Senja Di Pelupuk Mata

Senja Di Pelupuk Mata
Cinta gila!


__ADS_3

Waktu terus berjalan, perlahan sang siang telah sampai pada sang petang. Beristirahat sejenak di kamar pengantin, Jena di buat terkejut akan kehadiran seorang wanita muda.


"Nona Jena, anda di tunggu suami anda di pekarangan belakang," nampak asing, wanita itu baru kali ini Jena jumpai. Namun, mengingat sedang di laksanakan nya sebuah pesta, Jena menerka mungkin saja wanita itu adalah salah satu staf MUA atau WO yang sedang bertugas di sana.


"Terimakasih," ujarnya tersenyum kecil. Jena melangkah ke pekarangan belakang, tempat yang juga di pakai untuk menyelenggarakan pesta pernikahan mereka. Sebab hari telah petang, juga karena tamu undangan sudah tak lagi bertambah datang, pekarangan belakang mulai nampak lengang, meski para pekerja dan beberapa tamu undangan masih ada di pekarangan utama.


"Nona Jena, silahkan masuk," lagi, seseorang yang tak pernah dia jumpai hadir seorang lagi.


Mendapat tatapan penuh tanya, pria dewasa itu berucap kepada Jena"Saya supir yang akan mengantarkan anda bertemu suami anda."


"Suamiku? bukankah dia berada di pesta ini?."


Senyum mengembang di wajah pria itu"Dia sedang menunggu anda di suatu tempat, sebuah kejutan juga sedang menanti kehadiran anda."


Terbayang senyuman Agam yang hangat, Jena segera masuk ke dalam mobil. Nampak supir itu memasang masker di wajahnya, dan mesin mobil mun segera di nyalakan.


Melaju perlahan meninggalkan kediaman Pratama, langit biru mulai menguning kala itu, pertanda sang senja mulai hadir di ujung hari.


Membuka kaca jendela dengan lebar, segurat senyuman tergambar jelas di wajah wanita itu. Manik coklatnya memandang langit senja dengan binar kebahagiaan, Jena tidak menyangka dirinya akan sebahagia ini saat hendak bertemu dengan suaminya.


"Nona, silahkan tutup kaca mobilnya, Ac nya akan saya nyalakan."


Tanpa suara, Jena pun segera menutup kaca mobil itu.


"Srot!," terdengar lain dari pada yang lain, belum sempat bertanya indra pencium Jena menangkap aroma manis yang sangat dia sukai, Cherry blossom. Aroma lembut nan manis itu menambah keceriaan dalam dirinya, begitu senang menghirup aroma manis itu hingga mengantarkannya ke alam mimpi.


"Nona Jena," panggil sang supir.


Wanita itu tidak merespon, kedua matanya nampak tertutup rapat dengan alunan napas yang teratur.


"Nona Jena," panggil sang supir sembari mengeratkan masker berlapis yang sedari tadi dia kenakan.


*


*


*


*


Agam meninggalkan pekarangan utama menuju lorong, berniat menjemput Jena yang sedang beristirahat di kamar pengantin.


"Agam? apa yang kau lakukan di sini? apakah ada sesuatu yang tertinggal?," Angga dengan setoples cemilan menegurnya. Remahan cemilan di tepian bibirnya tak di hiraukan, terus saja pria itu memasukan cemilan-cemilan itu ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Dengan kening berkerut, Agam menatap aneh kepada Angga"Apa yang tertinggal? lagipula, aku memang di sini, aku kan pengantin pria."


"Bukankah kau akan bepergian dengan Jena ke suatu tempat? kau tadi menyuruh seseorang menjemput dengan mobil bukan?."


"Mobil?? mobil yang mana?," jari telunjuknya tertuju pada mobil yang terparkir tak jauh darinya"aku berbincang bersama ayah dan ibu mertuaku sejak tadi," lanjutnya.


Dua mata Angga seketika membulat, sebelum mengambil setoples cemilan, Angga bertemu seseorang yang sedang berdiri di samping mobil, di pekarangan belakang. Pria itu bahkan melihat Jena masuk ke dalam mobil itu beberapa saat yang lalu.


Menangkap gelagat buruk, Agam dan Angga belari ke pekarangan belakang. Nampak mulai menjauh, mobil berwarna hitam itu telah pergi dari kediaman Pratama.


"Mobil! kunci mobil!," Agam terlihat panik. Kendaraan itu ada di depan mata namun kunci yang dapat menyalakannya tidak bersamanya.


"Bawa motor ku!," Angga melempar kunci motor gede nya, dengan sigap Agam menerima kunci itu. Mengedarkan pandangan dengan cepat, Angga menarik Agam menuju tempat motornya terparkir.


Membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mobil itu nampak jauh sekali, membuat Agam memacu kendaraan dengan tanpa berhati-hati.


Meski jarang menaiki kendaraan roda dua, Agam begitu gesit memacu kendaraan itu di jalanan. Melewati beberapa kendaran, suara-suara klakson pengendara lain sebagai bentuk protes atas sikap Agam tak di indahkan pria itu. Bayangan Jena yang di bawa orang tak di kenal sungguh membuatnya hampir kehilangan akal.


Di kediaman Pratama, Angga memberi kabar buruk itu kepada anggota keluarga. Tubuh Arabella merosot ke lantai, Adila yang kerap bersikap menyebalkan terhadap Jena kini terdiam seribu bahasa. Gibran meminta Kanaya agar menemani sang mama yang nampak terguncang, sementara dirinya dan Arkan menyusul Agam untuk mencari keberadaan Jena.


"Aku ikut bersama kalian," seru Angga mengejar mereka di pekarangan.


"Kau mengenal orang itu??," tanya Arkan yang telah duduk di bangku penumpang.


Tanpa berkata-kata, Gibran memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Entah hendak kemana mencari mereka, pria petakilan itu sangat mencemaskan kakak perempuannya.


"Hubungi Agam," pintanya saat mereka telah berada di jalan besar.


Angga mencari-cari gawai yang selalu terselip di saku kemeja, sayang benda itu tertinggal di dalam toples cemilan.


"Aish!!! kau dungu sekali Ngga!," geram Gibran memukul kemudi.


"Aku yang telepon, jangan mengomel," Arkan coba menenangkan Gibran, juga Angga yang nampak sangat merasa bersalah.


Meski berdering, Agam tak kunjung menerima panggilan Arkan. Berkali-kali melakukan panggilan dan berkali-kali pula tak mendapat jawaban.


Memijat kening yang berdenyut"Ya Tuhan, bahkan di hari bahagianya pun hal buruk ini harus terjadi," desisnya terbayang sang adik yang sangat di sayanginya.


"Cekit!!!!!", Gibran menghentikan laju mobil.


"Heh! kebiasaan! hentikan mobil dengan perlahan, jangan mendadak seperti ini," sentak Arkan. Sementara Angga dengan pasrah membenarkan kembali letak duduknya yang sempat terhenyak ke punggung kursi depan.


Gibran diam, hanya terdengar deru napas yang kian memburu.

__ADS_1


"Aku saja yang membawa mobil ini," tukas Arkan.


"Hendak kemana bang? kita tidak tahu harus mencari kemana."


Benar juga perkataan Gibran, seketika Arkan urung untuk mengambil alih kemudi.


"Cobalah kita berpikir dengan tenang, kira-kira siapa yang akan melakukan hal ini terhadap kak Jena?," pria yang sedari tadi hanya pasrah dalam rasa bersalah angkat bicara.


Ucapan itu membuat Arkan dan Gibran memandanginya bersamaan. Di saat genting, otak Angga terkadang bekerja lebih baik dari yang di harapkan.


"Tiara?," ujar Angga.


"Ku pikir, wanita itu telah bahagia dengan kehidupan artis nya."


Baiklah, Tiara sang mantan sahabat di ketepikan dari dugaan penculikan Jena.


"Tante Jelita?," kali ini Gibran yang bersuara.


"Ku dengar nene lampir itu sedang berbahagia bersama menantu artisnya," sanggah Arkan lagi.


Angga dan Gibran saling pandang....


"Rio???!," ujar mereka bersamaan.


Mengingat betapa gigihnya Rio hendak memiliki Jena, kemungkinan Rio yang menculik Jena.


"Tapi, bagaimana dengan Dewa?," ujar Arkan.


Tiga pria itu sedang terperangkap dalam teka-teki pelaku penculikan Jena.


🥀🥀🥀🥀


"Sayang, kau akhirnya datang," pria itu menerima tubuh Jena yang di gendong bridal oleh orang bayarannya.


Merebahkan wanitanya di ranjang berukuran king size, dengan lembut jemari besar itu merapikan anakan rambut sang wanita yang nampak berantakan.


Menjelajahi setiap centi wajah cantik wanita pujaan, sungguh sebuah kerinduan akhirnya telah sampai kepada tuannya.


Belaian demi belaian, sentuhan pria itu mengusik ketenangan Jena di bawah obat bius. Kedua alis wanita itu bertautan, turun naik hingga akhirnya kedua manik coklatnya tebuka.


"Hah!!!! ka____kau?!!!," terbata, Jena merasakan kedua tangannya terkekang.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca, jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2