Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Sang pemilik permen jeruk


__ADS_3

...🍒Apa yang menjadi takdir mu,...


...Akan mencari jalan menuju kepadamu🍒...


...***...


Saat Arkan memonopoli orang suruhan Adila, ternyata wanita paruh baya itu memiliki orang suruhan lain. Tanpa sepengetahuan Arkan, orang suruhan sang ibu mengetahui keberadaan Jena. Informasi keberadaan Jena terendus Adila, tanpa berbagi informasi dengan Abian, wanita itu meluncur membelah jalanan raya menuju ruas jalan luar kota.


Berpapasan dengan bus-bus besar, hingga melalui jalanan yang lengang, berbelok ke arah kanan dan sedikit masuk pada lereng bukit, Adila telah sampai pada tempat tujuan.


Malam mulai menyapa saat Adila menginjakan kaki di tempat itu, sedikit menengadah, netra Adila tersita pada sebuah masjid besar di atas bukit.


"Assalamualaikum, ada yang bisa saya bantu," seorang pria tua menghampiri Adila. Mengejutkan fokus Adila pada bangunan megah yang di penuhi para anak-anak muda penuntut ilmu di jalan Allah.


Tanpa basa-basi, Adila bagai gunung merapi yang siap meletuskan laharnya. Meminta di pertemukan dengan pemilik pondok pesantren tersebut"Aku ingin menjemput putriku, anak sialan itu ternyata bersembunyi di tempat ini,"Dengan emosi melonjak naik, Adila menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke tempat itu, Zafirah yang juga hadir menyambut Adila di ruang tamu akhirnya mengerti, mengapa Jena sampai memilih jalan untuk menjauhi keluarganya.


"Astaghfirullah," lirih Zafirah pelan.


Mau tidak mau, meski Jena menolak berjumpa dengan Adila, harus di pertemukan dengan ibu kandungnya malam itu juga.


"Kau!!! sungguh tidak tahu berterima kasih, sudah beruntung ada seseorang yang ingin menikah denganmu! seharusnya kau lebih tahu diri Jena!!," sentak Adila saat mereka di pertemukan. Bukan hanya dengan celotehan pedas, jemari wanita itu berkelana menunjuk wajah Jena berkali-kali.


Dengan jemari bercengkeraman"Jena tidak mau menikah dengan Rio bu," lirihnya bergetar.


"Lantas? kau mau menikah dengan siapa lagi? kau beruntung Rio begitu ingin menjadikanmu istri. Apa kau tahu Jena, hatiku akan sangat tenang jika kau menikah. Kesialanmu tidak lagi mengusik ketenangan kami!!."


"Ibu.....," kiyai Bahi akhirnya bersuara"Tidak ada kesialan dalam diri nak Naira."


"Anda tidak tahu pak kiyai, saya sudah mencoba menepis prasangka kesialan putri saya ini, tapi....tetap saja kehadiran nya membuat keluarga kami mengalami kerugian," nampak geram. Adila sungguh ingin menarik Jena agar segera pergi bersamanya dari tempat itu, tapi Zafirah dengan segala cara berusaha menahan Jena agar tetap bersamanya.

__ADS_1


Memberanikan diri untuk berbicara"Kak Naira sudah mengatakan, dia tidak ingin menikah dengan pria itu. Jika bagi ibu kehadirannya membawa sial, maka biarkan saja kak Naira tinggal di sini bersama kami."


"Tidak!!!," sentak Adila hingga membuat Zafirah terlampau kaget.


Di tengah lapangan, Yasir usai memberi kabar terbaru kepada Agam. Juga tentang kehadiran Adila yang sempat mengundang keributan di asrama wanita.Sebelum di pertemukan di kantor kepala sekolah, wanita itu dengan paksa menerobos masuk ke asrama wanita, memaksa di antar ke kamar Zafirah dan juga Jena. Jena menekuk kaki dan tubuhnya di tepi ranjang saat Adila datang ke kamar itu, bagai seekor anak kucing yang kedinginan, tubuh kecil Jena bergetar ketakutan saat sekilas beradu pandang dengan Adila.


Agam sungguh berterima kasih atas informasi yang selalu di berikan Yasir, usai menggelar sajadah meminta pertolongan pada sang maha pencipta, berbekal restu dari kedua orang tua Agam segera meluncur ke pondok pesantren. Sembari melajukan mobil, Agam berbagi informasi kepada Gibran. Tanpa menunggu lama, Gibran dan Arkan juga menyusul ke pondok pesantren, di iringi Abian yang akhirnya sampai di detik detik terakhir.


Malam itu, segala kesedihan telah Jena tumpahkan. Dengan isak tangis wanita itu tetap menolak keinginan Adila.


"Kau akan mencintainya Jena, cinta akan hadir karena terbiasa," Adila mencoba bersabar demi kesediaan putrinya"Lagipula, apa hanya cinta yang kau butuhkan dalam pernikahan? Rio cukup mapan, kalian juga satu profesi, kalian sangat cocok Jena."


"Aku tahu pernikahan bukan hanya berdasarkan perasaan cinta, hanya saja....ini adalah hidupku bu."


"Berhentilah bersikap egois Jena!."


"Maaf, tapi yang saya lihat, kata-kata itu seharusnya tertuju kepada ibu sendiri," Zafirah kembali bersuara.


"Begini ibu, sebuah pernikahan akan terjadi jika ada kesediaan di antara kedua belah pihak. Kita tidak bisa memaksakan pernikahan itu terjadi jika nak Naira tidak bersedia."


Adila membuang muka. Dan saat itulah Agam datang bersama Yasir. Di susul Gibran dan Arkan, hingga akhirnya Abian pun hadir di antara mereka.


"Maafkan kelancangan istri saya pak kiayi, hatinya telah di liputi pengaruh peramal palsu," Abian sungguh malu, tindakan Adila kali ini benar-benar membuatnya kehilangan muka.


Gibran dan Arkan menarik Jena agar duduk bersama mereka, Zafirah memegang erat jemari Jena saat itu. Namun anggukan kecil Jena membuat Zafirah yakin dua pria itu tidak akan melakukan hal buruk pada sahabatnya. Dan....ada apa dengan kehadiran Agam?


Adila bersikeras menikahkan Jena dengan Rio, dan masih dengan alasan yang sama, melebur kesialan yang bersemayam dalam diri putrinya. Sikap keras kepala itu membuat Abian bercerita awal mula gelar kesialan yang melekat pada diri Jena. Pak kiayi dan Zafirah berkali-kali menggelengkan kepala saat Abian bercerita. Sesekali Zafirah menyeka air mata saat perjalanan hidup Jena terungkap, juga tentang pengkhianatan Dewa dan juga Tiara. Di tempat itu, Abian bagai membuka aib dalam keluarganya, namun baginya itu tak mengapa, toh dia melakukan hal itu demi Jena. Meletakan harapan yang besar pada kiayi Bahi, Abian mencoba membuka mata Adila dengan segala nasihat dari kiayi Bahi.


"Dari jaman Rasulullah, tindakan meramal itu termasuk dosa besar, apalagi jika mempercayainya. Itu perbuatan syirik".

__ADS_1


"Aku hanya ingin putriku menikah, kenapa di sangkut pautkan dengan berbuatan syirik," seolah menutup telinga, Adila tak terima saat tindakannya di katakan salah.


"Bukankah tindakan ibu bersangkutan dengan perkataan peramal tersebut?."


"Awalnya aku percaya, tapi sekarang tidak lagi. Aku hanya ingin dia menikah, dengan begitu prasangka buruk terhadap dirinya akan sirna."


"Lantas, bagaimana jika nak Naira tetap menolak untuk menikah?," tanya kiayi Bahi lebih mendalam.


Memberengut, wajah merah padam Adila sangat kentara"Aku ingin dia tetap menikah!!!."


"Berarti kau masih percaya perkataan peramal itu, dia bahkan telah membekam di dalam penjara bu," desis Abian nampak putus asa. Di depan matanya, Jena nampak sangat lemah tak berdaya. Kilasan prilaku buruknya terhadap Jena beberapa tahun belakangan terus berkelebat, membuat hati pria paruh baya itu semakin sedih. Sungguh Abian merasa gagal menjadi seorang ayah.


Kembali kiayi Bahi berucap"Yang harus ibu ketahui, percaya pada seorang peramal atau dukun membuat sholat ibu tidak di terima, bahkan sampai 40 hari lamanya."


Menatap Abian nyalang"Sudah ku katakan! aku tidak percaya peramal itu lagi!!."


"Ma, jangan membentak papa," tegur Gibran. Arkan sangat tidak enak hati, sikap Adila sungguh membuat malu.


Zafirah tak habis pikir, ada seorang ibu yang memandang sial pada putrinya. Bahkan putri semata wayangnya, terlebih sikap Jena yang gemetar saat berjumpa dengan Adila, hatinya terasa perih mendapati jemari-jemari kecil Jena masih bergetar meski telah di raup ke dalam dekapan jemari besar Arkan.


"Ibu, bagaimana jika ada pria lain yang ingin menikahi Jena selain Rio?", tiba-tiba Arkan bersuara.


Adila nampak bersemangat"Jika Jena mau, aku tidak akan menghalanginya."


Arkan terlihat berbisik kepada Jena, air muka wanita itu seketika berubah. Sepasang mata coklat Jena mengerjap berkali-kali, kemudian menatap Agam yang berada tak jauh darinya.


Sejurus pada pandangan Jena, hati kecil Zafirah merasakan hal yang tidak nyaman. Apakah.....??? dan keresahan semakin menjadi saat Agam melangkah mendekat kepada mereka.


"Sudah sejak lama saya ingin melamar Jena, jika om dan tante bersedia, ayah dan bunda saya sudah memberi restu untuk menikahi Jena".

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2