir menyeret diri untuk menarik Arkan. Mencoba menyelamatkan temannya sembari menunggu bantuan datang, percikan api itu membuatnya sangat ketakutan. Apakah mobil itu akan meledak?
"Bang Arkan!," teriaknya saat tubuh Arkan semakin melemah.
"Ya Allah, aku mohon beri aku kekuatan, bantu aku untuk menolong mereka," keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Bersusah payah, Yasir berhasil menggulingkan tubuh Arkan hingga jatuh ketepian jalan yang curam bertanah kuning, sedikit menjauh dari mobil itu. Menepuk kedua pipinya demi memancing kesadaran, ah! mengapa Arkan tak bergerak lagi?? apakah dia telah mati??. Teringat air mineral di saku tasnya, Yasir mengguyur sebotol air mineral itu di wajah Arkan.
__ADS_1
"Akh!! uhuk-uhuk," syukurlah, kesadaran Arkan kembali lagi. Tapi tubuhnya teramat sangat lemah, juga darah yang menimbulkan bau amis, membuat bulu kuduk Yasir seketika meremang.
"Yasir.....," lirih Arkan.
"Ya! ini aku bang," sahutnya sesekali melihat gadis yang masih berada di dalam mobil.
"Aku mohon, selamatkan gadis itu," ujar Arkan terdengar sangat pelan.
"Dia sudah tak bergerak bang."
"Bahkan_____jika dia sudah matipun, tolong__ keluarkan dia dari mobil itu," pinta Arkan, suaranya hampir tak terdengar dan kesadarannya perlahan menjauh.
Ash! kenapa bantuan tak kunjung datang? mimpi apa Yasir semalam, hingga harus berhadapan dengan kejadian seperti ini.
"Ar.....kkk," sepertinya gadis itu bersuara, Yasir segera mendekati mobil kembali.
"Nona!!," seru Yasir.
Tak terdengar jawaban, di bawah sinar temaram kedua mata gadis itu mengerjap berkali-kali. Pergulatan batin tengah terjadi dalam diri Yasir, sisi kemanusiaan nya sedang di pertaruhkan saat ini, sementara percikan api di mobil itu semakin menjadi.
Bergegas kembali menuju mobil, sembari menengadahkan kedua tangan"Ya Allah, aku serahkan hidup dan matiku hanya kepada mu," usai berdoa, pria itu mencoba menarik tubuh sang gadis dari dalam mobil.
Sementara keadaan di pondok pesantren yang terletak tak jauh dari tempat kejadian di buat gaduh. Kiyai Bahi beserta para ustadz segera menuju ke tempat itu. Untuk mencari bantuan, salah satu orang yang di telepon Yasir adalah calon ayah mertuanya.
Dari kejauhan terlihatlah kecelakaan yang di katakan Yasir tadi. Selain rombongan Kiyai Bahi, polisi dan ambulan juga semakin dekat ke tempat itu. Namun....
"Duar!!!," sebuah ledakan terjadi. Mobil berwarna merah itu telah terbakar.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Dua hari setelah kejadian itu adalah hari pernikahan Yasir dan Zafirah. Namun bukan janur kuning yang menyambut kedatangan para tamu, melainkan bendera kuning dengan suasana duka yang teramat dalam.
Malam itu, Yasir berhasil menyelamatkan gadis yang bersama Arkan. Namun saat dirinya berhasil menyelamatkan orang lain, justru dirinya yang menjadi korban. Sama seperti Arkan, Yasir menyeret tubuh sang gadis dan menggulingkannya ke tepian jalanan curam. Naasnya, kantong baju koko yang dia kenakan tersangkut bingkai kaca spion yang mencuat rusak, hingga menahannya sejenak di dekat mobil itu. Dan saat itulah, tugasnya di dunia ini telah berakhir.
__ADS_1
Bagai raga tak bernyawa, Zafirah seolah bisu hingga jasad Yasir selesai di kuburkan. Tubuhnya teronggok di depan pusara calon suaminya, tanpa suara, juga tanpa air mata.
Menyisakan beberapa orang terdekat saja di tempat pembaringan terakhir Yasir"Zafirah," Jena memegang pundak sang sahabat dengan erat.
Tak bereaksi, tatapan Zafirah datar dan kosong.
"Nak," panggil Kiyai Bahi. Reaksi yang sama di tunjukan Zafirah meski sang ayah yang memanggilnya kali ini.
Ustadz Yunus, Ayahda Yasir mendekati Zafirah, memegang pucuk kepala terbungkus kerudung itu dengan pelan"Nak Zafirah, saya tahu ikhlas itu sangat berat, tapi alangkah baiknya jika kita berusaha untuk menjalani keikhlasan itu. Bukan hati nak Zafirah saja yang hancur, sebagai orang tuanya, hati saya bahkan tak berbentuk lagi."
Jatuhlah air mata Zafirah, sungguh cintanya telah tumbuh dan berbunga lebat meski baru sekejap saling menyayangi dengan sosok Yasir.
"Maafkan saya, lika liku jodoh saya teramat pelik, takdir jodoh saya membuat bang Yasir tiada," lirih nya akhirnya.
"Astaghfirullah," seru ustadz Yunus, begitu juga dengan Kiyai Bahi.
"Jangan menyalahkan takdir, itu dosa besar," ujarnya lagi.
Tangisan Zafirah semakin menjadi, bayangan Yasir yang tersenyum hangat mengisi hari-hari nya, betapa sang hati tak hancur berkeping-keping, pria itu teramat baik kepadanya.
Jena mengusap lengan Zafirah"Benar kata pak Ustadz, tidak sepatutnya kau menyalahkan takdir."
Kiyai Bahi segera mengajak Zafirah untuk kembali ke kediaman mereka, berlama-lama di tempat itu khawatir kewarasan Zafirah semakin berkurang. Patah hati karena Agam masih bisa di lewati dengan ikhlas, namun patah hati di tinggal Yasir, sepertinya sangat menghantam jiwa dan mentalnya. Apalagi dirinya sempat menyalahkan takdir buruk jodohnya, pikiran buruk itu harus segera di hilangkan dari pikiran putrinya.
"Sebentar Abi," ujarnya saat Kiyai Bahi mengapit lengannya untuk segera pergi.
Zafirah memegang nisan bertuliskan nama sang calon imam"Bang Yasir, tenanglah engaku di sana. Kau pergi setelah menyelamatkan nyawa orang lain, aku yakin kau akan mendapat tempat yang nyaman di sana. Dan aku....aku akan mencoba untuk ikhlas, meski aku tidak yakin akan mampu menjalaninya."
Kesedihan itu sangat terasa, dengan berat Zafirah meninggalkan tempat itu dengan setengah hati.
Sementara Arkan, pria itu tengah di rawat di rumah sakit. Setelah melewati masa kritis, tubuhnya kini tengah duduk di atas kursi roda, menatap hampa ke luar jendela sembari memegang cincin yang di titipkan Yasir kepadanya.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ๐ค๐ค๐ค