
Langit berpendar meninggalkan jingga, perlahan merayap hingga menjemput sang malam. Terdengar sayu di kejauhan, lantunan adzan dari mushola tepian jalan. Saat panggilan berkumandang, terbesit tanya dari hati pada sang maha pencipta.
"Tuhan, seberapa kuat kau menciptakan aku? aku sungguh berkecil hati, cobaan demi cobaan ini hampir merenggut kewarasan jiwaku".
"Neng Jena! sudah maghrib, cepat pulang ke rumah. Tidak baik berlama-lama di bibir pantai menjelang malam begini".
"Iya pak", sahut Jena begitu singkat. Pak nelayan lantas pergi meninggalkan wanita itu. Sedikit berlarian, pak nelayan tergopoh-gopoh saat iqomah mulai terdengar.
Jena memandangi punggung tua itu hingga sempurna menghilang, di jalanan beraspal beberapa tetangga juga menuju tempat yang sama, mushola.
Kedua manik coklat itu hanya sekedar memadang, tidak terbersit sedikit pun keinginan untuk melangkah bersama mereka.
Menapaki pasir pantai yang mulai dingin, kaki kecil itu akhirnya sampai di beranda belakang kediamannya. Saat itu Gibran baru datang dari perkotaan, terlihat tergesa-gesa sang adik melemparkan kunci mobil ke sofa begitu saja.
"Apa yang kau kejar?".
"Mau sholat kak".
Jena hanya ber Oh saja.
Duduk di anak tangga, Gibran kembali turun dengan sajadah tersampir di bahunya.
"Sudah iqomah, kau akan terlambat jika sholat di mushola".
"Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali".
Ingin rasanya wanita itu menarik kepala Gibran, sayang harus di urungkan sebab langkah bocah itu melesat dengan sangat cepat.
"Kau menyinggungku??", desis Jena menatap adik laki-lakinya yang kian menjauh.
Suasana menjadi hening, tiba-tiba hati kecil itu bertanya"Kapan terakhir kali kau sholat Jena?".
Hidup dalam kebencian pada kedua orang tua, hidup dalam kebencian terhadap sanak saudara, Jena baru menyadari sudah sangat jauh dirinya dengan sang maha pencipta. Teringat Agam, yang berkata gemar mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an, Jena membenarkan akan hal itu. Akhir-akhir ini dirinya pun kerap melakukan hal yang sama, apakah hidupnya akan berangsur membaik jika kembali bersimpuh di hadapan sang maha pencipta??
Lama wanita itu terduduk di anak tangga, merenungi jalan hidup yang penuh dengan kerikil tajam. Teringat ocehan Adila, atau haruskah dia menikah saja agar semua orang bahagia?.
Sejenak termangu, rasa hampa perlahan hampir dan bersarang dalam hati dan jiwa. Tak perduli telah berapa banyak karya yang dia telurkan, entah berapa banyak waktu yang dia habiskan melakoni profesi impiannya, kebahagiaan yang hakiki masih terasa jauh dari hidupnya. Serakah kah dirinya? di saat Tiara begitu iri pada karirnya, nyatanya sekarang Jena merasa tujuan hidupnya tak nampak jua.
Hendak menjadi apa, untuk seperti apa, hal itu bahkan tak samar alih-alih nyata dalam pikirannya. Wanita itu tengah di goyang rasa bimbang, jiwa yang rapuh mulai kehilangan arah, mencari bahagia yang tidak kunjung tiba.
"Apa kau benar-benar akan hiatus?", sebuah pesan yang di kirimkan Salman sore tadi kembali di buka.
"Tante Ane sudah siuman, tapi sebaiknya kau jangan menemuinya dahulu. Sama seperti ibu, tante juga termakan sandiwara om Tian", dadanya kembali sesak saat kembali membaca pesan singkat dari Arkan.
__ADS_1
"Jena, kenapa kau tidak pernah menerima telepon ku lagi? aku hanya ingin mendengar suaramu", Rio, pria keras kepala yang pantang menyerah memperjuangkan cintanya.
"Tring", sebuah pesan baru menyita perhatian Jena.
"Jika kau lelah, beristirahatlah. Jika kau ingin menghibur diri hubungi saja aku", bocah ingusan yang sempat mengusik hati mengirim pesan.
Gawai itu di letakan di anak tangga, Jena merasa tidak harus membalas pesan dari Agam itu.
"Aku lapar, apa kau memasak sesuatu?", Gibran datang tanpa mengucap salam, membuat Jena melengos terlebih mendengar pertanyaan yang bocah itu lontarkan.
"Kau dari mana?".
"Bukankah kau sudah tahu bahwa aku pergi ke mushola, kau bahkan belum beranjak dari tangga itu bukan".
"Kau dari rumah Tuhan, seharusnya kau bersikap lebih baik saat kembali ke kediamanmu sendiri. Seperti nya kau lupa akan adat memasuki rumah", sindir Jena.
Barisan gigi kelinci itu membuat kesal, Gibran tersenyum lebar sembari melangkah kembali ke balik pintu"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh", ucapnya mengulangi adegan masuk rumah sembari mengucap salam.
"Waalaikumsalam", sahut Jena singkat.
"Duhai kak Jena yang cantik menawan, apa kau memasak sesuatu? adik tampanmu ini sudah merasa lapar", celoteh Gibran dengan mimik wajah menggoda. Sungguh, kening pria itu sangat menggoda untuk di tinju, jika saja jarak mereka sangatlah dekat, sudah pasti Jena akan mendaratkan bogem mentah di sana.
"Berjalanlah 5 langkah ke samping, di sana ada cermin yang sangar besar. Pandangi wajah menyebalkanmu yang sedang tertawa, kau akan tahu betapa mualnya perutku saat melihat hal itu".
"Apa perduliku? ck!", ujarnya berdecih.
Tidak ingin berdebat, Gibran menyeret langkah menuju dapur.
"Aku ingin hidangan yang pedas, sangat pedas".
Gibran menatap Jena dengan kening berkerut"Kau menyuruhku untuk memasak".
"Lantas? kau ingin memberiku makan dengan apa?".
"Bukankah kau bilang acuhkan saja dirimu, kenapa tiba-tiba kau memintaku membuat hidangan untukmu", ujarnya berpura-pura ketus. Sangat jarang Jena meminta sesuatu kepadanya, hati kecil di dalam sana merasa senang saat sang kakak memintanya untuk memasak.
Jena hanya diam, menatap lurus pada jendela yang tembus pandang ke jalanan beraspal.
"Kak Jena!", sentak Gibran memecah lamunan Jena.
"Aku lapar, sejak kemarin aku hanya memakan remahan roti saja", ucap Jena pelan.
Teringat kejadian kemarin, membuat Gibran kehabisan kata-kata.Jena terus mengurung diri sejak di hantam oleh wanita yang melahirkan mereka, wanita itu terlihat kembali saat dirinya bergegas hendak pergi mushola.
__ADS_1
"Seberapa pedas?".
"Sangat pedas, sampai aku lupa dengan rasa manis".
"Bukankah itu akan menyakiti lidahmu?".
"Aku harus membiasakan diri dengan rasa sakit", lirih Jena perlahan.
Gibran memegang spatula dengan erat, urat-urat di lengannya menonjol, wajahnya menunduk menatap api kompor yang sudah dia nyalakan. Andai saja bukan Adila, Gibran mungkin akan mencelakai siapa saja yang menyakiti hati Jenaira.
Gawai itu menyala, di susul nada dering dengan nama Salman yang tertera di atas layar.
"Panggil aku saat hidanganmu selesai di buat", tukas Jena beranjak dari tangga dan segera menuju lantai atas.
"Hemm", sahut sang adik menatap Jena sekilas.
Selang beberapa lama, Gibran telah usai meracik dan memasak hidangan makan malam mereka. Di lantai atas, Jena masih berbincang bersama kepala pimpinan.
"Sebelum engkau, Kirana sudah lebih dulu mengajukan cuti".
"Kirana mengambil cuti? bukankah dia gadis pekerja keras, meski pekerjaanya tak selalu membuahkan hasil yang bagus", ketus Jena.
Seulas senyum terukir di wajah Salman, pria itu tersenyum sebab jarang sekali Jena mengungkapkan kekesalannya"Kirana mengambik cuti untuk pula kampung, desanya sedang di landa banjir".
Kedua alis Jena bertaut naik"Apa dia punya banyak bekal, keluarganya pasti sangat memerlukan bantuan".
Salman tertawa kecil"Kau, bukankah beberapa detik yang lalu kau terdengar kesal saat membahasnya, dan sekarang, kau terdengar mengkhawatirkan keadaannya, juga keluarganya".
Jena mengigit bibir, kabar Kirana sungguh membuatnya khawatir. Meski menyebalkan, Kirana adalah partner yang sangat baik baginya. Terlepas dari kesalahannya menerima sogokan dari keluarga Dewa, bersama gadis itulah Jena meniti tangga karir. Saat Jena tahu Kirana telah di bayar untuk membujuknya menyerah dengan kasus plagiarisme, Jena berpikir, pasti uang sogokan itu untuk keperluan keluarganya di kampung.
"Jena", panggil Salman di ujung telepon.
Suara berat Salman menyadarkan Jena dari lamunan.
"Ya", sahutnya singkat.
"Kau benar-benar akan hiatus?".
"Iya, aku ingin beristirahat beberapa waktu. Apa aku mendapat ijin?", tanyanya lagi.
"Tentu saja", sahut Salman di ujung sana.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗